Bertengkar

1048 Words
"Gue sumpahin Lo yang suka sama gue seumur hidup" teriak Saviena kepada Hasan dengan emosi dan ini pertama kalinya Saviena marah selama berteman dengan Hasan. Dan Saviena berlalu dari hadapan Hasan dengan muka ditekuk. Hasan hanya bisa melongo dengan sikap Saviena yang tiba-tiba marah kepadanya "Apakah ucapanku sudah keterlaluan banget ya?" batin Hasan. Sudah tiga bulan lebih Saviena dan teman-teman nya belajar di sekolah ini, dan tiga bulan sudah Saviena menjadi santri di pesantren tersebut. Dia sudah bisa menyesuaikan diri dengan pelajaran, makanan dan lingkungan pesantren tersebut. Dia juga sudah akrab dengan Hasan dan sahabatnya, Yusuf dan tentu saja Kokom yang sudah menjadi sahabat satu-satunya bagi Saviena Saat ini. Ya walaupun Saviena juga akrab dengan semua santriwati yang ada di pondok tetapi dia lebih dekat dengan Kokom. Sejak kejadian curi dengar pembicaraan Saviena dan Kokom di kantin, Hasan mulai menjaga sikapnya ke Saviena, dia dan sahabatnya mulai mengakrabkan diri dengan Saviena. Karena pembawaan Saviena yang mudah bergaul banyak yang suka kepadanya. Hasan pun mengakui bahwa Saviena adalah teman yang sangat menyenangkan. Buktinya banyak yang mengirim salam lewat Kokom, Yusuf atau Hasan. Kadang Hasan dan teman -temannya capek sendiri karena menjadi tempat penitipan salam dari orang-orang untuk Saviena. Kalau Kokom atau Yusuf yang dititipkan salam pasti menyampaikan sambil bercanda tanpa menyinggung perasaan Saviena. Karena Saviena sangat risih kalau ada yang mengirim salam kepadanya. Bukan karena dia sombong baginya diusianya yang masih kecil untuk hal seperti itu. Dan dia capek harus berbasa-basi dengan orang-orang. Tapi berbeda dengan Hasan menyampaikan salam tersebut seperti mengejek Saviena, seperti orang marah atau cemburu karena kekasihnya ada yang memberikan perhatian lebih, entahlah hanya Hasan yang tahu, Saviena juga bingung dengan sikap Hasan alih-alih menyampaikan salam tapi ujung-ujungnya bikin Saviena sakit hati. Bagi Hasan membuat Saviena marah dan jengkel kepadanya adalah kebiasaan barunya dan hiburan tersendiri baginya. Seperti hari ini saat ada kakak kelas yang mengirimkan salam kepada Saviena ketika Hasan dan Yusuf balik ke kelas dari kantin. "Yusuf , Hasan salam ya buat Saviena teman sekelas kalian" ucap kak Harun siswa kelas sembilan Abu Tholib. Harun memang terkenal di sekolah mereka selain ganteng dan banyak fans orang tua Harun juga tajir melintir yang membuat siswi di sekolah ini sangat mendambakan menjadi kekasihnya. Hasan dan Yusuf pun merasa heran kenapa incaran Harun harus Saviena gadis tomboy teman sekelasnya itu. Saat Harun mengirim salam untuk Saviena, Hasan dan Yusuf hanya mengangguk sebagai jawaban sambil berlalu dari hadapan kakak kelasnya tersebut. Harun pun tersenyum dia berharap Saviena akan membalas salamnya. **** Sampai di depan kelas Hasan dan Yusuf melihat Saviena lagi menyapu di depan kelas mereka. "Vien kamu dapat salam tu dari kak Harun kelas sembilan Abu Tholib" kata Yusuf mengawali menyapa Saviena yang sedang sibuk menyapu. "Oh ...makasih waalaikum salam" kata Saviena cuek tanpa melihat Yusuf dan Hasan. "Cie yang dapat salam dan banyak penggemar, yang banyak disukai orang bentar lagi punya pacar nih" Hasan menggoda Saviena. "Nyebelin banget sih Lo San, dah sana ah jangan ganggu gue" kata Saviena yang risih digodain Hasan karena Saviena tahu Hasan kalau sudah godain dia kalau dia nggak marah atau kesel Hasan nggak akan berhenti. "Dah ah sono berisik tahu nggak!" usir Saviena. "Kalau senang mah nggak usah sok marah-marah" ledek Hasan. "Lo kira gue senang gitu disukain orang, basi banget lo" kata Saviena yang tampak sudah mulai emosi. "Senanglah masa gak, munafik amat sih jadi orang secara kak Harun ganteng dan tajir loh Vien" kata Hasan masih dengan nada menggoda Saviena.. "Heh...dengar ya San....pasang kuping loh baik-baik" "Orang mau suka sama gue kek, benci sama gue kek, gue gak pe... du...li, itu kan perasaan orang ke gue dan gue benar-benar ga pe...du...li San...!" "Mau dia ganteng kek gue juga gak pe...du...li" tekan Saviena "Yang gue tau nih...ya gue dikirim ke ponpes ini sama orang tua gue buat be..la...jar bukan buat punya pa..car...!" " emang bisa orang disuruh suka dan benci sama kita, kalau besok ada yang kirim salam mending gak usah Lo sampein ke gu...e.." kata Saviena emosi penuh penekanan kata. Hasan hanya mendengarkan apa yang Saviena katakan tanpa menjawabnya. " Atau jangan- jangan Lo yang suka sama gue, Lo cemburu ya" goda Saviena ke Hasan sambil menarik turun kan alisnya. " Si...siapa yang suka sama Lo" ucap Hasan gugup karena apa yang Saviena ucapkan itu benar adanya. "Yakin" goda Saviena lagi. " Ya...yakinlah" ucap Hasan lagi pada hal bertentangan dengan hatinya. "Ok ... kalau Lo nggak suka sama gue" ucap Saviena lagi karena dari tatapan Hasan kepadanya Saviena tahu kalau Hasan ada rasa sama dia. "Supaya Lo ga nyampein salam dari orang buat gue dan ga ngatain gue lagi" kata Saviena menjeda kalimatnya. Kemudian Saviena menatap kedua mata Hasan . "Gue sumpahin Lo yang suka sama gue seumur hidup" ucap Saviena sambil berlalu dari hadapan Hasan dan Yusuf. Hasan dan Yusuf hanya melongo mendengar ucapan Saviena. "Yah kamu sih San, Saviena marah dah" kata Yusuf menyalahkan Hasan. "Kok saya sih" balas Hasan tak terima disalahkan oleh Yusuf.. "San...omongan kamu keterlaluan tahu nggak tadi ke Saviena, kamu mah kalau dah ada yang kirim ke Saviena kayak orang cemburu sama pacarnya tahu nggak, nggak jelas sikap kamu, Saviena jadi marah dan kesel gitu, kalau suka bilang nggak usah ribut terus, capek nih kuping denger kalian berdua berantem terus" Yusuf pergi meninggalkan Hasan sendiri terpaku mendengar kata-kata Yusuf. Apa iya dia cemburu hanya di a yang tahu. ***** Sejak Saat itu Saviena dan Hasan perang dingin. Mereka nggak pernah lagi bertegur sapa walaupun bertemu muka pasti mereka berdua akan memalingkan muka masing-masing. Walau pun sebenarnya mereka sudah saling memaafkan dalam hati. Apalagi Saviena kalau ada pengumuman dari guru dia akan menyampaikan di kelas tanpa melihat Hasan, kalau mengabsen teman-teman sekelas tidak pernah dia menyebut nama Hasan sekalipun dia akan melewatkan nama Hasan.. Lama-lama Hasan risih sendiri didiamkan oleh Saviena. Dia seolah-olah kangen dengan semua celoteh Saviena kepadanya walau hanya menyapanya. Para sahabat Hasan pun bingung dengan sikap mereka berdua. Apalagi Amiin, dia aneh melihat sikap Saviena yang selalu menghindar dari dia dan para sahabatnya itu. Terutama cara Saviena memandang Hasan seolah mereka sedang bermusuhan. "Ada yang nggak beres nih" batin Amiin melihat sikap mereka berdua. "Kalau dari sorot mata mereka saling suka, tapi kenapa musuhan ya, atau jangan-jangan Hasan bikin ulah lagi nih" gumam Amiin. "Hasan...Hasan suka aja gengsi banget buat ngaku" Amiin geleng-geleng kepala sendiri kalau ingat kelakuan Hasan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD