Setelah lama berpikir akhirnya keputusan pun sudah diambil oleh Alex. Dia menatap dengan datar gadis yang ada di belakang kakeknya. "Baik. Alex akan menikah dengan wanita itu. Tapi, aku juga memiliki syarat yang harus kalian penuhi!"
"Apa itu?"
"Tolong, jangan ganggu pernikahan kami!"
"Apa kamu pikir kakek akan menerima syarat gilamu itu? Cih, dalam mimpimu!"
"Kek! Bahkan aku sudah mau menikahi gadis udik itu. Kenapa kakek masih tidak mau menerima syarat yang aku berikan!"
"Bukankah kamu menerima dia karena ingin mendapatkan semua uangmu, eoh?" Prabu sengaja berbisik di telinga Alex. Dia tidak mau membuat gadis yang kini tengah berdiri ketakutan di seberang meja tahu bagaimana ia menekan seseorang untuk tunduk pada setiap keinginannya. "Jadi, sekarang tinggal keputusanmu!"
Alex mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Kekeraskepalaan Prabu benar-benar sudah membuat dia yang memang selalu dituruti tanpa diminta menjadi geram. "Ish. Iya-iya, aku mau!" jawabnya ngegas.
Prabu tersenyum penuh kemenangan. "Nah, gitu dong. Ini baru yang namanya cucu kakek!" ujarnya sambil menepuk bagian bahu Alex.
"Aurora. Sini, Nak!" panggil Prabu.
"B-baik, Kek," sahut Aurora gugup. Tatapan Alex padanya seolah tengah menyilet-nyilet tubuhnya hingga begitu sakit dirasa. "Ada apa, Kek?"
Pria tua itu pun kini menepuk bahu si gadis yang masih saja menundukkan kepala. “Apa di bawah sana jauh lebih mengasyikkan daripada wajah kakek, hm?"
Gadis itu langsung menggeleng panik. "Maaf, Kek. A-aku hanya tidak berani menatap kalian. Siapalah aku ini yang hanya seorang anak panti," akunya dengan perasaan takut.
"Benar, 'kan? Dia itu cuma anak gembel yang memang tidak layak untuk menjadi istriku. Cih, bagaimana bis kakek menyuruhku menikah dengan gadis itu! Apa kakek tidak malu memiliki menantu yang kastanya jauh di bawah mereka?" Alex melengos ke arah lain sambil membatin akan calon istrinya.
"Nak, sesuai janjiku. Apa kamu mau menerima anak degil itu sebagai calon suamimu?"
"Kek!" Alex terlihat tidak suka dipanggil degil oleh kakeknya. Namun, pria tua itu hanya menganggapnya angin lalu. "Sial sekali nasib hidupku!" bisiknya penuh emosi.
Aurora menatap wajah kedua orang tua Alex yang terlihat santai dan biasa saja, kemudian ke arah calon suaminya. Akan tetapi, dengan cepat tatapan itu dialihkan karena pria di sana langsung menatapnya membunuh. Dia berpikir cukup lama hingga tercetuslah sebuah ucapan dari mulutnya. "Baik, Kek. A-aku terima," jawabnya tergagap.
Ada yang tersenyum lega, tetapi ada juga yang mengumpat, yaitu Alex. Sedang Aurora sendiri kembali menunduk. Mengangguk seadanya saat ucapan terima kasih dan selamat dari Prabu, Tyas, dan Dadu diberikan kepadanya. Hatinya sekarang justru tengah merasakan kebimbangan.
Apakah keputusan yang diambilnya sudah benar? Atau, apakah lelaki itu bisa menuntunnya menjadi perempuan yang lebih baik lagi? Serta pertanyaan-pertanyaan lain yang menggerogoti hati Aurora.
"Kamu tidak perlu takut, Aurora. Kakek pasti akan menjagamu. Jika Alex berbuat macam-macam, kamu bisa melaporkannya kepadaku! Apa kamu mengerti, Nak?
Gadis itu pun mengangguk pasrah. Dia berdoa semoga keputusannya untuk menikah dan menerima Alex menjadi suami tidak akan membuat dirinya ada di neraka. Sudah cukup penderitaan selama ini. Harapan Aurora hanyalah satu, bisa merasakan kehangatan dari sebuah keluarga.
Persiapan demi persiapan pun kini sudah mulai langsung eksekusi oleh Prabu dan Dadu. Sedang Tyas mengajak Aurora dan juga Alex menuju butik langganan keluarga Sasongko. Selama perjalanan, dia terus mengajak mengobrol calon menantunya, walaupun hanya dibalas dengan senyum, dan iya, tidak, bukan oleh Aurora, tetapi gak itu tak membuat Tyas marah. Dia justru gemas hingga memeluk gadis sederhana di sampingnya.
"Jadi, kamu punya adik?" tanya Tyas sambil mengusap punggung tangan Aurora dalam genggamannya.
Gadis itu mengangguk pelan. "Iya, Tante. Namanya Pelangi."
"Wah, nama kalian benar-benar cantik. Tante suka, loh. Kapan-kapan ajak dia ke rumah yah, Sayang!"
"Baik, Tante."
Obrolan dua perempuan berbeda generasi itu terlihat begitu asyik dan nyambung. Namun, hal tersebut sama sekali tidak membuat minat Alex untuk ikut bergabung. Dia yang duduk di samping kemudi hanya mencibir sambil memejamkan mata. Dirinya begitu muak dan ingin segera menyelesaikan drama ini semua.
Sesampainya di butik, Tyas langsung menyuruh sang desainer sendiri yang memilihkan pakaian pengantin untuk kedua calon mempelai. Sementara dirinya hanya duduk santai menunggu di sofa sambil membaca majalah fashion.
Setelah beberapa puluh menit, tiba-tiba sang desainer datang dengan begitu heboh. "Jeng-Jeng, coba liat sini, deh!"
"Ya Allah, Jeng. Heboh sekali dirimu. Ada apaan, sih?" Tyas langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri Prita.
"Pokoknya situ pasti bakalan takjub sama apa yang ada di balik tirai, deh!" bisiknya sambil menggelayut manja pada Tyas.
Tyas sendiri hanya menepuk lengan Prita, tetapi juga tidak sabar menunggu Aurora yang sudah menggunakan gaun pengantin. "Pasti cantik banget, yah?" tanyanya yang hanya dibalas kikikan geli oleh Prita.
Tirai pun dibuka, memperlihatkan seorang gadis pemalu yang hari ini terlihat begitu cantik mengenakan gaun pengantin yang menutupi tubuhnya. Gaun pengantin tersebut memiliki panjang yang mencapai lantai dan berhiaskan brokat, serta penggunaan veil yang cukup panjang juga menambah pesona pada penampilannya.
"Wow, sangat-sangat cantik," puji Tyas begitu puas akan pilihan dari Prita.
"Iya, 'kan. Sudah kuduga jika reaksimu pasti akan seperti ini. Oh, iya. Itu calon menantumu sendiri, Jeng, yang pilih. Sebenarnya tadi aku memilihkan gaun lain, tetapi dia berkata jika ingin memakai gaun yang sedikit tertutup. Ya, walaupun di bagian punggungnya terbuka sedikit. But, aku juga setuju jika gaun itu sangat pantas dipakai oleh Aurora. Sangat cantik!" cerocos Prita dengan senyum puas.
Sedang Alex sendiri yang ada di samping Aurora hanya merotasikan kedua bola matanya jengah saat melihat ibunya begitu heboh melihat calon istrinya. "Biasa aja tuh," celetuknya dan didengar oleh Aurora yang langsung menunduk.
Pria itu juga terlihat begitu tampan dengan tuxedo berwarna putih, senada dengan gaun Aurora hingga membuat dua wanita di sana berdecak kagum akan paras sang calon mempelai. "Kalau begitu bungkus! Aku puas dengan gaun dan tuxedo itu!"
Akhirnya, untuk persiapan gaun pun selesai. Sedang masalah katering, souvernir, panggung hiburan, hotel tempat diadakan perhelatan pernikahan Aurora dan Alex sudah diurus oleh Prabu dan juga Dadu. Semua terlihat sibuk hingga menjelang hari H.
Kini, hari pernikahan pun tiba. Banyak tamu undangan yang sudah datang untuk melihat prosesi ijab qobul yang diadakan di salah satu hotel milik Keluarga Sasongko. Alex yang didampingi oleh prabu dan Dadu, serta salah satu pejabat setempat di mana mereka diundang menjadi sebagai saksi pernikahan anak crazy rich kini tengah menunggu waktu yang tinggal beberapa detik di mulai.
"Bagaimana, apa kita bisa mulai sekarang?" tanya sang penghulu.
"Silakan!" jawab Prabu dengan senyum tak sabar.
Terlihat Alex begitu ogah-ogahan ketika harus bersalaman dengan sang penghulu. Prabu sudah berkali-kali meremas paha si cucu yang terlihat begitu tak bersemangat. Hingga pengucapan ijab pun akhirnya mulai berkumandang dari mulut sang mempelai pria.
"Bagaimana, Saksi? Sah?"
"Sah!" seru para tamu undangan kompak.
"Alhamdulillah!"
Jangan tanya bagaimana reaksi Alex, tentu dia sangat muak. Dia mengucapkan ijab tersebut tentu dibantu kertas kecil di atas meja pemberian Dadu. Tidak mungkin dia bisa selancar itu mengucapkan janji suci terhadap wanita yang sama sekali tidak disukainya.
Setelah itu, sang mempelai wanita pun datang. Didampingi oleh satu lelaki yang ternyata adalah pengurus panti tempat Aurora tinggal, sedangkan di belakang ada beberapa anak panti yang terlihat begitu cantik dan menggemaskan berjalan bersama mereka.
Bisik-bisik dari tamu undangan pun mulai menghiasi jalannya acara pernikahan Aurora dan Alex, tetapi mereka lebih banyak mencibir si mempelai wanita yang terlihat cantik, tetapi biasa saja.
"Kok, keliatan aneh yah?"
"Aneh gimana?"
"Pengantin cowoknya kayak gak niat banget buat nikah. Liat aja mukanya yang tampan, eh, maksudnya rautnya itu loh, gak ada bahagianya pisan," ucap tamu undangan.
"Iya. Dengar-dengar mereka itu dijodohin dan lebih gilanya lagi, si ceweknya ini hanyalah seorang anak yatim piatu," bisiknya kepada tamu yang lain.
Mengabaikan gunjingan tamu undangan, kini kembali ke pengantin. Aurora sudah berdiri di samping Alex. Mereka kini sedang menjalani acara pemasangan cincin. Gadis itu terlihat begitu gugup, hingga tangannya bergetar saat dipegang oleh suaminya.
"Biasa aja kali!" cibir Alex saat tangan Aurora sudah selesai dipasangkan cincin.
Aurora sendiri hanya menunduk gugup. Dia berkali-kali meremas sisi gaun pengantinnya. "Kamu pasti bisa, Ra," ujarnya pelan untuk menyemangati diri sendiri.
"Sekarang kamu bisa cium kening istri kamu, dan mbaknya bisa bergantian mencium punggung tangan suamimu," titah sang penghulu.
Para tamu undangan sendiri sibuk mengabadikan momen tersebut. Tentu saja sambil bergunjing di belakang tanpa memedulikan perasaan orang yang digunjingkan.
Alex dengan sangat berat hati mencium kening sang istri. "Aku akan membuat hidupmu benar-benar di neraka, Ara!" bisik pria itu tepat di telinga sang istri setelah selesai mencium Aurora.
Tubuh gadis itu langsung menegang kaku. Dia hendak menangis, tetapi dengan cepat ditahannya. Namun, kontrol dirinya yang begitu buruk membuat air mata lolos begitu saja. Akan tetapi, orang yang tidak tahu justru mengira jika itu adalah air mata bahagia.
Aurora beranikan diri mendongak, menatap wajah Alex yang begitu tampan. Akan tetapi, memiliki hati iblis. Saat pria itu balas menatapnya, gadis itu menunduk sambil meremas gaun pengantinnya gemetar. "Ya, Tuhan. Pernikahan macam apa ini?"