Teman Baru

1055 Words
“Kenapa kami harus ninggalin kamu coba, aku tuh berteman dengan siapa aja dan tidak melihat latar belakang orang tersebut. Benar gak Mir?” Delima menepuk puncak Mirna. “Iya Ri, aku dan Delima enggak kayak gitu kok lagian juga aku merasa cocok dengan kamu. Kita nambah saru sahabat kita lagi ya, Del?” tanya Mirna sambil tersenyum. Mereka saling berpelukan, Arianti baru merasakan yang namanya sahabat yang sejati. Sahabat yang selalu ada dalam keadaan suka atau duka, tidak saling meninggalkan tapi membantu mencari solusi. Sebenarnya Arianti masih takut disakiti dengan sahabatnya sendiri, tapi melihat kedua orang ini Arianti percaya dengan pertemanan ini. Sejak awal tak pernah keduanya tidak mencaritahu tentang latar belakang keluarga ataupun sebagainya. Arianti pun duduk di dekat toilet wanita sambil menunggu kedatangan Mirna dan Delima sedang koperasi untuk membelikan rok baru. “Kenapa kamu malah ngalamun disini, harusnya udah masuk kelaskan?” Arianti pun tersentak langsung menoleh ke sebelah kanan. Aku terdiam melihat ciptaan Tuhan yang indah, Rambut yang tertata rapi, hidung mancung, alis yang tipis sedikit berantakan, juga bibir tipis berwarna merah muda. Dengan sedekat ini aku mencium bau maskulin yang khas, aku melihat sekilas ke arah d**a dan perutnya ternyata ada roti sobek disana walaupun tertutupi dengan seragam. "Kok bisa ada cowok setampan ini sih, aku mimpikah?" Arianti sampai susah menelan ludahnya. “Mau sampai kamu bengong kayak gini, apa wajah aku sebegitu keren ya,” Laki-laki menepuk puncak Arianti. Arianti pun langsung tersadar, segera membuang mukanya ke arah lain. Sungguh malunya dia, mukanya sudah memanas dan cuaca saat itu tiba-tiba menjadi panas tak ada angin yang bertiup. “Maaf kak, aku sedang menunggu temanku yang lagi toilet kak” ucapku sambil menunduk kepala, muka Arianti sudah seperti tomat. “Ya sudah kalau gitu, segera kembali ke kelas ya. Nanti kalau kita bertemu lagi beritahu aku namamu ya, Aku Revan.” Revan berdiri dan melangkah menjauh. Arianti mendengar suara langkah kaki yang semakin berjauh, mulai mengangkat kepalanya dan melihat dari belakang tubuh Revan. Tetapi tak disangka Revan pun membalikkan tubuhnya dan tersenyum manis kepada Arianti lalu melanjutkan jalannya di depan sana. ‘Kenapa aku deg-degan ya? gila cowok itu tampan banget sih. Senyuman itu buat akukan tapi kayaknya iya disini sudah tidak orang lagikan’ batin Arianti sambil meremas tangannya. “Gila kamu bisa dekat dengan senior di hari pertamamu, Keren” kata Mirna sambil duduk di dekatku. “Iya keren coba aja aku enggak punya cowok aku gebet juga senior itu,” kata Delima sambil memeluk Arianti. Setelah berganti pakaian mereka segera kembali ke kelas. Sesampainya di kelas belum ada senior dan guru yang datang, mereka pun langsung masuk ke kelas. Arianti masih bisa merasakan banyak pasang mata yang melihatnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tetapi Delima memegang tangan Arianti seperti memberikan kekuatan kepada Arianti. Arianti pun duduk melihat ke samping bangkunya. Orang itu masih ada di posisi seperti itu, Arianti masih bingung dengan kelakuan sebelahanya ini. Tiba-tiba ada yang masuk dua orang di dalam kelas, sepertinya mereka adalah senior MOS. “Hallo selamat pagi adek-adek, namaku Kiara dan ini Dimas. Kami yang akan bertanggung jawab untuk kelas ini sampai MOS ini selesai. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik ya,” kata Kiara ramah. “Jika perlu sesuatu silahkan beritahu kami ya, setelah ini kami akan memberitahukan kegiatan MOS ini akan berjalan nantinya,” kata Dimas sambil menulis sesuatu disana. Kiara dan Dimas menerangkan semua yang harus dilakukan para murid baru dan juga menjelaskan kalau bertemu dengan kakak kelas harus menyapa, baik itu anggota OSIS maupun bukan. Mereka juga mengatakan setiap harinya akan ada anggota OSIS yang lebih tinggi jabatan datang untuk melihat kelengkapan atribut dan juga barang bawaan yang harus di bawa. Mereka juga menjelaskan kalau nantinya juga akan ada materi yang di sampaikan oleh para guru dan konseling dengan BK. Tiba-tiba saat mereka masih menjelaskan ada ketukan pintu dan banyak kakak senior yang masuk. Seketika ruangan menjadi sepi bahkan jangkrik pun tidak ada suaranya. “Oke, pasti penanggung jawab kalian sudah menjelaskan bukan kalau ada OSIS senior yang akan masuk?” kata wanita itu lembut, “Jawab… kalau ditanya itu dijawab!” bentak dengan nada yang keras. “Sudah Kak,” serembak kami pun menjawab dengan segera. “Semua berdirinya!,” bentaknya lagi. Arianti pun berdiri dengan wajahnya yang tertunduk, tetepi melihat sebelahnya masih aja tertidur Arianti pun mencoba untuk membangunkan dengan menempuk pundaknya dan juga menendang kakinya tapi tak juga membuahkan hasil. Arianti pun tidak menghira kalau senior mulai berjalan melihat kelengkapan seragam kami. “Ternyata aku benar ya bisa ketemu kamu lagi sini,” Revan menepuk puncak kepala Arianti, Arianti cukup kaget dengan perlakukan kakak seniornya ini yang sedikit kurang ajar, tapi dia tak bisa berbuat apapun sebab Arianti terhipnotis dengan perlakukan manis dan wajah tampan Revan saat ini. Arianti pun hanya bisa tertunduk dan badannya cukup lemas selain itu juga dia merasakan detak jantungnya ini semakin memacu terus menerus. “Jadi nama kamu siapa sebenarnya?” katanya lembut. Tiba-tiba ada yang menggebrak meja Arianti, Arianti sontak kaget dan terpelanjak ke belakang sampai terduduk. Semua orang menatap ke arah Arianti untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Arianti mendongak ke atas, dia melihat orang yang duduk di sebelahnya ternyata wajahnya sungguh imut dengan adanya keturanan arab-pakistan, hidungnya yang mancung, bibir tipis tampak basah, wajah putih bersih, alis yang lebat serta rambut yang sedikit berantakan. Laki-laki itu langsung menarik kerah baju Revan, dari matanya bisa mengatakan kalau dia sedang marah warna sedikit merah, nafas yang tersengal dengan otot tangan yang mulai memutih. “Hai, tunggu dulu boy kenapa kamu tiba-tiba marah seperti ini?” tanya Revan sambil melepaskan kerah bajunya. “Aku tidak suka dengan gayamu yang sok gantengan” kata laki-laki sambil menjatuhkan Revan. Arianti pun merasakan tangannya digenggam dia pun mendongak ke atas, dia melihat laki-laki tersenyum manis. Akhirnya laki-laki ini membawa Arianti keluar dari kelas dengan berlari dan tidak sekali pun melepaskan genggamannya. Semua orang termasuk kakak senior yang melihat ini tidak berusaha menolongku tapi hanya diam tak berbuat apapun. “Lepaskan aku, kamu mau bawa aku kemana sih?” Aku mencoba melepaskan tanganku, “sudah diam aja, atau kamu di pegang dengan laki-laki itu tadi ya,” Arianti pun diam mengikuti semua keinginan laki-laki ini, akhirnya mereka pun berada di taman belakang yang cukup indah. Kami pun membaringakn tubuh kami di bawah pohon beringin dengan daun juga rambutnya bergoyang tertimpa angin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD