~>Songolas<~

1193 Words
"Kenapa kamu tiba-tiba mau batalin ini?' tanya Yogi yang jelas terkejut dengan apa yang dikatakan Reina barusan. Reina menatap Yogi, kemudian menghela napasnya. "Karena ingin. Bukan urusan bapak juga kenapa saya mau membatalkan ini?" "Jelas ini urusan saya. Kita 'kan sudah sepakat? Reina, coba kamu pikirkan mami saya?"Yogi kesal ingin marah sebenarnya. Hanya saja ia takut jika kali ini marah, Reina akan semakin yakin untuk membatalkan pernikahan kontrak mereka. "Mungkin saya bisa menikah dan ketemu sama orang yang benar-benar sayang sama saya. Saya enggak mau hidup berpura-pura." "Bumi ngaku sama kamu? Kalian sepupu kan? Mana boleh nikah?" "Dalam islam itu sah dan enggak salah." Reina tersadar jika Yogi membahas tentang perasaan Bumi. "Tunggu, gimana bapak tau tentang Mas Bumi?" Pria itu terkekeh kecil, menertawakan kebodohan Reina yang jelas selama ini tak mengetahui perasaan sang kaka sepupu. "Semua jelas keliatan, sejak kita pertama ketemu waktu itu." "Ya, bagus kalau bapak tau alasannya. Sekarang saya enggak perlu banyak menjawab lagi. Saya permisi." Reina meninggalkan ruang berjalan dengan cepat menuju ruangannya. Sementara Yogi masih memikirkan bagaimana caranya agar gadis itu tetap mau menjadi istri kontraknya. Pria itu kemudian berlari ke luar melihat Reina yang sedang berbicara dengan karyawan lain. Pria pucat itu berjalan mendekati membuat atensi tertuju pada dirinya dan reina. Yogi jelas membaca situasi ini jika ia benar dalam bertindak kali ini. Reina mau tak mau akan menurutinya. "Honey kita harus bicara lagi." Reina merinding, menatap Yogi dengan kesal namun berusaha tersenyum. "Pak ...." "Aku akan tanggung jawab?" "Hah?!" Reina membekap mulut atasannya. Kini tatapan mengarah padanya dan Yogi. "Kalau kamu enggak mau kita bahas ini berdua aku akan ngomong di sini." Reina menarik tangan Yogi lalu berjalan masuk ke dalam ruangan atasannya. Sementara karyawan yang berada di sana jelas memerhatikan, memikirkan apa yang dikatakan Yogi tadi. Tanggung jawab? Tanggung jawab seperti apa? "Maksud bapak apa? Tanggung jawab seperti apa? Bapak buat yang lain mikir aneh-aneh.' "Saya sengaja, biar kamu tetap mau nikah sama saya." "Pak!" Yogi terdiam ia melihat dari salah satu sisi jendela. Terlihat beberapa karyawan berdiri tak jauh dari ruangannya. "Kita harus nikah dan saya akan tanggung jawab sama kamu." Sedikit memperkuat ucapannya agar terdengar ke luar. Ia tau idenya gila. Hanya saja, Yogi merasa rencananya tak boleh gagal. "PAK YOGI!" Reina berjalan lagi ke luar ia melihat rekan kerjanya yang berpura-pura mengobrol. Jelas sekali Reina tau Yogi mengatakan semua hal tadi karena ia ingin karyawan lainnya mendengar. Lalu menduga yang aneh-aneh tentang gunungnya dan sang atasan. Belum sempat Reina masuk ke dalam ruangannya Yogi berjalan ke luar. Memegang tangan sang sekertaris menghentikan langkah gadis itu. "Saya akan menikah, kalian tau jelas dengan siapa." Yogi berbicara di depan para karyawan, sementara Reina menyilangkan kedua tangannya di depan tubuh. Yogi melirik. "Tolong kalian dengan hari ini saya umumkan kalau saya dan Reina menjalin hubungan itu bukan desas-desus. Tolong setelah ini kalian bisa mengerti dan memahami hubungan ini." Gadis itu lalu menepis tangan Yogi dan masuk ke dalam ruangannya. "Ehmm, dia lagi agak sensitif mohon perhatian kalian." Yogi berjalan masuk kembali ke dalam ruangannya. Mengacak rambutnya sendiri, kali ini ia sadar sedikit keterlaluan dan gegabah. Ia memahami itu. Namun, yang harus ia pikirkan kali ini adalah bagaimana Reina tetap mau menjalankan rencananya. Sepeninggal Yogi para karyawan masih berkumpul, saling tatap. Kata-kata Yogi mengenai tanggung jawab dan sensitive membawa mereka pada praduga bahwa saat ini Reina hamil. "Mbak Reina hamil?' tanya Nana. "Enggak mungkin deh, masa iya Mbak Reina hamil?" Risa berpendapat karena melihat sosok Reina yang tak mungkin melakukan hal semacam itu. Jodi salah satu karyawan menopang dagu dengan tangannya. "tapi, bisa aja emang Mbak Reina hamil. Kalau gue dengar dari ucapan Pak Yogi mungkin tadinya dia enggak mau tanggung jawab. Nah, Mbak Reina udah terlanjur marah. Akhirnya, setelah dipikir dia mau tanggung jawab. Mereka tuh udah cukup umur sih. Gue yakin hubungan mereka ya udah sejauh itu." Ucapan Jodi banyak diamini membuat yang lain mengangguk. Jelas ini adalah gosip panas. Yang akan bersahutan dari 1 mulut ke mulut yang lain. Belum apa-apa sudah banyak yang menyebarkan ke teman mereka yang berada di divisi lain. Sementara di ruangannya Reina duduk merebahkan kepalanya di sofa. Ia kesal sekali dengan apa yang dilakukan sang atasan tadi. Ini jelas akan memberikan efek buruk baginya. Reina kemudian bangkit lalu mengambil tas miliknya. Ia berjalan ke luar kembali ke ruangan yogi. Pria itu sedang membaca beberapa laporan yang masuk juga mengecek perkembangan kerjasamanya dengan beberapa brand. Kegiatannya berhenti saat Reina masuk. "Saya mau berhenti bekerja." Tatapan Yogi kini tertuju pada Reina. "Kenapa?" "Apa yang bapak katakan tadi di luar itu sudah keterlaluan." Yogi kembali berdiri, berjalan menghampiri Reina kemudian. "Kamu boleh libur dan istirahat. Beberapa hari ini istirahat saja dulu. Kamu enggak bisa seenaknya keluar. Sudah ada dalam kontrak kerja, kalau karyawan yang mau keluar paling tidak harus mengajukan pengunduran diri satu bulan sebelumnya. Juga, dikontrak kerja kamu dijelaskan kalau kamu harus menjadi tentor untuk sekertaris yang baru." Reina mengangguk, lalu berjalan ke luar diiringi dengan tatapan para karyawan yang hendak berjalan menuju kantin untuk makan siang. Melihat itu Jodi berjalan menghampiri reina. "Mau ke mana Mbak?" tanya pria itu. Reina tak menjawab hanya melirik dengan kesal. Lalu berjalan masuk ke dalam lift. Tangan Jodi merentang melarang yang lain masuk ke dalam lift. Nana kesal karena Gerakan Jodi yang tiba-tiba. "Ngapain sih mas Jodi?" "Nanti dulu maksud gue. Mbak Reina lagi sensi banget kayanya." "Kalau orang hamil itu memang suka sensitive." Bu Susi salah satu karyawan tertua di sana kali ini ikut nimbrung. Tadi beliau diam saja karena sibuk dengan pekerjaannya. "Tuh kan apa gue bilang." Jodi merasa di atas angin karena apa yang ia pikirkan seolah menjadi pembenaran.. ** Reina berjalan lunglai masuk ke dalam rumah. Ia melihat Mas Jun yang tengah mencuci mobilnya. Sebal juga dengan kebiasaan kakaknya yang suka mencuci mobil di siang hari saat matahari tengah panas-panasnya. Reina berjalan cepat lalu memeluk sang kakak. "Eh, kenapa nih? Mas basah lho ini." Jun coba menghindar tapi terlanjur dipeluk erat sang adik. "Mas Jun aku sebel, sama Pak yogi." "Dia ngapain kamu?" Reina menggeleng. "Hmm, enggak ngapa-ngapain." Jun menatap Reina. "Hmm, namanya pacaran ya kaya gitu ada berantemnya." Perkataan sang kakak malah membuat Reina kesal sendiri. Ia kemudian melepaskan pelukannya lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Bergegas berjalan menuju kamarnya. Lalu rebah, malas sekali rasanya hari ini. Jun berjalan masuk berpapasan dengan bapak yang berdiri di depan tangga. "Bapak ngapain?" "Reina lagi marah-marah kayanya. Ada apa tho?" "Berantem sama Yogi tadi katanya pak," jelas Jun. "Wah, jodoh berarti. Kalau sering berantem. Kaya bapak sama ibu dulu." Bapak kemudian terkekeh dan melangkah kembali ke ruang tengah. ** Bumi dan Tedi berada dalam mobil hari menjelang malam dan jalanan kini padat sekali. Jam pulang bekerja semua ingin sampai cepat di rumah. Tedi duduk dengan gelisah, sesekali Bumi melirik. "Kamu pingin buru-buru pulang ya ted?" "Eh, enggak Mas. Cuma—tadi ...," ujar Tedi, ia bingung apa harus memberitahu Bumi tentang gossip yang beredar di kantor. "Tadi?" Bumi menoleh sesaat lalu kembali pada kemudinya. "Ah, nantilah Mas aku mau tanya sama orangnya dulu. Aku mau mampir ya ke rumah." "Tentang Reina?" Bumi jelas bisa membaca jika urusan ini pasti berhubungan dengan Reina. "Reina digosipin Mas." "Digosipin apa?" "Hamil." "Hah?!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD