Mudif pertama hanya papa

2357 Words
Saat bel pulang sekolah berbunyi semua siswa berhamburan keluar kelas setelah membaca doa pulang, terlihat Saviena ogah-ogahan membereskan bukunya ke dalam tas. "Vien...aku duluan ya" Kokom pamit sambil menggendong tas sekolahnya. "Ya hati-hati ya sampai bertemu besok" balas Saviena dengan lesu. "Vien...mau bareng nggak balik ke pondok" ajak Yusuf kepada Saviena. "Boleh..." jawab Saviena singkat. Antara asrama pondok dan kelas tempat mereka belajar berjarak kurang lebih Seratus lima puluh meteran. Saviena berjalan dengan malas di depan Saviena dan Yusuf juga ada santri lain yang juga mau balik ke asrama mereka. Ada ukhti Umayah kelas 10 (kelas 1 Aliyah atau kelas 1 SMA) ada Lastri teman seangkatan Saviena dan Yusuf tapi beda kelas dan masih banyak yang lainnya yang tidak bisa Saviena sebut satu-satu namanya karena mereka belum kenal karena baru satu hari mereka di pondok. "Kenapa Vien... nggak betah ya di sini?" Yusuf memulai percakapan. "Bukan nggak betah lagi, emang gue nggak mau sekolah di sini, emang salah?" ketus Saviena. "Nggak salah kok, itu kan emang hak Saviena, nggak ada yang larang kok" jawab Yusuf sambil tersenyum. "Berusahalah beradaptasi, semoga betah ya!" nasihat Yusuf. Akhirnya mereka pun berpisah Saviena belok kanan ke asrama putri dan Yusuf belok kiri ke asrama putra. Malam harinya setelah sholat magrib pertama kalinya Saviena mengikuti kegiatan pondok, dia terpaksa mengikuti semua kegiatan pondok yang sudah terjadwal mulai dari jadwal mandi pagi jam empat pagi, sholat subuh berjamaah mengaji pagi, olahraga pagi, sarapan sekolah, makan, sholat Zuhur berjamaah saat istirahat, makan siang bersama teman sekamar, pulang sekolah jam tiga sore siap-siap untuk sholat ashar, bersama di kamar dengan teman sekamar, sholat Maghrib berjamaah di mushola pondok dengan seluruh santri satu pondok, dan masih banyak jadwal lainnya sampai jam sebelas malam. Sedangkan di tempat lain Hasan pergi mengaji seperti biasa, dengan keempat sahabatnya. "San....Saviena geulis pisan nyak, urang jadi Bogoh Ka manehna!" (San ..Saviena cantik banget ya, saya jadi cinta sama dia) Amiin mulai membuka obrolan mereka. Amiin tipe orang yang bicara apa adanya tanpa menutupi apa pun yang dia pikirkan, walau orang kadang tidak suka dengan cara dia yang berbicara terlalu blak-blakan, tapi dia ga peduli. "Hooh...meuni geulis" ( ya cantik banget) Hasanah juga mulai angkat bicara. "Iya... Saviena mah ramah pisan loh San, tadi kita bertiga ngobrol banyak sama dia dan Kokom, sepertinya dia juga nggak ga pilih-pilih teman" kata Bariah membenarkan omongan sahabatnya yang berkomentar.. Bariah memang satu desa dengan Hasan, tapi orang tuanya tinggal di Jakarta sedangkan dia tinggal dengan nenek dan kakeknya di desa ini sejak dia masuk sekolah dasar. Saat liburan dia sering liburan ke Jakarta, makanya bahasa Sunda nya sudah campur dengan bahasa Indonesia. "Biasa saja atuh Iyah, ga usah muji Kitu, perasan saya Saviena biasa saja nggak ada istimewanya, kenapa kalian senang sekali membicarakan dia" kata Hasan. "Ulah sok kitu San , nanti suka baru rasa kamu" (jangan suka gitu San), kata Tati menimpali karena dari tadi dia diam menjadi pendengar dari perdebatan para sahabatnya. "Kamu kenapa San, kayak nggak suka gitu sama Saviena, emang dia punya salah apa sama kamu?" tanya Bariah. "nggak apa-apa sih cuma tidak suka saja, keempat sahabat aku muji dia terus, emang apa atuh istimewanya Saviena di mata kalian?" jawab Hasan. "Tumben...sikap kamu begitu sama orang San....biasanya kamu yang suka menasehati kita agar berbaik sangka ke orang lain, sekarang kenapa kamu yang bersikap seperti itu ke orang yang baru dikenal pula" sahut Hasanah. "Jangan terlalu benci sama orang San..., nanti malah kamu suka baru tahu rasa!" balas Amiin. Hasan pun hanya diam tidak menanggapi lagi omongan sahabatnya yang memang benar adanya. Tak terasa mereka pun telah sampai di tempat pengajian dan mulai sibuk dengan kegiatan pengajian yang mereka ikuti. Sebenarnya tempat pengajian mereka adalah pesantren juga, tapi khusus buat mondok saja tidak ada sekolahnya. Diantara mereka yang paling pintar mengaji adalah Hasan, dan suara yang paling bagus pun Hasan, dan mereka pun bangga dengan prestasi Hasan dalam bidang agama, Hasan sering menang lomba adzan dan MTQ walau baru tingkat kecamatan. Tapi dalam pelajaran umum Hasan biasa saja, tidak beda dengan mereka. ****** Keesokan harinya Setelah sarapan Saviena sudah siap untuk berangkat ke sekolah, saat dia keluar dari asramanya sudah ada Yusuf di jalan antara asrama putra dan putri. "Berangkat bareng yuk Vie....!" ajak Yusuf. Di belakang Saviena ada Lastri dan Imas. Saviena pun menoleh ke belakang sambil menganggukkan kepalanya kepada Lastri dan Imas. Mereka pun berangkat berempat. "Assalamualaikum ukhti, salam kenal saya Yusuf teman sekelas Saviena di sekolah" sapa Yusuf kepada Imas dan Lastri. "Waalaikum salam kenal saya Lastri dan ini Imas, kami kelas tujuh Fatimah" jawab Lastri. "Gimana hari pertama kalian di pondok betah?" tanya Yusuf lagi. untuk mencairkan suasana karena Saviena diam saja dengan memasang muka datar. "Alhamdulillah...doain ya kita sama-sama betah di sini" kali ini Imas yang menjawab. "Pasti ukhti, kita saling mendoakan ya" sahut Yusuf sambil melirik Saviena. Akhirnya mereka pun sampai di sekolah dan masuk kelas masing-masing bertepatan dengan bel sekolah. Sedang di tempat berbeda. "Hasan tunggu ...kita bareng ya!" teriak Tati, ternyata sahabat Hasan sudah ada di belakang Hasan saat dia mau berangkat. Sepanjang jalan mereka bercanda tanpa beban dan sampai di sekolah sebelum bel sekolah berbunyi. Saat mereka sampai di dalam kelas Saviena baru datang "Assalamualaikum semua!" sapa Saviena karena dia tidak ingin menunjukkan galau hatinya apa lagi dia ketua kelas dan di belakang Saviena juga ada Yusuf yang memasang wajah senyum dan langsung menuju bangkunya. "Waalaikum salam...!" jawab yang ada di kelas berbarengan, Saviena pun langsung duduk di bangkunya, setelah menaruh tas di belakangnya dia menggulung bajunya sedikit agar tidak gerah. Kokom teman sebangku Saviena geleng-geleng kepala melihat tingkah teman sebangkunya itu " Vien bajunya jangan digulung atuh" kata Kokom mengingatkan Saviena. "Gerah gue Kom...!" jawab Saviena cuek karena dia nggak pernah pakai baju lengan panjang kecuali pergi mengaji. " Itu aurat Vien!" seru Kokom nggak mau kalah. Tapi mau gimana lagi kalau yang dibilangin nggak mau dengar. Saviena pun hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. "Terserah Viena aja dah" kata Kokom pasrah. Saviena pun hanya tersenyum tipis menangkapi kekesalan Kokom padanya. Tak lama guru Qur'an hadits pun masuk, mereka pun berdoa bersama dan guru pun mengabsen mereka satu persatu. "Baik anak-anak sekalian kita buka pelajaran kita dengan membaca basmallah" titah guru tersebut. "Bismillahirrahmanirrahim" kompak mereka membaca basmallah. Mereka pun mengikuti pelajaran dengan tertib sesuai arahan guru. Akhirnya bel pun berbunyi tanda pelajaran usai. "Baik anak-anak jangan lupa hafalkan hadits tentang adab kepada orang tua yang telah kita pelajari tadi, sampai bertemu Minggu depan" tutup guru Qur'an hadits tersebut. "Baik pak" kompak mereka. Mereka pun keluar dari kelas setelah guru mereka keluar kelas. "Vien... ke kantin yuk lapar nih" ajak Kokom kepada Saviena. "Oke..." sahut Saviena singkat sambil memasukkan alat tulisnya ke dalam tas. Kokom hanya tersenyum menanggapi jawaban Saviena yang singkat tanpa ekspresi tersebut. Mereka berdua pun berjalan menuju kantin melewati lapangan dan kelas kakak-kakak kelas mereka karena kelas Saviena terletak paling ujung tapi dekat dengan gerbang sekolah. Saat mereka lewat lapangan ada seseorang yang menghadang mereka. "Hai cantik kenalan dong" orang itu pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Saviena pun hanya diam sbil melihat tangan orang tersebut. Kemudian berlalu meninggalkannya begitu saja. "Maaf ya kak... Saviena memang begitu orangnya kalau sama orang baru jangan di masukin hati" jelas Kokom tidak enak hati kemudian setengah berlari menyusul Saviena. "Oh...namanya Saviena" kata orang tersebut sambil tersenyum. "Harun... malah bengong, nanti kesambet loh" teriak seseorang membuyarkan lamunannya. "Eh iya" balasnya kemudian berlari ketengah lapangan. Hari berlalu berganti Minggu, tak terasa sudah empat puluh hari Saviena di pondok dan hari ini bertepatan dengan hari pertama dia dikunjungi oleh orangtuanya. "Ukhti Saviena di mudif tuh, di depan sama orang tuanya" info salah seorang santriwati kepada Saviena. "Terima kasih ukhti" jawab Saviena sambil berlalu dari kamarnya keluar ketempat orang tuanya menunggu. "Assalamualaikum papah...!" Saviena pun mengambil tangan papahnya dan menciumnya takzim. Saking kangennya papah Saviena pun menarik Saviena ke dalam pelukannya. "Waalaikum salam...apa kabar bayi papah, bidadari surga papah dan cantik papah" bisik papa Saviena di telinga anaknya sambil meneteskan air mata. "Alhamdulillah Viena baik Pah!" jawab Saviena mengurai pelukan papanya. "Mama mana pah?" "Nggak masuk ke sini?" tanya Saviena sambil memperhatikan sekeliling ruangan. "Mama tidak ikut sayang, mama lagi kurang sehat, mama titip salam buat bidadari surga nya" "Gimana ...betah nggak di sini?" "Gimana sekolahnya serukan?" tanya papa Saviena dengan semangat. "Biasa aja pah... cuma aku kurang tidur aja, karena jam sebelas malam aku baru tidur" "Semoga betah ya cantik papah" "Oh ya papa bawa makanan kesukaan anak gadis papa masakan mamah, terus ada cemilan juga" kata papa Saviena sambil menyerahkan satu paper bag dan satu dus besar. "Makasih pah, salam buat mama semoga lekas sembuh" bisik Saviena dengan nada lesu. "Kenapa sayang nggak semangat gitu?" tanya papa Saviena. "Nggak pah" Saviena pun memaksakan senyum. "Pada hal aku mau ketemu mama, aku kangen mama" batin Saviena dan tak terasa air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa di cegah. "Kangen mama ya ....nanti kalau mama sudah sehat papa ajak ke sini ya" janji papa Saviena. Saviena pun tersenyum mendengar kata-kata papanya. "Makasih ya pah!" jawab Saviena sambil memeluk papanya. "Sama-sama...yang rajin ya belajar, maaf papa nggak bisa lama-lama, jaga diri baik-baik" "Ya pah... terima kasih" Saviena pun mencium tangan papahnya takzim. "Assalamualaikum..." pamit papa Saviena. "waalaikum salam...." jawab Saviena. Setelah mengantar papanya sampai mobil Saviena pun balik ke asrama nya sambil membawa oleh-oleh dari papa nya dan menyusun makanannya di lemari. Begitu juga dengan teman-teman sekamar Saviena mereka semua juga sibuk menata lemari mereka. Ada yang orang tua sudah pulang ada juga yang masih bertahan karena waktu baru menunjukkan jam empat sore sedangkan batas mudif ( jenguk) jam lima sore. Sejak di mudif papanya, Saviena sudah bertekad untuk mulai menyesuaikan dirinya dengan lingkungan pesantren dan sekolahnya. Lengan baju sudah tidak digulung lagi walau masih terlihat tomboy tapi sudah terlihat feminimnya. Mungkin juga karena kebiasaan memakai rok dan gamis. Saviena sudah mulai membuka hatinya untuk punya teman dekat yaitu Kokom yang tak lain adalah teman sebangkunya. Teman yang akan selalu mendengar keluh- kesahnya. Di sekolah dimana ada Saviena pasti ada Kokom. Di kelas, di kantin, di perpustakaan. Kecuali di pondok karena Kokom tidak tinggal di pondok seperti Saviena. Seperti hari ini, setelah belajar memeras otak bel yang diharapkan pun berbunyi guru bahasa Arab baru saja keluar kelas, " Gila Kom, tu pelajaran gue ga ngerti sama sekali nanti ajarin ya" kata Saviena kepada Kokom setengah memohon. "Ya tenang aja nanti aku ajarin" kata Kokom sambil tersenyum karena baru kali ini Saviena minta tolong kepadanya soal pelajaran.. "Kok kamu bisa sih pelajaran bahasa Arab?", tanya Saviena penasaran. "Bisa dong karena aku dari sekolah dasar sudah belajar bahasa Arab" jawab Kokom santai. "Selain sekolah umum pagi sampai siang hari, aku juga sekolah agama dari siang sampai sore" jelas Kokom agar Saviena tidak penasaran. "Pantesan" kata Saviena sambil mengangguk tanda paham. "Ke kantin yuk" ajak Saviena. "Ayuk ah..lapar" canda Kokom sambil menarik tangan Saviena. ****** Di kantin Hari ini Saviena dan Kokom memesan bakso untuk makan dan minumnya es jeruk. "Vien kok bisa sih kamu sekolah dan pesantren di sini, rekomendasi dari siapa?" sambil makan Kokom bertanya kepada Saviena membuka obrolan mereka. Karena dari pertama melihat Saviena dia sangat penasaran mau bertanya tapi waktunya tidak tepat karena mereka belum akrab. "Rekomendasi dari sahabat papa dulu anaknya ada yang mondok di sini" jawab Saviena sambil menarik napas panjang. "Kayaknya orang tua gue sudah nggak sayang deh Kom sama gue makanya mereka usir gue dari rumah" muka Saviena seketika berubah mendung kelihatan banget kalau dia mondok dipaksa orang tuanya. "Nggak mungkinlah Vien...orang tua kamu usir kamu dari rumah, pasti mereka sudah mempertimbangkan semua dengan matang apa yang baik untuk anaknya, dan orang tua mana pun nggak mungkin menjerumuskan anaknya ke hal yang buruk itu yang harus kita ingat" dengan lembut Kokom memberi pengertian kepada Saviena. Saviena pun mulai menceritakan mengapa dia bisa masuk pesantren, karena pesantren bukanlah keinginannya. Sebenarnya impian Saviena adalah masuk sekolah SMP impiannya di Jakarta bahkan dia sudah janjian dengan sahabatnya Fatimah dan Nur Hikmah. Kokom pun hanya bisa berkata sabar untuk menenangkan hati Saviena. Pasti berat bagi Saviena jauh dari orang tua dan teman-teman nya karena ini pertama kalinya bagi Saviena jauh dari rumah apa lagi dia anak bungsu. "Ambil hikmahnya aja ya Vien, nggak usah sedih lagi mungkin ini yang terbaik, buktinya sekarang Viena punya teman secantik dan sepintar aku" canda Kokom sambil nyengir. "hahaha...pede banget ih, ya deh Kokom emang cantik dan pintar" puji Saviena kepada sahabatnya itu. 'Makasih ya Kom....dah mau dengerin curhatan gue, perasaan gue jadi lebih baik" kata Saviena. Sebenarnya di pondok juga banyak teman sekamar Saviena yang mau mendengarkan curhatnya tapi bagi Saviena, teman-teman di pondoknya pasti juga berada di posisinya makanya dia tidak mau menambah beban mereka dengan curhatannya. "Mulai sekarang kita berdua harus berubah ke yang lebih baik lagi ya Vien, mulai dari hal yang kecil dulu seperti belajar ngomong aku-kamu contohnyaf" jelas Kokom sambil senyum. Kokom tidak mau memaksa Sabahat barunya itu sesuai dengan keinginannya. Karena dia ingin Saviena berubah karena kemauannya sendiri bukan karena paksaan dari dirinya. "Baiklah aku akan belajar pelan- pelan, jangan kapok mengingatkan aku ya Kom...." kata Saviena. "oke.." jawab Kokom senang dengan wajah ceria. Kokom satu-satunya teman di kelas yang akrab dengan Saviena. Nama lengkap Kokom adalah Siti Komariah. Dia sebenarnya juga teman sekelas Hasan waktu SD tapi Kokom tidak dekat dengan Hasan dan para sahabatnya. Kokom tinggal dengan nenek dan adiknya di kampungnya sedangkan orangtuanya bekerja di Jakarta sebagai karyawan swasta, pada hal karir orang tuanya sukses di Jakarta tapi dia memilih tinggal di kampung karena kasihan dengan neneknya. "Makasih ya Kom, karena sudah mau jadi teman aku, akhirnya aku punya teman dekat juga" kata Viena sambil tersenyum manis. Mereka pun tertawa dengan riang tanpa memikirkan apakah orang terganggu atau tidak dengan keberadaan mereka. Tanpa mereka sadari dari sudut kantin ada yang menguping pembicaraan mereka berdua. Mereka adalah Hasan dan sahabatnya. Mereka pun merasa simpati dengan Saviena, karena Saviena sekolah di sini bukan karena kemauannya sendiri. "Ternyata Saviena bersikap seperti itu hanyalah untuk menutupi kesedihannya aja" kata Bariah. "Ya.... kasihan ya Saviena, pada hal anaknya baik loh" timpal Tati. Hasan hanya diam tanpa ekspresi. Dia merasa bersalah karena salah menilai sikap Saviena selama ini. Karena Hasan beranggapan Saviena adalah anak yang sombong dan sok baik
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD