Part 29

1055 Words
"Eng... enggak, Mah. Jangan percaya." ujar Kila mengelak. "Ucapan saya benar, Nyonya. Non nggak pulang semalam." "Apa? Tapi, tadi Kila bilang..." "Jangan percaya omongan anak Tante." imbuh Naufal. Kila sudah menduganya, Laki-laki itu tidak akan pernah membelanya. "Dia kemarin masuk ke gudang sama Temen Laki-lakinya." "A-apa?" "Saya tadi nggak berniat ngasih tau, tapi saya jadi merasa bersalah." ucap Bi Surti. "Kamu berani berbohong?!" Yana berdiri diikuti dengan Kila yang sudah gemetar ketakutan. "Aku..." Plak Tamparan cukup keras sukses membuat pipi Kila memanas sekaligus ucapannya terpotong. Matanya memerah, pertanda sebentar lagi akan meneteskan air mata. "Ke mana kemarin kamu pulang, hah?! Malu-maluin keluarga aja!" "Dengerin dulu, Mah. Ki-kila enggak kaya gitu." "Naufal lihat sendiri, Tante." Kila memicingkan mata. Bukannya membela dirinya, Naufal malah memanas-manasi. "Astaga. Kila... Kila... kamu itu cewek loh. Apa yang kamu lakuin sama dia? Mamah enggak akan terima kalau kamu ha..." Dengan sigap, Kila menutupi mulut Mamahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aku enggak akan ngelakuin hal itu." "Lepas." Yana memegang lengan anaknya, kemudian menghempaskan kasar. "Keluar dari rumah, SEKARANG!" Kila tergemap. Tubuhnya tersungkur usai didorong oleh Yana. Dia tak akan menyerah. Bagaimana pun juga, ia korban. Kila terkunci di gudang itu, bukan masuk. "Mah, tolong percaya sama aku," mohonnya menggapai kaki jenjang Yana. "Keluar! Atau Mamah seret." "Jangan, Mah. Kila enggak bohong. Aku enggak sengaja masuk. Ampun, Mah... ampun..." Melihat Kila mengigau tak jelas, Naufal menggelengkan kepala. Baru satu jam diajar, Gadis itu malah tertidur pulas. "Weh, bangun. Mimpi buruk apa lo?" Naufal mengguncang-guncang pundak Kila. "Lo jahat! Gue bakal balas dendam!" lagi-lagi Kila meracau. "Heh. Bangun!" gertak Naufal. Dia mengambil gelas berisi air penuh, lantas menyiramkannya ke kepala Gadis itu. Refleks Kila terbangun. "Asem!" dongkolnya. "Lanjut belajar." *** 2 minggu berlalu, Dasha masih saja terlihat benci padanya. Kila semakin merasa bersalah. Dania juga ikut-ikutan kesal padanya. Kila sudah meminta maaf pada Mereka, namun Mereka menolak dan meminta kejelasan. Ribet memang. Kedua sahabatnya itu tidak akan puas sampai Kila terbuka kepada Dania dan juga Dasha. "Dania!" sergah Kila mengagetkan lamunan Dania yang sedang menyendiri. "Why?" "Ini gimana? Dasha marah ke gue." "Ya..." Dania menjeda sebentar. "Emang itu salahnya lo sama si Abian itu. Lagian ngapain lo berdua boncengan? Udah tau Abian punya pacar. Lo masih aja deketin." "Lo dan Dasha sama aja. Ngejugde terus tanpa denger penjelasan dulu." Kila mendecak kesal. Tidak ada yang memahaminya satu pun. Dania yang tadinya tegang, menjadi biasa saja. Dia iba melihat ekspresi Kila yang seperti itu. "Ceritain." "Cerita apa?" Kila mengernyitkan dahi. "Cerita yang sebenarnya. Kenapa lo hari itu beda, telefon enggak diangkat dan gue lihat lo sama Abian ngobrol. Ada apa lo sebenarnya sama itu anak?" Dania menatap Kila datar. Kila terpatung dengan wajah tegang. Ia bingung apakah harus menceritakan atau tidak. Dia tidak yakin kalau Dania bisa menjaga rahasia sekaligus membantunya berbaikan dengan Dasha. "Kok diem?" Dania melipat d**a. Ekspresi wajahnya menantang. "Lo bohong? Oh, berarti gue bener memihak Dasha. Setiap lo ditanya soal itu, lo diam seribu bahasa." Dania yang sudah jengkel hendak berdiri meninggalkan Kila, namun Kila mencegatnya. "Jangan pergi." cegahnya. "Lo mau apa?" Dania berusaha bersabar. Tinjauan Kila menunduk dalam. "Gue mau cerita yang sebenarnya dengan syarat, lo jangan marahin atau ngejugde gue. Gue sama dia nggak salah waktu itu. Yang salah cuma takdir." Perkataan Kila begitu sulit dicerna oleh Dania. Ia mengerutkan kening. "Maksud lo?" "Duduk dulu." Dania yang tadinya berdiri kini duduk. "Sebenarnya... sebenarnya gue..." Sahabatnya ini memang suka menggantung. Dania menghela nafas, kesabarannya kembali diuji sekarang. "Apa?" Kila menarik nafas panjang, kemudian ia keluarkan perlahan. "Gue sama Bian terkunci di gudang." Kila menceritakan kejadian itu dari awal sampai akhir tanpa memotong apapun. Dania jelas tidak terima sekaligus kesal. "Tapi lo nggak diapa-apain sama dia kan?" "Nggak. Lo tau sendiri kan, gue sama dia saling benci. Mana mungkin gue dianu sama dia." Kila dengan sergap meraih lengan Dania. "Please, bantu gue biar Dasha nggak benci gue." mohonnya dengan raut muka memelas. "Gue bakal ban..." KKRRIINGGG KRRIINGG KRIINGG Bel telah memotong ucapan Dania. Sepenuh kelas bergegas kelapangan. Dasi serta topi sudah terpasang rapih. "Yuk," ajak Dania. Jika tidak tepat waktu ke lapangan, bisa-bisa dirinya dihukum. Baris demi baris sedang dirapihkan oleh Ketua OSIS dan Wakilnya. Mereka berdua menegur siswa yang riuh tanpa alasan jelas. Setelah dirasa sudah rapih, upacara bendera dimulai. Keringat membasahi tubuh Kila. Kenapa pagi-pagi begini sudah terasa amat panas. Dan juga... semua orang memiliki bayangan tiga. Sungguh, perutnya juga terasa mual. "Lo nggakpapa?" tegur Naufal merasa aneh dengan gelagat Cewek itu. Kila menggelengkan lengan. "Kalau lo ngerasa enggak enak, lo bisa ke UKS aja." "Nggak usah. Gue... baik-baik aja kok," Kila berusaha menyeimbangkan tubuhnya. "Beneran?" "Iya," "HEY! JANGAN NGOBROL!" teriak sang Kakak OSIS. Naufal yang tersindir pun mengalihkan pandangan kembali ke depan. Bayangan orang di sekitarnya semakin banyak. Kila sangat pusing. Sudah. Ia sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Bruk! "Dia pingsan!" pekik Yuli -- cewek yang berdiri di sebelah Kila. Refleks seisi lapangan mengerumuni Gadis itu. Naufal sudah menduganya dari awal. Baru saja dia akan menggedong Kila, namun Abian sudah ada di sana dengan raut muka yang begitu panik. Tak hanya itu, Abian juga menggendong Kila. Hati Dasha teriris memandang hal itu. Ada apa dengan mereka sebenarnya? Mengapa sejak senin lalu, Mereka terlihat dekat. "Kalian ngelihatin apa?!" geram Abian. Murid-murid pun langsung memberi jalan. Naufal berdiam diri. Yang mengikuti Kila hanya 1 orang guru. Para murid pun diperintah untuk berbaris kembali, melanjutkan upacara. *** Beberapa menit dokter di dalam sana. Abian menunggu di luar UKS begitu pun Bu Haina. Kebetulan Dokter yang sering ditugaskan di sekolah ini adalah kakak dari ayahnya Abian. "Gimana? Murid saya terserang penyakit atau cuma pingsan?" tanya Bu Haina cemas. "Murid anda enggakpapa." Dokter Leni tersenyum lebar. Bu Haina menjadi lega. "Alhamdulillah. Perlu saya antar gak?" tawar Bu Haina. "Enggak perlu." lagi-lagi Dokter Leni menyimpulkan senyum. "Ya udah, saya pergi dulu. Terimakasih udah mau datang ke sini," Bu Haina membungkuk sekilas. "Kembali kasih," Abian masuk ke dalam. Nampak Kila belum sadarkan diri. Sejenak dia memandang paras cantik itu. Wajah Gadis itu seperti malaikat. Lamunannya buyar ketika tubuhnya dibalikkan kasar oleh seseorang. Plak! Rasa panas mendera di pipinya. Abian memegang bekas tamparan itu. "Tante?" Abian begitu tidak percaya. "Itu pacar kamu? Iya, hah?!" sorot mata Leni begitu penuh amarah. Abian sendiri tidak tahu mengapa Tante nya mendadak bersikap seperti itu. "Dia hamil!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD