Jodoh masa depan

1037 Words
Saviena POV Namaku Saviena Jelita Putri. Nama yang diberikan oleh orang tuaku waktu aku baru lahir tentunya. Tapi nama itu juga yang selalu menjadi perdebatan antara aku dan kedua orang tuaku. Aku juga nggak tahu kenapa aku diberikan nama itu, nama yang menurut aku tidak islami pada hal waktu sekolah dasar aku tidak pakai kerudung. Aku pernah protes sama mama dan papa tentang namaku itu.. "Mah, Pah kenapa sih Viena dikasih nama Saviena Jelita Putri, nggak ada nama yang lain apa yang kepikiran waktu ngasih nama Viena, kan kita orang muslim!" kataku kala itu. "Kasih Viena nama yang islami dikit kek" protes ku lagi tanpa memikirkan perasaan orangtuaku. "Coba Viena dikasih nama, Siti Aisyah kek, Siti Fatimah kek kayak nama teman Viena atau Siti Aminah kek kan islami banget tuh" kataku sambil memegang dagu mengingat-ingat nama teman-teman yang menurut aku islami. Tapi papa cuma bilang bahwa namaku adalah pemberian dari saudaranya yang aku nggak tahu siapa namanya mungkin kenal juga nggak sepertinya. Tapi anehnya saat aku protes tentang namaku ke mama dan papa, malah teman-teman selalu memuji namaku yang katanya baguslah, kerenlah, modernlah dan lain-lain yang nggak pernah aku gubris. Karena bagi aku namaku itu tidak islami ya kurang bagus aja menurut ku. Aku anak bungsu dari empat bersaudara. Kakak pertamaku perempuan. Namanya Cantika Salamah, kak Cantika sesuai namanya yang memang berparas cantik dan tentu saja terlihat anggun. Banyak yang memuji kecantikan kakak perempuan ku yang sudah duduk di bangku SMA itu. Bahkan ada juga yang terang-terangan menyatakan perasaannya tapi tentu saja ditolak oleh kak Salamah dengan alasan belum siap untuk punya kekasih karena masih sekolah. Sedangkan kakak kedua dan ketiga ku adalah laki-laki yang pertama bernama Hermawan dan yang kedua bernama Affandi. Kedua kakak laki-laki ku adalah anak yang baik. Mereka berdua sangat patuh dengan aturan yang dibuat oleh kedua orang tua kami. Sehingga mama sepertinya lebih sayang mereka berdua dari pada ke aku yang notabene anak bungsunya. Kak Cantika selalu dijadikan tolak ukur oleh mama buat menilai aku yang bersikap cuek, apa adanya atau bisa dibilang tomboi. Dan karena sikap tomboi itu juga dijadikan mama salah satu alasan untuk memasukkan aku ke pesantren. Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat. Hampir enam bulan sudah aku belajar di pondok pesantren ini, sekolah pilihan orang tuaku lebih tepatnya sih, sekolah yang tidak aku inginkan apa lagi aku impikan. Tapi Alhamdulillah dengan berjalannya waktu aku bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pondok pesantren, ya walau bisa dibilang kalau di pondok tuh pasti kita yang jadi santri kurang tidur, makan pun apa adanya. Dan dengan pelajaran baik di pondok maupun di sekolah aku sudah bisa mengikutinya. Ya walaupun di awal belajar banyak pelajaran yang aku tidak tahu, seperti pelajaran fiqih, Qur'an hadist, bahasa Arab, Sejarah kebudayaan Islam dan banyak Karena aku sekolah dasarnya sekolah negeri yang minim pelajaran agamanya. Dan ada juga hafalan Al-Qur'an yang harus aku dan teman-teman santri setor dalam waktu yang sudah ditentukan. Dan Alhamdulillah hafalan yang diberikan oleh ustadz dan ustadzah yang cukup banyak dari sekolah pun bisa aku selesaikan dengan baik. Aku masih inget bagaimana Papa dan mama dengan tega mengirim aku ke sekolah ini. "Viena sayang pesantren tuh cocok buat kamu yang tomboy" kata mama dengan nada lembut, tapi kata lembut mama bagai bumerang bagiku yang tidak bisa menolak permintaan kedua orang tua ku itu. "Ya sayang benar kata mama, biar Viena bisa bersikap lebih baik lagi" kata Papa menimpali. "Tapi Viena gak mau Ma, Pa Viena mau sekolah bareng Fatimah dan Nur hikmah di SMP favorit kita" bantahku waktu itu yang nggak terima di masukkan ke pesantren. "Nanti kalau kamu sudah menjalaninya pasti kamu akan berterima kasih kepada Papa dan mama" kata papa meyakinkanku. Hanya itu yang Mama katakan tanpa memberi alasan yang jelas. "Yah mungkin omongan Papa dan Mama ada benarnya, buktinya aku sudah hafal Alquran 3 juz dan beberapa hadits" aku membenarkan dalam hati sambil tersenyum. Aku dengan mudah bisa mengikuti pelajaran pondok dan sekolah. Dan ujian kemaren pun aku bisa menyelesaikan dengan baik. Dan aku berharap bisa mendapat peringkat di kelas ya walau pun tidak peringkat kesatu. Sebenarnya aku betah sekolah di sini, aku punya sahabat baru bernama Siti Komariah yang biasa aku panggil Kokom. Semua berjalan lancar, aman dan terkendali karena teman-teman di pondok dan di kelas pun semua bersikap baik kepadaku. Selain Kokom, aku juga dekat dengan Yusuf teman satu pondok yang kebetulan satu kelas dan aku juga berteman akrab dengan beberapa teman dikelas. Tapi di sekolah ada satu cowok nyebelin yang selalu bikin aku kesel bin jengkel, hobinya hanya meledek dan menyakiti hatiku dengan kata-kata yang tidak enak didengar. Dia selalu menyampaikan salam dari orang-orang kepada ku dengan cara meledek mungkin juga terdengar menghina menurutku, alih-alih menyampaikan salam dari orang untukku dia malah meledek aku dengan kata-kata yang tidak enak di dengar, dia juga sudah minta maaf sih dan aku sebenarnya juga sudah memaafkan dia, tapi aku masih pura-pura marah sama dia, buat ngasih pelajaran sama dia, agar dia tidak mengulangi lagi perbuatannya itu ke orang lain. Aku senang lihat dia dengan muka memelas minta maaf. Tapi aku cuekin, pada hal dalam hati aku tertawa geli lihat mukanya yang merasa bersalah. Dia bernama Hasan orangnya lumayan cakep dan pintar dalam pelajaran apa lagi pelajaran agama. Suaranya sangat indah saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Kalau dia tidak bersikap menyebalkan sebenarnya orangnya enak buat jadi teman atau pun sahabat. Dan anaknya sebenarnya juga menyenangkan tapi entah mengapa sepertinya hanya padaku dia bersikap seperti itu. Aku juga tidak tahu apa salah ku sama dia sampai dia segitu bencinya sama aku. Hanya dia dan Allah yang tahu apa salah aku sama dia. Tapi seingat aku, aku nggak pernah buat salah sama dia. "Seandainya dia bersikap baik dan tidak mengusikku dengan kata-kata yang menyakitkan, kalau boleh jujur, kalau boleh jujur nih ya dari hati yang paling dalam bisalah dia aku panjar dengan doa di sepertiga malam buat jodoh masa depan kalau kata orang-orang zaman sekarang mah"(menurut Saviena itu sih). "Sadar Saviena masih kecil jangan kebanyakan menghayal nanti otaknya nggak bisa dipakai buat hafalan Al-Qur'an". gumam ku menyadarkan diri sendiri. Aku pun tertawa sendiri mengingat hal bodoh yang sudah aku bayangkan. Astaghfirullah al azim, hampir saja. Tapi buat jodoh masa depan boleh juga sih kayanya. "Jangan halu Saviena, masih bau kencur " batinku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD