Part 07

1014 Words
Seisi sekolah SMA Sebum gempar karena melihat cewek berwajah bagaikan bidadari berada di sekolah mereka. Walaupun diperhatikan oleh banyak murid, Dasha biasa saja dan tidak menebar pesona sama sekali. Kila yang baru saja datang dari sekolah, tiba-tiba dihampiri Dania dengan raut muka yang heboh. "Sawan lo?" tanya Kila asal. "Sembarangan! Mana ada orang sawan pagi-pagi kaya gini." "Ya trus bilang dong. Tujuan lo ke sini buat apa, untuk nyampain berita apa dan si-" "Tunangannya Abian datang ke sekolah ini," ujar Dasha memotong kalimat Kila. Ekspresi Kila yang tadinya santai menjadi terkejut. "Datang ke sekolah kita? Buat apa?" "Dia murid baru di sekolah ini. Lebih baik lo nyerah aja buat menangin hati Abian kalau lo enggak mau dicap pelakor," ucap Dasha menasehati. "Bukan urusan lo," Kila memilih untuk berjalan menuju kelasnya sekalian melihat seperti apa tunangan Abian itu. "Tungguin gue napa!" ujar Dania kesal. *** "Silahkan perkenalkan diri kamu," Pak Wisnu mempersilahkan. Nampak seorang gadis berawakan tinggi, namun ramping masuk ke dalam kelas. Rambutnya yang dibiarkan tergurai membuat kesan cantik pada Dasha. Kila tercengang, "Cewek itu kan..." ucapannya tergantung. Kila yakin cewek itu adalah perempuan yang datang dalam mimipinya. "Hai, semuanya. Nama saya Dasha Hafia, saya harap bisa berteman baik dengan kalian semua," sudut bibir Dasha terangkat membentuk lengkungan manis. Para murid cowok yang melihatnya pun dibuat jatuh cinta kecuali, Abian yang duduk dengan ekspresi datang sembari melipat tangan di d**a. "Lebih dari temen juga boleh," celetuk murid cowok yang duduk di barisan paling depan. "Minta nomor telfonnya dong," "Nanti pulang bareng ya, ntar gue anter pake mobil," "Mau jadi pacar gue enggak?" "Lo udah punya pacar?". "Lo cantik dan manis. Gue jadi suka," gombal murid cowok lain. "Habis sekolah kita jalan yuk!" Dasha tidak menanggapi hal itu. Dia melihat Abian dan berharap tunangannya itu protes kepada cowok yang sedang menggodanya. Namun ternyata tidak. Abian malah fokus membolak-balikan buku dan bersikap tidak peduli. Keadaan kelas semakin riuh membuat Pak Wisnu ambil tindakan. Laki-laki paruhbaya itu mengambil penggaris dan menggebrakkannya ke meja dengan keras. Seketika suasana kelas menjadi hening. "Duduk di sana," perintah Pak Wisnu tegas. Dasha menarik langkah. Kila memandangi wajah Dasha. Memang, wajah tunangan Abian itu sangat cantik. Dasha duduk di bangku yang berada di belakang Kila. *** Saat berada di kantin, Kila tak henti-hentinya memandangi Dasha yang sedang menempel-nempel pada Abian. Namun Kila senang karena Abian bereaksi seperti tidak suka. Kila mendesis lirih. "Lo kenapa ngeliatin mereka? Pasti iri ya? Sebagai ratunya jomblo, gue juga turut iri kepada mereka." ujar Dania dengan gaya lebay. "Berisik lo." Kila melihat Dasha kembali dan memberi tatapan tajam. Melihat Kila bangkit dari duduknya, Dania jadi penasaran. "Mau ke mana lo?" Kila tidak menghiraukan pertanyaan Dasha. Dia memilih untuk mendekati Abian walaupun ada tunangannya di sana! Nekat sekali Gadis itu. Dengan rasa tidak tahu malu, Kila duduk di sisi kiri Abian dan jaraknya sangat dekat. Bahkan badan mereka bersentuhan. Dasha yang melihatnya pun merasa heran dan bertanya-tanya siapa Gadis yang menyempil di dekat Abian. "Lo udah makan?" Kila bertanya dengan wajah sumringahnya. Abian menoleh dan menatap muka Kila, membuat jantung Kila berdetak kencang tak karuan! "Lo kenapa ada di sini?" tanya Abian. Tak kuat saat Abian memandangnya, Kila menunduk. "Gue cuma nemenin lo makan aja," jawab Kila. Abian awalnya hendak mengusir Kila, namun melihat Dasha yang sedang terheran-heran, muncullah sebuah ide di benak Abian. Tangan kiri Abian terulur merangkul Kila yang ada di sebelahnya. Dengan tatapan menjengkelkan, Abian memandang Dasha. "Ini pacar gue. Lo sekarang ngerti kan, kenapa sampai detik ini gue belum bisa nerima lo." ujar Abian nyelekit. Hati Dasha memanas karena serasa ada yang membakarnya dari dalam. Berbeda dengan Kila, wajah Kila memerah mendengar Abian berkata seperti itu. 'Padahal dia belum nembak gue. Ah, bodoamat. Yang penting gue sama dia udah pacaran! Pacaran!' batin Kila kesenangan. "I-ini pacar lo?" Dasha berusaha agar tidak menangis. "Lo budeg ya? Gue udah bilang. Cewek ini pacar gue." tegas Abian. Dania melongo menyaksikan kejadian itu. Jika saja dia ada di posisi Dasha, pasti dirinya akan menampar keras pipi Abian. "Trus apa gunanya lo masangin cincin ke jari manis gue semalem?" Dasha kembali bertanya. Abian menatap jengah tunangannya itu, sedangkan Kila memandang remeh Dasha. "Gue terpaksa. Gue cuma nurutin permintaan orang tua. Udah, itu doang. Enggak lebih," ucap Abian penuh penekanan setiap kalimatnya. Dasha langsung segera meninggalkan mereka berdua karena tidak ingin menangis di depan Abian. Setelah Dasha sudah tidak kelihatan, Abian langsung melepaskan rangkulannya. "Kan kita udah pacaran, habis pulang sekolah kita mau ke mana?" Kila mengharap respons baik Abian, namun Laki-laki itu memberinya tatapan tajam sekaligus dingin. "Kita enggak pacaran beneran karena gue ngaku sebagai pacar lo biar Dasha enggak deket-deket lagi sama gue. Maaf," setelah mengatakan itu, Abian beranjak meninggalkan Kila yang menatapnya tidak percaya. "Waktunya belajar," Naufal datang mendekati Kila. Kila mengalihkan pandangan. Kedua matanya kini memerah. *** Di depan Naufal, Kila menangis sesegukan. Sudah 2 kotak tisue habis untuk mengusap air mata Gadis itu dan sampahnya memenuhi meja perpustakaan yang mereka singgahi. "Lebay lo," Naufal menatap jengah Kila. "Sakit tau enggak. Gue tadinya udah bahagia banget, tapi Abian malah bilang kalau ... kalau ...," tenggorokan Kila terasa tercekat. Dia tidak lagi mampu melanjutkan kata-kata menyakitkan itu. Naufal mengambil satu tisue dan menyerahkannya pada Kila. Dengan cepat Kila menerimanya dan mengeluarkan ingusnya di sana. 'Cantik-cantik jorok' batin Naufal dengan rasa jijik. "Ngapain lo ngeliatin gue kaya gitu!" dongkol Kila kesal. "Enggak. Siapa yang ngeliatin lo," ucap Naufal santai. "Trus lo ngeliatin apa?!" "Ngeliatin buku-buku," ujar Naufal. "Udah selesai nangisnya? Kalau udah, belajar yuk." lanjutnya mengajak. "Belum lah! Butuh berhari-hari bahkan berbulan-bulan buat nyembuhin luka gue," "Ngapain lo nangis buat orang kaya dia? Emang dia pernah nangisin lo?" tanya Naufal berusaha agar Kila tidak lemah. Perlahan Kila menggeleng. Memang benar perkataan Naufal. "Gue minta, lo fokus buat masa depan lo mulai sekarang. Jangan mikirin orang kaya dia," "Jangan sok nyeramahin gue lo. Lo cuma sebatas guru privat doang. Jangan ikut campur urusan gue," ucap Kila tidak terima nasehat Naufal. "Fal, kamu udah makan?" Mendengar suara itu, Kila mendongak dan menatap sebal Gadis yang barusan bertanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD