Julius - Yang tidak Terucap

1216 Words
Sam dengan cepat menjadi murid populer di setiap kelas yang dihadirinya. Setiap cewek itu menghadiri kelas, selalu ada beberapa orang yang berkerumun di sekitar meja dan melemparkan pertanyaan untuknya, atau sekadar memulai obrolan remeh yang selalu ditanggapi dengan suara ceria serta senyum sejuta watt yang tidak ada habisnya. Julius menghela nafas dan memilih untuk memindahkan tempat duduknya di pojokan kelas yang kosong, bersandar sambil mendengarkan lagu dari ponselnya. Cowok itu mengarahkan matanya pada kerumunan yang berada di sekitar Samantha, suara mereka sekarang hanya terdengar seperti kebisingan yang tak berarti dan tanpa makna, tapi jika dilihat dari ekspresi masing-masing dari mereka, Julius bisa menyimpulkan bahwa mereka menyukai Sam. Tidak mengherankan, cewek itu selalu memiliki kesan yang bisa menarik orang-orang di sekitarnya hanya dengan sebuah senyum dan suaranya yang ceria, tapi tidak berlebihan. Julius sadar bahwa dirinya pun terpengaruh dengan apa yang dilakukan Sam terhadapnya. Kalau saja dia tidak menahan diri dan tidak sadar akan posisinya yang tidak menguntungkan, mungkin dia sudah bergabung dengan mereka dan ikut menikmati perasaan tenang dan nyaman yang berada di sekitar cewek itu. Walaupun Sam jauh lebih berisik saat berada di sekitarnya, tapi cowok itu tidak pernah merasa benar-benar terganggu dengan perilakunya, dia bahkan merasa sedikit nyaman ketika cewek itu berada bersamanya. Mengetahui kalau seseorang masih mau berada di dekatnya membuatnya merasa lebih baik. Cowok itu mendengus pelan lalu memejamkan mata. Julius tiba-tiba merasa lucu pada dirinya sendiri karena bisa-bisanya merasakan hal seperti itu setelah sekian lama, apalagi pada seorang cewek yang belum lama dikenalnya. Seharusnya dia lebih merasa terganggu pada Sam karena seharian ini dia memiliki jadwal yang sama persis dengannya. Cewek itu juga selalu memilih untuk duduk di sebelahnya di saat masih banyak bangku kosong lainnya. Julius kembali membuka matanya dan melihat Sam yang balas menatapnya. Gadis itu segera tersenyum dan sedikit melambai ke arahnya, memintanya untuk bergabung. Beberapa orang yang mengetahui apa yang dilakukan cewek itu berusaha mencegahnya, tapi Sam tidak mempedulikannya. Dia pada akhirnya menggeleng dan membereskan barang-barangnya. Sebaiknya dia pergi sekarang. * “Kenapa kamu malah pergi? Aku kan hanya mengajakmu agar bisa bergabung dalam obrolan.” Samantha tahu-tahu saja muncul di hadapan Julius dan mengikutinya berjalan menuju apartemen. “Kelas kita bahkan belum dimulai.” “Aku hanya ingin pergi. Kenapa kamu malah ikut membolos bersamaku?” Cewek itu mengangkat bahunya seakan hal itu bukan apa-apa. “Kamu tidak ada di sana, jadi untuk apa aku berada di sana? Lebih baik berada bersamamu.” “Apa kamu berkuliah hanya karena ingin mengikutiku?” “Iya.” Julius menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Apa kamu sudah tidak waras? Bagaimana kamu bisa kamu berpikir seperti itu?” "Aku masih waras, aku hanya mengatakan hal yang sejujurnya…. Ah, maksudku, akan lebih baik kalau kamu tetap mengikuti kelas sehingga aku tidak punya alasan untuk membolos." Julius menghela napas, dari perkataannya, Sam terdengar seperti mencari-cari alasan agar dia tidak membolos lagi. "Terserah, yang penting jangan ikuti aku. Aku ingin beristirahat hari ini." "Eh, kamu sudah capek?" Dia terdengar terkejut. "Ini bahkan belum menjelang malam… kamu juga tidak melakukan aktivitas yang berat." "Tidak semua orang mempunyai energi sebanyak dirimu." Julius langsung menutup pintu apartemennya sebelum Sam mengatakan hal lain yang menyebabkan obrolan tidak penting mereka semakin panjang. Cewek itu langsung mengetuk pintunya. "Kenapa kamu tiba-tiba menutup pintunya? Aku juga mau masuk." Cowok itu tanpa sadar menggeleng cepat, lalu teringat jika Sam tidak bisa melihatnya dari balik pintu. "Tidak usah masuk. Aku sudah bilang tadi, aku hanya ingin beristirahat untuk sisa hari ini." "Kamu tidak berminat untuk ikut pergi denganku?" "Tidak." Selama beberapa saat tidak terdengar apapun dari balik pintu sehingga Julius mengira kalau Sam sudah pergi, tapi suaranya tiba-tiba kembali terdengar. "Baiklah, karena kamu capek sekali, aku tidak akan mengajakmu pergi sekarang." Samantha berseru di depan pintu apartemennya. "Istirahat yang cukup supaya kita bisa bertemu besok ya, Jules! Aku akan menjemputmu." Julius tidak menjawab dan hanya menunggu sampai pintu apartemen di sebelahnya tertutup lalu tidak mendengar suara langkah kaki familiar dari cewek itu lagi. Masalah besok akan dipikirkannya besok. Dia akhirnya bisa menghembuskan napas lega karena sudah terbebas dari cewek itu. * "Ayo kita jalan-jalan!" Sam berseru begitu Julius membuka pintu apartemennya. Pemuda itu melotot ke arah gadis itu yang sudah mengenakan dress selutut bercorak bunga dan tas pinggang hitam yang sama seperti kemarin. Sorot mata gadis itu tampak berbinar penuh semangat saat melihatnya. "Mau ke mana?" tanya Julius tampak sangat keberatan. Dia baru saja terbangun dari tidur yang terasa begitu singkat. Biasanya cowok itu akan mengabaikan suara apapun yang mengganggunya, tapi dia tidak bisa menolak kebisingan yang disebabkan oleh sosok di hadapannya. Sam sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. "Aku mau ke supermarket. Ada beberapa bahan makanan dan kebutuhan lain yang belum kubeli untuk di rumah," jawab cewek itu. "Temani aku ya, Jules." "Tidak bisa, aku sibuk." Dia menjawabnya tanpa basa-basi. Hari minggu adalah hari libur berharganya. Seperti biasa, Julius akan mendedikasikan waktu liburnya untuk tertidur sepanjang hari dan tidak melakukan apapun. Cowok itu tidak ingin siapapun mengganggu waktu pribadinya, bahkan Sam sekalipun. "Tapi... dari mana kamu mendapatkan uang untuk berbelanja? Beberapa hari yang lalu kamu masih memintaku untuk membeli makanan." “Aku punya tabungan tersendiri untuk itu," ujarnya. “Kalau soal kamu yang membelikanku makanan waktu itu... itu kan karena kamu sendiri yang mengajakku pergi membeli makanan. Bisa saja kamu meninggalkanku tanpa perlu merasa bersalah." Julius merasa kalau ucapan gadis itu benar dan hendak menutup pintu agar tidak mengalami mengulang kejadian yang sama, tapi Sam lebih cepat dalam menghentikan tindakannya.. "Tunggu, tunggu, jangan tutup pintunya. Maafkan aku... aku hanya bercanda karena kamu terlihat imut di saat seperti ini. Tolong temani aku ya, Jules? Ya?" Dia menatap pemuda itu dengan sorot mata memohon yang begitu kuat. Julius berusaha mematikan sorot mata itu dengan memalingkan wajahnya. "Aku ada urusan penting." Gadis itu terdiam mendengar ucapan Julius, menatapnya dengan tatapan menyelidik dan kemudian berjongkok. "Kalau begitu aku akan menunggu disini hingga kamu mau menemaniku." "Apa-apaan—" “Kenapa kamu jadi seperti akan menghindariku lagi?” tanya Sam sambil mendongak menatap Julius yang tiba-tiba terpaku di tempatnya. “Sebelumnya kamu sudah mulai menerima kehadiranku, tapi sekarang kamu begini lagi. Apa ini karena aku sempat pergi? Atau ada alasan lain yang membuatmu seperti ini?” Cowok itu tidak menjawab dan hanya menghela napasnya. Julius tidak bisa menjelaskan apa yang dirasakannya pada gadis itu tanpa membuatnya salah paham—dia tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk membuat Sam mengerti akan ketakutannya selain kepada orang-orang itu. “Jadi benar, ada sesuatu yang membuatmu menjadi seperti ini.” Sam segera berdiri dan meraih kedua bahu Julius, meremasnya pelan. “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu sendirian. Ceritakan keluhanmu padaku sehingga aku bisa membantu atau memberimu solusi. Jangan menyimpan sesuatu sendirian dan membiarkannya berkembang menjadi hal yang tidak bisa kamu kendalikan " "Tidak ada yang ingin kukatakan padamu." “Jules....” "Apa kita bisa menghentikan pembicaraan ini? Aku akan mengantarmu ke supermarket kalau itu memang keinginanmu." Mereka berdua saling bertatapan. Satu dengan perasaan tersembunyi yang berdarah dan satu lagi dengan perasaan yang lebih bertekad untuk segera menemukan jalan keluar. "Bagaimana?" “Baiklah... aku juga akan melakukannya sesuai keinginanmu, Jules." Sam tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya pada Julius "Ayo, pergi." Julius terlihat lebih rileks begitu Sam menerima permintaannya lalu menerima uluran tangan itu. Cewek itu menggenggam tangannya dengan erat selama perjalanan mereka menuju ke supermarket. Dia tidak menolaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD