Kila terkejut melihat ibunya sudah berada di dekatnya. Mungkin karena ributnya sangat kushu, makanya Kila dan Naufal sama sekali tidak menyadari kehadiran ibunya Kila.
"Mamah!" dengan semangat, Alden memeluk Yana. Yana tersenyum singkat. Matanya kembali terpusat pada Kila dan Naufal yang mematung.
"Tante, saya udah selesai ngajar Kila. Saya pulang ya," pamit Naufal. Tanpa ragu, ia menyalimi tangan Yana.
"Iya, terimakasih. Hati-hati di jalan," ujar Yana kala Naufal selesai menyalimi tangannya. Setelah itu, Naufal berlalu.
"Sopan banget ya," puji Yana. Kila merotasikan bola matanya.
"Dia ada maunya kalau kaya gi-"
"Kayaknya dia cocok sama kamu. Dia sopan dan juga ganteng. Apa Mamah harus jodohin kamu sama dia ya?" Yana memotong kalimat anaknya.
Kila menatap ibunya tidak percaya.
"Tau ah!" ujar Kila frustasi sembari mengacak rambutnya. Naik tangga untuk menuju kamarnya, Kila tidak menjawab perkataan tak masuk akal yang dilontarkan oleh Yana.
***
Kembali lagi ke Dasha dan Abian.
Dasha memainkan ujung bajunya. Dia canggung.
Hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Yang satunya sedang sibuk bermain ponsel, sedangkan yang satunya lagi sedang bingung tak tahu harus melakukan apa.
"Kalau begini, kapan majunya. Semangat Dasha! Berjuang-lah mulai detik ini untuk kisah cintamu!" batin Dasha menyemangati diri sendiri.
Nekat, Dasha menarik earphone dari telinga Abian. Bian sontak memandang Dasha dengan tatapan tidak suka.
"Maaf. Habisnya lo dari tadi acuh banget sama gue,"
Bian memegang rambut Dasha, memajukan kepala Gadis itu agar lebih dekat dengannya. Abian mendekatkan mulutnya tepat di telinga Dasha.
"Gue baik karena ada nyokap gue di sana. Jangan kira gue udah nerima lo." bisiknya menekan setiap kalimat. Abian semakin mencengkram kuat rambut Dasha.
Gadis itu meringis kesakitan.
"Le-lepas." mohon Dasha, namun dihiraukan oleh Abian.
"Jangan datang lagi ke rumah gue! Gue enggak suka." Abian berbisik lagi. Dengan bengis, Abian melepaskan cengkramannya. Dasha dibuat terhempas ke tempat tidur Abian. Dengan santainya, Abian kembali berkutat pada ponsel yang berada digenggamannya.
Hati Dasha menyelir perih. Dia berusaha untuk tidak menangis saat ini. Kalau calon mertuanya melihat, pasti Abian akan dimarahi dan ujung-ujungnya Abian balik menyiksanya.
Satu hembusan nafas panjang cukup membuat Dasha untuk tenang. Dia menegakkan duduknya. Senyum manis dia munculkan kepada Abian.
"Kita keluar yuk," ajak Dasha. "Di pertigaan sana ada warung bakso yang baru aja buka. Lo enggak mau ke sana buat nyoba?"
Abian tetap berfokus pada ponselnya.
"Beneran nih, lo enggak mau?"
"Di sana ada temen-temen kita yang lagi nongkrong."
"Gue denger, bakso yang ada di warung itu rasanya enak lho,"
"Bian?"
"Mau enggak? Jawab gue,"
"Bisa enggak sih, lo-" ucapan ketus Abian terjeda ketika melihat ibunya akan masuk ke kamarnya.
"Kamu mau kita kemana, Yang?" mendadak Abian berubah menjadi lemah lembut.
"Ke warung bakso yang ada di pertigaan jalan!" seru Dasha.
"Ayo," Abian menyimpulkan senyum. Tangannya menyelipkan sisa-sisa rambut Dasha ke belakang telinga.
"Aduh, Mamah dateng di waktu yang salah ya?"
Dasha refleks menoleh.
"Enggak kok, Tan." sahut Dasha.
"Mah, Aku sama Dasha mau keluar dulu ya? Boleh?" Abian bersiap-siap.
"Boleh banget malah. Yang terpenting, jaga Dasha baik-baik. Jangan sampai cowok lain naksir sama tunangan kamu," ujar Helmi. Abian mengangguk.
Hanya memakai jaket hitam serta merapihkan rambutnya, Abian sudah siap. Helmi mengantar Dasha dan anaknya sampai ke depan pintu rumah.
"Nih," Abian menyerahkan helm full face kepada Dasha.
Dasha langsung menerima dan memakainya. Namun sebelum Abian menjalankan motornya, ia bergumam, "Lo bakal gue anterin pulang sekarang. Jangan bilang ke mamah kalau kita sebenernya enggak jalan hari ini."
"I-iya," lirih Dasha.
***
"Kila!"
Kila menengok. Sontak ia mengangkat sudut bibir melihat Dania yang memanggilnya.
"Lo udah maafin gue?" tanya Kila. Dania mengangguk cepat.
"Ke kelas bareng yuk!" Dania mengajak.
"Ayo!" seru Kila.
Mereka berdua sudah akrab seperti dulu. Dania bersyukur karena Kila bukan termasuk wanita yang suka merebut Laki-laki orang. Hal itulah yang menyebabkan Dania mau berteman kembali dengan Kila.
***
"Bakso dua mangkok sama es tehnya ya, Bi." jawab Kila saat ditanya apa yang mau dipesan.
"Tumben Dasha enggak gabung sama kita?"
Semoga aja, tuh anak enggak dateng, batin Kila memohon.
"Kil, kok lo diem aja sih." Dania menyenggol bahu Kila.
"Habis gue mau ngomong apa? Hanya Tuhan yang tau dia datang apa enggak," ujar Kila apa adanya.
"Aduh," Kila memegangi perutnya.
"Kenapa lo?"
"Perut gue sakit."
"Lo tadi pagi udah sarapan apa belum?" Dania menebak pasti sahabatnya itu belum sarapan.
"Belum."
"Pantes. Gue langsung ke tempatnya Bi Surti ya, mau ngambil makanan yang kita pesen." Dania berdiri. Kila mengangguk setuju.
"Kayaknya ini bukan laper deh," ujar Kila pada dirinya sendiri. Sepertinya yang dia butuhkan adalah kamar mandi!
Kila melangkah cepat menuju tempat itu. Dia tidak bisa menahannya lagi.
Sedangkan Dania? ia tidak tahu kalau Kila sebenarnya ingin buang air besar bukan kelaparan.
***
"Akhirnya," lega Kila. Dia menarik pintu kamar mandi dan keluar dari sana. Di depan wastafel, Kila menyalakan kran air untuk membasuh tangannya sekaligus mengaca.
"Pergi enggak!"
Kila tergemap. Matanya spontan melihat ke luar ruangan kamar mandi. Agar tidak ketahuan, Kila melangkah dengan berjinjit dan berusaha agar langkahnya tak kedengaran.
Tampak Abian sedang berhadapan dengan Dasha. Sorotan mata Abian terlihat sangat marah. Kila menunda untuk keluar terlebih dahulu. Dia penasaran apa yang terjadi selanjutnya!
"Satu hari. Satu hari aja lo bersikap baik sama gue. Lo perlakukan gue layaknya wanita. Bisa enggak sih?" mata Dasha mulai berkaca-kaca. "Lo enggak mau nerima gue sampai kapanpun? kalau iya, buat apa lo masangin cincin ke jari manis gue?"
"Kenapa lo waktu itu enggak batalin aja pertunangan kita?"
"Kenapa? Hah? Jawab gue! Gue butuh jawaban!"
Dasha menguncang-guncangkan pundak Abian.
Dengan tangan yang terkepal, Abian menunduk.
"Lo udah tau dari awal kan? kalau gue sama sekali enggak suka sama lo."
"Iya. Gue tau!" Dasha menjeda. Dia berusaha untung tenang.
"Lo enggak akan ngebuka hati untuk gue walaupun satu detik? Satu detik aja." lanjut Dasha meminta sembari menatap pilu.
"Jangan mimpi!" Abian melepaskan tangan Dasha. Hendak pergi, namun Dasha memeluknya dari belakang.
Kila yang menyaksikan itu pun merasa tidak terima.
"Gue mau jadi wanita yang lo sukai, sedetik aja." Dasha semakin mengeratkan pelukan.
Bukan reaksi baik yang diberikan Abian. Tapi, Abian malah menggenggam erat tangan Dasha, lalu menghempaskannya dengan kasar. Dasha tergemap.
"Jangan lancang!"