Untuk kedua kalinya pertanyaan Amadea tidak mendapat balasan. Terlebih kini Gildan mengambil langkah meninggalkannya yang harus melakukan transaksi jual-beli. Setelah mendapat kembalian, Amadea segera menyusul langkah Gildan yang ternyata tidak benar-benar meninggalkannya. Gildan hanya berjalan beberapa langkah ke depan, namun sebelum melintasi jalan raya, dia menunggu Amadea menyusul. “Sepertinya ada yang ketinggalan, Anda bisa pergi terlebih dahulu” Mendengarnya, Gildan tampak bingung ketika mereka sudah beberapa langkah dekat hotel, namun wajahnya masih sama datar. “Mau saya temani?” tawarnya setidaknya dia harus membalas kesanggupan wanita -yang entah mengapa menampakkan raut wajah cemas- di sampingnya yang sempat menemaninya makan. “Tidak terima kasih” Gildan tentu saj

