Serena yang kembali memikirkan tentang kehidupan malang Ariadna segera berusaha sekuat mungkin untuk membuat dirinya kembali ceria seperti biasa. Saat ini, di rumahnya ada tunangannya yang tengah menunggu dirinya, ada ibunya yang tengah menunggu dengan makan malam yang hangat dan terasa benar-benar lezat. Serena menepuk perlahan wajah dengan kedua tangan dan berlarian kecil menuju salah satu rumah yang berada dalam komplek yang tidak begitu jauh dari pusat kota. Serena sengaja membeli rumah itu dengan uang tabungannya agar ia tidak perlu merepotkan ibunya lagi, meski pada akhirnya ia tetap harus merepotkan ibunya. Serena menggenggam erat kantung besar berisi buah jeruk dan apel kesukaan ibunya, Serena juga tidak lupa membelikan rokok dan bir kaleng dengan merk dan rasa kesukaan Aldree. Serena ingin memberikan oleh-oleh pada dua orang yang begitu ia cintai sepanjang hidupnya itu. Dua orang yang menopang hidupnya dan akan terus menjadi tiang yang membuatnya harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan.
Hingga kakinya memelan ketika Serena tak sengaja mendengar suara televisi yang begitu keras dari arah rumahnya. Serena merasa kebingungan dengan hal tersebut, mengintat ibunya bukanlah sosok penggemar televisi, ia juga tidak ingat jika Aldree menikmati menonton siaran dengan suara yang keras. Bahkan, saat menonton siaran sepak bola kesukaannya pun, Aldree hanya akan menaikkan volumenya satu atau dua tingkat sehingga ia tak mengganggu isi rumah atau tetangga sebelah. Serena semakin mengerutkan keningnya heran karena lampu depan rumahnya yang masih belum juga dinyalakan, yang ia tahu, ibunya selalu menyalakan lampu teras pada pukul enam sore. Karena Serena ingat, ibu pernah mengatakan jika tidak bagus sebuah rumah masih terlihat gelap ketika Matahari sudah turun. Serena melangkah perlahan, ia perhatikan lampu yang tergantung di terasnya, ia berpikir apakah lampunya rusak dan Aldree tidak sempat menggantinya atau ada kejadian yang Serena tidak ketahui. Sesaat sebelum Serena hendak membuka pintu dan memastikan apa yang terjadi, pandangan mata Serena menangkap cahaya terang dari jendela yang belum tertutup gorden itu. Dan entah kenapa, Serena merasa ia harus melihat keadaan rumah dari balik jendela.
Seperti sedang ditampar ribuan kali, seperti sedang dihujam dengan belati, Serena, dengan kedua matanya menyaksikan bagaimana tunangannya melakukan hal yang harusnya ia lakukan bersama Serena. Serena menatap pada Aldree yang tak mengenakan pakaian barang sehelai pun, dan berada di atas tubuh ibunya sendiri, di atas tubuh Sang ibu yang juga tidak lagi memakai pakaiannya. Serena harus menatap pada wajah wanita tua yang menjadi pahlawan untuknya selama ini tengah menikmati setiap gerakan dan hentakkan kecil yang Aldree berikan padanya. Wajah ibu dan Aldree tampak memerah, berkeringat dan terlihat begitu berantakan. Seperti layaknya sepasang kekasih yang tak lagi mengenal tempat dan waktu untuk bercinta dan saling bertindih satu sama lain. Tubuh Serena gemetar, ia tak dapat menahan sesuatu yang seolah akan meledak saat itu juga.
Brak!
Serena membuka pintu depan, kini ia dapat mencium aroma parfum ibunya yang menyengat yang membuatnya merasa mual. Kini ia dapat melihat dengan jelas bagaimana ibunya menggelinjang menikmati setiap sentuhan tunangannya itu. Serena juga dapat melihat dengan jelas bagaimana Aldree, pria yang akan menikah dengannya itu melahap rakus setiap bagian tubuh ibunya, wanita yang akan jadi mertuanya sendiri. Wanita yang harusnya Aldree anggap sebagai orang tuanya sendiri. Serena masih diam, masih tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Ia tak menyangka, tak pernah terlintas di benaknya jika dua orang yang paling penting dalam hidupnya ini lah yang menusuknya paling dalam. Aldree diam, ibunya diam, keduanya tak tahu harus bagaimana ketika melihat sosok Serena masuk begitu saja tanpa ada pemberitahuan. Serena dapat melihat wajah gelagapan Sang ibu, yang mendorong cepat tubuh Aldree dan membuat pria itu menarik miliknya dari dalam tubuh ibunya. Serena dapat melihat bagaimana gemetar tangan Sang ibunda saat meraih pakaian yang berserakan di lantai dan buru-buru mendekati Serena.
"Serena, Serena putriku! Ini hanya salah paham, ini tidak seperti apa yang kau saksikan! Ibu bisa menjelaskan semuanya padamu! Serena, putri Ibu," ucap wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik itu, suaranya terdengar gemetar dan ia masih berupaya untuk mendekati Serena agar putrinya masih bisa tenang dan memercayai kata-katanya. Aldree pun begitu, pria yang telah menjalani hubungan dengannya selama empat tahun itu secepat mungkin memakai celana dan membenarkan penampilannya, ia buru-buru mendekati Serena dengan keringat dan aroma parfum milik ibunya yang masih melekat di tubuh. Serena mencebik, ia tersenyum lalu tertawa. Ia tak tahu harus apa lagi saat ini, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi situasi saat ini. Air mata telah jatuh, sejak tadi. Tak dapat ia tahan, ia benar-benar hancur, ia hancur karena tangan-tangan yang ia percaya dan ia cintai. Dunia Serena seokah terhenti dan ia benar-benar marah, ia begitu marah pada dunia yang seolah mempermainkannya, pada dunia yang harus memberikannya ujian sebesar ini.
"Dasar p*****r! w************n! Bisa-bisanya Ibu, bisa-bisanya Ibu lakukan ini padaku! Dan kau, kau manusia sampah! Manusia tidak punya akal yang tidak mirip manusia! Kau seperti binatang! Bahkan binatang tahu mana wanitanya mana Ibunya! Kau lebih rendah dari binatang! Aku benar-benar membenci kalian! Dasar sampah! Keluar! Keluar dari rumahku sekarang juga! Keluar kalian! Keluar!" Serena berteriak sekuat mungkin, ia tak mau lagi mendengar apa pun, ia tak mau lagi melihat apa pun. Ia sudah benar-benar muak. Serena menggeret ibu dan kekasihnya itu keluar dari rumah, melempar pakaian mereka keluar dan tak peduli keadaan mereka. Serena juga tak pagi peduli bagaimana dua orang itu berteriak dan mengetuk pintu rumahnya, memohon dan mengatakan jika mereka punya alasan kenapa mereka melakukan hal itu. Serena muak, ia membanting semua barang yang ada di sana, ia berteriak hingga suaranya habis.
Hidupnya telah berakhir, dunianya telah runtuh. Serena tak lagi ingin hidup di dunia, ia merasa tak akan mampu melanjutkan kehidupannya. Serena perlahan menggeret tubuhnya ke kamar mandi, gadis itu memadamkan lampu dan membiarkan tubuhnya terendam di dalam bath tub. Serena menyandarkan tubuhnya perlahan, salah satu tangannya telah menggenggam pisau, dan tak butuu waktu lama baginya untuk mengiris pergelangan tangan sendiri. Serena perlahan memejamkan mata, membiarkan rasa sakit di lengan dan di hatinya menyatu dan menyerangnya bersamaan. Ia biarkan darahnya mengalir bersama air yang menggenang merendam tubuhnya. Di sela ingatan manisnya yang masih tersisa, Serena mengingat tentang Ariadna, tentang gadis malang yang mungkin saja hidupnya akan jadi lebih baik jika ada tangan mengulur padanya. Seperti dirinya saat ini, seperti Serena yang telah dikhianati oleh tangan yang menggenggamnya, dan mengharap tangan itu dapat meraihnya lagi meski ia tahu semuanya telah terlambat.