Abian berbalik dan mendorong keras tubuh Dasha sampai-sampai Dasha terjatuh.
"Gue gak akan pernah nerima lo." ujar Abian menekan setiap kalimat.
Dasha memegangi dadanya. Ya, penyakitnya kambuh sekarang. Untung saja Dasha sudah membawa botol bantu pernafasannya. Dengan segera, ia menggunakan botol itu.
"Lo penyakitan. Gue enggak suka cewek penyakitan." tegas Abian.
Dasha kembali berdiri tegak. Sebelum pergi, ia berkata, "Lambat laun, lo bakal suka gue."
Abian mematung. Ingin sekali memukul Gadis terlalu percaya diri itu. Tapi jika guru melihatnya, akan berbuntut panjang.
Kila senang Dasha sudah pergi. Dia memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi.0
"Bian! Lo pasti hari ini bete kan? Gue bisa ngebuat lo enggak bete lagi! Yuk, ikut gue ke suatu tempat!" Kila muncul dari arah belakang, langsung mendekap lengan Abian.
Abian tersentak. Melihat Gadis lain yang juga tergila-gila padanya, ia memijit pelan keningnya.
"Lepasin gue!" lagi-lagi Abian bertindak kasar pada perempuan.
"Bian! Gue kurang apalagi? Cantik udah, kaya udah dan manis, udah." Kila kembali menempel-nempel pada Abian. Sepertinya, satu dorongan kasar tidak membuat Kila kapok.
Kali ini, Abian mendorong Kila ke tembok dengan pelan. Tubuh mereka berjarak sangat dekat. Kila menduga pasti Abian akan menci...
"Lo sama Dasha enggak ada bedanya. Lo berdua sama-sama tergila-gila sama gue!" bisik Abian pelan, tapi sukses menusuk di hati Kila.
Abian menyeringai, kemudian menjauh dari Kila. Tak terima begitu saja, Kila memegang tangan Abian. Mencegah Cowok itu pergi.
"Gue beda sama Dasha! Gue enggak penyakitan!" Kila menyangkal.
"Perasaan lo, tindakan lo dan cara lo bersikap sama gue itu persis kaya Dasha. Lepas! Gue enggak mau buang-buang waktu buat wanita kaya lo."
Sama seperti dilakukan pada Dasha, Abian kembali mendorong Kila seenaknya.
Kila terambau. Namun ada seseorang yang menahannya. Naufal orangnya.
"Jadi laki yang gentleman. Jangan beraninya sama cewek doang," ujar Naufal. Tatapan mukanya sangat serius.
Sembari mencengkam tangan Kila, Naufal pergi dan sengaja menyenggol pundak Abian begitu saja. Kila dibuat takjub. Ternyata Naufal bukan-lah Cowok yang penakut.
Jaraknya sudah jauh dengan Abian, tepatnya di koridor sekolah yang sepi, Naufal langsung melepaskan genggamannya.
"Lo kenapa jadi cewek murahan banget, hah?"
"Gue enggak murahan. Gue cuma suka sama dia. Apa salahnya suka sama cowok?"
Naufal menghela nafas. Sepertinya ia harus mengajarkan Kila sesuatu yang bukan termasuk mata pelajaran. "Dia udah punya cewek. Kalau Abian belum punya cewek sama sekali, gue enggak akan ngelarang lo."
"Lo tau kenapa Dania musuhin lo waktu dia tau lo bakal ngerebut cowok orang?" lanjut Naufal bertanya. Kila menggedikkan bahu.
"Karena dia enggak mau berteman sama cewek perebut laki orang. Dan kalau lo masih tetep nekat deketin Abian, berarti lo termasuk cewek kaya gitu."
"Bodoamat! Gue udah terlanjur suka sama Bian. Lo enggak bakal ngerti perasaan gue," Kila bersikukuh.
"Lo mau disakitin terus sama si Abian itu? Lo mau suatu saat nanti, tunangan lo direbut cewek lain? Lo mau tunangan lo tiba-tiba ninggalin lo begitu aja?" cecar Naufal.
Kila tak bergeming. Batin Kila menjawab, tidak mau.
"Enggak mau kan?" tanya Naufal. "Inget, Kil, karma itu selalu ada."
"Ta-tapi gue udah terlanjur suka sama dia." ujar Kila terbata-bata.
"Lupain dan cari cowok lain."
"Enggak bisa!" Kila menggeleng kuat. "Wajah dia selalu terngiang-ngiang di pikiran gue setiap saat." ia mengacak rambutnya frustasi.
"Gue enggak bisa!"
Kedua tangan Naufal menarik Kila ke pelukannya. Air mata Kila mengalir deras. Naufal merasa iba pada Kila.
"Lo harus bisa, Kila." sembari mengucapkan itu, Naufal terus mengelus rambut Kila agar Gadis itu bisa lebih tenang.
"Jangan suka sama cowok kasar kaya dia."
"Kalau se waktu-waktu lo butuh temen curhat, gue bakal selalu ada untuk dengerin masalah lo."
"Berhenti nangis. Oke? Jangan nangisi cowok yang bahkan enggak peduli sama lo." Naufal melepaskan dekapan. Melihat air mata Kila yang terus turun, Naufal mengusapnya.
Kila mengangguk pelan. Perasaannya kini menjadi lebih lega. Dia selama ini tidak pernah melihat sisi lain yang dimiliki Naufal. Selama ini, Kila menilai Naufal adalah orang yang membosankan dan juga tidak mengerti apapun tentang percintaan. Namun, penilaian Kila salah. Naufal jauh lebih baik daripada Abian.
****
"Hey!" Dania melambaikan tangan. Kila menyinggungkan senyum singkat. Terlihat Dasha sedang duduk bersama sahabatnya itu.
"Lo kemana aja?" tanya Dasha.
Kila menarik kursi. Mendudukkan diri tepat di samping Dania.
"Gue tadi habis ke kamar mandi," Kila cengengesan.
"Lama banget lo. Keburu dingin baksonya nih," mangkal Dania yang sedari tadi menunggu.
"Hehehe, maaf." Kila mengambil mangkuk itu dan menyuapkan satu sendok bakso.
"Mata lo kenapa bengkak?" Dasha terus mengamati wajah Kila.
Kila terkesiap. "A-anu... tadi itu..."
"Tadi gue marahin dia, makanya nangis trus matanya jadi bengkak deh," Naufal mendadak muncul di antara mereka bertiga. Kila mendongak dan bertanya-tanya untuk apa Naufal datang ke sini?
seolah-olah bisa membaca pikiran Kila, Naufal berkata, "Duit lo jatuh," 1 lembar uang dengan pecahan 50.000 diletakkan di meja. Seusai itu, Naufal berlalu begitu saja.
Dania melongo. "Lo beneran habis dimarahin sama dia?"
"I-iya," bohong Kila.
Dania berdiri. Dia tidak terima sahabatnya dibuat menangis.
"Jangan hajar dia, Dan. Dia marahin gue karena kesalahan gue sendiri kok," Kila tahu Dania adalah anak bar-bar. Dia tidak mau Naufal jadi korban tinju sahabatnya itu.
"Lo perbuat kesalahan apa ke dia?"
"I-itu... gue nolak buat ngerjain soal latihan yang dikasih dia." untuk kedua kalinya, Kila berbohong.
***
Entah kenapa, berkali-kali wajah Naufal selalu melintas di otak Kila. Gadis itu merasa sangat risih karena ia jadi tidak bisa fokus menonton film kesukaannya.
Kila mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana cara menghilangkan wajah Naufal dari pikirannya?
"Arrggghh!" geram Kila. Wajahnya yang cantik mendadak seperti singa ketika menggeram.
Yana yang melintas di depan kamar anaknya sontak terkejut mendengar suara misterius. Suara geraman yang menyeramkan. Segera Yana membuka kamar pintu Kila. Dia mendapati anaknya yang sedang menenggelamkan kepala di bantal.
"Kenapa, Nak?" Yana duduk di tepi ranjang.
"Eh, Mamah," Kila malu. Dia merapihkan rambutnya terlebih dahulu.
"Kalau ada masalah, cerita aja ke Mamah."
Kila berpikir. Sepertinya tidak ada salahnya untuk bercerita ke Ibunya.
"Eum, gini... Kila boleh cerita ke Mamah tentang temen Kila?" dengan ragu-ragu, Gadis itu bertanya.
"Boleh dong,"
"Jadi gini... temennya Kila itu suka cowok yang udah punya pacar. Itu salah enggak? Kata temen aku, dia udah terlanjur suka sama cowok itu dan susah untuk ngelupainnya. Pendapat Mamah gimana?"
Kila sengaja berbohong seperti itu. Kalau dirinya jujur bahwa ia menyukai laki-laki yang sudah punya pacar, bisa-bisa ibunya melemparkan sandal ke arahnya.