Episode 11

1032 Words
Dua minggu telah berlalu. Kami menghabiskan hari dengan sedikit lebih normal di "masa depan" Ini, meskipun memerlukan adaptasi. Aku dan Lucia selalu membahas rencana krisis ini, apa yang akan kita lakukan kedepannya? Apakah kita akan membiarkan begitu saja orang berbahaya itu bebas? Sharmman yang merupakan seorang anggota dan salah satu panglima militer di kota ini juga sedang melakukan investigasi terkait kasus ini, namun tidak tahu apakah pihak kota akan menanggapi ini dengan serius atau hanya angin lewat saja. Tapi ini sangat serius, Shannon, bahkan dia mampu membuat Sharmman menjadi bulan-bulanan. Dia adalah orang yang sangat berbahaya. Aku tidak tahu apa yang dia maksud dengan "orang itu" Dia menyebutkannya saat kami bertarung. "Ahh, ini sangat merepotkan" Aku menghela nafas panjang. Sungguh, aku yang hanya ingin merantau ke kota lain, namun, tiba-tiba tersesat di massa yang bahkan tidak di duga. Hari ini hari sabtu, kami berencana melakukan pertemuan malam ini. Aku dan Lucia akan hadir untuk membahas masalah ini. Walaupun mungkin aku hanya akan menjadi pengganggu. "Tidak baik jika terlalu stress memikirkan hal itu, Lutfi" Seseorang datang, itu suara orang yang aku kenali, Lucia. "Yeah, mungkin kamu benar. Tapi tetap saja aku tidak bisa hanya berdiam diri, tidak melakukan apa-apa" Aku menghala nafas lagi, mengeluh. Lucia datang membawa bahan-bahan makanan yang telah dia beli di pasar. Pasar sebelumnya telah hancur porak-poranda, jadi seluruh aktivitas pasar di relokasi ke pasar yang lain. "Apakah kamu lapar? Lutfi. Aku akan merasakan sesuatu untuk-Mu" Lucia menatapku sejenak, aku mengangguk, lantas tanpa bertanya dua kali Lucia pergi ke dapur. Aku meraih tas ku, mengambil buku yang terlihat kuno itu. Membalik-balikan halamannya, tapi itu tidak berguna. Buku itu terlihat kosong, hanya ada tulisan yang sepertinya itu nama seseorang tapi di tulis dengan bahasa yang tidak aku kenali. Buku itu hanya mengeluarkan cahaya hijau zamrud ketika aku memanggilnya, lalu mengeluarkan suara yang merambat melalui sesuatu yang tidak bisa di jelaskan. Itu jelas berada di luar akal manusia. Bukan hanya itu, bahkan buku ini yang membuat Lucia menjadi seperti sekarang. Sebelumnya dia adalah nenek tua yang umurnya mungkin sekitar 60-an, hey, tapi lihatlah sekarang, bahkan dia seperti anak kelas 2 SMA, dia terlihat seperti gadis berusia 15 tahun. Aku jadi mengingat pertama kali aku ke kota ini, rumah Lucia yang sekarang hancur lebur karena buku ini pula. Sekarang Aku dan Lucia tinggal di sebuah hotel di pusat kota. Untungnya, semua biaya di tanggung asuransi. Aku tidak tahu di masa ini begitu luar biasa. Pikiranku terhenti seketika ketika seorang gadis datang membawa nampan berisi makanan-makanan yang terlihat lezat. Lucia meletakkan nampan-nampan itu ke atas meja yang berada di tengah-tengah ruangan besar. "Terima kasih, Lucia" Aku menatapnya, tersenyum tipis. "Tidak masalah, kamu harus mengisi tenaga, Lutfi. Aku tahu kamu selalu banyak memikirkan sesuatu, kamu akhir-akhir ini selalu melamun." Lucia menatapku sesat, lalu balik badan pergi ke dapur. "Kamu tidak ikut makan?" Aku bertanya, langkah Lucia terhenti. "Makanan ini terlalu banyak jika ku makan sendiri" Aku melanjutkan. "Umm, mungkin aku akan ikut makan bersamamu" Sembari mendorong kursi yang berada di samping-samping meja berbentuk oval. Kami mengambil makanan yang terlihat sangat berbeda di dunia ku, itu semua terlihat asing bagiku. Namun sepertinya itu lezat. "Bagaimana? Makanan pada masa ini, masa depan" Lucia bertanya, dia tampaknya penasaran melihatku yang sedang kebingungan. "Ini terlihat sangat berbeda dengan makanan di desaku, biasanya aku hanya memakan ubi rebus, atau sayur-sayuran yang hanya di rebus dan di beri garam. Atau jika itu adalah makanan daging, kami hanya membakarnya." Aku mengambil beberapa makanan, memasukukan ke dalam nampanku. "Ini sangat enak" Tanpa sadar kalimat itu keluar dari mulutku, sungguh, aku tidak pernah memakan makanan selezat ini. "Terima kasih" Lucia entah kenapa mengucapkan Terima kasih, seharusnya aku yang mengucapkannya. "Terima kasih untuk apa, seharusnya aku yang bilang Terima kasih 'kan?" Aku bertanya heran. Wajah Lucia memanas, dia terlihat seperti kepiting rebus. Entah marah atau apa. "Tidak, lupakan saja." Kami menghabiskan makanan yang ada di meja. *** "Sharmman, sudah berkali-kali saya beri tahu kamu untuk tidak menggunakan kekuatan itu" Tampak seseorang yang berbicara dengan sharmman di kegelapan malam. "Maafkan aku, sungguh, itu benar-benar situasi yang tidak terduga. Seseorang dengan kekuatan sangat besar muncul di tengah-tengah pasar, kalau tidak salah namanya shannon." Sharmman tampak sedang meminta maaf ke pada orang itu. "Orang itu, ya? Ini akan gawat jika orang rakus itu bersekongkol dengan pengguna buku jahat itu" Orang itu duduk di sebuah kursi yang sangat mewah. Berupa ukiran-ukiran yang rumit menghiasi singgasana itu. "Dia sepertinya mengincar temanku, pengguna buku kehidupan" Sharmman melanjutkan. "Apa!? Pengguna buku kehidupan katamu!" Orang itu menghela nafas pelan, meraih tongkat di sebelahnya. Belum tongkat itu di genggamnya, tongkat itu melayang berputar di sebelahnya "ini benar-benar takdir yang tidak bisa ku sanggah" Dia melanjutkan, kembali merilekskan duduknya. "Jangan berpura-pura tidak tahu, aku yakin itu ada campur tangan buku milik mu" Sharmman menatap tajam orang itu. "Itu mungkin saja terjadi, tapi aku benar-benar tidak tahu. Buku itu memiliki kehendaknya sendiri. Aku tidak bisa mengontrolnya, bahkan aku tidak mau menggunakannya" Orang itu berusaha menyangkal Sharmman. "Hahaha, Aku tidak yakin begitu Wrath, Tempus si pengguna sekaligus penjaga kunci waktu" Sharmman tertawa, bergurau. Tapi ini benar-benar sebuah kebetulan yang tidak biasa. Pengguna buku kematian dan kehidupan hadir di era yang sama. "Apakah era 2000 tahun itu akan terulang kembali? Aku harap itu tidak akan pernah terjadi lagi, di mana seluruh pengguna buku saling menyerang. Itu adalah perang yang bahkan dapat menghancurkan bumi, dan dalam kasus tertentu dapat mengacaukan garis waktu." "Aku tidak bisa membayangkannya, kita harus menyusun rencana, dan bertindak secepatnya. Wat" Sharmman berdiri dari kursinya. "Kau mau kemana? Sharmman" Wrath bertanya kepada sharmman. "Aku akan mencari informasi" Belum selesai kalimatnya, dia telah menghilang di telan kabut hitam. "Ini benar-benar menarik, sudah ratusan tahun aku hidup. Akhirnya aku akan mengalami era ini, sungguh beruntungnya aku" Dia tertawa, meletakan telapak tangan di wajahnya. Seakan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah perang besar akan terjadi, dan itu pasti akan terjadi. Antara kubu kematian, atau kehidupan. Siapakah yang akan menang, itu tidaklah penting. Perang adalah perang, tidak ada yang benar atau salah, tidak ada yang menang ataupun kalah. Hanya alasan sederhana seperti ke inginan kembali ke rumah telah memicu peperangan terbesar di dunia. Perang ini bukan perang militer, melainkan perang orang yang memiliki kekuatan yang di luar nalar manusia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD