Twenty Eight

1899 Words

“Budhe, Dian pamit ke sekolah dulu. Assalamualaikum!” “Walaikumsalam, hati-hati nak!” Budhe Ratih tersenyum sendu ketika Dian menyalaminya hendak berangkat menuju sekolah tempat dimana wanita itu sedang melakukan PPL. Anak dari kakak perempuannya itu masih berusaha untuk tersenyum walau saat ini hatinya sedang sakit-sakitnya. Bisa dikatakan pernikahan keponakannya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu sedang berada diujung tanduk. Budhe Ratih hanya bisa melakukan yang ia bisa dan berdoa untuk kebahagian Dian. Ia juga sangat tidak setuju dengan sikap Kakak perempuannya—Lasmini yang begitu kejam pada anaknya sendiri. “Jangan telat makan ya, nak,” pesan Budhe Ratih. Dian terkekeh, wajah perempuan itu makin bertambah manis. “Iya, Budhe.” Budhe Ratih hanya mengantarkan Dian sampa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD