Milikku, Deon

1625 Words
“Sebenarnya tadi kamu ngomong apaan? Pegang laki-laki itu maksudnya gimana?” Arianti duduk sambil memeluk kakinya. Deon masih memejamkan matanya menikmati angin yang sepoi-sepoi yang terasa sejuk, dia masih enggan menjawab pertanyaan wanita yang ada disampingnya. “Kok kamu diam aja sih, ngapain juga kita disini? Aku mau baring ke kelas sekarang terserah kamu mau ngapain juga, jangan ajak aku untuk hal yang enggak baik ya,” kata Arianti dengan tegas. “Siapa bilang kamu boleh kembali ke kelas? Kamu enggak tahu siapa aku ya?” Deon memegang tangan Arianti dengan kasar. Arianti terdiam melihat wajah Deon dengan lebih jelas, seakan terpana dengan wajahnya yang teramat tampan. Kalau bisa bilang Deon lebih keren dan ganteng sedangkan Kak Revan versi manisnya, Arianti tak berkedip dan juga tidak memalingkan wajahnya. Tangan kanannya tanpa sadar mengelus wajah itu. Deon masih memegam tangan Arianti dengan kuat, dia menatap mata wanita yang ada depannya dengan serius. Wajahnya Arianti sungguh manis dengan mata yang bulat kecoklatan, hidung mancung, bibirnya tipis, rambut keriting terurai indah dengan bando coklat polkadot yang imut. Ditambah lagi poni yang panjang di sekitar wajahnya, pipinya kini ada semburat merah tomat. ‘Imut sekali wanita ini, dia miliku sekarang.” batin Deon. Deon tersenyum licik, ketika dia merasakan sentuhan tangan lembut Arianti. Tetapi ada getaran yang enggak wajah di dalam hatinya. “Kamu masih terpana ya dengan aku ya?” Arianti tersengal, langsung menarik tangannya. “Karena kamu udah berani menyentuhku, kamu harus diberi hukuman ya. Oh ya soal tadi dikelas kamu enggak usah berpikiran yang aneh-aneh, aku cuma mau menyelamatkan kamu dari buaya kayak dia.” Deon menghela nafas berat, sambil melepaskan tangan Arianti, “Yah, lebih tepatnya aku cuma kasihan aja, kamu terlalu polos,” Deon pun berdiri membelakangi Arianti sambil memasukkan tangannya ke saku. Arianti pun yang mendengar perkataan Deon sungguh kesal, dia pun langsung berdiri dan berdiri di depan Deon. Kini mereka pun saling berhadapan, dengan wajah yang memerah dan tangan yang masih mengepal. Mungkin kalau bisa digambarkan di atas kepala Arianti kini ada asap yang sedang berkepul-kepul. “Kamu itu menyebalkan sekali ya, dari awal cuma tiduran doang di kelas. Terus narik-narik aku kesini, sekarang kamu bilang kalau aku polos. Emang kamu siapa melarang aku dekat dengan Kak Revan,” Arianti menunjuk wajah Deon sambil berteriak, “Aku enggak peduli siapa pun kamu, urusin aja kehidupan sendiri. Jangan ikut campur hidupku dan satu hal lagi aku enggak mau dihukum dengan kamu. Aku enggak takut sama makhluk kayak kamu,” Arianti langsung meninggalkan Deon. Arianti berlari dengan d**a yang naik-turun rasanya kesal dan sesak dalam hatinya saat ini. Sampai dia pun tidak melihat jalan akhirnya tersungkur di koridor sekolah. Airmata Arianti pun turun dengan deras, tapi dia berusaha tidak bersuara. Sejak tadi aku menahan air mata ini, tapi dia sudah tidak kuat apalagi merasakan sakit di seluruh badannya. “Mau sampai kapan kamu mau duduk disini?” Arianti mendongakkan kepalanya, “Wanita cantik seperti kamu, enggak pantes menangis. Mana yang sakit?” Revan mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. Arianti pun menerima tangan Revan tetapi saat ingin berusaha berdiri. Dia masih merasakan sakit dan tidak bisa berdiri. “Aduh…” Arianti memegang lututnya. Tanpa banyak bicara Revan langsung membopong Arianti dengan cepat. Arianti masih