Part 09

1015 Words
Kila mengernyit heran melihat Dasha seperti itu. Dia tidak memedulikan Dasha dan memilih untuk meninggalkan kamar mandi. Namun tangan Dasha mencegah. "Se-kali,, ini, to-longin gu-e." mohon Dasha dengan kata-kata terputus. "Enggak. Enak aja! Emangnya gue mau gitu?" respons Kila. "Ambi-lin bo-tol ke-cil di tas gue," Dasha memegang kuat d**a bagian kirinya. Rasanya pasokan oksigen mulai habis. Dasha semakin kesulitan untuk bernafas. Kila awalnya tidak mau, namun Gadis itu akhirnya mau karena tidak tega. Kila berjongkok dan meraih tas Dasha. Dengan cepat, Kila membuka resletingnya. Tangan kanan Kila merogoh-rogoh ke dalam tas, namun tidak ada botol kecil di sana. Resleting satunya lagi dibuka, hasilnya tetap sama. Tidak ada botol di sana. Dasha pingsan. Kila sangat panik. Terpaksa Kila harus membawa Dasha ke UKS dengan menggendong Gadis itu. *** Sembari menunggu Dokter rampung memeriksa Dasha, Kila duduk di bangku yang berada di luar UKS. Tak lupa, tas Dasha ada bersamanya. Kedua mata Kila mencari-cari Dania dan berharap sahabatnya itu datang menghampiri. Tapi Dania belum kunjung muncul dan yang ada hanya beberapa murid yang penasaran, namun tidak berani bertanya. Tiba-tiba terdengar suara nada dering berasal dari dalam tas. Kila membuka tas milik Dasha dan benar saja terdapat ponsel yang sedang berdering. Tertera huruf membentuk kata 'ibu' di sana. Kila langsung memencet ikon hijau. "Halo, Nak. Kamu enggakpapa kan? Botol pernafasan kamu ketinggalan di rumah. Bentar, tunggu ibu ya, ibu akan ke sekolah kamu." "I-iya, tante." "Ini siapa? Kok suaranya beda?" "Ini Kila, tante. Temennya Dasha." "Loh, Dasha nya mana?" Kila bingung. Apakah harus menjawab jujur atau tidak. "Halo." di sebrang sana, ibunya Dasha memastikan telfon masih tersambung atau terputus. "Dasha nya sekarang lagi di UKS, tan." "Anak saya enggak apa-apa kan? Dia asmanya kambuh?" 'Asma?' batin Kila terkejut. "Iya, tante. Tapi tenang aja kok. Sekarang Dasha lagi ditanganin sama dokter," "Alhamdulillah, tante sekarang tetep mau ke sana buat ngasih botol infusnya," "Oke, tante." Setelah itu, panggilan terputus. Kila meletakkan ponsel kembali ponsel tersebut di dalam tas Dasha. Mata Kila kini terpusat pada sebuah buku tebal berwarna biru di sampulnya di depan buku itu tertulis 'Diary'. Kila yang penasaran segera membukanya. Kila membolak-balikan buku itu, tidak tertarik membacanya, tetapi melihat namanya tertera di sana membuat Kila mau tidak mau membacanya. 'Tadi pagi, Abian bilang udah punya pacar. Hatiku terasa sakit sekali waktu itu. Kadang, aku berpikir untuk apa mempertahankan hubungan dengan cowok yang kasar dan sama sekali tidak peduli padaku? Memang, pacarnya Abian yang bernama Kila itu cantik. Aku mengakuinya. Tapi, di sisi lain aku tidak boleh menyerah mengingat aku harus menjalankan menuruti keinginan kedua orangtuaku. Aku sangat menyukai Abian. Aku pasti akan menjadikan Abian menyukaiku. Aku ingin, di akhir hayat hidupku Abian datang dan berkata manis padaku. Aku ingin mendengar kata itu dari mulut Abian sekali saja sebelum hidupku yang singkat ini berakhir. Aku tidak yakin apakah aku masih hidup sampai lulus SMA nanti?' Setelah membaca itu, hati Kila merasa bersalah. Bibirnya bergetar. Dia selama ini tidak mengetahui bahwa Dasha mengidap penyakit itu. Kila terkesiap saat ada tangan yang menyentuh pundaknya. "Eh, Dokter." ujarnya sambil berdiri. "Gimana keadaan temen aku, Om Aji?"lanjut Kila bertanya. Kila sudah mengenal lama Dokter itu karena Aji adalah teman akrab ayahnya. "Dia baik-baik aja. Lain kali, jangan buat dia nangis atau bikin pikirannya terbebani apalagi bikin dia bentak-bentak karena rentan penyakitnya kambuh kalau kaya gitu." jelas Dokter Aji. Kila mengangguk paham. *** Sebelum bel masuk berbunyi, Dania sama sekali tidak bertanya apapun pada Kila. Dania tahu sahabatnya itu tetap bersikukuh untuk merebut Abian dari tunangannya. Dania tidak menyukai wanita perebut lelaki orang. Mengingat hal itu, membuat Dania teringat insiden ketika ayahnya lebih memilih pelakor daripada ibunya. Setelah melewati beberapa jam pelajaran, waktunya istirahat. Dania berjalan menuju kantin tanpa mengajak Kila. "Nia, lo marah sama gue?" Kila berusaha menyamai langkah Dania. Akan tetapi, Dania makin mempercepat langkahnya. Sesampainya di kantin, Dania duduk disusul oleh Kila. "Gue tau, gue itu salah." ujar Kila. "Gue minta maaf," Dania tidak menghiraukan Kila. Dia memanggil pelayan kantin dan memesan makanan untuk dirinya sendiri. *** "Nangis lagi?" Naufal memandang jenuh Kila yang sedang menangis seperti kemarin. "Gue harus gimana?" Kila menghentakkan kakinya. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Naufal sembari mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Naufal mengelus rambut Kila sekilas. "Mending lo nyerah aja, Kil. Daripada lo bikin Dasha kambuh terus penyakitnya kan kasihan." "Tapi gue suka banget sama si Abian," "Lupain dia." "Enggak bisa." "Harus bisa," "Enggak bisa, iihh..." Kila merengek seraya menghentakkan kaki berulang-ulang. Lusi yang sedari tadi melihat mereka berdua merasa cemburu apalagi saat Kila menyandarkan kepalanya di bahu Naufal. "Lo kaya anak kecil, tau enggak? Gue jadi malu kalau bareng sama lo kaya gini." "Banyak cowok yang ngemis-ngemis ke gue biar gue mau jalan sama mereka. Lo seharusnya bersyukur bisa kaya gini sama gue sekarang," oceh Kila. Kemudian Gadis itu kembali menangis sesegukan. "Nih, minum." Naufal menyodorkan sebuah botol minuman dingin. Kila menerima seraya berkata, "Belum diminum elo kan?" "Belum lah. Masa iya gue ngasih minuman yang udah diminum," Kila menegakkan duduknya, menengguk isi botol itu tanpa sisa. "Sekarang belajar yuk, nanti gue dimarahin ayah lo gara-gara enggak ngelaksanain tugas." ujar Naufal setelah mengingat pekerjaannya. "Enggak mau. Lo dimarahin ya, bodoamat itu bukan urusan gue," nada bicara Kila ketus sama persis ketika mereka berdua bertemu pertama kali. "Kumat lagi lo," dongkol Naufal. "Makasih." Kila meletakkan botol kosong tersebut di meja dengan kasar terus memalingkan muka dan berjalan dengan langkah cepat tanpa sadar bahwa lantai yang dia pijak baru saja selesai dipel. Alhasil beberapa detik kemudian Kila terpeleset. Kedua mata Naufal membulat. Dia segera berlari menyelamatkan Kila. Namun Naufal malah ikut-ikutan terpeleset. Mereka berdua terjatuh dengan posisi saling menimpuk. Naufal berada di bawah, sedangkan Kila di atas. Lusi jengkel melihat pemandangan itu. Seisi murid yang menyaksikan terbelalak. "Aduh," "Lo enggakpapa?" tanya Kila yang langsung dibalas anggukan oleh Naufal. "Berdiri." Kila menyodorkan tangannya. Naufal segera menerima. Tapi, seorang murid cewek kelas sepuluh tak sengaja menabrak Kila membuat Gadis itu kembali terjatuh dan menimpa Naufal. Seketika kedua mata Kila terkejut. Jaraknya dengan Naufal sedekat ini. Kedua mata mereka saling menatap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD