Menukar Istri Dengan Bantuan

1076 Words
Wanita itu terkejut bukan main, bagaimana juga keputusan Dyra menikah dengan Zavier saat itu sudah membuat hubungannya dengan Tuan Anan—ayah Dyra—terputus total. Jangankan untuk meminta bantuan, saling berkabar saja sudah tak pernah Dyra lakukan. Kini Zavier memintanya membuktikan cinta dengan meminta bantuan pada ayahnya, tentu saja sebuah hal yang perlu dipikirkan ribuan kali. "Ku mohon, Dyra. Aku pastikan ini pertama dan terakhir," bujuk Zavier. Pria itu masih mengatakan semua dengan lembut. Bahkan nada bicaranya terkesan sangat manis dan penuh bisa. Layaknya seorang pengemis yang merayu orang untuk memberinya bekas kasihan. Dyra menatap suaminya yang nampak sangat memelas, tapi keputusannya tak bisa ditawar lagi. Sekalipun Tuan Akan adalah ayah kandungnya, tapi Dyra tak bisa melibatkan pria itu dalam masalah perusahaan suaminya. "Tidak, Zavier. Aku tidak bisa melakukan itu. Papa tidak akan memberikan apa pun padaku." Dyra menjelaskan. "Tidak mungkin, Dyra. Kamu itu putrinya," paksa Zavier. "Tidak, Zavier. Aku tahu siapa papaku dan aku yakin benar jika dia tak akan memberi aku apa pun." Dyra menyakinkan. "Justru bisa saja Papa memberi pilihan untuk kita bercerai untuk menyelamatkan perusahaanmu," lanjut Dyra memperkirakan. Suasana menjadi hening dalam sesaat. Zavier nampak sangat percaya dengan apa yang Dyra ucapkan. Sudut bibir pria itu sedikit terangkat dan berucap, "syarat yang cukup mudah." Kalimat singkat itu terdengar sangat menyakitkan bagi Dyra. Tangan yang semula melingkar erat di pinggung suaminya itu mengendur dan lepas begitu saja penuh rasa keputus asaan. Dyra menjauhkan tubuhnya dari pria yang dengan sadar mengatakan jika persyaratan yang akan membuat ayahnya memberikan pertolongan adalah dengan menukarnya dengan bantuan itu sangat mudah. "Mudah? Apa maksudnya?" tanya Dyra kecewa. Dia setengah mati bertahan dalam segala tekanan untuk menjaga cinta dan pernikahannya dengan Zavier, tapi pria itu dengan enteng mengatakan jika apa yang diminta ayah mertuanya itu adalah syarat yang mudah. Hatinya terluka, dia menyadari jika keberadaannya tak lebih dari sebuah kepentingan perusahaan. "Kamu bisa bayangkan, betapa banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan jika perusahaanku tak selamat. Berapa banyak anak yang menangis yang tidak bisa melanjutkan pendidikan jika orang tua mereka berhenti bekerja?" jelas Zavier. "Aku ini kamu anggap apa, Zavier? Bisa sekali kamu semudah itu membuatku sakit hati? Kemarin tentang Mama, sekarang karena perusahaan," protes Dyra. "Sejak kapan karyawan perusahaanmu menjadi penting bagimu?" lanjutnya. "Kita menikah tanpa restu dari papamu. Dia dengan egoisnya menyimpan semua harta kekayaannya disaat menantu dan putrinya menderita. Ketika syarat bantuannya menguntungkan kita berdua, kenapa tidak dicoba saja?" Zavier dengan sangat egois mengatakan semua itu. "Kamu sudah gila, Zavier. Kamu menukarku dengan perusahaan? Apa itu yang kamu inginkan?" Dyra murka. "Bukan menukar, Dyra. Kamu hidup susah denganku. Setiap hari menghadapi situasi sulit dengan Mama. Bukankah ini kesempatan besar bagimu?" ujar Zavier tanpa menggunakan akal sehatnya. "b******k kamu, Zavier. Mudah sekali kamu menendangku setelah semua yang terjadi. Setelah segala yang aku korbankan dan setelah apa yang aku berikan," umpat Dyra marah. Zavier kehilangan akal sehatnya saat itu, hingga dia tanpa sadar menyakiti hati istrinya yang sudah rapuh karena permasalahan dengan ibu mertuanya itu. Melihat Dyra menangis di sisi ranjang, justru membuat pria itu semakin gila. Dia seperti sedang dirongrong keadaan, hingga kendalinya hilang. Pria itu berjalan ke arah istrinya dan mendorong Dyra dengan kasar hingga tubuh wanita itu tersungkur di ranjang. "Diam, Dyra, Diam! Kamu membuat semua menjadi kacau!" Umpatan Zavier keluar dengan kasar. "Tangisanmu membuat kepalaku semakin pusing," lanjutnya. Keadaan semakin kacau mana kala Zavier dikendalikan oleh amarahnya. Dia mulai berani memperlakukan Dyra dengan kasar. Dyra bisa menerima kehidupannya yang sulit selama ini karena masih cukup yakin dengan cintanya pada Zavier. Namun, saat suaminya mulai berani berlaku kasar, tentu saja itu mengikis keyakinannya. "Dia bukan lelaki yang baik, Dyra. Dia hanya memanfaatkan kamu. Percaya sama Papa." Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Dyra. Ayahnya mengatakan kalimat itu berulang kali, sebelum Dyra memutuskan menikah dengan Zavier. Dengan sikap keras kepalanya, Dyra tak mengindahkan kalimat pesan ayahnya itu. Saat semua menjadi nyata, Dyra baru tersadar jika semua ini adalah sebuah akibat dari sikap membangkangnya. Segala kecamuk berisik di kepala Dyra. Tak ada yang bisa menghentikan itu semua sehingga wanita itu hanya bisa menangis meraung seperti anak kecil yang kehilangan arah pulang. Melihat istrinya yang tak pernah menangis seperti itu, Zavier mendekat dan membawa Dyra ke dalam pelukannya. Dia dirundung rasa bersalah yang begitu besar dan tanpa ampun. "Maafkan aku, Dyra. Sungguh, aku minta maaf." Zavier mengakhiri pembicaraan panas itu dengan meminta maaf pada istrinya. Dia mendekati Dyra dan memeluk istrinya itu dengan erat. Namun, tak bisa dipungkiri jika Zavier sudah menorehkan luka di hati istrinya itu tanpa bisa dilupakan begitu saja. Anggapan-anggapan Zavier akan keberadaan Dyra dalam hidupnya menjadi rancu bagi Dyra sekarang ini. Dyra bisa lebih tenang sekalipun batinnya masih terus bergejolak. Niat membangun kehangatan dengan suaminya berakhir cukup dramatis. Alih-alih membuat hatinya merasa tenang dan digenggam oleh sang suami, semua justru menjadi kacau tanpa penyelesaian. Hati Dyra dipenuhi luka dan prasangka pada sang suami. "Bahkan, pelukan ini saja sama sekali tak membuat hatinya membaik," batin Dyra putus asa. "Dyra, maafkan aku. Aku bersalah dan aku akan perbaiki semuanya," kata Zavier meredakan amarah istrinya. Tak ada reaksi yang Dyra berikan, walau otaknya tak percaya pada janji suaminya, tapi hatinya tak bisa dibohongi. Cintanya terlalu besar untuk pria yang semakin hari semakin sering menyakitinya itu. * * * "Dyra, bukankah ini suamimu?" Sebuah foto ber-caption pertanyaan dikirim melalui sebuah pesan singkat oleh seorang teman lama Dyra. Setelah berhasil mengunduh foto itu, Dyra dibuat terkejut. Terlihat foto Zavier sedang memangku seorang wanita yang wajahnya sama sekali tak asing bagi Dyra. Keduanya nampak sangat intim dan mesra. Tak ada jarak sama sekali diantara mereka berdua, baik secara kontak tubuh maupun ekspresi. Tak lama setelah foto itu dia lihat, nomor yang sama mengirimkan sebuah video yang menunjukkan keduanya saling menyuapi makanan dan tak segan beradu bibir. Seketika Dyra membuang ponselnya ke ranjang karena merasa jijik. "Kikanaya Aloudy," ujar Dyra pasti. Wanita bernama Kikanaya Aloudy sangat tak asing di telinga siapapun. Pasalnya dia adalah seorang model terkenal yang memiliki sejuta pesona mematikan bagi semua orang. Hanya saja, Kikan dikenal sangat membatasi pergaulannya. Dia hanya akan bergaul dan berhubungan dengan orang yang dia anggap sama-sama menguntungkan atau yang berguna bagi dirinya. Dari foto dan video itu, Dyra bisa memastikan jika suaminya ada hubungan istimewa dengan sang model. Hatinya teriris sembilu, rasa sakitnya berkali-kali lipat daripada saat Zavier mengatakan kalimat paling menyakitkan dari mulutnya selama ini. Bahkan kepalanya kembali berisik dengan masalah-masalah yang selama ini terjadi. "Apa ini, Zavier? Setelah semua yang terjadi kamu membuat drama baru tentang pengkhianatan?" Dyra berujar dengan sangat kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD