Gildan cukup terkejut ketika sekembalinya dari ruang meeting, didapatinya sang ibu sudah duduk manis di sofa ruangannya dengan kotak makanan yang berisi karbonhidrat, protein, dan lauk pauk lainnya yang sudah berjajar, ditata sedemikian rupa di atas meja.
“Cucu Ibu di mana?” wanita berhijab biru menatap anaknya yang sudah duduk di sampingnya.
“Tadi Airin istrinya Izam minta izin buat ngajak Gasdan jalan-jalan ke mal, bareng anak mereka juga” jawab Gildan seraya mulai menyantap hidangan di hadapannya.
Memang dia tadi lupa menyampaikan informasi kepada ibunya, pasalnya Gasdan seharusnya sudah sampai rumah dan seperti rutinitasnya setelah pulang sekolah, bermain bersama oma dan opanya.
“Mas, Mas, mau sampai kapan kamu sendiri terus? Boh kasihan sama cucu Ibu, masa ke mal harus sama Mamah temannya, cari pendampinglah, ingat umur, Mas” Gildan yang mendengar entah keberapa kali nasihat ibunya, tak berminat menjawab ataupun memprotes.
Dirinya tetap diam menikmati makan siang yang sempat dia pikir tadi akan berakhir sendirian di sebuah restoran, namun ibunya berbaik hati mengantarkan bekal plus nasihat.
“Ginanjar aja yang beda tujuh tahun dari kamu udah ngenalin calonnya, lah kamu kapan, Mas? Jangan-jangan sampai Gantari mau nyusul Ginanjar, kamu masih sendiri terus” tegur ibunya, pasalnya di pertengahan tahun lalu adik lelakinya itu mengenalkan calon istrinya.
Entah apa yang membuat Ginanjar merencanakan untuk menikah muda, yang pasti ibunya cukup khawatir bila Gildan akan melajang terus dalam artian tidak berminat menikah sedangkan adik bungsunya, Gantari tahun ini sudah masuk semester akhir.
“Boh ya, kalau kamu belum siap pun, pikirkan cucu Ibu, dia butuh seseorang yang bisa dijadikan tempat keluh kesahnya, Ibu bukannya menilai kamu kurang berperan sebagai sosok Ayah, tapi kamu harus pikirkan seberapa pun limpahan kasih sayang yang kamu kasih ke Gasdan, tetap aja ada yang kurang.”
Melihat anak sulungnya yang tampak memikirkan ucapannya, akhirnya dengan senyum yang terlampau manis, Rinni -Ibu Gildan- mengeluarkan maksud sebenarnya.
“Mas, mau ya Ibu kenalin sama anaknya teman Ibu?” nada lembut ibunya membuat Gildan menghentikan suapannya.
Menatap ibunya sekilas. “Bu, jangan paksa saya terus. Saya bukannya nggak mau cari pendamping dan Ibu buat Gasdan” terang Gildan membuat ibunya menghela napas kasar.
“Cuma belum ada yang cocok? Yang cocok itu seperti apa, Mas? Boh jangan kebanyakan pilih, semakin ditunda lama-lama bukan Gantari aja yang bakal nyusulin kamu tapi Gasdan juga” nada lelah dalam ucapan Rinni membuat Gildan menghela napas pelan.
“Selama ini juga Gasdan nggak pernah protes minta sosok Ibu dalam kehidupannya kan, Bu?” bela Gildan yang memang benar adanya, pasalnya Gasdan tidak pernah merengek minta seorang ibu, walau terlihat pendiam, Gasdan sangat dekat dengan Gildan dan segala rengekan manja anak tampannya itu tertuang dan didengar oleh Gildan.
“Kamu jangan menutup mata hati kamu sendiri, Mas. Entah seorang anak protes atau tidak dengan keutuhan kasih sayang yang lengkap dari orangtuanya, tetap aja kamu sebagai seorang Ayah harus bisa memenuhi kewajiban yang belum pernah kamu kasih, apalagi kewajiban itu bisa kamu berikan” bantah Rinni walau dalam hati merasa tidak enak sudah terlalu jauh menekan anak sulungnya.
“Pikir, Mas. Kalau kamu bandel mau melajang terus sampai Gasdan dewasa dan pada akhirnya Gasdan memiliki keluarga sendiri, siapa yang mau ngurus kamu di hari tua, Mas?” Gildan hendak memprotes tapi seketika itu pula disela oleh Rinni.
“Kalau pun Gasdan akan tetap sayang sama kamu sampai kamu tua, boh kamu memang nggak kasihan sama mantu dan cucumu yang seharusnya lebih mendapat perhatian dari Gasdan?”
Melihat anaknya bungkam, dengan menahan napas, Rinni pun bertanya, “Apa kamu udah nggak normal, Ildan?” mata yang menatap khawatir membuat Gildan gelagapan dengan pandangan tak percaya.
“Bu, Istighfar. Anak sendiri dibilang nggak normal” protes Gildan membuat Rinni mengubah raut wajahnya. “Jadi mau ya, Ibu kenalin sama anaknya teman Ibu?” desaknya dengan nada gembira.
Gildan pun menghela napas pasrah, direbahkan punggungnya ke sandaran sofa. “Asal Gasdan mau” dan senyum penuh kemenangan terlihat dari raut wajah Rinni, mendengar anaknya akhirnya menyerah.
-_- = -_-
Bagi Gasdan ajakan teman dekatnya setelah sepulang sekolah merupakan tawaran yang harus dia sanggupi, walau bermain di mal bukanlah hal yang awam bagi anak yang saat ini masih mengenakan seragam sekolahnya, tapi bermain di Timezone dengan anak seumurannya adalah hal langka yang dia dapatkan.
Apalagi Airin -Mamah Artar- adalah seorang wanita yang baik, tidak merta karena Gasdan adalah anak dari bos suaminya yang merangkap sahabat pula, Gasdan diperlakukan istimewa. Justru Gasdan mendapat perlakuan sewajarnya, jika nakal seperti tadi menjaili es krim milik Artar, dia akan mendapat teguran halus dari mamah sahabatnya.
Memikirkan sosok ibu membuat Gasdan menampakkan raut sedih, ayah memang pernah berkata bila bunda meninggal karena lebih disayang Allah. Gasdan sempat membalas ucapan sang ayah, berarti Allah tidak sayang pada dirinya namun dengan tegas ayahnya menyangkal.
Allah sangat amat sayang pada Gasdan sehingga Gasdan ditinggal untuk menemani ayah yang akan sangat sedih bila Gasdan ikut bunda. Gasdan ingin bertanya lebih lanjut, tapi dia urungkan ketika melihat ayahnya yang terkenal tegas, menampakkan raut sedih dengan mata berkaca-kaca. Sejak saat itu, Gasdan tidak ingin membicarakan tentang bundanya lagi, takut jika ayahnya akan merasa sedih.
Namun ucapan Bella beberapa hari lalu setelah izin dua minggu membuat Gasdan berpikir bahwa kesempatannya memiliki sosok ibu masih terbuka lebar.
“Mommy Bella juga udah dipanggil Allah, tapi Daddy kathih Mommy balu buat Bella bial Bella nggak thedih.”
Mommy Bella, salah satu teman Gasdan, memang sudah setahun yang lalu meninggal, dan ternyata izinnya Bella dikarenakan daddy-nya menikah lagi.
Apa bisa seseorang yang sudah tidak memiliki sosok ibu bisa diberi lagi? Lalu apa kasih sayang yang diberikan akan sama? Dan lagi-lagi jawaban Bella membuat Gasdan menginginkan posisi serupa.
“Buktinya Mommy balu Bella nggak jahat thama Bella, Mommy Winda thelalu buat tharapan dan bekal untuk Bella, menemani Bella belajal dan membacakan celita thebelum tidur.”
“Athdan juga bitha, minta ke Ayah Athdan aja thupaya Athdan dikathih Bunda balu” saran Bella dengan nada cadel. Gasdan berpikir keras, `Memang bisa ya? Bagaimana caranya?`
“Gasdan! Artar!” pekikan semangat membuat Gasdan yang sedari tadi termenung di depan layar yang menampakkan aksi heroik sniper dan entah sejak kapan sudah tertulis kata -lose- memandang ke arah kiri masih dengan kedua tangan yang memegang senjata mainan.
Tidak jauh dari dia dan Artar, tampak salah satu teman sekelasnya. “Lio” sapa balik Artar dengan kosakata cadel sedangkan Gasdan seketika menampakkan raut tidak senangnya.
Gasdan cukup tidak suka pada Rio karena Rio suka mengusili dirinya, padahal Gasdan tidak pernah mencari gara-gara, tapi Rio selalu saja mempunyai cara membuat Gasdan kesal. Walau hanya mereka berdua yang baru lancar berbicara dalam artian tidak cadel di antara teman-teman lainnya, tidak menjadikan Rio dan Gasdan dekat.
“Gasdan kok sama Artar?” Gasdan memasang wajah cemberut, meletakkan senjata mainan yang masih dia pegang ke tempatnya, dirinya segera beranjak pergi, diikuti oleh kedua temannya.
“Memang kenapa? Aku malah lebih thenang kalau Athdan main thama aku dalipada tunggu Mamah thendilian” bela Artar yang memang apa adanya.
Setiap mamahnya mengajak ke mal baik untuk membeli keperluan rumah tangga maupun memuaskan hasrat berbelanjanya, Artar pasti bosan sendiri, dan tadi ketika mamahnya melihat raut bosan di wajah Artar ketika menjemputnya, akhirnya mamahnya menyarankan untuk mengajak Gasdan agar Artar ada teman.
Ternyata benar, ketika mamahnya pergi ke lantai atas untuk ke supermarket, Artar dengan antusias meminta izin untuk bermain di Timezone bersama Gasdan, namun dengan syarat jangan keluar dari area Timezone sebelum Mamah Artar menjemput mereka.
“Gasdan kan punya Bunda, kenapa masih ngikutin Artar?” tanya Rio membuat Gasdan yang sudah hampir keluar dari area Timezone membalikkan badan, mengeryitkan kening bingung.
“Apa maksud Rio?” tanya Gasdan dengan raut kesal, pasalnya teman-teman di kelasnya seharusnya sudah tahu bahwa bundanya sudah berada jauh di atas sana.
To Be Continued...