Kila memutar otak untuk memikirkan jawaban dan alasan selanjutnya. Seharusnya dia membayar Adik kelasnya itu agar bungkam, tetapi semuanya sudah terlanjur.
"Kakak..." Gita mencoel bahu kecil Kila. Kakak kelasnya itu sedari tadi melamun.
"Hah?" Kila tersentak. Bintik-bintik keringat mulai muncul di keningnya. Kesadarannya mulai kembali. "Gue ke kelas lo, kok. Masa enggak lihat sih? Udah ya, gue mau pergi dulu. Mau ke kantin, laper."
Melihat Kila bertingkah seperti tadi, kecurigaan Naufal menjadi bertambah. Kemana sebenarnya Kila kemarin sore?
"Mampus! Gue enggak boleh ketahuan. Bisa gawat nanti trus gue dituduh ngelakuin sesuatu sama Abian. Enggak! Enggak boleh terjadi." dumel Kila tanpa henti.
"Aduh!" Kila mendongak, melihat siapa yang menabraknya tadi. Ternyata Abian pelakunya.
"Hati-hati." respons Abian baik. Tidak ada tanda kesal sama sekali.
"Tunggu." cegah Kila.
Refleks Abian berhenti.
"Ada yang curiga ke lo?" tanya Kila berbisik. Takut ada yang mendengar.
"Enggak."
"Gue banyak yang curiga. Tolongin gue dong," mohon Kila.
Abian berpikir sejenak. Pertolongan apa yang diinginkan Kila?
"Maksud lo?"
"Tolongin gue. Bilang ke Mereka kalau lo kemarin anter gue sampai ke rumah gue." terang Kila.
"Gue harus bilang ke siapa?"
"Lo harus bi-" ucapan Kila terhenti selepas mengelih rambut Naufal yang muncul dari balik pintu. Dia yakin, Cowok itu pasti sedang mengintip.
Kila menarik bahu tegap Abian supaya lebih dekat. Dia mendekatkan mulutnya di telinga Abian, lalu berbisik, "Kita harus lewatin pintu perpustakaan. Gue bakal bilang terimakasih ke lo karena lo udah nganter gue. Tugas lo cuma jawab sama-sama. Okay?" pandangan Kila beralih.
Kedua mata Mereka bertemu. Kila bisa melihat betapa cokelatnya warna netra Abian. Saat itu juga jantungnya berdisco-disco tak jelas.
"Gimana?" tanya Kila menegaskan.
Abian berdeham.
Mereka berdua memulai sandiwaranya. Keduanya sengaja berhenti di depan pintu perpustakaan.
"Bian, terimakasih ya, karena lo udah nganterin gue kemarin."
"Iya. Sama-sama."
"Kalau enggak ada lo, mungkin gue bakal nginep di sini." Kila terkekeh. "Lo mau dikasih apa? Gue traktir makan mau?"
"Enggak usah. Gue pamit mau balik ke kelas dulu." Abian berlalu. Kila mendesau lega. Sandiwara yang Mereka lakukan berjalan mulus.
Entah mengapa, perasaan aneh muncul di hati Naufal setelah mendengar itu. Dia langsung mendatangi meja perpustakaan, merapihkan buku dan mengembalikan buku yang dia pinjam.
"Apa? Abian nganterin lo? Bukannya lo bilang kalau lo enggak lihat Abian sama sekali kemarin?"
Gawat! Siapa lagi ini? Kila perlahan berbalik badan. Nampak Dasha dengan raut muka sedikit kesal.
"Ah, eng... enggak kok. Lo salah dengar kali." elak Kila.
Kegiatan Naufal terhenti selepas mendengar ucapan Kila yang terbata-bata. Kebimbangan muncul kembali.
"Kuping gue enggak budeg. Jelas-jelas lo bilang, lo berterimakasih sama Abian." ucap Dasha bersikukuh.
"Tapi gue enggak bilang kaya gitu, Sha."
"Lo bohong ya? Apa yang lo dan Abian sembunyiin dari gue?" sungut Dasha.
"Gue enggak bohong, Sha. Sejak kapan gue berani bohong kaya gitu?"
"Sejak tadi. Lo kenapa bohong?" mata Dasha mulai berkaca-kaca. Dia sangat mudah menangis. Pikiran-pikiran negative tentang Sahabat dan Pacarnya itu menguasai otaknya.
"Sha, gue ngomong bener. Gue enggak bakal tega bohong kaya gitu." ucap Kila.
Dasha menggeleng-geleng kepala. Tangan kanannya menutupi mulut. Dia menghempaskan kasar tangan Kila yang hendak memegangnya.
"Jangan-jangan lo suka sama Abian?" bibir Dasha gemetar menanyakan pertanyaan itu.
"Enggak. Mana mungkin gue tega ngerebut pacar lo?"
"Dia enggak bohong. Gue lihat sendiri."
Tak disangka, ternyata Naufal membelanya!
Dasha menghentikan langkah. Dia menatap sendu Naufal. "Beneran?" lagi-lagi pertanyaan itu Dasha lontarkan.
Naufal mengangguk sekali.
Dasha percaya pada teman Laki-lakinya tersebut. Terlebih lagi, Naufal terkenal dengan sifat jujur dan baik hatinya jadi, tidak mungkin Naufal berbohong, tetapi untuk hari ini, apakah Cowok itu benar-benar jujur?
"Kalau Kalian berdua sekongkol buat ngebohongin gue, gue enggak akan pernah maafin kalian." tandas Dasha. Dia menyenggol kasar pundak Kila dengan pundaknya.
"Sini lo." Naufal menarik lengan Kila menuju ke dalam perpustakaan.
"Apa?"
"Lo kenapa bohong sama teman lo sendiri?" Naufal menanya balik.
"Bohong apa? Gue enggak ngerti deh,"
"Jawab jujur. Lo sebenarnya ke mana sore tadi? Kenapa lo enggak bilang ke Dasha kalau lo dianter Cowok itu?"
Kila geram. Mengapa Naufal sangat cerewet seperti perempuan?
"Banyak tanya lo. Intinya kemarin gue pulang ke rumah. Udah, itu aja." sudah kesal, Kila berlalu begitu saja.
***
Gadis berambut panjang sebahu itu berjalan ke gerbang. Bukan untuk keluar dari sekolah, melainkan untuk menemui satpam yang sedang duduk di bangku samping gerbang.
"Pak..." panggil Sang Gadis.
Kontan yang dipanggil terperanjat dari duduknya.
Gadis itu menyodorkan 2 lembar uang berwarna merah yang sedari tadi dia genggam. "Ini bayarannya. Mereka kemarin benar-benar terkunci di gudang kan?"
"Iya, Neng, tapi saya khawatir waktu itu kalau Mereka berbuat sesuatu yang di luar batas."
"Mereka enggak saling suka. Tenang aja. By the way, terimakasih Bapak udah mau bantu saya." jawab Hani ramah. Ya, dia orang yang menyebabkan Kila dan Abian terkunci di dalam gudang. Yang jelas, Hani punya alasan tersendiri.
"Jangan bilang ke siapa-siapa ya, Pak. Nanti Bapak dipecat lagi," saran Hani yang langsung dibalas anggukan oleh Pak Satpam.
Naufal mendengar semua itu. Tadi ia tak sengaja melintas dan melihat Kakaknya menghampiri Satpam. Tumben sekali. Mau tidak mau dia menguping pembicaraan tersebut. Sesudah mendengar itu, Naufal mengepal kuat tangannya. Mengapa Kakaknya melakukan itu? Tidak, Naufal akan bertanya saja saat di rumah.
Dia menarik langkah ke suatu tempat.
***
"Dasha kenapa? Dia kok enggak gabung sama kita?" bisik Dania. Matanya terus mengamati Dasha yang duduk di pojokan sana.
"Ada masalah. Cuma salah paham kok." Kila mengaduk-aduk es nya menggunakan sedotan. Tidak ada gairah makan ataupun minum.
"Masalah apa? Salah paham apa?"
"Disangka dia, gue kemarin dianterin sama Si Bian ke rumah padahal enggak." entah sudah berapa kebohongan yang Kila ucapkan. Dia terpaksa melakukan itu. Ia sudah mengucapkan kalau Abian sama sekali tidak datang. Tak mungkin juga bilang kalau Abian mengantarnya.
"Ya udah sana. Bilang kaya gitu." titah Dania.
"Udah bilang, tapi tetap aja." Kila melengkungkan bibirnya. Kebohongan yang dia ucapkan malah membuat masalahnya berbuntut panjang.
"Ikut gue." Naufal muncul di antara Mereka.
Kila melengak. Seketika dia merotasikan bola matanya. "Lo mau apa?"
"Ikut gue." ujar Naufal mengulang perintahnya.
Dengan malas, Kila bangkit dari duduknya. Dia mengikuti Naufal dari belakang.
"Kalian mau ke mana? Gue ikut dong!" sergah Dania.