Berusaha minta maaf

1028 Words
Sejak kejadian Saviena marah dengan Hasan, sejak itu pula Hasan dan Saviena tidak pernah bertegur sapa lagi. Mereka berdua bagai orang asing yang tak pernah saling mengenal. Saviena seolah-olah menghindar dari Hasan juga menghindar dari sahabat Hasan, kalau diajak ke kantin bareng oleh sahabat Hasan ada saja alasan Saviena untuk menolaknya. Saviena sedapat mungkin menghindari bertatap muka dengan Hasan walau pun sebenarnya Saviena merasa ada sesuatu yang hilang dari lubuk hatinya yang paling dalam, tapi entahlah itu apa Saviena juga nggak mengerti. Saviena hanya pergi ke kantin jika berdua dengan Kokom saja. Jika mereka kebetulan bertemu Saviena hanya menyapa sahabat Hasan saja itu pun bicara seirit mungkin, karena dimana sahabat Hasan pasti di situ ada Hasan. Dan apa bila kebetulan mereka berdua bertatap muka Saviena akan langsung buang muka bila melihat Hasan tanpa mau menyapa atau pun menjawab sapaan Hasan. Walau Hasan sudah bersikap sewajar mungkin tapi tetap saja para sahabat Hasan pun bertanya-tanya ada apa dengan mereka berdua, mengapa mereka berdua bersikap seperti itu. Seperti ada yang disembunyikan. Awalnya Hasan tidak terganggu dengan sikap Saviena yang selalu menghindarinya. Tapi lama-kelamaan Hasan pun merasa ada yang hilang karena sikap dingin Saviena kepadanya. Karena Saviena hanya menyapa sahabatnya saja tidak dengannya. Sudah berusaha minta maaf tapi nggak pernah diberi kesempatan untuk bicara. Yusuf pun menyadari dari gelagat mereka berdua sepertinya tidak ada yang mau memperbaiki keadaan, dan hanya Yusuf seorang yang tahu masalah mereka berdua selain yang di atas. Para sahabat Hasan juga tidak tahu karena Hasan tidak memberitahunya. Saking gemasnya dengan sikap mereka berdua Yusuf pun sudah tak tahan lagi. Hingga suatu hari Yusuf pun menegur sikap Hasan yang kekanak-kanakan. "San gak capek apa diam-diaman sama Saviena terus?" kata Yusuf sambil menatap Hasan dengan serius. "Ya capek atuh Suf, tapi harus gimana lagi dia gak mau maafin saya, saya juga bingung mau gimana lagi cara minta maaf sama dia" jawab Hasan frustasi, Yusuf sebenarnya kasihan sama Hasan berkali-kali ingin minta maaf tapi tidak diberi kesempatan oleh Saviena. Tapi Yusuf juga maklum dengan sikap Saviena yang tidak mau memaafkan Hasan, karena Yusuf melihat dan mendengar sendiri bagaimana kata-kata Hasan yang menyakiti perasaan Saviena. Hasan sudah berkali-kali mau minta maaf kepada Saviena, tapi Saviena tidak pernah memberi kesempatan kepada Hasan untuk bicara dan menjelaskan nya kepada Saviena. Saviena seakan menutup hati tidak ingin berteman lagi dengannya. "Apa segitu jahatnya saya dimata Saviena ya" batin Hasan. flash on "San Saviena ke ruang guru tuh, sana minta maaf" kata Yusuf sambil menatap Hasan. "Oh...ok!" jawab Hasan sambil berjalan cepat mengejar Saviena yang sudah keluar dari kelas menuju ruang guru. "Viena tunggu.. .bisa ngomong sebentar nggak?" kata Hasan sedikit berteriak sambil mengejar Viena yang mau belok ke ruang guru. Hasan pun berdiri di depan Saviena, saat berhasil menyusulnya. "Mau ngomong apa lagi hah ..!mau ngeledek gue, ada yang kirim salam buat gue lewat Lo lagi atau mau bilang gue munafik lagi, gak capek Lo" kata Saviena sinis dan menatap tajam kepada Hasan. "Saya cuma mauu...." kata Hasan gugup sambil menunduk tak kuasa meneruskan kata-katanya.. Tapi belum selesai Hasan bicara Saviena sudah menyelanya. " Kalau Lo mau minta maaf, terus Lo ngulangin lagi kesalahan yang sama, kayaknya nggak perlu! karena kata maaf Lo nggak guna buat gue karena hati gue masih sakit, misi gue sibuk" kata Saviena sambil melewati Hasan yang masih bengong dan menyenggol bahu Hasan dan kemudian berlalu pergi masuk ke dalam kantor guru karena memang ada urusan di sana. flash off "San yey... diajak ngomong malah dicuekin ngelamun ya?". kata Yusuf menyadarkan Hasan dari dunia halunya. " Nggak kok Suf..., saya nggak ngelamun kok". jawab Hasan sekenanya mengelak dari tuduhan Yusuf. " Coba minta maaf lagi aja, siapa tahu sudah jinak terus dimaafin deh, tapi yang sungguh-sungguh minta maaf nya" kata Yusuf memberi solusi. "Ya... nanti saya coba lagi deh, seribu kali minta maaf juga saya lakukan asal dimaafin Saviena!" jawab Hasan sambil tersenyum. "Nah gitu dong, itu baru Hasan yang saya kenal!" kata Yusuf memberi semangat. Hasan pun mengangguk sambil tersenyum membenarkan perkataan Yusuf. POV Hasan Sejak Saviena marah kepadaku, berkali-kali mau minta maaf tapi gagal terus, aku juga sering mencuri pandang padanya saat di dalam kelas, bingung caranya minta maaf sama perempuan yang sedang marah. Di dalam kelas Saviena tetap ceria dan selalu mengabsen kami sekelas tapi giliran namaku dia tidak pernah memanggilnya. Hati ku rasanya hampa sejak Saviena marahku, pada hal niatku waktu itu hanya menggodanya saja. Gak ada niat buat ngeledek atau menghinanya tapi salah paham ini nggak bisa aku selesaikan dengan mudah. Sebenarnya aku bersikap begitu karena aku suka saja kalau berbicara dengannya, tapi gak tahu cara memulainya. Makanya saat ada yang menitip salam untuk Saviena lewat aku, aku jadi bisa sering bicara dengannya, dengan alasan menyampaikan salam. Kalau bukan karena Yusuf mungkin aku juga tidak bisa dekat sama dia karena dia bukan tipe orang yang bisa didekati apa lagi dengan teman lawan jenis. Saviena seolah-olah menjaga jarak dengan teman-teman, kecuali dengan Komariah teman sebangkunya dan Yusuf teman satu pondoknya.. "Saviena please jangan marah sama aku, aku bingung harus gimana supaya kamu tidak marah sama aku lagi, hidupku hampa tanpa tawamu Saviena" batinku resah. **** Tak terasa waktu pun cepat berlalu Saviena pun sudah melupakan masalahnya dengan Hasan dan dia pun sebenarnya sudah memaafkan Hasan. Saviena menyibukkan diri dengan kegiatan yang ada di sekolah dan di pondok. Saviena dan teman-teman pun sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian semester ganjil sekolah. Dan tak terasa ujian akhir semester ganjil di sekolah pun sudah mau berakhir. Semua siswa di sekolah tersebut tetap semangat walau hari ini adalah hari terakhir mereka ujian karena mereka ingin mendapatkan nilai terbaik. Tanpa kecuali Saviena, dan Hasan tentu saja termasuk para sahabatnya. Saviena sangat semangat dalam belajar karena dia ingin membuktikan kepada orang tuanya bahwa dia mampu bersaing dengan teman sekelas dan seangkatannya walau dia tidak sekolah di sekolah yang dia inginkan, dan dijauhkan dari teman-temannya dan para sahabatnya yang ada di Jakarta, Saviena ingin orang tuanya tahu walau dia dibuang dari rumah ( menurut Saviena ya bukan penulis) dia masih bisa semangat dan mampu menjadi juara kelas (walau bukan juara satu) kelak itu akan dia buktikan saat pembagian raport semester ganjil ini. Itu janji Saviena pada dirinya sendiri walau hanya dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD