Hari ini aku dan Pak Jackson sudah harus start melakukan penelitian di sebuah laboratorium penelitian fisika dan mengunjungi seorang ahli budidaya biota di Kota ‘S’ yang harus di tempuh sekitar dua jam lamanya dari kota tempat kampusku berada dan berkuliah. Kota itu memiliki pantai wisata yang sangat indah dan banyak budidaya biota laut yang di kembangkan di sana.
“Pak Jackson kenapa masih belum datang ya?”
Aku melihat jam di tanganku sudah menunjukan waktu pertemuanku dengannya. kemarin Pak Jackson menelponku dan mengatakan bahwa aku lebih baik untuk pergi bersamanya saja ke laboratorium yang berada di kota ‘S’ itu. Tapi ini sudah lewat sepuluh menit dari jadwal yang seharusnya yang sudah di janjikan kemarin oleh Pak Jackson.
“cih… Pak Jackson bilangnya jangan sampe telat, liat siapa yang telat sekarang. Ini udah 9. 15, dia udah telat 15 menit… kalo ini kelas dan aku yang jadi dosennya udah aku suruh keluar tuh Pak Jackson dari ruangan”
gerutuku, padahal tadi pagi aku sampai melewatkan sarapan karena takut kesiangan dan mendapat omelan darinya. tapi sekarang aku malah sudah berdiri hampir berlumut menunggunya sejak 25 menit yang lalu karena aku memang sengaja datang 10 menit lebih awal tadi.
“hhhh… pegel”
Dan tak lama kemudian sebuah mobil Audi hitam berhenti di hadapanku. Dan menurunkan kaca mobilnya.
“naik”
Ucap Pak Jackson singkat. Kulihat ia seperti akan pergi berlibur dari pada pergi untuk melakukan penelitian. Gayanya yang cukup eye catching dengan Lengan kemejanya di gulung sampai setengahnya dan kaca mata hitam bertengger di wajah tampannya. Rambutnya yang di buatnya bergaya up naik dan menyisakan beberapa helai yang membentuk koma membuat level karismanya meroket saja.
“ayoo… cepet kok bengong saya tinggal nih”
Ingatnya padaku yang malah berdiri bengong, menikmati pemandangan di depanku. lumayan pikirku, bisa untuk cuci mata pagi ini.
“ah… iya Pak”
Balasku, langsung naik dan duduk di samping dirinya yang memegang kemudi mobil itu. dan tiba-tiba saja Pak Jackson mendekat ke arahku, wajahnya sangat dekat sampai aku membulatkan mata kaget di buatnya.
“sabuk pengaman”
Ucapnya, tangannya lalu memasangkan sabuk pengaman itu di tubuhku sementara aku masih linglung dengan gerakannya yang tiba-tiba mendekat baru saja itu.
“ah… ohh… iya Pak makasih”
Kikuk sekali aku saat ini, pertama kalinya wajahku berhadapan sedekat itu dengan seorang pria. Tapi mungkin kalau di ingat lagi itu yang ke tiga atau ke empat wajah tampannya itu hanya berjarak beberapa mili saja dari wajahku ini.
‘ahh… Irene sadar, jangan bayangin yang engga-engga sama si Pak Jackson ini’
“oh iya, tumben Pak, telat datengnya”
Kataku sambil meliliriknya, membuka topik pembicaraan dan berusaha mengalihkan pikiranku yang sudah melayang ke jenis Fanfiction yang cukup liar bersamanya.
“ehem tadi… ah, itu ada sandwich di belakang, di makan. jangan sampe waktu penelitian nanti perut kamu bunyi karena keroncongan lagi”
Pak Jackson tak menjawab pertanyaanku dan malah menujuk sandwich yang katanya ada di kursi belakang. Aku langsung menoleh dan benar saja ku ketemukan kotak bekal di kursi belakang. langsung ku ambil dan ku buka kotak itu.
“waaah… Pak Jackson tau aja aku belum sempet sarapan tadi”
Kataku, mataku cukup terpukau dengan sandwich yang terlihat menggugah selera itu.
“aku makan ya Pak”
Ku sempatkan meminta izin darinya, dan kulihat Pak Jackson sedikit menyunggingkan bibirnya mendengar aku yang akan memakan sandwich yang di bawanya itu. dengan masih terus melihat kearah dirinya, Aku mulai mengarahkan sandwich itu ke mulutku dan siap menggigitnya.
“jangan di abisin semua, itu buat saya juga”
Padahal satu detik berikutnya aku mungkin sudah bisa mengunyah sandwich yang berisi ham, telur, sayuran dan sosis di tanganku ini, tapi mendengarnya berkata begitu aku jadi mengurungkan gigitanku itu dulu.
“gak akan Pak… ini di gigit aja belum apalagi buat di abisin”
Balasku.
“ya udah makan plus suapin saya”
Ucapnya, aku diam mematung mendengarnya minta di suapi.
“Aaa…”
Pak Jackson sudah membuka mulutnya siap menerima suapan Sandwich, tapi aku masih menatapnya diam.
“Irene… saya lagi nyetir dan saya juga belum makan. Jadi suapin saya, gak lucu kan kalo kita sampe kecelakaan Cuma gara-gara saya kelapar- ammmmm”
Ku jejalkan Sandwich di tanganku yang hampir saja ku gigit tadi pada mulutnya yang mengoceh sampai membahas kecelakaan.
“suapin itu yang lembut, atau seengganya pake aba-aba”
Keluhnya setelah kusuapi dirinya.
“hhh… bodo amat ah”
Kataku sambil mulai menggigit sandwich di tanganku dengan sedikit kasar karena kesal padanya.
Sifat menyebalkannya selalu muncul di momen yang paling tepat setelah moodku di buatnya bagus dan meninggi, Pak Jackson selalu saja kemudian menjatuhkan moodku itu. sepertinya yang terjadi semalam, saat aku yang berniat ingin meminta keringanan malah jadi harus melakukan kelas tambahan mendadak dengannya.
“Irene ada bab yang tak kamu mengerti?”
Tanyanya semalam di telpon, aku sudah senang mendengarnya bertanya begitu. Karena kupikir ia akan membantuku memahaminya atau syukur syukur ia akan jadi mengurangi cakupan materi yang di haruskannya untuk ku kuasai.
“ehmm… ada Pak, soal analisis yang di gunakan besok adalah metode CNR (Contrast to Noise Ration), dan disini ada beberapa penggunaan jenis radiografi kovensional, aku tak bisa membedakan cara kerja semua jenisnya itu“
Percayalah aku tiba-tiba harus berurusan dengan barang-barang fisika yang sangat asing sekali bagiku, aku banyak berharap Pak Jackson mau mengerti dan membuatku bisa melewatkan bab yang satu itu.
“ah, benar sebentar…”
Jawabnya.
Ting
Ting
Ting
Aku kemudian menerima banyak sekali Link yang membahas tentang Radiografi Konvensional, yang sedikit k****a pengertiannya yang merupakan suatu teknik pengambilan gambar radiografi menggunakan film yang di peroleh dari emulsi logam dan perak. Prosesnya melibatkan penyinaran sinar X yang ternyata memiliki beragam jenis.
‘aku sudah membaca pengertiannya, tapi aku tak mengerti. Seperti seorang pencerita hantu horror, tapi nyatanya untuk sekedar melihat pocong atau kuntilanak saja tak pernah’
Gerutuku semalam dalam hati.
Dan saat ku buka satu persatu Link itu, OMG!!! Aku sampai menemukan rumus perhitungan, ada juga tentang energy dalam satuan Joule, interaksi zat, fator fisikanya. Ahhhh… padahal aku ini adalah mahasiswa psikologi, tapi kenapa aku mengobarak-abrik materi fakultas Ilmu fisika atau pengetahuan alam. Aku jadi pusing sendiri mana bisa aku mengerti dengan semua itu.
Tapi yang lebih menyebalkannya lagi adalah saat aku sudah mengobarak abrik itu materi hingga pukul 3 dini hari, sampai aku ingin muntah saja rasanya. Pak Jackson tiba-tiba menghubungiku di jam itu, dan ia berkata jika perhitungan hasil penelitiannya nanti beserta perkiraannya akan di lakukan secara digital, jadi aku tak perlu di pusingkan dengan memahami sampai melakukan perhitungan menggunakan rumus rumus yang sangat asing untuk mahasiswa psikologi sepertiku.
Aku langsung mengumpat padanya dan mengatainya, meski sayangnya tak bisa langsung ku katakan tepat di depan wajahnya, karena jujur aku tak berani untuk itu. Lol. jadi kuceret-coreti saja fotonya yang ada di salah satu buku yang sempat di luncurkannya, yang di berikannya padaku.
“iiihhh sebel sebeell sebeeeellll!!! Begadang aku jadi gak gunaaa…. Padahal dari tadi mataku udah berat bangett pengen tidurrrr!!!! Aarrrghhh!!! Dosen nyebelinnnn”
Kesalku sambil ku coreti matanya di foto itu dengan spidol merah milikku. Tapi aku juga merasa sedikit lebih lega semalam, setelah tahu aku tak perlu menguasai materinya. Karena mau aku pelajari itu dengan cara bagaimanapun dan sampai kapanpun lamanya, aku mungkin tetap tak akan pernah bisa mengerti. sudah bukan bakatku dalam dunia fisika dan ilmu pengetahuan alam.
…
….
“Pak… mutiaranya sungguh seharga 3 M?”
Tanyaku pada Pak Jackson yang masih harus menyetir sekitar 20 km lagi untuk sampai di tempat tujuan. jujur saja aku jadi sangat khawatir sejak di beritahu semalam bahwa aku akan mengurusi benda semahal itu. karena aku cukup sadar diri bahwa sikapku yang sangat ceroboh, teledor dan pembuat onar ini, aku jadi takut akan mengacaukan penelitiannya.
“ehm… mutiara itu seberat 3 gram saja dan bisa di harga segitu karena itu adalah jenis Pinctada maxima atau South Sea Pearl yang di hasilkan dari pantai utara Autralia”
Balasnya. Sebenarnya aku juga sudah sedikit mencari tahu dari berita bisnis yang mengatakan bahwa usaha budidaya mutiara sekarang ini sedang berkembang cukup pesat. selain sebagai perhiasan yang menjadi favorit pecinta pearl, tapi juga mutiara itu kini di jadikan bahan utama kosmetik dan obat-obatan oleh kalangan ekonomi menengah ke atas.
Dan katanya, yang akan ku teiliti ini adalah satu dari mutiara yang paling cantic, yang hanya memiliki ukuran 9 mm sampai 17 mm saja, yang di golongkan dalam jenis baroque. lalu yang membuat mutiara ini sangat mahal sekali harganya adalah karena bentuknya yang bulat sempurna seperti tetesan air. Begitu yang di jelaskan Pak Jackson secara singkat selama perjalanan padaku.
Saat sampai aku langsung di bawa Pak Jackon masuk kedalam sebuah ruangan. Dan di sana ada sebuah kotak kaca yang di dalamnya terdapat mutiara cantik yang masih dalam kerangnya. Beberapa orang sedang memperhatikan itu dan membicarakan betapa indahnya benda kecil yang berkilauan itu.
Bahkan aku yang bukan ahli mutiara dan hanya memiliki sedikit minat saja pada mutiara, langsung bisa di buat jatuh hati olehnya, saat kulihat warna putih keemasannya yang sungguh sangat indah. Aku terpukau dengan permukaan mutiara itu yang memantulkan warna-warna perpaduan antara biru, perak, hijau dan merah yang sangat cantik menawan saat terkena cahaya yang mengitari mutiara tersebut.
“Irene… Irene…”
“hey…”
Pak Jackson menepuk kedua pundakku dengan tangannya sampai aku terkejut.
“iya Pak”
“ngelamun aja, sini ikut saya”
Dalam hati ‘padahal sedang asik memandangi benda mahal itu’. Kemudian Pak Jackson mengantarku menuju sebuah ruangan yang cukup dingin dan kulihat ada deretan alat-alat yang sama seperti ada dalam gambar pdf yang di berikan Pak Jackson padaku.
“ini adalah alat-alat penelitian yang akan kita pakai nanti, kamu bisa bertanya dan belajar dulu pada pengelola dan staf yang bekerja di sana”
Ucapnya padaku. Aku mengangguk saja menuruti apa perintahnya itu.
Aku mulai melihat-lihat dari jarak yang dekat semua alat-alat itu, dan kini aku tertarik pada suatu alat yang memiliki pencapit dengan ujungnya yang cukup tajam sepertinya, sampai aku penasaran untuk menyentuhnya.
“aaaww”
Jari telunjuk yang kusentuhkan pada ujung pencapit itu sampai mengeluarkan setetes darah saat ini.
“Irene… kamu ini benar-benar… sudah saya katakan untuk berhati-hati”
Pak Jackson menghampiriku cepat, dan tiba-tiba ia menarik tanganku dan mengulum jari telunjukku yang sedikit terluka terkena benda tajam salah satu alat penelitian itu.
“Pak… ehmm.. itu cuma luka kecil”
Kataku, saat ku rasakan ada sensasi aneh dari jariku yang kini sedang berada di dalam mulutnya itu.
“hh… makanya hati-hati, jadi terluka ginikan… kalau kamu sampai mengacau waktu penelitian nanti, akan saya jadikan istri terus saya perbudak kamu seumur hidup”
Dia mengancamku seperti itu.
“enak aja Pak Jackson ini… jangan ngomong gitu Pak, nanti jadi kenyataan malah aku yang repot lagi harus punya suami kaya Pak Jackson”
“sembarangan... ada juga saya yang repot kalo beneran punya istri ceroboh kaya kamu”
Aku jadi bertengkar tak jelas dengan Pak Jackson.
…..