Nakal dan tomboy

1030 Words
"Hasan ...ku naon bengong Bae, Ngelamun nyak?" tanya Tati karena Hasan dipanggil hanya diam saja. "Enteu... nggak apa-apa" jawab Hasan gelagapan. "Keur liat Saviena nyak San ...?" goda Amiin. "Lain....ih, ulah sok buat kesimpulan sorangan atuh" jawab Hasan dengan wajah kesal. "Ketahuan bohongnya atuh San...!" ledek Amin lagi, sedangkan sahabat Hasan yang lain hanya tersenyum menanggapi becandaan kedua sahabat mereka. "Yuk balik ke kelas"!" ajak Hasanah karena dia melihat semua makanan sahabatnya sudah habis. "Yuk ....!" jawab Tati mewakili yang lain mereka pun melangkah keluar dari kantin sekolah. *** Sebelum lanjut kita kenalan dulu sama Saviena ya. Nama lengkapnya Saviena Jelita Putri, gadis kecil yang baru beranjak ABG ini baru berusia 13 tahun, bungsu dari empat bersaudara, sedari kecil dia tinggal dengan neneknya di Padang. Ketika Saviena berumur tujuh tahun dia di antar oleh neneknya ke Jakarta untuk di serahkan kepada orang tuanya untuk bersekolah karena dia akan masuk sekolah dasar (SD). Saviena sebenarnya anak yang ceria dan baik hati, dia suka berteman dengan siapa saja tanpa pilih-pilih, teman-temannya sangat suka dengan sikap Saviena tersebut. Tapi karena teman seumuran nya di lingkungan rumahnya kebanyakan laki-laki maka temannya laki-laki semua. Kecuali di sekolah dia punya dua orang teman perempuan. Karena temannya laki-laki semua sehingga orang-orang menilai dia tomboy. Mama Saviena bernama ibu Ratna, ibu Ratna wanita yang lembut dia tidak pernah marah kepada anak-anak nya. Ibu Ratna termasuk dari keturunan yang terbilang berada di kampungnya halamannya. Bu Ratna terpaksa ikut suaminya meninggalkan kampung halamannya merantau ke Jakarta. Hal itu dilakukan oleh suaminya untuk menjaga keutuhan rumah tangga mereka dari campur tangan saudara Bu Ratna yang tidak suka dengan suaminya. Selama menikah dengan suaminya, saudara Bu Ratna menunjukan sikap tidak sukanya kepada suaminya tersebut. Saudara Bu Ratna tidak suka kepada suaminya bukan lantaran suaminya orang yang tidak bertanggung jawab kepada keluarganya, tetapi lantaran karena suaminya bukan keturunan orang kaya atau orang berada seperti keluarga mereka. Sikap tidak suka mereka terlihat setelah Bapak Bu Ratna meninggal dunia. Dan perlu ketahui sebenarnya Bu Ratna menikah dengan suaminya karena dijodohkan oleh bapaknya. Bukan kemauan Bu Ratna sendiri. Ayah Saviena bernama Jauhari, Pak Jauhari bukanlah keturunan orang kaya Beliau menikah dengan istrinya karena dipinang langsung oleh bapak mertuanya. Ayah Saviena orang yang rajin bekerja, taat ibadah dan tidak banyak bicara sehingga sewaktu mudanya banyak orang yang berebut ingin meminangnya jadi menantu. (karena orang Padang yang meminang adalah pihak perempuan untuk orang Pariaman). Ternyata dari semua lamaran yang datang kepadanya ayah Saviena memilih pinangan dari bapaknya Ratna Kakek Saviena dari ibunya. Karena Bu Ratna sewaktu mudanya adalah anak gadis yang penurut dan baik hati dia menerima perjodohan dari orang tuanya tersebut tanpa menanyakan siapa orang yang akan dijodohkan dengannya. Ayah Saviena di Jakarta berwiraswasta. Beliau mempunyai konveksi celana Levis. Usahanya terbilang sukses. Beliau mempunyai 25 orang tukang jahit yang bekerja di konveksinya. Saviena adalah anak keempat mereka, Saviena punya Satu kakak perempuan dan dua kakak laki-laki. Saviena berbeda dengan kakak perempuannya yang bernama Salamah Cantika. Saviena terkenal nakal dan tomboy di lingkungan tempat tinggalnya. Dia tidak pernah pakai rok, kecuali rok sekolah. Saviena akrab dengan semua teman laki-laki baik di rumah mau pun di sekolah. Tetapi tidak dengan teman perempuan, teman perempuannya hanya dua orang itu juga teman sekolah. Sedangkan di rumah teman mainnya laki-laki semua. Pernah ditanya sama mamanya mengapa teman mainnya laki-laki semua, jawabnya berteman sama perempuan itu cuma bikin ribet, cengeng dan nggak bisa diajak manjat pohon dan segudang alasan lainnya. Setiap hari ada saja yang mengadu kepada Mamanya mulai dari manjat pohon buah tetangga, nyolong buah di kebun orang, main layangan di atas genteng dan banyak kenakalan lainnya yang tidak bisa disebutkan mamanya satu persatu. Pernah sekali Saviena dan temannya dikejar pakai golok sama engkong Ali, aki-aki galak yang ada di lingkungan RT nya yang punya kebun yang sangat luas dan tentu saja di tanami berbagai jenis buah, mencuri buah dengan teman sebayanya tentunya laki-laki semua itu adalah hobi Saviena, jatuh dari pohon, kaki luka atau sobek sudah biasa bagi Saviena, berkelahi dengan alasan membela teman dan lainnya yang membuat Mamanya geleng-geleng kepala juga menjadi kebiasaan Saviena dan teman -temannya. Ketika Saviena mau lulus Sekolah dasar ibunya sudah membulatkan tekadnya untuk memasukkannya ke pesantren atas rekomendasi dari sahabat Papa nya agar dia berubah feminim seperti kakaknya yang cantik dan anggun. Kakak Saviena yang paling besar adalah perempuan dia memang cantik dan anggun banyak yang suka padanya. Saat Saviena masuk pesantren Kak Salamah sudah kelas 12, tapi sayang walau kak Salamah cantik dia tidak pernah punya kekasih. Karena peraturan di keluarga Saviena anak perempuan tidak boleh pacaran, karena mereka kelak akan dijodohkan oleh orang tua mereka . Itulah sebabnya Kak Salamah tidak pernah punya teman dekat laki-laki apa lagi berani untuk punya pacar, walaupun banyak yang suka padanya. Itu pula sebabnya orang tua mereka memasukkan Saviena ke pesantren karena sifat mereka berdua yang bertolak belakang, Kak Salamah terkesan bersikap anggun dan lembut sedangkan Saviena sedikit bersikap nakal (walau nakal anak- anak) dan tomboy. Walau pun nakal dan tomboy Saviena termasuk anak yang pintar di sekolah dia selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya. Semua barang yang Saviena punya seperti sepeda, tas , sepatu dan lainnya dibelikan orang tuanya karena hadiah dari prestasinya di sekolah. Berbeda dengan Kak Salamah yang cantik dan anggun tapi dia tidak sepintar Saviena. Dan barang- barang yang Kak Salamah punya semua hasil merengek kepada orang tuanya. Kehidupan keluarga Saviena tidaklah semewah keluarga ibunya yang lain, mereka hidup sederhana tapi berkecukupan. Mereka hidup sederhana bukan berarti orang tuanya tidak mampu. Karena orang tua mereka mengajarkan anak-anak untuk selalu hidup sederhana. dan berbagi dengan sesama. Dan dua kakak laki-laki Saviena juga anak yang pintar mereka tidak pernah bersikap yang macam-macam. Mereka juga anak yang penurut. Mereka berdua juga sangat menyayangi kedua saudari mereka, yang bersifat bertolak belakang tersebut. Karena bagi mereka perbedaan kedua sifat saudari mereka itu adalah anugerah terindah buat mereka saling memahami Kakak laki-laki Saviena yang paling besar bernama Hermawan dia duduk di kelas sebelas STM swasta di Jakarta Pusat dan yang kedua bernama Affandi dia duduk di kelas sembilan SMPN di Jakarta Barat. Orang tua mereka sangat bangga mempunyai anak seperti mereka. Walaupun mereka tidak kaya harta setidaknya mereka kaya akan anak yang baik yang Soleh dan Solehah. Insya Allah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD