"Pendapat Mamah, cowok yang udah punya cewek sebaiknya jangan dideketin. Bilangin temen kamu deh, Kil. Takutnya nanti si cewek itu bales dendam trus dia ngelakuin hal yang enggak baik ke temen kamu. Yang lebih parahnya lagi, sampai terjadi pertumpahan darah. Itu harus diwaspada."
"Pe-pertumpahan darah?" Kila memastikan. Apa maksudnya itu pertengkaran yang berakhir kematian? Tidak! Kila tidak mau memiliki umur pendek.
Yana mengangguk. Raut mukanya kembali serius seraya berkata, "Ngomong-ngomong, temen kamu namanya siapa?"
Deg
Kila belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Ibunya.
"A-anu... Dania, ya! Dania yang kaya gitu, Mah. Pacar orang main direbut aja sama dia." balas Kila asal karena hanya Dania yang tiba-tiba terlintas di otaknya. Semoga saja sahabatnya itu tidak muncul di hadapan Ibunya.
"Dania?" Yana tak percaya.
"Ho'oh. Kila juga enggak nyangka, Mah,"
"Jangan temenan lagi sama dia." putus Yana tiba-tiba.
Kila membulatkan mata. "Kenapa, Mah? Kila enggak bisa seharipun tanpa tuh anak."
"Nanti sikap dia nular ke kamu. Pokoknya mulai detik ini, ma-"
"Mamah talak!" Kila cengengesan. "Itukan yang Mamah mau ucapin?" lanjutnya bertanya.
"Please, jangan bercanda Kila. Mamah lagi serius,"
"Hehehe, iya-iya. Aku enggak bakal temenan lagi sama Dania," bohong Kila.
Yana berdiri. "Mamah turun ya, kamu enggak makan malam?"
"Enggak ah, pr Kila numpuk." tolak Gadis itu.
"Oh, ya udah kalau gitu. Inget peringatan Mamah tadi ya?"
"Iya Mah, iya."
Ibunya sudah keluar dan tidak kelihatan lagi, Kila dengan cepat menutup pintu. Dia membentur-benturkan kepalanya di tembok. Kenapa dirinya begitu bodoh? Kenapa tadi ia menyebut nama Dania? Arrggh, bukannya mendapat pencerahan, Kila malah menumbuhkan masalah baru.
"Semoga aja Dania enggak ketemu ibu gue." gumam Gadis itu.
'Pertumpahan darah'
Mendadak kata-kata itu muncul. Kila membayangkan Dasha sedang menghampiri dirinya dengan membawa pisau tajam dan besar. Seringai menyeramkan Dasha membuat Kila bergidik. Satu langkah demi satu langkah, Dasha kian mendekatinya.
Tidak! Kila tidak akan membiarkan Dasha berbuat macam-macam kepadanya.
***
Kantung mata yang terlihat jelas serta berwarna hitam membuat Kila tampak seperti wanita menyedihkan. Kecantikannya seakan-akan pudar bahkan cowok yang dulunya sering memuji wanita itu kini terkejut ketika melihat Kila. Sepanjang malam, Kila sama sekali tidak bisa memejamkan mata karena jika ia menutup mata sebentar, Dasha selalu muncul di kepalanya. Hal itu membuat Kila sangat tidak nyaman.
Dania berlari dengan penuh semangat. Pundak Kila, dia pegang. Yang dipegang pundaknya menoleh perlahan.
"Akh!" teriak Dania spontan. Ia mendorong tubuh Kila saking terkejutnya.
"Lo-lo bener sahabat gue kan?" Dania memastikan. Tangan Kila menggeplak puncak kepala Dania.
"Ya iya lah! Emang lo kira gue mayat hidup apa!" seru Kila tidak terima.
"Ya udah! Biasa aja kali!" Dania mengusap-usap bekas geplakan Kila.
"Hai!" Dania dan Kila mencari sumber suara. Ternyata Dasha sedang berlari ke arah mereka berdua.
Mata yang tadinya merasa berat untuk dibuka, sekarang membulat sempurna. Baginya wajah Dasha menyeramkan. Jangan-jangan Dasha hanya pura-pura baik padanya dan suatu hari nanti, Dasha menghampirinya, memegang pisau dan...
"Aaakkkhh!" Kila lari terbirit-b***t.
Dania melongo begitupun Dasha.
***
Plak
Plak
Plak
Sudah tiga kali Naufal menggebrakkan tangannya sendiri di meja. Akan tetapi, Kila masih menelungkupkan kepalanya. Gadis menyebalkan itu sedang tidur sekarang.
Naufal berdiri untuk duduk di samping Kila. "Bangun!" dia mengguncang-guncangkan bahu kecil Perempuan yang sedang terlelap itu.
Tidak ada hasil. Yang terdengar hanyalah suara dengkuran.
Naufal mendekatkan mulutnya ke telinga Gadis itu. "Semua murid udah pulang. Kalau lo belum juga bangun, gue tinggal lo sendirian di sini." bohongnya. Lagi-lagi hasilnya nihil.
"Ada orangtua lo di sini!" sekali lagi, Naufal berdusta.
Dengkuran Kila semakin keras. Naufal tidak menyangka ternyata Gadis secantik itu punya sisi yang jorok.
"Ada Abian. Dia sekarang lagi duduk di samping kiri lo. Lo enggak malu ngorok kaya gitu?"
"Abian? Mana? Mana?" Kila terbangun. Kepalanya ia tengokan ke kanan kiri dan mencari-cari orang yang disebut Naufal.
Naufal tertawa terbahak-bahak. Dia berhasil membohongi Cewek menyebalkan itu. Kila menggeram bak harimau yang marah karena diganggu tidurnya.
"Kenapa lo?" Naufal mengangkat satu alisnya.
"Lo jangan kaya gitu dong!" Kila tidak jadi kesal. Dia melengkungkan bibirnya.
"Gue tadi malam enggak bisa tidur sama sekali. Lo enggak tau penderitaan yang gue alamin."
"Penderitaan buat dapetin Abian lo itu?" Naufal meremehkan Kila. Tapi di dalam hatinya, ia merasa kasihan.
"Tau ah! Percuma kalau gue cerita sama lo."
"Kalau enggak cerita sama Naufal, cerita aja ke Lusi." Lusi muncul di antara mereka dan langsung mendudukkan dirinya di depan Kila.
"Enggak!" Kila bangkit. Dia merapihkan rambutnya terlebih dahulu dan meninggalkan mereka begitu saja.
"Kila!" panggil Dasha. Dia menjejerkan langkah.
Kila ketakutan. Detik kemudian, ia melarikan diri untuk menjauh dari Dasha.
Bugh
"Aduh!" Kila refleks melengak. Wajah dingin yang ia suka muncul di depannya! Dan jaraknya sangat dekat.
Ya, laki-laki itu Abian.
Abian acuh. Dia berlalu dan menyenggol kasar bahu Kila. Hati Kila menyelir perih. Matanya memerah sekaligus berkaca-kaca.
'Jangan nangisin orang yang bahkan enggak peduli sama lo'
Kata-kata Naufal yang diucapkan kemarin mendadak terngiang. Benar. Kila tidak boleh menangisi cowok semacam Abian itu. Dia harus kembali ke dirinya yang seperti dulu.
Satu tetes air mata jatuh, Kila segera mengusapnya. Dan melangkah biasa tanpa terlebih dahulu merangkul-rangkul lengan Abian seperti biasanya.
Dasha bersiah menuju Kila.
"Kil, lo kenapa? Kok dari tadi pagi sikap lo aneh?" tanya Dasha yang sudah berada di hadapan Kila. Ekspresi wajahnya begitu khawatir.
Mendadak Kila memeluk Dasha. "Maaf... Maaf... maafin gue,"
Dasha tercengang.
"Maaf untuk apa?"
"Maaf karena gue udah deketin tunangan lo." jawab Kila dengan penuh penyesalan. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan menatap sendu Dasha.
"Udah gue maafin kok. Udah, jangan nangis." Dasha tersenyum tipis.
***
Bel pulang akhirnya berbunyi. Murid SMA Sebum bercerai-berai untuk kembali ke kandangnya masing-masing.
Namun, Kila masih setia duduk di bangku yang terletak di depan gerbang. Ia sedang menunggu supir menjemputnya. Kila tidak mau menaiki angkot sebab lupa membawa uang saku.
"Nungguin apa?"
Kila mendongak.
"Jemputan." jawabnya singkat.
"Nanti malam ke rumah gue buat belajar."
Kila merotasikan bola matanya. Niatnya ingin tidur pulas malam nanti, malah gagal begitu saja.
"Kalau gue enggak ketiduran ya," mata Kila melihat ke jalan. Berharap kalau supirnya itu segera datang. Setelah pulang nanti, ia akan tidur sepuasnya!
Suara notif pesan membuat Naufal mengambil ponselnya yang terletak di tas. Secepatnya ia membuka isi pesan itu.
'Fal, kamu anterin Kila sampai ke rumah dengan aman. Supirnya hari ini gak bisa jemput '