Episode 13

1017 Words
Di sebuah ruangan yang sangat luas, sangking luasnya, bahkan mampu menampung ribuan orang. Ini adalah raungan aula yang sejak beberapa jam lalu kami tuju. Lantai pualam yang serba putih di ruangan ini terbuat dari marmer terbaik, yang bahkan terlihat seperti air. Di tengah-tengah ruangan, sebuah lampu yang sangat besar menggantung dengan keindahannya, terdapat ukuran-ukiran yang begitu rumit, bersinar kuning emas. Membuat ruangan ini menjadi semakin mewah. Beberapa meter dariku terlihat kursi sofa melingkar, di tengahnya terdapat sebuah meja bundar. Itu terlihat mirip seperti apa yang ada di rumah Lucia sebelumnya. Mungkin, itu adalah tren masa kini. Sharman meninggalkan kami, dia sepertinya sedang bersiap-siap. Hanya tersisa aku dan Lucia di ruangan kosong ini. Lucia, sejak tadi, tampak resah. Seakan tidak bisa menahan diri dengan keindahan ruangan ini. Hanya tinggal menunggu waktu hingga aku di panggil untuk memasuki ruangan pertemuan, itu semacam ruangan rapat DPR, aku bisa menebaknya. Tanganku membeku kedinginan, suhu di ruangan ini sangat dingin. Terlebih, aku cukup gerogi, sungguh, aku tidak pernah melakukan pertemuan secara formal. Ini lebih seperti pertemuan antar raja dengan wilayah kekuasaan yang besar. "Kamu baik-baik saja, Fi. Wajahmu terlihat sangat pucat" Lucia bertanya khawatir. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir, Lucia" Aku menggenggam tangan Lucia, dia tampak khawatir, namun ini bukan sesuatu yang perlu di khawatirkan. "Dingin, dingin sekali tanganmu, Lutfi" Wajah Lucia terlihat semakin khawatir. "Ini hanya karena suhu di ruangan ini sangat dingin" Aku berbohong. Tentu saja bukan karena itu, aku sangat gugup, jantungku berdebar kencang. Aku mencoba keras untuk memenangkan diri. Sepertinya, kami akan di mintai keterangan sebagai saksi atas kejadian sebelumnya di pusat pasar. Shannon, kalau tidak salah namanya. Dia adalah pengguna buku kerakusan. Sangat mengerikan. Melihatnya saja, tulang punggungku membeku. "Silahkan tuan, Lutfi, Lucia" Seseorang mempersilahkan kami memasuki ruangan pertemuan, itu adalah pelayanan, memakai pakaian pelayanan serba hitam yang sangat anggun. Pelayanan berambut panjang legam tersebut memandu kami masuk ke dalam ruangan pertemuan. "Luar biasa!" Aku tidak bisa berkata-kata, hanya itu kata yang tidak sengaja keluar dari mulut ku. Ruangan ini jauh berbeda dari apa yang selama ini aku bayangkan. Ruangan ini tidak terlalu besar, hanya berukuran 80 x 80 m², berbentuk kotak sempurna. Di dalam ruangannya terdapat banyak sekali kursi yang mengitari sebuah meja yang berbentuk bulat. Persis seperti ruangan tempat KTT berlangsung. Terlihat beberapa orang yang sudah hadir dan duduk di kursinya. Ruangan ini tidak terisi penuh, hanya di hadiri dua puluh orang termasuk Aku dan Lucia. "Selamat datang para hadirin, pemimpin dari berbagai dunia" Seseorang yang berdiri gagah di tengah meja yang melingkar, menyambut kami semua. Tapi, "pemimpin dari berbagai dunia" Tampaknya terlalu berlebihan untuk ku. Apakah semua orang di sini adalah pemimpin? Tidak mungkin, itu pasti tidak mungkin. Aku mengabaikannya, lebih tepatnya konsentrasi ku teralihkan untuk mencari kursi yang kosong. Aku duduk di dekat sudut ruangan, di sebelahku terdapat sebuah jendela yang sangat besar, terlihat pemandangan alam yang masih murni tanpa tersentuh manusia. Ciel duduk di sebelahku. "Maaf, aku terlambat, Lutfi" Itu adalah Sharman, dia menyapaku, lalu ikut duduk. Lima menit berlalu, pembicara itu masih berbicara tentang krisis militer yang tengah terjadi, membahas tentang peristiwa yang mengerikan di pusat pasar, serangan mendadak di sebuah gedung, dan seterusnya. Mencapai kesimpulan bahwa ancaman dari pengguna kekuatan adalah ancaman yang begitu serius. Pembicara itu telah selesai, kami di beri kesempatan untuk berbicara, Sharman yang menjelaskan situasinya. "Dewan militer yang terhormat, dan para pemimpin yang saya hormati. Telah terjadi krisis yang serius ke pada kita sebagai manusia. Pengguna Buku Kematian, telah menampakkan gerak-geriknya. Sudah menjadi rahasia umum pengguna kekuatan itu nyata, dan Buku Kematian adalah sesuatu yang tidak terduga. Namun, yang lebih tidak terduga lagi adalah munculnya pengguna buku kehidupan. Saya yakin pengguna kekuatan waktu terlibat dalam situasi ini. Maka dari itu kita harus melakukan tindakan pencegahan terhadap pengguna Buku Kematian" Sharman menjelaskan dengan baik, mulai dari mengapa aku bisa berada di garis waktu ini, tentang Shannon, pengguna buku kerakusan, hingga sekarang secara detail. Aku dengan cepat menyadari situasi saat ini memang buruk. Sepuluh menit berlalu, diskusi macet, buntu. Para pemimpin tahu, militer mereka tidak akan sanggup melawan pengguna kekuatan. Mereka tidak ingin melakukan pengorbanan yang sia-sia. Aku di beri kesempatan untuk berbicara, menyampaikan pendapatku, dan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Aku dan Lucia telah bertekad untuk melawan pengguna Buku Kehidupan, dan menemui Buku Waktu untuk mengembalikan ke garis waktu aku sebenarnya. Rindu ku kepada orangtua ku sangat sulit untuk di tahan, lebih sering aku khawatir dengan keadaan mereka. Apakah kakak ku merawat mereka dengan baik? Semoga saja iya. "Aku benar-benar mengerti situasi saat ini, seluruh dunia mengalami teror dari Buku Kematian, dan kami telah bertekad untuk melakukan perlawanan dan mengalahkan Pengguna Buku Kematian, itulah tekadku, tekad teman terbaikku, dan tekad penasihatku. Lalu, kami akan menemui pengguna Buku Waktu, agar bisa mengembangkan Aku ke garis waktu asal" Kata-kataku sangat buruk, aku khawatir mereka tidak mengerti apa yang aku katakan. Di luar dugaan, seluruh ruangan di gerumuhi suara tepuk tangan, dan mencapai kesimpulan bahwa seluruh pengguna kekuatan akan di kumpulkan untuk melawan pengguna Buku Kematian. Belum selesai pertemuan itu, tiba-tiba, sebuah lubang kecil berwarna hitam muncul di tengah-tengah kami. Tak butuh waktu lama hingga lubang tersebut menjadi besar, sehingga bisa di lewat orang. Benar saja, itu adalah portal ruang. Dari portal itu keluar tiga sosok, di tengah mereka adalah seorang gadis dengan pakaian yang anggun yang terhembus angin sepoi-sepoi, sangat indah. Tubuhnya seakan memancarkan cahaya berwarna hitam, padahal seharusnya warna hitam tidak bisa memancarkan cahaya. Kedua orang di sampingnya, tidak asing bagiku, aku pernah bertemu dengannya. Dia adalah orang yang paling mengerikan, paling berbahaya, orang yang Aku dan Sharman hadapi di pusat pasar. Dia adalah Shannon. "Gawat, PENYUSUP. Bagaimana bisa seseorang bisa menyusup ke ruangan ini!? Padahal seharusnya itu mustahil di lakukan. Segera lakukan evakuasi!" Seseorang yang sejak jadi menjadi pembicara mengambil tindakan cepat, dia adalah dewan militer, keputusannya selalu akurat. Situasi begitu kacau, mengapa dia bisa ke sini, dan kenapa timingnya di saat seperti ini. Untungnya, Sharman bersama kami. Dia adalah petarung yang hebat. Walapun begitu, yang kami hadapi saat ini adalah orang yang anomali. "Selamat sore, Pengguna Buku Kehidupan" Seorang gadis tersebut menyapaku, tersenyum ramah. Namun, itu terlihat mengerikan, aku tidak tahu apa maksud tujuannya kemari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD