"Woah, besar sekali. Aku tidak tahu kalau sekarang ada supermarket yang seperti ini sekarang...."
Julius menatap Sam yang tampak berbinar menatap bagian dalam supermarket yang sekarang berada di hadapannya. Cewek itu benar-benar terlihat senang sehingga dia menjadi heran sendiri. Saat mereka membeli cemilan waktu itu, reaksinya bahkan tidak seheboh ini.
"Kamu baru pertama kali datang ke supermarket yang seperti ini?" Julius akhirnya bertanya saat mereka melangkah masuk, masih memperhatikan Sam yang sekarang seperti sedang menahan dirinya agar tidak langsung berlari. "Sebenarnya kamu tinggal di mana sebelumnya?"
"Aku terlihat norak ya hehe? Tempatnya tidak terlalu jauh dari sini, tapi kota tempat tinggalku sebelumnya hanya mempunyai supermarket kecil, seperti bisnis keluarga yang sudah diwariskan turun temurun." Cewek itu menjelaskan dengan lebih tenang, terlihat seperti bernostalgia. "Mungkin sekarang hanya ada orang-orang tua yang tinggak di sana."
Julius membayangkan tempat yang diceritakan Sam dan teringat sesuatu. "Apa orangtuamu masih ada di sana? Kamu tidak pernah menceritakan soal mereka."
"Oh?" Sam tahu-tahu saja menatapnya dengan ekspresi yang tidak di sukai oleh Julius. "Apa kamu akhirnya penasaran dengan asal-usulku sehingga bertanya sebanyak ini? Aku benar-benar terkejut."
"Aku tidak memiliki tujuan seperti itu, aku hanya sedikit penasaran." Dia terlihat tidak siap dengan tanggapan dari Sam.
Cewek itu mengangguk beberapa kali seakan sudah mengerti, tapi tetap menampilkan senyum senangnya.
"Jadi?"
"Orangtuaku tidak pernah tinggal di sana, hanya aku dan adikku." Sam menjawabnya dengan nada tak acuh. "Sepertinya... aku juga tidak pernah mengingat keberadaan mereka di dekat kami selama ini."
Julius menatap Sam dengan penasaran saat mendengar informasi yang tidak diduganya itu. "Kamu punya adik?"
"Iya, tapi dia sudah meninggal."
Sam terlihat biasa saja setelah mengatakan semua itu, seakan itu bukan apa-apa, tapi Julius merasa buruk karena menanyakan hal seperti itu padanya. "Maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Dia sudah meninggal sebelum aku pindah ke sini, jadi... sudah beberapa tahun berlalu setelah itu. Aku bahkan sudah tidak mengingat bagaimana rupa wajahnya."
"Begitu...."
Cewek itu meraih tangan Julius dan menepuknya pelan. "Jangan terlihat murung seperti itu, aku kan bukan menceritakan hal itu agar kamu merasa seperti ini. Aku malah senang karena kamu menjadi penasaran padaku lho."
Sam sepertinya menyadari kalau Julius menjadi lebih diam dari sebelumnya. Cewek itu akhirnya mengeluarkan pertanyaan secara bertubi-tubi padanya dan mulai berlari ke sana kemari dengan Julius mengikutinya dari belakang, mendorong troli dan memperhatikan gadis itu memasukkan berbagai bahan-bahan untuk memasak, banyak cemilan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Supermarket itu sebenarnya tidak terlalu besar, Julius bahkan pernah memasuki supermarket yang jauh lebih besar dibandingkan tempat ini. Mungkin yang membuat tempat ini terlihat besar hanyalah langit-langit tinggi dan rak-rak tinggi berisi pack-packan barang kebutuhan serta beberapa kardus yang ditumpuk paling atas.
Makanan segar seperti ikan tersedia di dalam akuarium yang siap diambil kapan saja, sedangkan makanan beku diletakkan berjejer dan bersusun di dalam kulkas geser yang mirip dengan tempat penyimpanan es krim.
Sam bergerak cepat dalam berpindah dari satu rak ke rak lain, menanyakan sebagian besar makanan kaleng yang ada lalu memasukkan pilihannya ke dalam troli. "Manisan mangga, selai arbei, tepung pancake, ikan kaleng—hei, apa itu anggur?"
Julius mengikuti langkah gadis itu yang mengarah pada rak-rak botol anggur. Samantha meraih salah satu botol dan menghirup baunya dalam-dalam, mendecakkan lidah dan kemudian meraih botol lain untuk kembali menghirup baunya.
"Kamu bisa mencium baunya?" tanyanya terlihat sedikit penasaran.
"Iya, hampir sebagian besar baunya samar tapi ada juga yang beraroma kuat seperti yang kupegang ini." Dia menyodorkan botol anggur itu. "Ciumlah."
Pemuda itu menggeleng. "Barang-barang di sini seharusnya tidak bisa dicium, kalau bisa, berarti ada kerusakan atau kecacatan yang menyebabkan barang itu disingkirkan dari sini," jelasnya pada gadis itu lalu mengerutkan keningnya. "Aku tidak bisa mencium baunya. Bagaimana kamu bisa melakukannya?"
Gadis itu menatapnya selama beberapa saat dan beralih pada botol anggurnya yang sudah didekatkan ke depan hidungnya, menghirupnya lagi untuk memastikan penciumannya. Dia mengernyit. "Begitu ya? mungkin karena dulu aku sempat bekerja lumayan lama di tempat yang memproduksi anggur, jadi aku terbiasa mencium harumnya dan mengenali hampir semua jenisnya,” ujarnya mengangkat bahu dan menaruh anggur yang dipegangnya ke dalam troli. “Hmm, anggur ini juga cocok untuk dimasak."
Cowok itu terdiam. Semakin lama bersama Sam, dia jadi mengetahui banyak hal tentangnya. Sosok cewek itu yang sebelumnya hanya terkesan main-main dan lepas, tahu-tahu saja terlihat tegar dalam menghadapi apapun yang berada di hadapannya. Entah kenapa, dia jadi ingin mengikuti sifatnya yang seperti itu.
Tapi... apa dia pantas setelah perbuatannya selama ini? Dia tidak tahu.
"Oh, ada yang lupa kuambil. Kamu duluan saja ke kasir, Jules," ucap gadis itu tiba-tiba lalu langsung meninggalkan Julius yang menatapnya berjalan cepat menuju tempat makanan beku, dan tidak terlihat lagi begitu membelok masuk ke salah satu lorong rak.
Julius mengikuti perkataan Sam dan melangkah pelan ke kasir dengan antrian yang cukup pendek, di depannya hanya ada tiga orang dengan isi troli yang tidak terlalu banyak dibanding belanjaan Sam, jadi tidak butuh waktu lama hingga tiba gilirannya membayar. Dia sudah akan mengeluarkan uangnya saat gadis itu sudah tiba di sebelahnya.
"Maaf terlambat."
Desahan napas gadis itu terdengar keras saat dia berdiri–sedikit membungkuk–di sampingnya. Sam meletakkan sebungkus daging has dalam, pemukul daging juga sebotol garam dan lada ke dalam troli.
Mereka memindahkan barang yang sudah di pack oleh kasir ke dalam troli lalu membayarnya. Julius sudah akan melangkah pergi ketika Sam tiba-tiba mengatakan sesuatu.
"Um, bisa antarkan barang-barang ini ke apartemenku?"
"Bisa," jawab kasir itu mengangguk lalu menyodorkan selembar kertas dan pulpen ke arahnya. "Tolong isikan alamatnya di sini dan bayar ongkos kirim sebesar 25 dolar agar kami bisa segera mengantarnya ke tujuan."
"Oke, terima kasih."
"Kita mau ke mana setelah ini?"
Cewek itu terlihat tidak mendengarkan pertanyannya. Sam mengeluarkan beberapa lembar dolar dari dompetnya lalu menyerahkan pada penjaga kasir. Penjaga kasir itu mengulang alamat lengkap dan nomor teleponnya agar tidak ada kesalahan dalam pengiriman batang.
"Hei." Julius berusaha menarik perhatian gadis itu yang masih sibuk mengobrol dengan penjaga kasir. "Sam."
Dia akhirnya menoleh sambil tersenyum. "Ya? Ada apa, Jules?"
Cowok itu mengerutkan keningnya, merasa tidak suka dengan apapun yang sepertinya sudah direncanakan gadis itu di kepalanya. Meskipun kesan Julius terhadap Sam sudah berubah, tapi dia tetap menginginkan jam istirahatnya yang tersisa.
“Kamu mau mengajakku ke mana lagi? Bukannya aku hanya berjanji untuk menemanimu ke supermarket? Ini tidak sesuai dengan kesepakatan kita."
Sam menepuk pelan pipi Julius sambil tersenyum. "Aku merasa bersalah karena sudah membuatmu murung setelah mendengar ceritaku, jadi aku ingin mengajakmu pergi untuk menghiburmu."
"Tidak usah aku tidak apa-apa."
Cewek itu terlihat kecewa karena perkataannya, lalu mengangguk. "Baiklah, ayo kita langsung pulang saja."
Julius menatap Sam yang sudah berjalan lebih dulu, dia benar-benar kecewa karena ajakannya ditolak.
Cowok itu mengacak rambutnya yang tidak terasa gatal lalu melangkah mendekati Sam. "Ayo, kita pergi saja. Tidak akan lama kan?"
Wajah cewek itu langsung cerah begitu mendengar suaranya. Dia mengangguk dengan bersemangat. "Iya, tidak akan lama kok."
"Oke...." Julius mengulurkan tangannya ragu, tapi diterima Sam dengan senyuman lebar. "Ayo, kita berangkat."