terkejut, dia malah memandangi wajah Revan yang mengagumkan dan juga wangi maskulin semakin tercium keluar. “Kakak turun aku, kayaknya aku masih bisa berjalan kok,” kata Arianti sambil tertunduk malu. “Sudah kamu diam aja, mendingan kamu pegangan leher aku. Sebentar lagi sampai di UKS,” Regan terus memandang ke depan. Arianti enggan memegang lehernya, dia tak ingin ada orang yang salah paham dengan semua ini. Apalagi ini juga disekolah tidak mungkin akan bertingkah seperti itu. Akhirnya pun mereka sampai di UKS. Arianti mengetuk pintu dan memegang hendel pintu membuka pintu tersebut, “Eh… Lo Van kirain siapa, jam segini ke UKS” kata laki-laki yang seumur Revan dan disampingnya ada seorang wanita. “Kamu tuh kebiasaan deh, enggak ada akhlaknya lo. Setidaknya jangan lupa dikunci gitu lo” Revan membaringkan Arianti di Bed. “Loh pikir aku dan shella ngapain woy,” Deni mukul kepala Revan, “Kamu jangan berpikir macam-macam ya, Dek. Ini kenapa kaki kamu? Aku obati ya” Shella mendekati lutut Arianti sambil melirik tajam ke arah Revan. “Ih kalian pacaran toh, jadi siapa yang enggak pikir aneh-aneh kalau kalian di ruangan berdua kayak ini. Ini tadi Arianti jatoh makanya luka bukan karena aku ya” Revan memperhatikan Arianti yang mengiris saat di obati. “Dasar b**o Lo” teriak Deni dan Shella. “Inikan ada CCTV cuy bahkan ada 4 disini dan juga disini enggak ada tirai pembatasnya toh. Gimana caranya kayak gitu?” Deni ngetok kepala Revan pakai obat merah biar sadar. “Tenang Bro, akukan cuma khawatir sama saudara aku toh. Apalagi kamukan playboy cap kuda jadikan, aku agak ngeri-ngeri sedep gitu. Shella lagian kamu ngapain kamu pacaran sama dia kayak enggak ada cowok lain aja” Revan pun merangkul Deni dengan cengiran kuda. Revan dan Shella memang bersaudara, mereka juga seumuran tapi beda bulan lahirnya. Tapi mereka sering berantem, apalagi setelah tahu Shella berpacaran dengan sahabatnya Deni. Deni yang notabennya playboy ini, sejak dulu mantannya Deni banyak banget bahkan tak jarang diduakan juga. Revan hanya takut Shella juga dipermainkan oleh sahabatnya ini, tetapi sebelum pacaran Revan sudah memperingatkan Deni kalau sampai Shella mengadu disakiti maka putuslah persahabatan mereka. Tapi Revan kini bisa melihat perubahan sikap dari Deni yang jauh lebih perhatian dan sabar sikap Shella yang lebih bar-bar itu. Shella hanya menanggapi pertanyaan Revan dengan lirikan tajamnya. Dia terlalu males meladeni saudara ini yang kayak badut ancol, Shella sekali melihat ke arah wajah wanita ini. ‘Kok tumben Revan bisa perhatian banget sih, emang dia baik sama dengan semua orang. Tapi ini rasanya beda,’ batin Shella. “Nama kamu siapa?” Shella kembali ke meja dan menyentuh bolpen, “Arianti kak.” Arianti menurunkan kakinya ke bawah, dan duduk di bed. Revan pun menyruhnya untuk kembali istirahat, tetapi Arianti memaksa untuk kembali ke kelas. Dia tak ingin terlalu lama meninggalkan kelas, akhirnya Revan pun membantunya untuk kembali ke kelas dengan memapahnya dengan lembut. Arianti melihat ke sekeliling tampak sepi dan ada beberapa kelas yang tampak kosong. “Kak, sekolahnya kelihatan sepi banget ya?” Arianti menoleh ke Revan, “Iya memang kamu tadi keluar bersama Deon cukup lamakan, udah pada pulang semuanya.” Revan mengajak Arianti duduk di depan koridor. “Istirahat dulu ya,” Revan membantunya untuk duduk. Setelah kepergian Arianti dan Deon pergi saling berpegangan tangan. Revan melihat kepergian wanita itu dengan kepayahan mengikuti Deon yang memaksa dengan tarikan yang begitu kuat, semua adek kelas pun melihat ke arahnya. “Semua tundukkan kepala sekarang!” Teriak Revan dengan keras. Suaranya pun menyeruak di ruang kelas, bahkan para temannya pun ikut mengikuti instrusi tersebut. Anggota OSIS semua tahu kalau Revan sampai berteriak seperti dia sedang marah dan semua perintah harus diikuti. Revan yang terkenal Ketua OSIS paling dihormati dan bijaksana juga jarang marah sekalinya marah, jangan harap bisa menginjak sekolah ini lagi. Revan keluar kelas dan memandang kedua orang yang terus berlari mulai menjauh, dia pun mengecilkan pandangan mau tahu kemana Deon membawa wanita itu. “Bro, terus ini gimana?” Ricky melirik ke Revan. “Bubarkan sekarang, info buat besok disebar lewat WA” kata Revan pelan dan tegas. Ricky mengambil ponselnya dan mengabarkan semua untuk segera membubarkan semua anak-anak baru, Anak OSIS bisa segera kumpul ke ruang OSIS untuk membahas besok akan seperti apa besok. Setelah selesai Rifky melihat ke arah wajah Revan yang tampak menahan amarah. Hanya sahabat dan saudara Revan yang berani menyentuh ataupun berbicara dengannya ketika amarahnya sedang menyeruak seperti ini. “Adek-adek kini semuanya bisa siap-siap pulang, besok jangan sampai telat dan juga membawa apa yang harus dibawa ya. Nanti semua akan diinfokan oleh PJ kalian ya,” kata Mawar dengan pelan. “Kalau gitu kalian bikin grup aja dulu baru ke ruang OSIS ya” Mawar dan anggota lain keluar dari kelas. Semua anggota tampak menyapa Revan dengan senyuman, tetapi Revan masih marah mereka memilih untuk menghindari dan langsung ke ruang OSIS, Revan pun mulai berkeliling dan memantau seisi ruangan memastikan adek-adek baru semuanya sudah pulang. Setelah mengetahui hari ini pulang lebih awal, Nindy pun cukup senang bisa menghabiskan waktunya di rumah dengan beristirahat. Tiba-tiba dia jadi teringat saudara kurang ajar itu, seketika hatinya bergemuruh. Arianti yang berwajah jelek begitu bisa mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari dua orang yang terkenal disini. “Aku enggak bisa tinggal diam, dia harus tahu posisinya yang sebenarnya itu dimana kenapa dia bisa sok-sok gitu di depanku, kurang ajar banget,” batin Nindy. “Eh,,, Arianti itu kemana ya kok sampai sekarang belum balik juga?” celetuk Bella, “Sok kecantikan tahu,” sahut Citra. “Gimana kalau kita beri pelajaran aja tuh dia, biar dia enggak sok kecakepan gitu yuk,” Nindy mengajak temannya berunding. Mereka setuju. “Tunggu saja Babuku, Arianti sayang.” Nindy tersenyum licik. Mirna dan Delima sejak tadi tampak tidak tenang memikirkan nasib Arianti yang diajak Deon, sejak tahu gosip kalau Deon memiliki sikap yang dingin, arogan, dan mudah marah. Setelah pulang sekolah akan mencari keberadaan sahabatnya. “Kenapa kalian belum pulang?” Mendengar suara sontak mereka berbalik, “Maaf kak, kami temannya Arianti. Saya ingin mencari keberadaannya sekalian memberikan tas dan juga nmr telpon kak.” Mirna sambil menunjukkan tasnya. “Sudahlah kalian pulang aja, biar ini semua aku yang mengurusnya” Revan mengambil semua itu dari tangan Mirna. Mereka pun akhirnya pulang setelah berpamitan dengannya. Revan menyimpan semuanya di kelasnya, setelahnya akan mencari keberadaan gadis itu. Dari kejauhan dia melihat Arianti berlari dan terjatuh. Dia bergegas berlari dan menolong, tetapi satu hal yang membuatnya bingung. "Kenapa hati ini begitu berdebar-debar saat melihat wajah wanita itu?" Batin Revan saat berlari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD