FITNAH MANTAN (3)
Mas Vano menatap Kioya tanpa berkedip.
Bahkan tanpa tes DNA, aku yakin Mas Vano akan mengenali Kioya sebagai putranya. Benih orang lain tidak mungkin menciptakan wajah yang serupa dengan dirinya.
Suasana menjadi hening dan canggung.
Aku tidak bisa bergerak, tubuh menjadi kaku.
Tanpa mengalihkan tatapannya pada Kio, Mas Vano berjalan mendekat. Aku ingin lari sejauh mungkin, tetapi kaku membeku. Tak bisa bergerak.
Mas Vano mengulurkan tangannya, ingin menyentuh Kioya. Namun, suara seseorang menyerukan namanya membuat gerakannya terhenti.
“Mas Vano!”
Wanita dengan rambut cokelat bergaya fishtail braid keluar dari mobil yang tadi ditumpangi Mas Vano. Dia melangkah mendekat sembari menyerukan nama Mas Vano. Gaun merahnya tampak megah. Ketika sedang berjalan, belahan gaun akan memperlihatkan paha kirinya nan molek. Dia Putri Adiorra—pacar Mas Vano sebelum menikah denganku dulu.
Putri menggandeng mesra lengan Mas Vano. Dia menatapku, menatap Kioya. Sorot matanya terlihat sinis, menebarkan permusuhan.
“Sayang, siapa wanita ini?” Putri menatapku seperti menatap kotoran. Kentara sekali sikap jijiknya.
Aku tidak tahu, Putri benar-benar lupa padaku atau hanya pura-pura. Dia sempat datang ke acara pernikahanku dan Mas Vano. Memberi selamat.
“Van.” Kali ini Pak Kairav yang menyapa.
Suara Pak Kairav seperti menyedot kembali Mas Vano pada kesadaran. Mata Mas Vano mengerjap, lalu menyipit menatap pria di kursi roda yang tersenyum ramah ke arahnya.
“Apa kabar, Kak.” Mas Vano balik menyapa.
“Seperti yang kamu lihat.”
Mas Vano mendengkus mendengar jawaban ambigu Pak Kairav. Sorot tajam matanya kentara tidak suka. Bahkan, tampak mengobarkan permusuhan.
Aku masih menganga.
Tidak memahami situasi.
Kak?
Mas Vano dan Pak Kairav saling mengenal?
Apa yang kuketahui tentang Pak Kairav memang hanya sebatas usia. Dia dua tahun lebih tua dari Mas Kiovano. Memiliki kelainan yang disebut albino. Itu saja. Selebihnya, aku tidak tahu apa-apa. Siapa orang tua atau apa pekerjaannya.
Selama aku tinggal bersama Pak Kairav, dia jarang sekali keluar rumah. Namun, dia memiliki ruang khusus yang setiap hari dijaga Mas Ferdian dan Yozi. Dia bisa seharian, bahkan sampai tengah malam di ruangan itu. Entah apa yang dikerjakannya. Selama tiga tahun, belum pernah sekali pun aku masuk ke ruangan itu.
Namun, satu hal yang kuyakini, itu bukanlah ruang pesugihan. Pak Kairav bukan orang yang percaya pada hal-hal demikian. Justru baginya, klenik adalah kebodohan.
“Kapan kalian menikah?” tanya Pak Kairav.
Sikap Pak Kairav tidak berubah. Seolah-olah tidak ada sesuatu hal apa pun. Seolah-olah dia hanya bertemu kenalan atau suadara lama tanpa ada konflik apa pun.
Apa mungkin, Pak Kairav kakak Mas Kiovano?
Kalau memang begitu, kenapa Pak Kairav tidak pernah menyinggung kemiripan Kioya dengan Mas Vano. Mas Vano juga tidak pernah cerita memiliki seorang kakak, baik kandung atau tiri.
Dan, ya. Kioya—nama ini juga Pak Kairav yang memberikannya. Apa dia memang sengaja?
Bukan hanya aku, Putri juga terlihat kebingungan. “Dia siapa, Mas?” tanyanya pada Mas Vano.
Mas Vano nggak menjawab. Baik pertanyaan dari Pak Kairav ataupun Putri. Dia hanya mendengkus, menatap Kioya beberapa saat lalu melangkah pergi.
Putri terlihat kesal karena diabaikan. Namun, tak urung mengikuti juga. Dia sempat mendelik saat melewatiku.
Suasana menjadi hening selama beberapa saat.
Aku sudah membuka mulut untuk bertanya. Namun, Pak Kairav sudah lebih dulu bersuara, mengajak kami semua untuk masuk.
…
Meja yang kutempati dan meja Mas Vano bersebarangan.
Kioya anteng duduk di pangkuan Pak Kairav. Meski baru berusia dua tahun lebih, sifat Kioya meniru Pak Kairav. Tidak suka berisik.
Beberapa kali kudapati Mas Vano melirik ke arah mejaku. Tepatnya ke arah Kioya dan Pak Kairav yang sedang bercanda sambil menunggu makanan disajikan. Mas Vano sepertinya tidak fokus sehingga membuat Putri kesal. Mereka mulai cekcok.
Saat makanan mulai disajikan, aku lihat Putri pergi dengan wajah kesal. Dia sempat menoleh dan menatapku dengan sorot sinis.
“Mai.”
Suara Mas Kairav membuatku terhenyak. “I-iya, Mas.”
“Jangan melamun.”
“A-aku nggak ngelamun, kok.”
Dalam posisi yang pas, cahaya mentari sore menyorot dari jendela tinggi restoran. Cahaya kekuningan itu jatuh tepat di wajah Pak Kairav. Membuat kulit pucatnya yang tampak bening bak poselen dengan rona merah muda yang tipis menjadi seperti bercahaya. Kulit Pak Kairav sensitif pada cahaya. Gampang memerah. Sekarang pun dia memakai blazer panjang dengan leher tinggi.
“Ayo makan,” ajak Pak Kairav.
Aku mengangguk.
Kioya yang sudah mulai diajari table manner tidak banyak tingkah. Dia anteng disuapi potongan lasagna oleh oleh Pak Kairav.
Namun, saat aku hendak menyuapkan sepotong daging, Mas Vano justru datang menghampiri. Tatapan matanya lurus menatap Kioya.
“Anak itu, apa dia anakku?” tanyanya menatapku.