Part 15

1006 Words
"Kil," panggil Naufal. "Apa?" "Supir lo enggak bakal dateng," langsung saja Naufal menunjukkan pesan yang dikirim ibu Kila kepadanya. "Ah!" Kila mengacak rambutnya frustasi. Cobaan apa lagi yang dia terima? Kalau tahu akan begini, Kila pasti meminta Dania untuk memboncengnya. Beberapa menit kemudian, keadaan sekolah sudah sepi. Security menghampiri mereka berdua. "Mas sama Mbaknya kenapa masih di sini? Enggak mau pulang?" tegur security laki-laki itu. "Nunggu angkot, Pak." jawab Naufal. Sedangkan Kila, ia diam saja. Gadis itu malas untuk menjawab. "Kebetulan Pak Ardi belum pulang, kenapa kalian enggak ikut dia?" Muka Kila yang tadinya kusut kini menjadi sumringah. Akhirnya ada secercah harapan yang datang. Kreet Pintu kantor dibuka. Nampak Pak Ardi yang sedang sibuk mengurusi berkas-berkas sekolah. "Pak..." panggil Kila pelan dan sopan. Yang dipanggil menoleh. "Loh, kalian belum pulang?" heran Ardi. "Belum, Pak. Supir di rumah aku enggak bisa jemput karena mobilnya lagi diservis." "Angkot?" "Angkot dari tadi belum lewat, Pak." kali ini, Naufal yang menjawab. "Trus... tujuan kalian ke sini untuk apa?" "Untuk meminta Bapak agar mengantarkan kami sampai ke rumah dengan selamat, Pak." jawab Kila apa adanya. "Saya enggak bisa. Saya mau lembur hari ini dan pulangnya mungkin jam tujuh pagi besok," ujar Ardi. "Kalian tunggu aja sampai angkotnya datang," "Baik, Pak." tunduk Kila. Moodnya kembali hancur. "Ini semua gara-gara lo, sih! Coba aja kalau hp lo dimatiin pasti Mamah enggak bakal ngirim pesan itu." oceh Kila ketika sudah jauh dari kantor. "Kok malah nyalahin hp gue? Emak lo ngirim pesan atas keinginannya sendiri bukan keinginan gue atau hp gue." "Belain aja tuh, hp! Sekalian nikah sana trus punya anak!" "Emang ya, bicara sama orang waras dan orang gila itu beda." gumam Naufal. Kila yang merasa tak terima, langsung memelototi Cowok yang berada di sampingnya. *** Adzan maghrib sudah berkumandang. Hujan semakin deras. Naufal dan Kila masih setia duduk di tempat. "Fal! Lo usaha apa kek!" tegur Kila. "Gue mau jalan kaki," Naufal berdiri. "Lo tega ninggalin gue sendirian?!" dongkol Kila. Naufal mendecak. "Ya, ikut gue kalau enggak mau sendirian!" ujar Naufal tak kalah dongkol. Dengan terpaksa Kila bangkit. "Minjem tangan lo," tanpa malu-malu, Gadis itu melangkup tangan Naufal. Entah kenapa, ada getaran hebat ketika Kila menyentuh dirinya. Jantung Naufal mendadak berdetak cepat. "Lo kan bisa jalan sendiri." dengan kasar, Naufal menghempaskan tangan Kila yang masih melangkup lengannya. Terlihat kasar, akan tetapi Naufal melakukan hal ini demi kesehatan jantungnya. "Ish... jadi cowok kok kasar banget!" Duarr Petir menggelegar dengan sangat keras. "Akkhh!" teriak Kila ketakutan. Refleks, ia memeluk Naufal. "Cemen. Segitu aja takut," remeh Naufal. Kila tersadar. Ia melepaskan pelukan. Jalanan yang disusuri mereka tampak sepi. Terlebih lagi, saat ini sedang hujan deras. Karena hanya memiliki satu payung, Naufal dam Kila terpaksa berdekatan. "Coba lo nelfon Ayah gue," perintah Kila. "Enggak bisa." "Penyebabnya?" kedua mata Kila menyusuri setiap sisi. Dia cemas jika ada orang jahat. "Baterai hp gue lowbat. Kalau enggak, udah dari tadi gue nelfon ayah lo," jelas Naufal. "Gue takut, Fal..." "Tenang aja. Ada gue di sini," kata Naufal menenangkan. "Lo jago bela diri apa enggak sih? Kalau nanti ada orang jahat, lo bakal nyelamatin gue kan?" tidak bisa dipungkiri, Kila sekarang amat gelisah. "Lo jangan remehin gue. Gue bisa bela diri," Naufal merasakan tangan Kila mengeratkan pegangan pada lengannya. Naufal menghela nafas. "Kil, jangan panik kaya gitu." "Kita istirahat yuk. Kaki gue udah capek," keluh Sang Gadis. "Iya. Sabar," Setelah 2 meter mereka berjalan, Naufal dan Kila akhirnya menemukan tempat untuk berteduh. Rumah dengan dinding yang dicat biru, pintu berwarna cokelat pekat dan juga jendela yang dibiarkan terbuka. Bangunan itu tampak kosong alias tidak berpenghuni. "Lo yakin kita istirahat di sini, Fal?" lagi-lagi Kila merasa ragu. Manik cokelatnya melihat-lihat seluruh sudut rumah. Sesekali ia terbatuk-batuk karena debu yang bertebrangan. "Iya. Ini udah hampir jam tujuh malam dan enggak mungkin juga untuk pulang. Kayaknya kita nginep di sini aja, Kil." ujar Naufal. Mata Kila membulat sempurna. "Apa?! Nginep? Di sini? Di rumah ini? Berdua?" pikiran negative Kila melayang-layang di otaknya. Raut muka Naufal menjadi datar. "Lo jangan lebay kaya gitu. Gue enggak bakal ngapa-ngapain lo," "Siapa juga yang mikir kaya gitu," sinis Kila. Naufal membersihkan tempat yang akan menjadi tempat tidurnya nanti. Sedangkan Kila tak bergeming. "Kenapa lo diem aja?" "Emangnya kenapa?!" balas Kila nyolot. Naufal menggeleng pelan. Setelah selesai membersihkan, Laki-laki berkacamata itu mendesau lega. Akhirnya dia bisa merebahkan tubuhnya yang letih. "Eits! Mau apa lo?" cegah Naufal. Tangannya mencegah tubuh Kila yang akan tidur di sampingnya. "Gue mau tiduran lah." "Bukan muhrim. Jangan deket-deket," Aarrgghh! Rasanya Kila ingin menampar Naufal. Ya Tuhan, apa kesalahan yang Hamba-Mu ini lakukan hingga seharian bersama orang yang amat menyebalkan bagi dirinya. "Plis, Naufal..." pinta Kila berusaha menyabar. "Enggak semudah itu," "Mau lo apa?" tanya Kila. "Mau gue, lo ngomong kaya gini 'Naufal yang sangat tampan melebihi Justin Bieber, tolong... biarkan salah satu kaum terkampret ini tidur di sampingmu.' kaya gitu," "Apa? Kaum terkampret?!" sembur Kila. "Kalau marah, gue enggak akan ngizinin lo tidur di sebelah gue." sans Naufal. Ekspresinya begitu santai dan itu sangat menyebalkan bagi Kila! "Ya udah iya," Kila mengalah. Dia berdeham terlebih dahulu untuk menyiapkan suara. Setelah dirasa sudah siap... "Naufal yang sangat tampan melebihi Justin Bieber, tolong... biarkan salah satu kaum terkampret ini tidur di sampingmu," ujar Kila terpaksa. "Udah kan?!" lanjutnya kembali ketus. "Bagus... nol buat you," ledek Naufal. Kila tak memedulikan. Dia menidurkan diri tepat di samping Naufal. Jarak mereka lumayan dekat. Hanya berjarak 5 jengkal. Ketika Kila sudah terlelap, Naufal memandangi wajah Gadis itu. Ternyata iras Kila seperti bayi saat sedang tidur. Naufal senang Tuhan mempertemukannya dengan Kila. Memang, sikap Kila menyebalkan akan tetapi, hal itu membuat harinya lebih indah dan berwarna. Jantung Naufal kembali berdegup kecang. Sekarang dia tahu bahwa dirinya jatuh cinta pada Gadis yang sedang tertidur di sebelahnya. *** Warga desa di gegerkan dengan penemuan dua orang sedang tertidur di rumah kosong. Salah satu warga desa meluncur ke rumah Pak RT untuk melaporkan hal ini. Kila mengerjapkan mata. Sinar matahari yang menyoroti mata membuat silau. Samar-samar terdapat orang yang sedang memerhatikan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD