Suara pintu yang dibuka tanpa persetujuan -dari seseorang yang saat ini sedang sibuk dengan berbagai macam lembaran bermeterai di tangannya- pun dihadiahi tatapan tajam dari pemilik ruangan, membuat seorang lelaki berkacamata yang sudah berdiri di hadapannya tersenyum kaku, namun hanya sesaat. “Anda masih menganggap saya sebagai sahabat, tidak?” Kening Gildan mengerut sedikit namun dengan enggan meletakkan kembali lembaran kerja sama. Direktur Perencanaan yang merangkap sahabatnya kini menatapnya dengan pandangan menghakimi, tingkahnya membuat Gildan menggelengkan kepala sekilas, merasa sahabat seperjuangannya telah salah memilih profesi, harusnya sahabatnya –Izam- memilih jurusan acting saat berkuliah dulu. Gildan berdiri berniat menghampiri sahabatnya dan menanyakan maksud pertan

