Ruangan kecil berukuran tidak lebih dari 5 meter itu senyap, hanya menyisakan putih yang memantul dari segala ruangan. Di ruangan putih itu adalah tempat 'bersembunyi' pengguna buku kehidupan. Yang selalu di kejar teror mengerikan baginya.
"Sayang sekali kamu tidak bisa menangkap sharman, pengguna buku takdir itu" Suara seseorang terdengar menggema di ruangan 4 x 4 m² tersebut, tapi itu bukan suara pria, melainkan suara seorang gadis yang berumur 15 tahun.
"Saya sangat menyesal, Tuan. Saya tidak menduga pengguna Buku Kehidupan akan muncul. Maafkan saya" Suara serak seorang pria yang sangat berkebalikan dengan lawan bicara terdengar sangat kontras.
Itu adalah Shannon, pria setinggi dua meter itu sedang menunduk menyesal.
"Itu bukan salah mu, aku justru heran mengapa ada dua buku kehidupan di garis waktu yang sama. Ini sungguh tidak masuk akal" Gadis itu berdiri dari kursi yang merupakan tempat singgasananya.
Gadis tersebut terlihat sangat anggun, seperti seorang putri bangsawan. Membuat siapapun yang melihatnya jatuh hati, bukan hanya kecantikannya, juga sifatnya yang sangat baik hati.
Gaun serba hitam yang di pakainya berserakan di lantai pualam yang serba putih, seakan dia bersinar mengalahkan ruangan putih tersebut, padahal dia berpakaian sebagai hitam.
"Lutfi, bukankah itu namanya? Ini sungguh menarik, sudah lama aku tidak bertemu pengguna buku kehidupan" Gadis itu tersenyum tipis "temani aku untuk bertemu dengannya, Shannon" Gadis itu menatap pria yang sejak tadi bungkuk di sudut ruangan.
"Baik tuan, dengan senang hati"
Seketika, seluruh ruangan putih itu berubah menjadi tempat lain yang tidak di kenali. Gadis itu telah melakukan teleportasi.
***
Aku bersiap-siap untuk melakukan pertemuan dengan Shannon, lebih tepatnya aku di undang oleh Dewan militer kota ini. Lucia juga ikut mengantarku.
"Sebenarnya aku ingin memberikan sesuatu kepada mu, Lutfi" Lucia menatapku ragu.
"Apa? Ada apa denganmu Lucia, tidak seperti biasanya" Aku bertanya heran.
Tidak seperti biasanya Lucia seperti ini.
"Ini, aku memberikannya padamu" Lucia memberikan sesuatu.
Itu adalah baju, sangat indah. Warnanya sangat lembut, aku tidak bisa mendeskripsikan ke indahnya.
"Kamu harus memakainya, aku tidak ingin melihat kamu pergi dengan baju yang compang-camping" Lucia menjelaskan.
Lucia benar, selama ini aku tidak pernah mengganti bajuku dengan selain baju yang aku bawa dari rumah. Mungkin pada masa ini baju yang ku kenakan sangat kuno.
Belakangan ini, lebih tepatnya sebulan belakangan, aku sering melihat Lucia sedang menjahit. Aku tidak menyangka dia sedang menjahit baju untuku.
Aku menatap Lucia, tersenyum tipis "Terima kasih, Lucia. Aku akan memakainya"
Lucia tampak senang dengan itu. Dia menutupi kesenangannya itu dengan menyuruhku segera, sebelum kami terlambat untuk pertemuan yang sangat penting itu.
Aku dengan cepat bersiap-siap kembali, tak lama, sharman menjemput ku dan Lucia. Kami berangkat menggunakan benda kubus yang melayang satu meter di atas tanah. Benda itu mirip dengan mobil polisi yang pernah menjeret ku ke dalam masalah.
20 menit berlalu, tak banyak yang bisa di lakukan di dalam kendaraan ini. Aku hanya bertukar informasi dengan sharman, sesekali juga mengobrol dengan Lucia.
Gedung pertemuan sudah terlihat dari sini, itu berarti hanya hitungan menit lagi kami sampai. Aku menghabiskan waktu mengobrol dengan Lucia, terkadang bergurau dengannya.
Biasanya benda yang di sebut kapsul terbang ini, tidak memiliki pengemudi, maksudku adalah beroprasi secara mandiri. Namun, kali ini berbeda, Sharman yang mengendalikan benda ini. Tempat yang akan kami kunjungi sangat rahasia, untuk mengantisipasi persetasan, benda yang beroperasi secara otomatis tidak di ijinkan. Semua sistemnya di nonaktifkan, itulah kenapa Sharman yang menjadi supir kami.
Hanya Sharman yang tahu tempatnya, tempat ini sangat terpencil dan jauh dari perkotaan. Dibutuhkan 5 jam perjalanan untuk sampai, tapi yang berbeda adalah benda ini 'terbang' diatas jalan dengan kecepatan yang tidak masuk akal, lebih dari 750 kilometer per jam. Jika di hitung-hitung jarak perjalanan kami adalah 3750 kilometer. Itu sama seperti perjalanan dari Jakarta ke Bangkok ditambah dengan jarak dari Sydney ke Melbourne.
"Jika itu adalah perjalanan dijaman ku, jarak itu baru bisa di tempuh setelah berbulan-bulan perjalanan" Tanpa sadar suara keluar dari mulutku, sangking merasa kasihannya orang pada zaman ku.
"Hahaha, aku mengerti apa yang kau pikirkan, Lutfi. Manusia telah berkembang pesat, namun prilaku mereka tetap sama saja, masih saja buang sampah sembarangan, menggunakan energi yang penuh polusi, merusak alam. Ketika bencana terjadi, mereka menyalahkan pemerintah, mengeluh, seakan-akan mereka yang paling terpuruk" Sharman, yang sedang menyetir, menjawab keresahan ku. Seakan-akan tahu apa yang sedang aku pikirkan.
Sharman benar, sejak jaman dulu manusia tidak pernah belajar dengan pengalaman di masa lalu. Walaupun di masa ini sudah hampir tidak ada perang antara wilayah, permasalahan dunia tidak menjadi lebih baik. Justru semakin parah dengan terjadinya krisis iklim. Memang tidak terasa dalam jangka waktu yang singkat, mungkin puluhan, ratusan, bahkan akan berdampak ribuan tahun kedepan.
Walaupun sebagian teknologi di masa ini menggunakan energi listrik yang cenderung lebih bersih dari polusi, masih banyak yang menggunakan energi fosil yang hampir punah. Toh menggunakan energi listrik juga menggunakan generator yang memerlukan bahan bakar fosil, itu pikirkan orang-orang. Yah, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan itu, tapi itu adalah fakta yang menyedihkan.
***
Sejak tadi, kami di suguhkan pemandangan alam yang menakjubkan. Pohon-pohon besar yang memang masih murni dan belum tersentuh oleh manusia. Bukan karena sesuatu, memang hutan ini di lindungi oleh pemerintah.
Berbagai flora dan fauna yang melimpah kami lewati. Sesekali kami melihat orang utan yang sedang bergelantungan, gajah-gajah yang memancungkan belalainya ke atas, lalu menyemprotkannya ke gajah yang lain. Walaupun hanya dapat melihatnya selintas, tetap saja itu menakjubkan.
"Kita sudah hampir sampai, Lutfi, Lucia. Kalian bisa melihat gedung pertemuan di sebelah kanan" Sharman sembari menunjukkan tangan ke sebuah bangunan, lebih tepatnya gedung, seperti sebuah istana yang di selimuti belukar akar dan pepohonan.
Kami dapat melihatnya dari sini, Lucia yang melihatnya pun terpana. Bangunan itu seperti kastil di negeri dongeng, aku yakin orang yang mendesain bangunan itu memiliki selera yang baik.
"Sangat indah" Itu bukan suara ku, Lucia seperti sedang terhipnotis sekarang. Menatap dari balik jendela kapsul ini, sembari menempelkan lengannya di jendela.
"Yeah, tentu saja itu indah. Itu adalah bangunan terbaik di bumi, di buat dari material terbaik, di kerjakan oleh pengrajin terbaik, di desain oleh pendesain terbaik. Tentu itu sangat indah, aku yang sudah beberapa kali melihatnya pun masih tidak percaya dengan keindahannya" Sharman menjelaskan.
"Kamu benar, tapi, kamu seharusnya tahu tempat seperti apa yang akan kita tuju, dan ada siapa di sana" Tanyaku penasaran.
Aku sebenarnya tahu bahwa kami akan melakukan pertemuan untuk membahas mengenai masalah yang sangat mendesak saat ini. Sebelumnya Sharman juga memberitahuku bahwa dia akan melaporkannya ke dewan militer kota. Tetapi, aku tidak mengetahui akan bertemu dengan siapa. Jantungku berdebar kencang, tidak sabar mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Sungguh, ini benar-benar menarik sekaligus sedikit menakutkan bagiku.