2a) Ocehan Sahabat

1275 Words
Menikah, Menikah, Menikah.   Entah mengapa satu kata itu selalu didengar Amadea akhir-akhir ini. Mamahnya, teman mamahnya, customer La Beauté, bahkan kemarin sore ada seorang nenek-nenek di supermarket yang kebetulan di tempat yang sama Amadea membeli camilan pun menanyakan perihal statusnya, “Cantik-cantik kok belanja sendirian? Ke mana suaminya?”   Tampangnya kah yang sudah tua atau permasalahan yang paling utama di tahun ini adalah status wanita di usia dua puluh tujuh tahun yang masih melajang?   Telinga Amadea pun mendengung untuk kesekian kalinya ditopik yang sama, hanya saja saat ini seseorang yang menanyakannya lebih berani. “Kamu masih nggak laku ya?”   Tidak menghiraukan pertanyaan yang terlontar, Amadea lebih memilih memandang jauh ke depan, ke arah seorang anak perempuan cantik berusia dua setengah tahun yang saat ini sedang mandi bola diawasi oleh lelaki tampan bertubuh tinggi yang mengenakan pakaian casual.   “Ameeeee!!!!” Amadea menoleh ke arah pekikan seorang wanita yang saat ini sedang memasang wajah masam karena pertanyaannya tadi tidak dihiraukan. Cantik, satu kata yang sering kali orang bilang ketika melihat wanita di sampingnya, tunik blouse selutut berwarna salem yang dia kenakan terlihat cocok di tubuh ibu hamil tersebut.   “Apa, Tha?” memilih menanggapi seseorang di sampingnya sepertinya lebih baik daripada mendengar rengekan efek kehamilannya.   “Kamu tuh ya, jangan terlalu cuek jadi orang, percuma aja kamu udah berubah jadi cantik kalau sifat kamu tetap begini, mau jadi perawan tua?!” rentetan omelan bermakna nasihat membuat Amadea memejamkan matanya sesaat.   Mengingat beberapa tahun silam, di saat dirinya masih kurus tidak merawat badan, mandi sehari sekali, rambut jarang disisir, pakaian yang dikenakannya selalu itu-itu saja, maksudnya tidak berubah selalu di model jeans dan kaus serta sepatu kets.   Bandingkan dengan saat ini, di mana blouse lengan panjang berwarna biru yang ujungnya dimasukkan ke dalam rok rampel sebawah lutut dan rambut sepunggung flaxen brown-nya tampak terawat dengan ujung yang di-currly, namun jangan lupakan sandal jepit kesayangannya yang masih tampak nyaman dia gunakan, mengabaikan omelan wanita di sampingnya saat bertemu di depan mal tadi.   “Nggak mungkin kamu nggak laku, kan?!” pernyataan bernada pertanyaan membuat Amadea menghela napas kasar.   “Belum ada jodohnya, Tha” menurutnya itu adalah jawaban yang cukup baik ketika banyak orang yang bertanya perihal kesendiriannya, tapi tidak cukup baik ketika dijadikan jawaban untuk sahabatnya ini.   “Ya iyalah, gimana kamu mau dapat jodoh, nyari aja nggak, yang pendekatan ditolak sebelum beri sapaan, kamu pikir jodoh itu datang ketika kamu sendiri aja nggak berusaha mencari?” nada ketusnya membuat Amadea kembali melihat sepasang ayah-anak tak jauh di depannya.   “Atau kamu sebenarnya nggak normal?!” nada sarkastis dalam pertanyaannya membuat Amadea seketika menatap tajam ke samping kanan.   “Kalau aku nggak normal, udah aku pacarin kamu dari kita masih satu kelas bahkan ketika masa orientasi siswa dulu” sebenarnya jawabannya hanya guyon semata namun tatapan Amadea yang serius membuat sahabatnya mencubit kasar pinggang Amadea, rintihan terdengar setelahnya.   “Sembarangan!!! kalau kamu punya kelainan begitu, udah aku blacklist dari orang terdekatku” nada mengancam disambut Amadea dengan mencebikkan bibirnya.   “Berlebihan” cibirnya membuat sahabatnya menghela napas mengalah.   “Kamu gimana bisa bertahan sama Gritsha sampai udah mau punya anak kedua begini?” pertanyaan tiba-tiba yang menurut Thatha di luar topik membuatnya mengikuti arah pandang Amadea yang kali ini kembali mengamati ayah-anak yang sedang bersenda gurau, entah karena apa.   “Kamu tau dulu aku seperti apa, bahkan kamu yang dulu sering bilang, tobat Tha jangan jadi playgirl terus nanti kamu kena akibatnya” Amadea tersenyum geli ketika sahabatnya mengikuti nada suaranya saat di sekolah dulu.   Thatha memang mantan playgirl yang mantan pacarnya pun sampai lupa ada berapa, semasa sekolah Amadea pernah iseng menanyakan nama-nama mantan Thatha yang saat diurutan dua puluh dua, Thatha sudah tidak mengingatnya lagi. `Membuat stok mantan` itu kata Thatha dulu ketika ditanya mengapa mempunyai pacar banyak-banyak.   “Iya itu dulu, sekarang kamu bisa tobat begini, gimana caranya?” tanya Amadea seraya mengalihkan pandangan ke arah Thatha yang masih saja memandang ke depan.   “Gritsha nggak sempurna tapi dia bisa jadi apa aja yang aku butuhkan tanpa mengubah segala sesuatu yang ada dalam dirinya” nada Thatha menjadi lembut, sama dengan pandangannya, serta senyumnya yang seketika itu pula muncul saat anak perempuan tak jauh dari hadapan mereka melambaikan tangan kepada Thatha.   “Anggap perkataanmu menjadi jawaban yang sama saat kamu atau orang-orang di sekitarku menanyakan pertanyaan mengenai pernikahan, aku belum menemukan sosok seperti itu” Thatha hanya diam menanggapi jawaban yang didengarnya, namun dalam hati mengelak dengan jawaban pasti.   “Killa udah tau kalau mau punya adik?” pertanyaan dengan nada antusias membuat Thatha memandang sahabatnya, dalam hati berseru, `Mengapa sahabatnya masih saja susah mengungkapkan isi hatinya?`   Amadea bukannya tidak tahu arti tatapan Thatha, hanya saja dirinya memilih berpura-pura tidak tahu. Thatha memilih mengalah, mengangguk sebagai jawaban dengan tangan kanan yang saat ini mengelus sayang perutnya yang belum kentara membuncit, mengenang kehamilannya baru menginjak minggu ke-delapan.   “Gila ya, para keponakanku” Thatha menatap sinis dengan raut wajah meminta penjelasan.   “Yang satu maunya lahiran di Jepang yang satu lagi” sambil memandang lembut perut Thatha. “Jadinya di Jepang” jelas Amadea diakhiri dengan senyum meledek, Thatha mendengus namun merona mengetahui makna dari kata Jadi itu.   “Ya iyalah, mereka itu udah kekinian walau di dalam perut sekali pun, beda sama kamu yang liburan aja paling mentok ke Raja Ampat” Amadea memilih mendelikkan mata untuk menjawab ejekan tersebut, membuat Thatha memandang penuh kemenangan ke arahnya.   Bukannya tidak mampu untuk berkunjung ke negeri orang. Hanya saja, siapa yang mau Amadea ajak? Mamahnya lebih memilih berlibur bersama ayahnya yang dengan jawaban pasti ditolak oleh Amadea ketika dirinya balik diajak sedangkan adiknya selalu bersama teman-temannya jika ingin bepergian.   Memang Amadea sempat beberapa kali ke luar negeri, itu pun hanya untuk menghadiri undangan fashion show atau perlombaan tata rambut tertentu, tidak dengan liburan.   Amadea sadar ketika keluarganya seakan mengisolasi dirinya, diam adalah tindakan terbaik yang dipilih karena jawaban yang akan didapatnya ketika menanyakan mengapa tidak ada yang mau berlibur bersamanya dan jawaban, “Makannya cari gandengan” selalu dia dengar. Amadea mencibir dalam hati membantah, `Kalau pun punya, nggak bakal dikasih izin buat berduaan.`   Sedangkan Thatha yang tiga tahun ini menetap di salah satu negara maju di Asia sudah menapakkan kakinya ke beberapa negara di sekitarnya, kepulangannya dua hari lalu pun dikarenakan mutasi yang akan didapat suaminya, coba jika tidak, pasti Thatha akan lebih mengolok-oloknya dengan mengirimi gambar pemandangan di negara yang terkenal dengan gunung fuji-nya.   “Tapi serius loh, waktu kamu nge-post foto kamu yang lagi di Raja Ampat, aku bukannya envy tapi ketawa” cibir Thatha, Amadea mendengus pelan.   “Liburan kok sendiri” ejek Thatha yang membuat Amadea ingin sekali mencubit pipi tembamnya –efek kehamilan- gemas.   Namun sebelum niatnya terealisasi, Thatha lebih dulu mengambil tindakan menghindar dengan menghampiri ayah-anak yang saat ini sedang mengais langkah menghampirinya, dengan posisi sang ayah yang menggendong sayang anak perempuannya.   “Udah puas, sayang?” tanya Thatha pada putri sulungnya yang dibalas anggukan lelah dari Sakila dan kecupan di puncak kepala dari Gritsha, senyum mengejek dia lemparkan ke arah Amadea yang masih duduk di tempatnya.   Menghela napas lelah, Amadea memilih mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya daripada membalas aksi Thatha.   “Ameeeee!!!” pekikan bernada sayang membuat Amadea mengalihkan pandangan tak jauh di hadapannya, kedua tangan Thatha memeluk mesra pinggang suaminya dengan Sakila yang masih di gendongan Gritsha sedangkan tangan kanan Gritsha memeluk pundak Thatha.   Pemandangan yang terlihat indah bagi kebanyakan orang namun tidak bagi Amadea yang memilih mencebikkan bibirnya, apalagi senyum Thatha yang tampak manis bermakna lain untuk Amadea, -Mengejek- itu yang dirinya tangkap.   Menghembuskan napasnya kasar, sahabatnya benar-benar berhasil membuatnya menyesal menemui satu keluarga romantisnya. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD