Bab 4. Malam Pertama

1223 Words
"Sayang, selamat, yah!" "Ekhem-ekhem!" Sebuah deheman langsung membuat dua orang yang bukan mahram itu langsung melepaskan pelukan mereka. Alex hanya merotasikan kedua bola matanya malas saat Prabu dengan begitu usil membatasi ruang geraknya. Dia kemudian membiarkan si teman pergi, tetapi dengan sebuah surat kecil yang terselip di antara jabat tangan mereka. Pria itu mengangguk saat si gadis bergaun merah memberikan kode untuk menelponnya. "Jaga perilakumu, Lex!" peringat Prabu dingin. "Iya, Kakek," jawab Alex sambil memasukkan kertas kecil itu ke dalam kantong jasnya. Setelah itu, acara memberi selamat kepada kedua mempelai pun selesai tepat pukul 7 malam. Kini, Tyas yang ditugaskan oleh Prabu untuk mengantar Aurora ke kamar pengantin pun sudah berjalan bersama keluar lift menuju kamar anak dan menantunya akan tinggali malam ini. "Tante mau ke mana?" Aurora mencegah tangan Tyas yang hendak pergi meninggalkannya di depan pintu. Tyas menepuk punggung tangan Aurora gemas. "Sekarang kamu tidak boleh memanggilku Tante, tapi Mama! Kamu sekarang adalah bagian dari kami. Apa kamu mengerti, Sayang?" "M-mama?" Tyas mengangguk senang, lalu memeluk tubuh Aurora. "Hah! Mama senang sekali saat tahu jika kamu mau menerima Alex, Nak. Terima kasih, Sayang," ujarnya dengan mata yang berlinang. Aurora dengan sedikit gugup mencoba menghapus air mata sang ibu mertua. "Mama gak boleh sedih! Aurora menerima Mas Alex dengan ikhlas, kok. Jadi, mama gak boleh berkata seperti itu." Ada sedikit takut di dalam hati Tyas. Namun, segera dienyahkan. Dia menghapus wajahnya yang basah dan tersenyum manis di hadapan sang menantu. "Pokoknya, apa pun yang terjadi, aku harap kamu tetap bertahan dengan pernikahan ini ya, Nak! Mama mohon!" Aurora menelengkan kepalanya bingung. Akan tetapi, dia segera mengangguk dan tersenyum manis juga. "Ehm, Ara janji akan menjadi istri yang baik buat Mas Alex, Mah," janjinya. Sekali lagi Tyas memeluk Aurora, kemudian pamit undur diri setelah meminta Aurora untuk masuk dan menunggu Alex di dalam. Rasa lelah dan penat seharian berdiri di atas pelaminan membuat Aurora langsung menuju kamar pengantinnya. Dia sempat terkejut akan keadaan lampu remang-remang saat membuka pintu. "Apa itu?" tanyanya bingung. Aurora yang masih mengenakan gaun pengantin segera mendekat ke arah ranjang dan dirinya tersenyum kecil. "Ini cantik sekali. Sayang kalau harus ditidurin," ujarnya sambil melihat ke arah lain. "Kakek sepertinya bekerja keras sekali hingga membuat semua ini!" Sepasang handuk yang dibuat seperti angsa yang tengah berciuman, dan lilin-lilin kecil di lantai ditata sedemikian cantik hingga membentuk sebuah tanda love dengan taburan kelopak bunga mawar merah juga di sana. "Baru kali ini aku merasa senang diberikan hadiah seperti ini. Kakek, terima kasih," ucapnya sambil membayangkan wajah Prabu di depannya. Akan tetapi, kesenangan Aurora terganggu saat tiba-tiba, pintu kamarnya dibuka dari luar. Hal itu tentu saja membuat Aurora berjengit kaget. "M-mas," gagapnya melangkah mundur. Alex yang baru menyadari jika ada Aurora di kamar langsung mendengkus. "Ngapain kamu ngeliatin aku kayak gitu?" tanyanya sambil lewat, lalu berjalan menuju kamar mandi. "Kakek tua itu benar-benar membuatku seperti boneka. Bagaimana bisa aku harus berdiri dan memberikan senyum kepada semua orang yang jelas-jelas tidak aku kenal. Arghhh, menyebalkan!" Suara gerutuan dan bantingan pintu kamar mandi membuat Aurora tersentak. Gadis itu langsung mengatupkan bibir karena merasa takut. Kini, di ruangan ini, di kamar pengantin ini, hanya ada mereka berdua saja dengan Alex. Diafragma di dalam tubuhnya mulai bekerja tidak semestinya. "Bagaimana ini?" Sementara itu, Alex yang sedang duduk di atas kloset segera mengeluarkan ponsel dan mengetikkan nomor telepon yang ada di secarik kertas dan menghubunginya. Dia menyeringai saat panggilan terhubung. "Kamu masih di bawah, 'kan?" tanyanya. Pria itu mengangguk senang. "10 menit lagi kamu naik ke atas! Kamar nomor 356!" Setelah mendapatkan jawabannya, Alex bergegas membuka semua baju yang sedari tadi sudah memeluk tubuhnya. Wajah yang sedari tadi cemberut kini mulai kembali bersemangat, apalagi membayangkan akan indahnya malam nanti. "Kakek pikir aku gak bisa main cantik, eoh? Dia salah!" cibirnya sambil menyugar rambutnya yang basah terkena air pancuran. "Aku harus bisa bersenang-senang malam ini. Yakh, harus bisa," imbuh Alex sambil menaikkan satu sudut bibirnya. Sementara itu, Aurora terlihat gelisah. Gadis itu masih sibuk berjalan mondar-mandir di kamar dengan bibir bagian bawah digigit. "Bagaimana ini? Aku harus gimana?" tanyanya gugup, lalu menggigit kuku jarinya. "Calm, Ra! Kamu gak boleh panik. Ingat, bunda sudah menasehatimu untuk tetap bersikap baik dan melayani suamimu dengan baik pula. Kamu gak boleh ngecewain bunda dan juga kakek!" ujarnya sambil mengepalkan satu tangannya. Setelah dirasa tidak begitu gugup, Aurora kemudian berjalan menuju meja rias yang sudah dipenuhi oleh beberapa alat make up. "Ah, iya. Aku harus menghapus riasan ini!" Kini, Aurora pun duduk di depan cermin sambil menghapus make up di wajahnya dengan pembersih muka. Beruntung ibu panti pernah mengajarkan, walau kenyataannya selama ini dia tidak pernah menggunakan riasan, selain pelembab bibir dan bedak bayi. Setelah lebih baik, dia pun melihat pantulan wajahnya di depan cermin. "Tarik napas pelan-pelan, lalu keluarkan dari mulut. Aurora, kamu tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak baik. Ingat kata bunda, jika apa yang kamu pikirkan negatif, hal itulah yang akan terjadi. Jadi, cobalah berpikir positif! Kamu pasti bisa!" ucap gadis itu pada pantulan wajahnya sendiri, lalu tersenyum. "Ah, ini sangat menegangkan bagiku!" Sebuah ketukan pintu dan suara bel dari luar membuat Aurora menoleh. "Siapa, yah? Apa itu Kakek?" Namun, gadis itu tidak langsung beranjak karena merasa bingung harus membuka pintu, atau tidak hingga yang dilakukan hanyalah menatap pintu besi itu dengan sorot mata polos. "Apakah aku harus membukanya atau membiarkannya?" tanya gadis itu lagi sambil mengetukkan jari di atas bibir. "Apa kupingmu itu budek atau gimana? Hah! Emang kamu nggak dengar itu ada orang yang ketuk pintu di luar!" Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Menjeblak begitu keras hingga memperlihatkan tubuh sixpack Alex yang toples, sedangkan bawahannya menggunakan handuk yang dililit asal di sekitar pinggang. "Mas! Kenapa kamu tidak menggunakan bajumu lebih dahulu?" tanya Aurora menjerit. "Halah. Sok suci!" cibir Alex. Dia kemudian berjalan dengan begitu santai tanpa memedulikan si istri yang masih menutup wajahnya. Ketika diintip dari intercom, bibir pria itu langsung menyeringai lebar. "This is show time!" bisiknya jahat. Dibukanya pintu besi itu dan senyum langsung terulas di bibir dua orang tersebut. "Hai, Beb! Kenapa lama sekali? Apa kamu sengaja membuatku gila di luar, eoh?" Wanita bergaun merah dengan sling panjang hingga hampir menyentuh pangkal pahanya langsung menerobos masuk. "Sorry, Sayang. Tadi aku sedang mandi." Tangan Alex dengan nakal menelusuri paha mulus wanita itu dan jangan lupakan juga seringai penuh nafsu sudah menyelubungi tubuh manusia b***t itu. "Masuk, yuk!" Teman tidurnya pun langsung masuk dan setelah pintu tertutup, wanita tersebut terpekik kaget saat tubuhnya langsung dipojokkan oleh Alex. Wanita yang diketahui bernama Sirtu dengan cepat mulai mengikuti alur si lelaki yang terkenal begitu beringas ketika di atas ranjang. "Pelan, Beb," ujarnya saat hampir kehabisan oksigen karena cumbuan pria tersebut. "Kok, Mas Alex gak balik-balik, yah?" Aurora yang penasaran karena suaminya begitu lama membukakan pintu segera berjalan menuju ruang depan. Namun, hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya justru kini tengah terpampang begitu jelas. Suaminya –Alex Sasongko– tengah asyik b******u mesra dengan perempuan lain yang bahkan gaunnya kini sudah terlepas entah kemana. "Mas Alex, kenapa kamu seperti ini?" Kaki Aurora terasa lemas, bahkan jika dirinya tidak berpegangan pada tembok di samping, ia yakin pasti akan jatuh. Aurora ingin berteriak, tetapi bibirnya terasa begitu kelu hingga hanya air mata saja yang lolos membasahi pipi. Hatinya terasa ditusuk sembilu pilu saat melihat di mana suaminya sendiri justru sibuk bermesraan dengan wanita lain, tepat di saat malam pertama mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD