Rio menatap Gasdan dengan senyum yang menurut Gasdan menyebalkan. “Kata Artar, kamu diantar Bunda kamu minggu lalu” Artar yang disangkut-pautkan terlihat gugup di tempat.
“Artar kenapa ngomong begitu?” pertanyaan bernada kesal membuat Artar berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain, asal bukan ke arah Gasdan.
Memang minggu lalu saat Gasdan belum sampai sekolah, Rio mendatanginya, pada awalnya menanyakan mengapa Gasdan belum datang namun lama kelamaan berujung mengata-ngatai Gasdan yang tidak mempunya bunda. Bila itu Gasdan, pasti akan mengabaikan ucapan Rio namun sesekali juga melawannya.
Berbeda dengan Artar yang akan langsung melawan Rio, dengan nada memekik marah Artar mengatakan bila Gasdan sudah memiliki Bunda, dan setelahnya keluar kelas untuk menenangkan kekesalannya, namun tak disangka saat itu pula dirinya melihat Gasdan yang sedang mencium tangan seseorang yang belum pernah dirinya ketahui siapa.
Tanpa memikirkan apa yang dia ucapkan, Artar berseru ketika melihat Rio menyusulnya. “Itu Bunda Athdan!”
Dan saat ini Artar cukup merasa bersalah, pasalnya dirinya juga belum mengatakan perihal itu pada Gasdan dan tiba-tiba Rio mempertanyakan hal yang sebenarnya sudah Artar lupakan, karena setelahnya Rio tidak pernah menyinggung perihal bunda lagi pada Gasdan ataupun dirinya.
“It-itu ma-ma-maaf Athdan” ucapan Artar terdengar terbata. Gasdan menampakkan raut tidak puas pasalnya apa maksud Artar sebenarnya dengan mengatakan bahwa dirinya mempunyai bunda.
“Loh! Itu bukannya Bunda kamu?” pekik Rio dengan menunjuk seseorang yang tak jauh di seberang sana, yang terlihat sedang melambaikan tangannya ke arah lain di depannya.
“Bukan!” pekik Gasdan seraya menghentakkan kaki, tanpa melihat arah yang ditunjuk Rio. Dia masih kesal dan tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Gasdan nggak boleh begitu! Kata Artar itu Bunda kamu” protes Rio dengan ekspresi gemas karena dirinya masih sangat ingat dengan sosok yang Artar sebut Bunda Gasdan, walau minggu lalu dia hanya melihat dari jauh sama seperti sekarang, Rio yakin yang dilihatnya kini memang Bunda Gasdan.
“Udah, ayo kita samperin” dengan antusias Rio menarik tangan kanan Gasdan dan tanpa persetujuan, segera mengajak berlari dengan Gasdan yang mencoba memberontak dalam genggamannya.
-_- = -_-
Amadea masih melambaikan tangan kanan ke arah Sakila karena anak menggemaskan itu masih dengan antusias melihat ke arahnya, posisinya yang digendong dengan wajah menghadap belakang, membuat Sakila leluasa memberikan senyum manis kepada seseorang yang mommy-nya bilang, Tante Ame.
Amadea menghembuskan napas pelan dan setelahnya membalikkan badan untuk memakai lift yang terhubung langsung ke arah lobi mal, pasalnya Pak Risman sudah menjemput, berbeda arah dengan Thatha yang menggunakan lift yang tersambung ke area basement.
Namun baru langkah ketiga, dirinya sudah dikejutkan oleh kedua anak kecil di depannya yang tampak kelelahan karena berlari. Sambil mengernyitkan kening bingung, Amadea memperhatikan salah satu anak yang terlihat melepas paksa genggaman tangan temannya.
Tiba-tiba Amadea merasakan lagi geleyar aneh dalam hatinya yang beberapa waktu lalu, baru pertama kali dirasakannya.
“Gasdan” panggil Amadea ragu, namun dengan anak di hadapannya yang sekilas mendongakkan kepala setelah melihat dirinya lalu menunduk. Amadea yakin dirinya tidak salah.
Sedangkan Gasdan seketika memasang wajah terkejut dengan kedua mata membulat ketika menyadari bahwa seseorang di hadapannya adalah orang yang sama yang pernah menolongnya.
“Halo, Tante! Aku Rio teman sekelas Gasdan” sapa riang anak di samping Gasdan membuat Amadea, walau canggung, menampakkan senyum.
“Halo juga” balas Amadea sekilas menatap Gasdan yang tampak gusar di tempat. “Gasdan kenapa diam, sapa Bunda kamu” nada gemas terdengar mendengung di telinga Amadea terlebih kata bunda yang dirinya tangkap.
Seakan tidak memercayai pendengarannya, Amadea kembali bertanya, “Ada yang bisa Tante bantu?” satu pertanyaan dengan dua jawaban yang berbeda membuat Amadea mengernyitkan kening. Gasdan yang menggeleng yakin sedangkan temannya yang mengangguk pasti.
“Tante kenapa pergi tinggalin Gasdan sama Artar?” Amadea berupaya menampakkan ekspresi senormal mungkin, `Apa maksud meninggalkan di sini? Dan siapa pula Artar?` sedangkan Rio bertanya karena menurutnya Bunda Gasdan meninggalkan Gasdan sehingga Artar yang harus menemani Gasdan.
Terlihat Gasdan yang tambah gusar di sampingnya. “Kamu kenapa? Aku baik loh! Mau antar kamu ketemu Bunda kamu” bangga Rio membuat Gasdan benar-benar kesal.
Gasdan memilih menundukkan kepala. “Jangan-jangan kamu bohong ya?” tuduh Rio membuat Gasdan memandang temannya cemberut dengan muka merah padam, tak terima. “Aku nggak bohong!”
“Terus kenapa kamu nggak mau nyapa Bunda kamu?” menurut Gasdan, kali ini Rio benar-benar menyebalkan.
Siapa sebenarnya di sini yang bersalah? Siapa yang mengatakan Gasdan sudah memiliki bunda? Siapa yang menarik dirinya dan berlari untuk menemui seseorang yang Rio pikir bundanya?
Tapi Rio dengan tampang tidak bersalah segera memojokkan Gasdan. “Aku udah pikir kalau kamu memang nggak akan punya Bunda!” nada menjengkelkannya membuat Gasdan yang saat ini sudah berkaca-kaca, ingin meraung menangis.
Rasanya sakit, terasa di area serambi kirinya. Entah karena apa, dirinya pun tak tahu tapi yang jelas Gasdan tidak suka akan ucapan Rio.
“Gasdan bohooong! Gasdan bohooong! Gasdan bohooong!” nada mengejek Rio benar-benar membuat Gasdan tidak dapat menahan air matanya, mengapa dirinya yang disebut pembohong padahal Gasdan sendiri sebenarnya tidak tahu mengapa Rio atau bahkan Artar –yang mengatakan pada Rio- beranggapan dirinya mempunyai bunda.
“Aku nggak bohong!” pekik Gasdan dengan air mata yang sudah menderai di kedua pipi cabinya yang masih tampak memerah menahan kesal.
“Gasdan nggak bohong!” ulang Gasdan lagi namun tatapannya kini beralih ke arah Amadea yang langsung tertegun di tempat.
Amadea memang sedari tadi memilih memperhatikan interaksi kedua anak di depannya karena dia bingung dengan situasi yang kini menarik dirinya masuk ke dalamnya. Melihat Gasdan yang berurai air mata sungguh membuat Amadea merasakan perasaan asing lagi, namun bukan geleyar aneh seperti biasa, ini terasa sesak.
Sedangkan beberapa orang yang entah sejak kapan mengamati mereka, terlihat memandang menghakiminya, mungkin mereka pikir Amadea adalah ibu yang tega meninggalkan anaknya, seperti yang dikatakan Rio.
Dengan perlahan tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di sekitarnya, Amadea menarik Gasdan ke dalam gendongannya, dengan lembut mengusap sayang kepala anak yang masih menangis tergugu dengan kata-kata yang masih sama terlontar. “Gasdan nggak bohong!”
“Anak tampan nggak boleh nangis” suara lembutnya membuat Gasdan menatap Amadea yang kini sedang mengusap air mata di kedua pipi Gasdan dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dijadikan tumpuan untuk menahan berat Gasdan.
“Gasdan nggak bohong!” ulang Gasdan entah keberapa kali dengan sorot mata yang menurut Amadea –menyakitkan- membuat dirinya tanpa disadari berujar, “Iya, Gasdan nggak bohong” dan setelahnya Amadea rasa sepasang lengan kecil melingkari lehernya. Amadea menimang Gasdan dan berulang kali berucap kata yang sama. “Gasdan nggak bohong.”
“Lio! Athdan!” pekikan cadel menyadarkan Rio yang tampak bersalah telah membuat Gasdan menangis. Membalikkan tubuh, Rio melihat Artar yang sedang berjalan dengan tangan kanan digenggam mommy-nya.
“Rio katanya cuma sebentar mau sapa teman-temannya, kok malah ngilang?” Rio hanya mengalihkan pandangannya ke arah Gasdan dan mommy-nya beberapa kali.
“Kata Artar, Gasdan punya Bunda makanya Rio penasaran” Rio menjawab dengan mata yang menatap Artar.
Artar kembali gelagapan. Sebenarnya Artar tadi sempat panik, mau mengikuti Rio dan Gasdan atau tidak, pasalnya mamahnya sudah berpesan agar tidak meninggalkan area Timezone sebelum mamahnya kembali.
Dan tepat ketika itu, Artar melihat seseorang yang diketahuinya adalah Mommy Rio sedang menatap, menelusuri area Timezone yang Artar pikir untuk mencari keberadaan Rio, dengan langkah kecilnya, Artar menghampiri Mommy Rio dan mengatakan tadi Rio menarik Gasdan dan menunjukkan arahnya.
Melly -Mommy Rio- yang sebenarnya masih kurang paham karena setahunya bunda teman anaknya sudah meninggal pun segera mengalihkan pandangan ke depan, di mana Gasdan yang terlihat sesegukan, tampak nyaman berada dalam gendongan seorang wanita.
Amadea tidak menghiraukan sama sekali obrolan ibu-anak di hadapannya, bahkan sampai seorang wanita yang membawa belanjaan menghampiri mereka pun, dirinya masih fokus terhadap Gasdan.
Sedangkan Gasdan tampak tidak mengacuhkan orang-orang di sekitarnya setelah menemukan tempat nyaman yang masih menggendongnya, bahkan saat ini terlihat Gasdan semakin mengeratkan kedua lengan kecilnya.
“Bunda” lirihnya.
To Be Continued...