Part 28

1028 Words
"Jangan. Gue cuma mau bicara sama dia." perintah Naufal mutlak pada Dania. Telapak tangan Dania mencekau erat. Matanya kini memicing tajam. "Gue bakal balik lagi." ucap Kila berusaha menenangkan Dania. "Kalau dia macem-macem, lapor aja ke gue." sungut Dania. Kila mengangguk paham. Jika Sahabatnya sudah kesal seperti ini, dia jadi takut. Naufal melengos. Ia melanjutkan langkahnya. *** Mereka berdua berhenti di koridor sekolah yang kosong. 15 menit lagi bel masuk berbunyi jadi, wajar jika para murid berdiam diri di kelas. "Lo semalem nginep di gudang sama si Abian itu kan?" ekspresi Naufal datar. Menandakan dirinya sudah sangat emosi. Deg Bagaikan melihat orang dihabisi di depan matanya, Kila begitu terkejut dan gugup. Bagaimana Naufal bisa tahu? Apa Naufal kemarin mengawasinya seharian penuh? "Jawab." gertak Naufal. Memegang kuat pundak Gadis yang ada di hadapannya sekarang. "Eng-enggak. Gue enggak di gudang semalem." "Sampai kapan lo bohong? Gue udah tahu semuanya." "Trus kenapa? Kenapa lo tetap nanya ke gue walaupun lo udah tau?" Kila tak akan bersikap ketakutan lagi. Bisa-bisa ketakutannya itu dimanfaatkan oleh Naufal nanti. "Karena gue mau lo jujur." "Iya! Gue semalem emang nginep di gudang. Itu sama sekali bukan urusan lo. Kenapa lo kaya gitu, hah?! Lo siapanya gue?" cecar Kila. "Gue enggak mau lo diapa-apain Cowok itu! Lo cewek jalang atau cewek baik-baik?" Kila mendengus kesal. "Apa? Lo sebut gue jalang?!" "Gue tanya. Bukan ngomong pernyataan." tegas Naufal. "Lo seharusnya sadar, lo itu cewek dan dia cowok." "Enggak terjadi apa-apa kemarin. Lagian, gue sama Abian enggak saling suka." "Lo sekarang ngomong benar atau bohong, gue enggak tahu. Gue peduli sama lo karena lo itu murid privat gue. Emang ada seorang guru yang biarin muridnya kaya gitu." terang Naufal. "Dan juga, enggak mungkin di tempat itu, enggak terjadi apa-apa di antara kalian berdua." "Eng-" "Gue juga enggak tau alasan lo bohong ke Dasha. Udah. Cuma itu yang gue omongin. Permisi," Naufal memotong ucapan Kila. Dia tahu, Gadis itu pasti akan berbohong lagi. Naufal melewati Kila yang masih mematung di tempat dengan wajah tak terima. "Gue bukan cewek jalang! Gue bukan batu krikil yang bisa diinjak siapapun!" bantah Kila dengan berteriak sangat kencang. "Kemarin enggak terjadi apa-apa!" "Lo enggak percaya sama gue?!" Naufal terus melanjutkan langkahnya meskipun Kila sudah koar-koar di sana. Nafas Kila memburu karena emosi. Tidak disangka, Naufal bisa sangat menyebalkan seperti tadi! *** Di depan pintu rumah, Kila berdiri cukup lama. Dia bertanya-tanya apakah kemarin orangtuanya pulang atau tidak. Perlahan dia mengangkat tangannya untuk mengetuk, namun ia urungkan kembali. Begitu pun seterusnya. Hal itu terjadi berulang kali sampai terdengar suara motor masuk ke dalam gerbang rumahnya. Kila menengok ke belakang. Benar-benar pemandangan yang mengejutkan. Naufal datang ke rumahnya! Naufal memakirkan motornya di sebelah mobil orangtua Kila yang tidak terpakai itu. Dia melepaskan helm, menaruhnya kemudian berjalan ke arah Kila. "Mau apa lo?" tanya Kila ketus. "Ngajar. Gue disuruh ayah lo." Naufal main membuka pintu, kemudian masuk. Memang sangat tidak sopan. "Lo so-" "Eh, kamu udah pulang. Kok pulangnya sorean gini?" sambut Yana yang sedang santai di depan tv. Jantung Kila berpacu kencang. Ekspresi Ibunya terlihat biasa-biasa saja, tetapi dia cemas jika Ibunya itu mengetahui kalau dirinya tidak pulang kemarin. Yana mengerutkan kening. Kala melihat laki-laki asing berdiri di dekat anaknya. "Kamu siapa?" "Saya Naufal, Tan. Saya guru privatnya anak Tante." "Oh, kamu murid pintar itu ya? Sini masuk. Ibu pelupa jadi enggak ingat muka kamu." ujar Yana sedikit takjub. Dia menuntun Naufal ke arah ruang tamu. Kila lega. Ibunya itu tidak menunjukkan ekspresi marah atau jengkel berarti orangtuanya kemarin tidak pulang. "Mamah kemarin kerja lembur?" tanya Kila. "Iya. Maafin Mamah ya, Nak." Tentu, Mah! Kila malah bersyukur kalau gitu. batin Kila kemenangan. Dia mengangkat sudut bibirnya. Membentuk senyum manis. "Enggakpapa, Mah. Tenang aja." Naufal melirik ke arah Kila. Beruntung sekali Gadis itu, semalaman tidak pulang dan orangtuanya sama sekali tak mengetahui. Kila mencebikkan bibir. Dia bergerak ke dapur untuk mengambil air minum. "Kamu mau minum apa, Fal?" "Air putih aja, Tante." "Bibi... beliin martabak di sebrang jalan, ya." teriak Yana menggema di seisi rumah. "Eh, enggak usah repot-repot, Tante." "Uhukk... uhukk..." Kila tersendak. Ia baru ingat, pembantu di rumahnya itu pasti tahu kalau dirinya tidak pulang kemarin. Bagaimana ini? "Tante enggak merasa direpotin kok. Malah Tante senang kamu main ke sini." Kila meletakkan gelas di meja, kemudian mengaprit ke Wanita paruhbaya itu, pembantunya. "Bi, aku ikut!" seru Kila semangat. Bi Surti mengerjap menampak Anak Majikannya tiba-tiba muncul. "Ayo, Non." "Hati-hati." peringat Yana. "Kamu enggak ganti baju dulu?" "Enggak, Mah. Kelamaan nanti." sahut Kila yang sudah di ambang pintu. Di tengah perjalanan, Kila ragu. Dia harus bertanya atau tidak. Bi Surti ini sebenarnya tahu atau tidak? Mengapa Wanita paruhbaya itu bersikap biasa-biasa saja sampai sekarang. "Bi," Bi Surti menoleh ke samping. "Iya, Non?" "Kemarin Kila pulangnya jam berapa?" ucapnya. Tidak langsung to the point. Bi Surti terdiam sejenak membuat Kila penasaran. "Kemarin Non enggak pulang." jawab Bi Surti. Tuh, kan! Pembantunya sudah mengetahui. Kila menjadi gelisah. "Bi, aku minta maaf. Jadi kemarin tuh, aku terkunci di gudang." "Hah? Terkunci? Non enggakpapa kan?" Bi Surti terlihat begitu panik. "Iya, Bi," "Terkuncinya sendirian apa sama teman?" "Teman Cewek, Bi. Masa iya, teman cowok." bohong Kila. "Oh ya, tapi Bibi enggak bilang-bilang ke mamah sama ayah kan?" "Enggak, Non. Takut Non dimarahin," "Aaa... jadi sayang sama Bibi," Kila merentangkan tangan, memeluk Bi Surti sekilas. *** "Kebohongan enggak akan bertahan lama." "Semuanya bakal kebongkar." "Orang yang berbohong bakal kena karma." Dari tadi, Naufal terus mengoceh lirih. Ocehannya itu membuat kuping Kila panas. Untung saja Mamahnya berada di ruang tv saja. Jaraknya cukup jauh. "Ih! Lo bisa diem enggak sih?!" geram Kila. "Lanjut kerjain soalnya. Tinggal lima menit lagi." perintah Naufal mengalihkan tema pembicaraan. "Awas lo, ya. Gue bakal bales!" ujar Gadis itu penuh tekad. Naufal yang mendengarnya santai-santai saja. Dia malah melipat tangan di d**a. "Gimana belajarnya?" Yana mendekati Mereka Berdua. Kila mesem. "Gampang, Mah." "Camilannya kurang apa enggak?" "Enggak, Tan. Ini udah banyak banget." ucap Naufal merasa tidak enak. "Non Kila kemarin enggak pulang." Kila membelalakkan matanya. Dia sudah menyuruh Bi Surti agar diam, tapi kenapa tetap bicara?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD