~>Pitulas<~

1207 Words
**Reina POV** . . Berita tentang aku dan Pak Yogi telah menyebar di kantor. Menyebalkan kini aku jadi pusat perhatian atas rasa penasaran karyawan lain. Banyak info yang aku dapatkan dari Rara. Sialnya ada yang mengira aku melakukan pellet pada Pak Yogi. Gila! Ngapain aku habiskan uang untuk melakukan itu? Ingin mundur hanya saja, setiap kali Bu Nindi menghubungiku aku tak tega menyakitinya. Sama ketika ibu bertanya tentang Pak Yogi. Ibu senang sekali, mereka berdua adalah alasan aku masih bertahan. Bapak juga sama bahagianya, setiap kali bertanya tentang pak Yogi terdengar Bahagia sekali. Hari ini bapak baru akan kembali ke rumah, kemudian akan kembali ke rumah eyang minggu depan. Kangen juga hampir dua minggu enggak bertemu bapak. Siang ini kuhabiskan dengan makan di kantin kantor. Biasa aku makan bersama Tedi yang sejak tadi menceritakan tentang rencananya membuat restoran. Ya, semua karena ia ingin Indah tak lagi bekerja dan tetap bisa berkegiatan di rumah. "Pokonya gue harus jadi pelanggan yang pertama ya?" Tedi mengangguk. "Lo sama pak Yogi harus dateng ya?' "ya, kalau doi mau." Aku menyahut enggan." "Kalian berantem?" "Ya, gitu lah." "Cocok berarti jodoh. Lo liat gue sama Indah? Liat tiap ketemu kita pasti berantem. Dan sekarang liat, gue malah mesra banget sama dia sekarang setelah kami nikah. Jawaban dari kisah kasih yang penuh pertikaian manja yaitu Cuma menikah." "dia tuh banyak nyebelinnya." "Ya, Cuma memposisikan aja kali Rei. Jadi, dia mau saat kalian di kantor ya Pak Yogi professional sebagai bos dan atasan." Tedi kemudian kembali dengan makan siangnya. Hari ini Pak Yogi memutuskan bertemu rekanan sendiri. Kalau ada dia di kantor mana bisa aku makan siang bersama Tedi? Sibuk buat alibi kalau kami bersama. Kami akan makan bersama di ruangannya, kantin atau makan di luar. Kemudian saat kami makan di luar ia malah sibuk dengan ponsel. Melakukan panggilan video call bersama kekasihnya. Ya, anggap saja kami makan siang bertiga. Sikapnya benar-benar berbeda saat bersama mbak Disha. Pak Yogi begitu intim dan mesra, tersenyum setiap kali kekasihnya melontarkan guyonan yang menurutku sama sekali enggak lucu. Pak Yogi luar biasa manis, dan sikapnya sama sekali berbeda saat ia menjadi bos. Tunggu .., kenapa aku jadi kesal sekali setiap membayangkan bosku itu bersama Mbak disha? Ini bukan cemburu kan? "REI!' panggilan dari tedi membuatku menoleh setelah larut dalam lamunan sesaat. "hah?! Apa sih?" "Lo kok bengong? Kangen sama Pak Tedi?" "Najeess." "Cielaah, tau nih gue."Tedi melirik dengan wajah yang menyebalkan ia bahkan menaik-turunkan kedua alisnya. "Lo aneh ya giliran gue bilang gue sama pak Yogi kemarin, lo malah enggak percaya. Sekarang gue kaya gini lo malah percaya." Mendengar kekesalan yang aku ungkapkan Tedi malah terkekeh. "Justru kalau kalian semakin sering saling kesel tandanya makin bagus." "tau ah." Aku kesal kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan Tedi sendirian. Tedi malah bodo amat dan sibuk kembali makan. Rasanya akan lebih enak jika berjalan-jalan dan duduk sejenak di taman yang ada di dekat kantor. Hari ini cerah-cerah mendung. Cuacanya tepat untuk menikmati udara luar tak terlalu panas. Waktu kecil aku paling dimanja bapak. Kemana-mana sama bapak, bahkan sampai kau bekerja di sini selama dua bulan bapak masih mengiringi motorku hingga ada di depan kantor. Saat sekolah dasar sampai dengan kelas tiga aku sering sekali dipalak. Yang paling membuat bapak marah adalah saat aku di dorong salah satu teman yang memalak ku. Bapak yang menghampiri anak itu sampai di rumah memaksa anak itu minta maaf padaku. Saat itu bapak ambil libur tiga hari temani aku di sekolah. Pria yang paling aku cintai di dunia itu menunggu di sudut lapangan, memastikan aku aman. Setelah bapak, Mas Jun selanjutnya. Melanjutkan tugas bapak menjaga aku yang cengeng. Ketika Mas Bumi pindah ke rumah kami saat SMP, aku punya dua penjaga yang luar biasa. Mas Jun dan Mas Bumi laki-laki ke dua yang aku cintai di dunia ini. ** Sore seperti biasanya aku pulang bersama Juki saja. Pak Yogi memintanya menjempu ku dengan terang-terangan di depan pintu kantor. Oke dia mendapatkan kesan yang dia inginkan mapan, tampan dan perhatian. Salahnya, adalah aku yang jadi kekasihnya dan buat iri semua gadis cantik di kantor. "Pak Yogi perhatian ya Mbak?" 'iya, Juk. Eh, kamu udah makan malam? Saya lagi pingin beli martabak nih. Bapak saya hari ini pulang." "Pak Yogi tadi udah beli banyak." "Beli apa juk?" "Kue-kue gitu mbak saya antar ke rumah Mbak Reina tadi makanannya. Pak Yogi masih ada urusan sama rekanan kayanya ada masalah daritadi saya mondar-mandir ke rekanan sama Pak Billy pengacaranya bapak." "Ada apa ya Juk?" "Aduh saya kurang tau Mbak yang jelas Pak Yogi marah sekali tadi kelihatannya." Pak Yogi tau bapak akan pulang dan ia gerak cepat mengambil kesempatan. Aku juga penasaran dengan apa yang terjadi saat ia bertemu dengan rekanan hingga memanggil pengacara pribadinya. Perjalanan kami tak terasa hingga kami kini tiba di rumah segera aku melangkah turun dengan cepat. Ingin segera bertemu bapak yang baru bisa kembali hari ini. Begitu masuk ke dalam rumah aku melihat bapak duduk dan asik makan pancake durian. Banyak kue, buah dan aneka cake di atas meja ruang tamu kami. Aku tau dengan jelas siapa pelakunya. Bapak tersenyum masih dengan sibuk mengunyah cemilan sorenya. Aku berjalan mendekat mencium tangan ayahku itu. "Assalamuallaikum.' "waalaikumsalam." Bapak mengulurkan tangan kirinya karena tangan kanannya kotor. "Enak Pak?" tanyaku. "Enak banget ini durennya rasanya medok. Pinter pacarmu cari makanan enak." Aku hanya tersenyum. Dan bapak sibuk dengan makanan kesukaannya duren. "Masalah Bumi enggak usah kami pikirkan fokus saja sama pak Yogi." Masalah Mas Bumi? Mas Bumi ada masalah apa? "kamu tau kan kalau Bude Elsa sama Ibu itu dekat sekali. Bapak memang melarang ini semua demi kebaikan kalian. Kalau seandainya kalian gagal menikah atau dalam pernikahan yang rebut malah keluarga. Lagian kalian sudah seperti kakak dan adik. Jadi, menurut bapak enggak perlu ada hubungan lain di luar itu. Rupanya malah kamu sudah punya pacar." setelah menjelaskan bapak terkekeh. Dan apa yang diungkapkan bapak barusan malah membuatku bingung sendiri. Ada apa dengan aku dan mas Bumi yang bisa membuat keluarga kami bertengkar? "Maksud Bapak apa sih?" "Yaa pa yang diomongin sama Bumi kemarin." Jawab bapak tanpa memerhatikanku. Saat itu ibu datang membawa minuman untuk bapak. Ibuku kemudian duduk di samping bapak. Meletakkan teh pahit hangat yang selalu diminum bapak di sore hari. "Mas Bumi enggak ngomong apa apa sama Reina, Pak." Bapak menoleh pada ibu yang raut wajahnya berubah kini. "Ibu juga enggak bilang apa-apa?" Aku menggelengkan kepala. "Ada apa Bu?" "Mas Jun juga ndak bilang apa-apa?" tanya bapak yang terlihat panik. "Enggak ada yang bilang apa-apa ke aku. Memangnya ada masalah apa sama aku dan Mas Bumi?" "Berarti Bapak yang baru bilang ke kamu?" aku melihat ibu yang kini menatap dengan kesal ke arah bapak. Jawabanku masih sama hanya mengangguk. Kesal juga rasanya tak diberitahu masalah yang entah apa yang akan merusak hubungan keluarga kami. Aku dan Mas Bumi kan hanya adik dan kakak. Apa mas Bumi punya kekasih yang membuatnya tak bisa bersikap dengan baik padaku? Pacar mas bumi cemburu? Tapi, mas bumi jelas mengatakan kalau dia sama sekali tak memiliki kekasih. Ibu menatapku dengan rasa bersalah, aku tau ia tak ingin aku marah tapi, ini sudah terlanjur. "Gini lho Nak. Awalnya Ibu sama Bude Elsa berniat untuk menjodohkan kamu sama Bumi. Hanya saja malah dapat berita kamu sudah punya pacar." Dijodohkan? Dengan Mas Bumi? Aku? **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD