Part 08

1004 Words
Lusi tiba-tiba menghampiri mereka berdua. Kila memandang Gadis itu tidak suka karena sikapnya yang polos. Sejak saat SMP, Kila membenci cewek polos karena menurutnya, cewek itu hanya pura-pura polos agar mendapat perhatian kaum laki-laki. "Gue enggak istirahat dulu," jawab Naufal. Bibir Lusi melengkung. "Kenapa?" "Belum ngajar tuh anak," pandangan Naufal terarah ke Kila. "Bukannya kamu udah lama ngajar dia ya?" Lusi kembali bertanya. "Belum sama sekali, Si." "Tapi kamu belum makan apapun kan? Nanti kalau kamu sakit gimana?" cecar Lusi. Naufal menghela nafas panjang kemudian mengangkat sudut bibirnya. "Gue enggak laper kok. Tenang aja," jawab Naufal berusaha menyabar. "Aku ud-" "Hih! Kalau Naufal enggak mau ya udah jangan dipaksa! Geregetan gue," dongkol Kila yang sedari tadi gemas menyaksikan mereka berdua. Lusi yang ucapannya dipotong pun mendecak sebal. "Ini bukan urusan kamu ya. Jadi jangan ikut campur," ujar Lusi. "Dih, siapa juga yang mau ikut campur! Gue cuma ngebebasin Naufal dari jeratan perempuan sok polos kaya lo." Lusi yang tidak terima perkataan Kila, langsung mencebikkan bibir. "Siapa yang pura-pura polos? Sejak kecil, aku selalu diajari sopan santun oleh kedua orangtuaku. Tidak sepertimu yang ti-" Kila menggebrakkan tangannya di meja. Dia tidak terima jika kedua orangtuanya disebut. "Lo mau bilang apa, hah?!" Kila mendekati Lusi, meletakkan kedua tangannya di pinggang dan memaju-majukan kepalanya seperti orang yang menantang. "Aku cuma mau bilang, kamu harus lebih di didik lagi agar kamu tau sopan santun." Lusi sama sekali tidak emosi. "Jangan sok baik lo. Gue tau lo itu cuma pura-pura polos di depan para cowok biar dapet perhatian. Iya kan? Jawab!" cecar Kila. Mood hari ini begitu buruk. Kejadian saat dirinya SMP tepatnya saat Kila memergoki pacarnya sedang bermesraan dengan Gadis polos tiba-tiba terlintas begitu saja dibenak Kila saat melihat Lusi. "Enggak. Aku enggak kaya gitu." balas Lusi sambil memicingkan mata. "Inggik. Iki inggik kiyi giti," mulut Kila monyong ketika menirukan ujaran Lusi. "Udah... udah. Jangan ribut." Naufal menyempil di antara mereka berdua. "Dia nyebelin banget, Fal." rengek Lusi agar Naufal memarahi Kila. Naufal hening. Dia menaikkan kacamata yang sudah turun dari kedua mata kemudian Naufal memegang tangan Lusi dan meninggalkan Kila begitu saja. Kila melongo, sedangkan Lusi tersenyum kemenangan. "Gue bakal aduin ke ayah biar gajinya dipotong." gumam Kila dengan penuh kekesalan. Saat sudah jauh dari perpustakaan, Naufal melepaskan gengamannya. "Si, bisa enggak sih?" tanya Naufal. Lusi membersutkan dahi. "Bisa apa?" "Lo jangan ganggu kalau gue lagi sama Kila," Lusi mengerjap. "Emangnya kenapa? Bukannya udah tigapuluh menit kamu ngajar dia?" "Gue tadi belum sempet ngajar dia." Mendadak hati Lusi terasa sakit. Ada rasa takut yang menjalar dari dalam hatinya, "Trus kamu ngapain berduaan sama dia selama itu?" Lusi menghela nafas. "Apa jangan-jangan kamu suka Kila?" "Bu-" KKRRRRIIINGGG Bel masuk berbunyi membuat Naufal tidak menjawab pertanyaan Lusi. Kila muncul, melewati mereka berdua dan menyenggol pundak Lusi dengan kasar. *** Malam ini, Kila disibukkan oleh kegiatan marathon film kesukaannya di laptop. Namun tiba-tiba suara nada dering panggilan telfon membuyarkan fokusnya. Kila mengambil ponsel, mengangkatnya setelah tahu Dania yang menelfon. "Halo, kenapa lo telfon gue?" "Gue cuma mau ngingetin lo. Pr udah dikerjain?" "Nanti." Setelah Kila menjawab, beberapa detik tidak terdengar suara Dania membuat Kila penasaran. "Nia? Woy! Lo masih ada di situ kan?" "Kil, lo suka sama Abian?" "Iya. Emangnya kenapa?" "Walaupun Abian udah sama cewek lain, lo tetep suka?" "Hem." "Lo tau enggak?" "Tau apa? Buruan ngomong langsung ke intinya. Lo dari tadi lelet banget." "Mending lo nyerah aja, Kil. Gue takut lo kena karma nanti." Kila menegakkan tubuhnya. "Atas hak apa lo ngelarang gue?!" "Sebagai sahabat lo. Lo tau enggak? Das-" Belum selesai Dania berbicara, Kila mematikan sambungannya dan melempar ponselnya asal. "Bodoamat. Walaupun Abian punya tunangan, keinginan gue enggak akan pernah pudar." gumam Kila. *** Keesokannya, seperti biasa Kila berangkat ke sekolahnya. Dia berniat tidak ingin berbicara dengan Dania sebelum Dania meminta maaf padanya. Saat akan menuju kelas, kandung kemih Kila terasa penuh. Gadis itu ingin buang air kecil. Dengan bergegas, Kila berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai, Kila lega. Dia berkaca terlebih dahulu sembari mencuci tangan. Beberapa detik kemudian, Dasha datang. Kila yang melihatnya langsung memicingkan mata. Dasha terlihat tenang. Gadis itu menyalakan air yang berada di wastafel untuk mencuci tangan. "Cinta itu enggak bisa dipaksakan," Kila mulai menyindir. Dasha mengalihkan pandangan lurus ke depan. "Kalau gue berada di posisi lo, gue bakal nyerah dan pasrahin Abian ke cewek lain." Kila mematikan kran wastafel. Dia melipat tangan di d**a kemudian mendekati Dasha. "Gue mau tanya sama lo, emang Abian pernah nyatain cinta ke lo?" Kila menatap Dasha dengan tatapan songong. Dasha perlahan menoleh untuk melihat Kila. "Belum, tapi gue butuh waktu buat menangin hati Abian. Cinta itu butuh waktu." jawab Dasha tetap tenang. Kila melotot. "Abian udah jadi pacar gue! Lo enggak akan bisa ngerebutnya." ucapnya dengan mata berapi-api. "Gue dan Abian udah terikat." Dasha mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan sebuah cincin emas terpasang di jari manisnya. "Lo liat?" Kila yang sudah dibutakan amarah langsung memegang erat tangan kanan Dasha dan melepaskan cincin itu dengan kasar. "Apa yang lo lakuin?!" bentak Dasha terkejut. Kila memasukan cincin milik Gadis itu di saku seragamnya. "Balikin cincin gue," mohon Dasha. Kila mendecih. "Nih,'" Gadis itu memajukan d**a. Dasha dibuat tak bergeming. "Kenapa? Lo enggak berani?" Mata Dasha kini mulai berkaca-kaca. Dasha merupakan tipe orang yang mudah menangis. Melihat hal itu, Kila langsung tertawa kemenangan. "Ini baru permulaan, tapi lo udah nangis." Kila kemudian tertawa terbahak-bahak. Kila beranjak dari tempat itu dan menyenggol kasar bahu Dasha. "Dasar pel*cur!" gumam Dasha, namun terdengar di telinga Kila. Kila berbalik badan. "Apa lo bilang?!" "PEL*CUR." balas Dasha dengan suara lantang. Kila membulatkan mata. Kesal. Kedua tangan Kila terulur menjambak rambut panjang Dasha. Dasha pun membalasnya. Jambak-jambakan tidak bisa terhindari. Beberapa menit kemudian, Dasha merasakan sesak di d**a. Pertanda asmanya kambuh. Cengkramannya pada rambut Kila mulai mengendur dan Gadis itu tersungkur di lantai. Dadanya terasa ada yang menghimpitnya. Dasha melepaskan tas berniat untuk mengambil botol alat bantu pernafasan, namun Dasha sudah tidak kuat. "To-tolong,, a-ambil-lin bo-tol,,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD