<~Wolulas~>

1099 Words
**Author POV** . . . Malam setelah pembicaraan dengan sang ayah, Reina duduk di kamar seraya memikirkan semua yang ia dengar tadi. Dalam pikirannya Bumi tak mungkin benar-benar jatuh cinta padanya. Bumi hanya ibu dan takut membiarkan ia menjadi perawan tua, lalu pada akhirnya sang kakak sepupu menerima tawaran Ratih untuk menikahinya. Ia merasa tak ada alasan lain selain Bumi yang iba, karena ia begitu menyayangi Reina sebagai seorang adik. Itu jelas membuat Reina gelisah dan sedikit kesal juga karena sama sekali tak diberitahu. Bukankah pernikahan itu adalah hal yang akan dilakukan ia bersama Bumi nanti? Ya, paling tidak jika rencana itu terjadi nanti. Namun, jelas dalam hal ini rencana itu akan sulit terealisasi. Apalagi, ia sudah berencana menikah kontrak dengan Yogi? Beberapa kali sudah desahan terdengar dari bibirnya. Kini ia menoleh pada pintu kamar yang di ketuk. "Dek, ini Mas Bumi. Boleh masuk?" Reina menatap pintu cukup lama sebelum menjawab. Ia mungkin akan canggung, takut juga dengan apa yang mungkin akan dikatakan oleh kakak sepupunya itu. "Masuk Mas." Pintu terbuka menunjukkan Bumi yang kini berjalan masuk. Meski wajahnya menunjukan kalau ia canggung. Namun, pria itu berusaha bersikap santai pada Reina. Bumi benar-benar berusaha untuk membuat situasi ini baik-baik saja. Tak ingin sang adik menjauh karena ia juga tau jika itu terjadi jelas akan melukai hatinya juga. Bumi berjalan mendekat ia kemudian duduk di samping sang adik. Menatap Reina, "Mas mau membicarakan apa yang tadi siang dibicarakan sama Pakle." "Hmm, silahkan Mas. Aku juga mau mendengar apa yang terjadi sebenarnya. Jujur,aku sebel karena hanya aku yang enggak dikasih tau masalah itu." Bumi menghela napasnya ia jelas bisa mengerti apa yang dirasakan Reina. "Begini, setelah membicarakan perasaanku ke Ibuku-" "Perasaan Mas Bumi?" Bumi mengangguk tentu saja awal mulanya adalah dirinya yang mengatakan perasaannya ke Reina pada sang ibu. Kemudian, Bumi mengutarakan keinginannya untuk meminang Reina sebagai istri pada kedua orang tua Reina. "iya, perasaan Mas Bumi ke kamu. Setelah itu aku mengutarakan keinginan untuk meminang kamu ke Bule' dan Pakle'. Dan kedatanganku ke Jakarta kemarin sebenarnya untuk mengutarakan keinginanku itu. Hanya saja Mas Bumi terlambat. Kamu justru sudah punya pacar." Reina terdiam, ia saat ini bingung bagaimana harus merespon pernyataan dan penjelasan mas Bumi barusan. Jelas, ia terkejut dari awal pembukaan saat Bumi mengatakan ia mengungkapkan perasaannya ia sudah terkejut. Kemudian penjelasan yang lain membuat ia semakin kaget. Lalu bagaimana perasaan Reina sebenarnya? "Sejak kapan perasaan itu Mas?" "Apa itu penting sekarang?" "Penting buat aku." "Sejak aku tinggal di sini. Sejak empat belas tahun yang lalu. Sepertinya, waktu itu cuma kamu orang yang selalu menyemangati Mas. Kamu tau kan, mas bukan orang yang pintar, nilai-nilai mas di kelas jelek semua. Kamu orang yang selalu dukung mas, selalu bilang kalau 'pintar itu penting tapi yang paling penting adalah orang yang jujur dan baik'. Kamu selalu datang bawa hadiah meski nilai rapot mas hancur lebur." Bumi tersenyum, lalu mengacak rambut Reina, tersenyum menatap manik mata gadis di hadapannya. "Tapi, Mas Bumi berhasil masuk perguruan tinggi yang Mas mau kan? Mas Bumi itu benar-benar orang baik yang Reina kenal." "Kamu yang berhasil membuat Mas Bumi masuk ke universitas itu. Reina selalu jadi motivasi buat Mas Bumi. Setelah kamu menikah nanti, Mas akan selalu bisa jadi tempat untuk kamu cerita apapun." Reina melunglai seketika jujur seluruh tubuhnya saat ini seolah kehilangan tulang. Lemas sekali setelah mendengar apa yang dikatakan oleh sang kaka sepupu. Jantung? Apa dia masih punya sekarang? Sejak pengakuan itu sepertinya jantungnya pun telah menghilang dibawa kabur pernyataan sepupunya itu. "Kenapa Mas Bumi enggak bilang dari dulu?" Bumi terdiam menatap Reina lalu menggelengkan kepalanya. "Aku takut ditolak." Bumi menggenggam tangan Reina, menepuk-nepuk sambil sesekali menghela napasnya. Kemudian tatapannya beralih pada Reina, keduanya saling tatap Bumi tersenyum lagi melihat Reina yang terlihat kecewa. Bumi bergerak, mengecup kening Reina. Hingga membuat Reina memejamkan matanya, kecupan cukup lama di kening seolah pesan perpisahan untuk perasaanya pada gadis itu. Hingga Bumi mengakhiri kecupannya Reina masih terpejam. Ia masih memikirkan jika saja Bumi mengatakan terlebih dulu, ia pasti tak akan terikat pada rencana pernikahan kontrak ini. Ia akan lebih memilih Bumi tentu saja. Pria itu menatap reina, gadis itu memiliki bibir sedang dipoles liptint membuat rona peach yang manis. Bumi kemudian berdeham mencoba menghapus keinginannya untuk mencicipi si peach manis yang membuat ia berdebar. ** Yogi telah berada di ruangannya bersama Reina membahas pertemuannya kemarin dengan Pak Guna. Sampai saat ini wajahnya masih menunjukkan kalau ia sangat kesal. Sejak tadi entah sudah berapa banyak ia memaki. "jadi maksud bapak Pak Guna curang ya Pak?' "Ya jelas, kamu tau kan kemarin berapa uang yang saya kasihkan ke dia untuk pembelian mesin pembuat kain yang baru?" "Sekitar 750 juta Pak." "Iya, kan, seharusnya uang itu segera buat beli mesin baru ini malah di masukin ke Bank, dijadiin deposito. Coba kamu hitung sekarang 750 jutax30x5%x80%:365 dari kita aja dia udah dapat bunga sekitar 2juta empat ratusan perbulan. Caranya sama seperti koruptor. Sama seperti pejabat nahan uang negara buat masuk kantong sendiri. Bagus enggak saya tuntut. Saya masih mikirin dia punya istri yang harus dia urus." "kayanya Pak Guna juga ada rekanan sama Triteks ya Pak?" Yogi mengangguk. "kamu bayangin aja kalau proyeknya dari negara berapa. Buat bahan seragam tentara dan lain-lain. Saya berharap Pak Guna, enggak bicara hal yang sama tentang kerusakan mesin ke Triteks. Paling enggak suka saya kalau dicurangi begini." Yogi jelas marah karena dibohongi hanya saja ia tak ingin menuntut karena masih ada sisi kemanusiaannya yang melarang itu. Pak Guna mempunyai istri yang kini tengah menderita kanker, ia juga punya anak yang masih kuliah. Yogi tau keuangan pria itu tak baik. Namun, bukankah seharusnya kejujuran dalam bisnis adalah hal yang harus diutamakan? "Saya yakin kita bisa dapat rekanan yang lebih baik Pak." "Saya kecewa berat, kamu paling mengerti kan bagaimana kalau perusahaan dari Korea yang pesan? Tepat waktu, dan ketepatan kain juga kualitas selalu jadi prioritas paling utama? Ini sudah ada dua kali keterlambatan. Dua hari, meski hanya dua hari itu sudah menurunkan kredibilitas kita. Itu yang buat saya kecewa, membangun kepercayaan dari customer itu sulit. Makanya saya selalu keras masalah waktu dan kualitas. Tenyata masih aja banyak ngeyel.' Reina berjalan menuju lemari pendingin mengambil sekaleng minuman dingin lalu memberikan pada Yogi. "Diminum dulu Pak. Biar lebih tenang.' Ia bahkan membukakan kaleng agar sang atasan bisa minum dengan mudah. "Terima kasih." Pria itu segera meneguk minuman yang kini ada di tangannya. Ia lalu melirik pada Reina. "Ayah kamu suka kemarin kue yang saya kirim?" "Alhamdulilah suka Pak. Terima kasih banyak." "Saya mau kita ketemu ayah kamu nanti setelah kita pulang kerja." "Hari ini?' "Iya tentu hari ini." "Maaf Pak, kalau saya membatalkan pernikahan kontrak ini bagaimana?" **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD