“Tumben banget Papa udah pulang jam segini.” Pradipta tiba di rumanya pukul tiga sore setelah mengantar Prily kembali ke kontrakannya. Ia yang tidak memilili kepentingan dan pekerjaan lagi memutuskan untuk pulang. Pria itu memaklumi perkataan Pricilia yang terdengar seperi sendirian, ia memang tidak memiliki waktu untuk putrinya sendiri. Padahal harusnya ia menghabiskan banyak waktu untuk putrinya, setelah bertahun-tahun tidak tinggal bersama. Ayah dan anak itu kembali tinggal dalam satu atap. Namun, Pricilia sama sekali tidak merasakan ada perbedaan yang begitu berarti saat mereka bersama. “Kamu sudah makan?” tanya Pradipta tidak langsung menuju kamarnya. “Sudah, tadi pesen online,” jawab Pricilia kembali menuju sofa dimana sebelum membukakan pintu itu adalah tempatnya. Pradipta ber

