**Author POV**
.
.
Di sebuah apartemen seorang gadis cantik kini tengah sibuk dengan laptop di hadapannya. Disha menikmati masa liburan semesternya. Biasanya ia tengah melakukan kerja paruh waktu. Hanya saja, kali ini ia terlambat mengajukkan lamaran kerja. Sebenarnya, Disha berpikir akan kembali ke Indonesia liburan ini. Hanya saja kemudian merasa enggan, setelah Yogi terus saja memaksanya untuk menikah.
Untuk masalah uang, ia telah cukup sebenarnya. Hanya ia tak ingin mendapatkan sesuatu dengan terlalu mudah. Merasakan hidup dengan bekerja kerasa akan membuatnya bisa dengan lebih baik menghargai arti sebuah kesuksesan. Ia tetap menjadi gadis manja, di hadapan kedua orang tua dan sang kakak.
Seorang pria berjalan mendekat, dengan senyum merekah lalu duduk di samping Disha. "Gue mau balik Jakarta hari ini."
Gadis itu dengan segera bangkit dan duduk menatap sang kakak dengan terkejut. "Loh, kok Abang Ahbi enggak bilang aku?"
"Ini juga mendadak banget Dady minta gue buru-buru pulang."
"Ketemu Mas Yogi dong?"
"Iyalah, pasti. Mau nitip apa?"
Disha menatap sang kakak memikirkan apa yang mungkin bisa ia berikan pada sang kekasih. Ia kemudian teringat sesuatu. Tentang pernikahan antara Yogi dan Reina yang pastinya akan membuat sang kakak Ahbi Aydin Otaadan Betara atau biasa dipanggil Hobi kaget.
"Bang, Mas Yogi mau nikah."
"HAH?!"
"Biasa aja deh. Ini semua juga karena ide aku."
"Gimana? Gimana?" Hobi jelas kaget dengan apa yang katakan oleh adik perempuannya,
"Mereka hanya akan menikah sampai studiku di sini selesai. Semacam nikah kontrak. Supaya aku enggak terus dikejar buat nikah terus. Capek juga rasanya, dan buat hilang konsentrasi belajar." Disha mengeluh. Jelas, selama ini permintaan Yogi untuk segera menikah menjadi beban untuknya.
"Gila kalian."
"Please, jangan marah sama Mas Yogi. Dan Abang Hobi harus inget. Rahasia Abang di sini ada di tangan Disha. Hmm?" ancam Disha yang jelas menyimpan banyak rahasia tentang apa-apa saja yang dilakukan sang kakak.
Hobi menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak gatal. Sebal juga rasanya diancam oleh adik sendiri seperti ini. "Oke, tapi, lo enggak takut? Gimana kalau Yogi jadi jatuh cinta sama cewek itu?"
Disha terkekeh. "Reina. Abang tau kan Reina?"
"Hmm, dia sekertarisnya Yogi."
"Mas Yogi, nikah kontrak sama dia. Abang bandingin sendiri lah. Ya, masa, Mas jatuh cinta sama dia?" Disha yakin sekali jika Yogi tak akan jatuh cinta pada Reina. Semua karena secara fisik sang calon istri kontrak sang kekasih tak menarik menurutnya.
"Why not? Cinta itu enggak melulu soal fisik lho. Lo enggak bakal tau bagaimana waktu dan kebiasaan bisa membuat orang jatuh hati. Jangan main-main sama masalah seperti ini."
Disha hanya tersenyum ia yakin sekali jika perasaan Yogi tak akan berubah padanya. Ia tau sekali bagaimana prianya begitu memujanya. Tak mungkin, dengan sikap yang ditunjukkan Yogi selama ini, pria itu akan mengkhianatinya.
**
Siang hari ini hanya ada Bumi dan Ratih di rumah. Jun sudah berangkat untuk mengecek restoran pagi tadi. Tak lama setelah Reina berangkat ke kantor. Dan Bumi berencana bertemu dengan Indah siang ini untuk melihat lokasi yang akan mereka jadikan tempat membuka restoran.
Pria itu kini tengah menonton televisi, menunggu waktunya bertemu dengan kliennya. Ratih mendekat memberikan secangkir kopi pada Bumi, lalu ia duduk di samping sang keponakan.
"Makasih Bule'," ucapnya.
"Bumi, maafin bule' ya? Enggak nyangka kalau Reina malah udah punya pacar. Padahal kamu bilang suka sama Reina sudah lama tho?"
Bumi menoleh, tersenyum meski jelas terlihat ia sangat kecewa. "Enggak apa-apa Bule'. Dari awal aku juga yakin enggak yakin. Karena, dari awal malah mikir kalau Reina bakal nolak."
"Iya, dia benar-benar anggap kamu seperti kakak. Sejak dulu kamu yang selalu lindungi Reina, belain dia kalau diledek yang lain." Ratih menepuk-nepuk punggung Bumi yang telah dianggapnya layaknya anak sendiri. "Bapak yang masih susah terima. Malah senang sekali dengar Reina pacaran sama Pak Yogi."
"Bumi mengerti sekali. Pakle' masih menganggap hal ini enggak elok. Meski dalam islam ini jelas boleh karena Bumi dan Reina bukan mahram. Satu nenek saja boleh, apalagi kami berdua jelas beda nenek."
Pemikiran manusia sering kali tidak bisa di terka atau dirubah meski dengan dalil yang syahih. Ada hal-hal yang harus didahulukan menurut mereka. Seperti ayah reina yang begitu ngotot tidak mengijinkan Reina dan Bumi menjalin hubungan 'Ora elok' menurutnya.
"Kamu enggak marah tho sama Reina?"
Bumi menggeleng. "Enggak ada alasan buat Bumi marah selama itu buat kebahagian Reina."
Bumi seharusnya bisa menjadi pijakan Reina. Bukankah ia sama sekali tak tau bagaimana perasaan gadis itu? Bumi bahkan belum melangkah jauh. Ia baru saja mau memulai dan terhempas sebelum melangkah lagi. Iba memang jika dipikirkan tapi, ini jelas salahnya andai ia tak terlalu banyak berpikir. Sesuatu harus disegerakan, lalu diusahakan sampai akhirnya dikabulkan. Ketakutan-ketakutan dalam pikiran manusia acap kali membuat langkah terhenti sebelum dimulai. Padahal, tak akan pernah kita ketahui ada apa di ujung jalan sebelum kita melewatinya bukan?
**'
Reina bersama Yogi di ruang kerja sang atasan. Kali ini pekerjaannya lebih ringan dibandingkan kemarin. Sejujurnya, mengerjakan semua di rumah lebih menyenangkan dibandingkan ia harus mengerjakan semua di kantor untuk lembur. Kantor membuatnya tertekan dan tak nyaman sepertinya.
"Rei?'
Sapaan dari atasannya membuat ia menoleh sejenak dari laptop di hadapannya. "Ya, Pak?"
"Pertemuan sama rekanan bisa dipercepat?' tanya sang bos tanpa menatap Reina. Yogi sendiri masih sibuk membaca laporan-laporan yang telah dikerjakan Reina untuknya kemarin.
"Belum bisa Pak."
"Okey." Yogi menjawab singkat. Ia lalu menoleh pada Reina. "Kalau pernikahan kita dipercepat gimana? Seenggaknya saya dan kamu enggak perlu terlalu lama saling cari muka. Jujur, saya capek sekali kalau harus berpura-pura jatuh cinta sama kamu," ungkap Yogi.
Reina menatap atasannya sejak pertanyaan awal ia sebenarnya sudah cukup terkejut dengan ucapan Yogi. Lalu Ketika makin banyak yang diucapkan pria pucat itu membuat ia makin kesal sendiri. "Saya terserah bapak aja." Reina menjawab malas.
Yogi melirik ia tau jika Reina kesal. "Kamu marah sama saya?"
Reina menatap sang bos dengan tegas. "Iya saya marah. Bapak bertindak dan bersikap seenaknya. Tiba-tiba datang ke rumah; tiba-tiba ngajak nikah cepat. Saya manusia Pak punya perasaan, mikirin satu hal aja udah pusing. Bapak udah nambah yang lain-lain."
"Saya cuma mau mempermudah kamu. Setelah menikah kamu akan tinggal bersama saya. Akan lebih mudah karena enggak perlu berbohong. Saya tau sekali kamu enggak pandai berbohong. Kalau ini terlalu lama saya takut semua akan terbongkar bahkan sebelum waktu pernikahan yang telah kita tentukan sebelumnya."
Reina mengerti maksud dari keinginan atasannya. Hanya saja tetap ini semua masih sulit ia terima, meski dirinya telah setuju penawaran Yogi. Entah apa yang terjadi hingga membuatnya merasa sakit hati, terutama saat Yogi mengatakan kalau ia lelah berpura-pura mencintai Reina. Ia sakit hati karena ia merasa tulus bersikap pada Nindi. Reina tak ingin Yogi menyukainya, ia sadar diri. Hanya saja Reina meminta sang atasan bisa lebih menjaga ucapannya. Dalam perihal ini bukankah Yogi yang lebih banyak diuntungkan?
***