Mereka tiba di taman yang tidak jauh dari supermarket. Hamparan rumput yang luas, beberapa semak kecil dan sebuah pohon rindang menjadi pemandangan yang umum terlihat. Di tengah-tengah taman itu, ternyata terdapat sebuah air mancur yang masih mengalir dengan lancar.
Hanya ada beberapa orang di taman itu. Sekilas, Julius dapat melihat sepasang lansia, seorang laki-laki paruh baya yang mengajak anjingnya jalan-jalan dan dua anak kecil yang bermain lompat tali—yang kemungkinan besar cucu dari sepasang lansia tadi. Dia dan Sam berjalan pelan menyusuri taman sebelum akhirnya duduk di salah satu kursi yang berdekatan dengan pohon.
"Ayo, duduk, Jules," ajak Samantha menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Pemuda itu membalas tatapan gadis itu dan kemudian menjatuhkan diri di sampingnya. "Apa yang kita lakukan di sini? Kamu tidak jadi menghiburku?"
"Pfft. Memang apa yang kamu ingin aku lakukan untuk menghiburmu?"
"Belikan aku sesuatu di toko alat musik."
Sam terlihat bingung ketika mendengar perkataannya. "Toko alat musik? Apa yang ingin kamu beli di sana?"
"Ada beberapa, tapi tidak banyak. Aku akan memberitahumu saat kita sampai di sana."
"Kalau kamu berkata seperti itu, berarti aku tidak akan bisa menolak dong." Sam terlihat berpikir selama beberapa saat. "Baiklah, tidak apa-apa, akan aku terima permintaanmu. Tolong pertimbangkan kantongku yang tipis ya."
"Tidak usah khawatir, aku lebih miskin darimu, tapi masih rutin membeli pernak-pernik yang berhubungan dengan musik selama ini."
Sam mendengus tertawa dan menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap langit biru yang terlihat cerah di atas mereka. Julius mengikutinya, tapi kemudian memejamkan mata karena merasakan angin yang sejuk. Mereka terdiam cukup lama dalam situasi yang tenang.
"Jules."
"Hm?"
"Apa aku boleh mengetahui siapa yang mengganggu kehidupanmu di kampus dan membuatmu memutuskan untuk mengakhiri masa hidupmu?"
Julius membuka matanya dan bertatapan dengan wajah Sam yang tahu-tahu saja sudah berada di dekatnya. Dia segera memalingkan wajah. "Kenapa kamu ingin tahu? Hal itu sudah lama terlewat kan?"
"Memang, tapi ketakutanmu masih ada sampai sekarang kan?"
Cowok itu kembali mengingat tindakannya selama ini saat bersama dengan Sam. Dia merasa sudah bersikap seperti biasa kecuali hari itu, tapi bagaimana mungkin cewek itu bisa menyadarinya?
"Aku memang masih merasa seperti itu, tapi aku yang akan menghadapinya sendiri. Nanti."
Sam tidak menyerah. "Nanti sampai kapan? Apa kamu akan terus-terusan kabur dan mengubur semuanya dalam-dalam seakan itu tidak pernah terjadi? Itu hal yang tidak baik."
"Apa kamu memintaku untuk menghadapinya sekarang? Aku belum siap."
"Kamu bisa meminta bantuanku, ceritakan, dan akan aku bantu sebisanya."
Julius menggeleng. "Kalau kamu hanya mengetahui kebenarannya dan menyebarkannya, tidak ada gunanya bagiku. Aku sudah berkuliah lebih lama darimu, mereka juga, sedangkan kamu baru masuk. Menurutmu ada berapa orang yang akan mempercayai perkataanmu sepenuhnya?"
"Dua orang. Aku dan... kamu."
Cowok itu menghela napas dan kembali menatap langit. Matahari sedang terhalang awan sehingga hawanya menjadi lebih sejuk, cocok sekali dengan olahraga yang dulu diikutinya dan dia menyukainya. Waktu seperti ini selalu digunakannya untuk berlatih, dulu.
“Ah, benar juga....” Sam terdiam, terlihat sedang teringat akan sesuatu yang terlintas di benaknya. “Bagaimana dengan adik kelas yang pernah mencegatmu itu?”
“Kamu melihatnya?”
Gadis itu mengangguk dan sedikit terkekeh melihat ekspresi terkejut dari Julius. “Aku tidak melihatnya terlalu jelas waktu itu, tapi aku yakin sekali kalau itu kamu dan adik kelasmu. Dia terlihat mengenalmu dengan baik dari lamanya kalian berbicara.”
“Dia dan pacarnya hanya membutuhkan bantuanku, bukannya ingin mengobrol denganku.” Julius mengangkat bahunya, berusaha terlihat tidak mempedulikannya.
“Memang bantuan apa yang diperlukan oleh mereka?”
“Melatih adik kelas mereka, anak baru.” Gadis itu segera menepuk tangannya keras hingga Julius berjengit, cowok itu menatap gadis yang berada di sampingnya yang tiba-tiba terlihat senang. “Ada apa?”
Sam tampak sangat bersemangat ketika mulai berbicara, Julius dapat melihat berbagai rencana berputar di kepala gadis itu dengan cepat. “Latih mereka, Jules! Itu bisa jadi salah satu cara yang bagus untuk memulai sosialisasi, apalagi mereka anak baru yang belum tahu apa-apa. Kamu bisa berbicara dan bertindak sesuai yang kamu inginkan untuk melatih mereka, mendapat kegiatan baru sekaligus tujuan baru, bahkan impian baru kalau menjadi pelatih memang bakatmu.”
“Kamu juga anak baru.”
Sam menepuk bahunya pelan. “Kamu tahu bukan itu maksudku,” ujarnya. “Hal seperti Itu belum pernah kamu coba sebelumnya kan?”
Julius menggeleng, berpikir untuk melakukannya saja tidak pernah terlintas di benaknya. Dia hanya menganggap permintaan dari adik kelasnya itu sebagai suatu hal yang mustahil untuk dilakukan, jika keadaannya sedang bermasalah seperti ini.
“Bagaimana?”
Dia kembali menggeleng. “Terlalu beresiko.”
Senyum di wajah gadis itu memudar setelah mendengar ucapan Julius. “Apa ini karena orang-orang itu?” ujarnya sambil menatapnya, melihat ekspresi wajahnya yang dengan jelas membenarkan dugaan gadis itu. “Jules ... Apa kau benar-benar tidak bisa?”
Cowok itu memejamkan matanya, tidak tahu harus menanggapi apa untuk pertanyaan gadis itu. Dia benci merasa begitu tidak berdaya dengan sebuah pertanyaan yang selalu menghantuinya selama ini. Kalau bisa, dia ingin menghilang dari sana agar tidak perlu membicarakan hal ini dengan Sam.
“Baiklah, ayo kita pindah tempat.”
Julius kembali membuka matanya untuk menatap gadis itu yang sudah berdiri dan merapikan bagian baju terusannya yang terduduk. “Apa?”
“Aku butuh es krim untuk memikirkan saran yang pas untuk masalahmu. Suasananya juga sudah tidak enak karena ekspresimu yang seakan menyatakan duniamu sudah berakhir,” ujarnya pelan. “Ayo bangun.”
Cowok itu bangun dari posisinya, tanpa berkata apa-apa dan mengikuti langkah Sam. Gadis itu menghampiri stan es krim yang cukup ramai dengan pelanggan, tidak heran, bahkan di sekeliling stan itu juga banyak anak kecil yang sedang menikmati es krim bersama orangtua mereka. Butuh waktu lumayan lama hingga mereka bisa memesan es krim dan kembali berjalan dengan es krim di tangan mereka.
“Jadi ... apa yang biasanya kamu lakukan saat di rumah ketika akhir pekan?” tanya Sam.
Julius menatap gadis itu sekilas, mengira-ngira maksud pertanyaannya dan akhirnya menjawab. “Tidur, streaming acara tv dan... akhir-akhir ini, aku mulai menulis lagu.”
"Menulis lagu?" Sam terlihat kaget. "Apa itu alasan kenapa kamu mau ke toko musik? Kupikir kamu ke sana untuk memintaku membeli alat musiknya."
Julius terdiam seakan membenarkan ucapannya. Sam langsung terlihat panik dan berkata kalau uangnya tidak cukup, sebelum cowok itu tiba-tiba tertawa.
"Kamu tertawa setelah sukses mengerjaiku?" Wajah cewek itu memerah, malu karena benar-benar mempercayai tindakannya.
"Sebenarnya aku memang menginginkan itu, tapi beberapa partitur dan isi tinta sepertinya sudah cukup untuk sekarang."
Sam menghembuskan napas dengan lega. "Ayo kita ke sana setelah menghabiskan es krim."
"Tentu."
Pada akhirnya Julius tidak jadi menghabiskan waktu liburnya untuk tidur di rumah, tapi memiliki kesempatan untuk berduaan dengan Sam sampai waktu menjelang malam. Beberapa lembar partitur baru dan pena baru menjadi penggantinya.
Dia tidak menyesal.