Thirty Four

2076 Words

“Papa harus mau, kalo enggak mau, aku marah!” “Tapi, apa Miss Prily mau?” tanya Pradipta menatap ke arah Prily membuat jantung gadis itu yang mendengarnya berdegub kencang. Ia benar-benar tak sehat, padahal pria itu hanya menatapnya dengan pandangan biasa. “Mami mau kan?” tanya Pricilia sambil menyenggol lengan Prily yang nampak terdiam . “Alah, pasti mau. Enggak usah sok jual mahal gitu, Mi,” sahut gadis itu sambil menyengir membuat Prily gemas ingin membekap mulut gadis itu. “Iya, Pak, saya mau,” kata Prily malu-malu. Ia menganggukan kepalanya tanda benar-benar mau. Pricilia yang melihatnya mendengus geli, ia yakin jika sekarang dalam kondisi sepi, Mami dadakannya itu pasti akan melompat-lompat kegirangan. Pricilia yang melihat Prily nampak begitu bahagia tidak bisa menutupi senyumny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD