Bab 5. Diusir

1261 Words
Alex menyeringai senang saat melihat Aurora tengah melihatnya bercinta dengan partnernya. “Ini adalah permulaan, Nona. Karena aku akan membuatmu benar-benar menyesal karena sudah mau berkomplot untuk membuatku menderita dengan kakek,” batinnya penuh emosi. Pria itu kemudian menatap wanita di bawahnya yang kini sibuk mendesah dengan mulut menyeringai. Kepuasaan inilah yang selalu dicarinya. Tanpa ada beban dan ikatan, alias bebas. Persetan dengan janji suci yang sempat keluar dari mulutnya di depan penghulu dan para saksi. Karena kenyataannya, semua itu sudah berlalu tanpa niatan pasti untuk menjalankan. Sementara itu, Aurora memilih untuk beranjak dari tempat panas tersebut. Tubuhnya benar-benar shock hingga untuk sekadar berjalan saja harus bertopang pada tembok. "Tuhan, tolong kuatkan aku! Hilangkan suara-suara menjijikan itu dari telingaku!" harapnya di sepanjang jalan menuju kamar. Didorongnya pintu kamar itu kemudian dikunci dari dalam. Setelahnya, tubuh gadis tersebut merosot ke lantai. Degup jantungnya sekarang bertalu begitu kencang saat melihat dengan mata kepala sendiri adegan dua orang yang tengah bercinta. "Kenapa Mas Alex tega melakukan itu padaku?" batinnya bertanya. Di usianya yang menginjak angka 20 tahun, Aurora memang masih begitu polos hingga tak pernah yang namanya berpacaran. Di sekolah pun tak banyak dia melakukan kegiatan, hanya berangkat sekolah dan pulang sekolah. Dia juga tidak pernah ikut ekskul apa pun, tetapi gadis itu adalah seorang yang pandai. Juara pertama selalu diraih hingga sekolah memberikan beasiswa kepadanya. Hanya satu lelaki yang dekat dengan Aurora selama ini, yaitu tetangga pantinya. "Mas Bintang, tolongin Aurora! Ara sakit di sini!" Dipukulnya bagian depan baju yang terasa sesak hingga sulit untuk bernapas. "Ara mau pulang, Bunda," rengeknya disertai dengan air mata. "Sebenarnya, dosa apa yang sudah pernah Ara buat hingga harus menanggung beban yang begitu berat seperti ini, Tuhan? Ara lelah … lelah dengan semua kepahitan ini. Tak bisakah Engkau berikan Ara kebahagiaan yang nyata? Bukan semu yang seperti ini!" Lagi, air mata dan Isak tangis Aurora kembali memenuhi kamar pengantin. Tak dipedulikannya suara desahan, bahkan umpatan penuh kenikmatan yang keluar dari mulut dua orang yang tengah bercinta di luar. Gadis itu menutup kedua telinganya, menghalau suara yang terdengar begitu memekikkan telinga. "Mas Alex, kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku padamu hingga kau tega mempermainkan pernikahan kita," ucap Aurora sebelum akhirnya tertidur karena lelah menangis. * Keesokan paginya, Aurora terbangun dengan mata yang bengkak. Dia juga mengerang saat merasakan leher dan punggungnya sakit. "Ah, kenapa aku bisa tertidur di sini?" tanyanya linglung sambil menggaruk rambut. Matanya menjelajah ke arah sekitar dan seketika ingatan akan acara pernikahannya dengan sosok lelaki tampan dan juga di mana adegan panas Alex dengan teman wanitanya membuat Aurora meringis. "Jadi, ini bukan mimpi?" Akan tetapi, gadis itu memutuskan untuk tidak peduli. "Aduh leherku," keluh Aurora sambil berusaha untuk beranjak bangun dan memijat bagian tengkuk. "Aku mau shalat, tapi tasku ada di mana, yah?" Gadis itu kemudian berjalan mengitari semua sudut ruangan dan senyum pun langsung merekah karena menemukan tas jinjing yang sudah kusam tergeletak di samping ranjang. "Mandi dulu, deh! Siapa tahu bisa meringankan rasa sakitnya." Aurora meringis saat melihat ukuran kamar mandi yang ada di hotel ini hampir sama dengan kamar miliknya, cukup luas, tetapi lebih luas di rumah keluarga Sasongko. "Orang kaya emang beda, yah. Gak kayak aku yang kaum mendang-mending. Mending beli ini, mending beli itu." "Aih, aku gak boleh ngomong kayak gitu. Hidup harus disyukuri. Apa pun yang diberikan oleh Tuhan, itu berarti memang sudah jadi hak kita. Aduh, Ara! Kenapa kamu jadi suka lupa diri, sih!" Tangan gadis itu memukul kepalanya sendiri karena sudah berpikir jelek. "Eh, apa ini? Kenapa mataku jadi bengkak?" Aurora berteriak kaget saat melihat wajah dan matanya yang sembab dari pantulan kaca di depannya. "Bagaimana ini? Aku gak mungkin keluar dari sini dalam keadaan wajah seperti ini? Pasti kakek, tante, dan om akan cemas!" "Berpikir! Ayo berpikir, Ara!" Aurora kemudian berjalan keluar kamar mandi dan melihat sekeliling lagi. Kali ini yang dia butuhkan adalah es batu. "Itu dia!" “Sshh, dingin sekali,” ringisnya saat dingin menyentuh tepat di bagian kantung matanya. Aurora melihat pantulan wajahnya yang cukup menyedihkan. "Pantesan gak ada orang yang suka sama Kamu Ara. Orang muka aja begitu," cibirnya pada diri sendiri. Akhirnya, setelah mengompres mata sembabnya gadis itu pun mulai membersihkan diri. Lanjut shalat sendirian di kamar, tanpa adanya sang suami. Jujur, Aurora selalu mendambakan sosok lelaki yang menjadi imamnya ketika shalat. Namun, suaminya terlalu sibuk dengan dunia sendiri. Sudah pukul 5 pagi, tetapi dia tidak mau keluar kamar. “Sepertinya aku butuh udara segar,” ujarnya saat melihat jendela balkon yang memang sengaja dibuka. Masih mengenakan mukena, Aurora berjalan menuju balkon dan bibirnya langsung mengulas senyum manis ketika angin pagi mulai menyapa kulit. Ini adalah kegiatan Aurora setiap pagi ketika hidup di panti. Menyapa dunia saat dirinya baru saja membuka mata. “Tuhan memang selalu baik kepada semua umatnya. Jadi, percayalah Ara! Jika suamimu kelak pasti akan bersedia menjadikanmu sebagai istri satu-satunya! Tapi, sekarang aku harus apa dengan pernikahan cacat ini? Mas Alex jelas-jelas tidak mencintaiku," gumam gadis itu sambil menerawang jauh ke depan. "Tuhan, tolong berikanlah aku kesabaran dan juga keikhlasan dalam menghadapi sikap dan sifat Mas Alex kepadaku!” doanya di pagi hari. “Woi, buka pintunya!” Sebuah gedoran pintu dan juga teriakan membuat Aurora menoleh. Dia menghela napas saat lagi-lagi bayang-bayang suaminya dan wanita lain yang sibuk bercinta di ruang tamu terlintas dalam pikirannya. Sungguh gadis itu mengutuk keras akan ingatannya yang begitu baik. “Iya, sebentar!” Akhirnya, Aurora tetap berjalan menuju pintu dan membukanya. Gadis itu langsung melengos saat melihat tingkah suaminya yang begitu santai berjalan hanya mengenakan handuk. “Mas mau mandi pakai air hangat?” Sontak pertanyaan itu membuat Alex yang hendak berbelok masuk ke kamar mandi menjadi tertunda. Pria itu bersandar dengan kedua tangan dilipat di depan dadanya yang atletis. “Apa kamu pikir aku senang menikah denganmu?” tanyanya sinis. Aurora dengan percaya diri lalu menggeleng. Alex yang melihat pun tersenyum. “Jadi, kamu gak usah berlagak untuk menjadi istri yang baik buat aku karena sampai kapan pun, kamu itu hanya istri di atas kertas. Kamu mengerti!” ucapnya penuh penekanan. “Maaf, Mas. Aku memanglah masih muda, tetapi aku sudah membaca tata cara menjadi istri yang baik sebelum membina sebuah rumah tangga. Jadi, tolong izinkan Ara untuk melayanimu, Mas! Tak apa jika sekarang tak ada cinta di antara kita, tetapi tolong jangan kau larang untukku berbakti padamu!" Aurora berkata dengan begitu tegas. Dia mencoba melupakan luka yang semalam suaminya torehkan dan belajar untuk ikhlas. “Dasar keras kepala! Apa sih yang sebenarnya sudah kamu lakukan kepada kakakku? Atau, jangan-jangan kamu itu sudah pernah tidur dengan kakek, iya, ‘kan?” Alex yang kesal dengan sifat Aurora yang ternyata cukup berani segera melontarkan pertanyaan yang ada di kepalanya selama ini. “Astagfirullahaladzim. Kenapa bicaramu seperti itu, Mas? Beliau itu adalah kakek Mas sendiri, loh. Kenapa Mas Alex begitu tega menuduh kami seperti itu? Ara itu sangat menghormati beliau. Jadi, tolong jangan berkata seperti itu lagi!” “Cih, berisik banget sih. Gak usah ngayal deh jadi istriku, atau mengharapkan sebuah perhatian dariku. Karena sampai kapan pun itu tidak akan pernah terjadi. Camkan itu!” Setelah itu, Alex berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan lagi-lagi diwarnai dengan bantingan pintu. Aurora memejamkan mata saat suara debuman itu terasa memekikkan telinga. “Jika pintu yang dibanting itu adalah pintu kamarku, pasti langsung patah,” ucapnya meringis. * “Sebaiknya aku cek ke depan, deh. Semoga saja wanita itu sudah pergi!” Namun, semua harapan Aurora tidak terkabul karena kenyataannya, sosok yang semalam bercinta dengan suaminya justru masih terlelap dalam keadaan tanpa sehelai benang pun. "Mbak, bangun! Pulang sana!" usirnya tanpa beban.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD