Suara itu terdengar jelas oleh Dyra dan ayahnya. Senyum miring Tuan Anan terlukis di bibirnya begitu saja tanpa aba-aba. "Baiklah, semua sudah jelas, bukan?" ujar Tuan Anan. "Tidak, aku tidak akan menuruti apa yang dia katakan," balas Zavier. "Zavier," lirih Nyonya Affandi khawatir. "Diam dulu, Ma. Biarkan aku menyelesaikan ini semua," balas sang putra yang masih belum bisa menerima apa yang terjadi. Melihat menantunya yang terus berkelit, Tuan Anan meraih pergelangan tangan sang putri dan menerobos keluar tanpa permisi. Dia menganggap Zavier terlalu bertele-tele. "Kita pergi sekarang, kamu sudah tak memiliki hubungan apa pun dengan pria itu. Sudah saatnya kamu menata kembali hidupmu yang dia hancurkan," kata Tuan Anan dan memaksa Dyra untuk ikut dengannya. Situasi itu juga c

