"Selamat datang, Pengantin Baru!" koor si pemilik rumah dan juga para pelayan kompak.
Aurora yang melihat itu langsung tersenyum malu. Dia menoleh ke arah Alex, tetapi pria itu hanya melengos. Tidak ada bahagia-bahagianya disambut begitu meriah oleh keluarga mereka. Gadis tersebut memutuskan untuk mendatangi Prabu. "Kakek!"
"Aurora!" Prabu memeluk sayang sang menantu. Dikecupnya puncak kepala gadis cantik itu. "Bagaimana semalam? Apa ada sesuatu yang–"
"Kakek, jangan seperti itu, dong! Malu menantu kita," serobot Tyas sambil berganti memeluk Aurora. "Kamu gak usah dengerin pertanyaan Kakekmu, Nak. Mereka ini emang suka ngadi-ngadi."
"Loh, apa salahnya menanyakan hal itu pada pengantin baru, Yas? Kan, mereka juga jelas udah tau maksudnya. Bukankah begitu, Nak?" Lagi-lagi Prabu bertanya pada Aurora.
"Eung, itu …."
"Cih, dasar manja!" Alex mencibir kelakuan Aurora dan juga kakeknya. Namun, dalam hati ia cemburu karena perhatian kedua orang tua dan sang kakek justru beralih ke menantu mereka. "Apa aku tak terlihat di depan kalian?"
"Astaga, pengantin baru kita makin seger aja," puji Tyas sambil mengusap rambut putra semata wayangnya.
Alex sendiri tersenyum dan memeluk sang ibunda dengan begitu erat. "Capek, Ma," rengeknya.
"Iya, yang habis menanam benih pasti capeklah. Eh, ngomong-ngomong apa Alex berbuat kasar padamu semalam, Nak?" Prabu beralih menatap Aurora penasaran. Ada senyum geli saat melihat wajah tegang sang cucu. "Jangan bilang kalian melakukan hal itu sampai subuh! Astaga, itu gak mungkin terjadi, 'kan? Lihat saja muka kurang tidur kalian! Astaga, ternyata?"
"Pa!" Dadu segera menegur ayahnya dengan menepuk bahu pria tua itu pelan. Dia lalu menatap wajah Aurora yang sudah bersemu merah, sedangkan Alex justru terlihat begitu acuh dan tetap bermanja pada Tyas. "Sebaiknya kalian masuk ke dalam saja! Pasti capek, 'kan? Oh, iya. Kata Mang Asep, Aurora pengin makan bakso, yah? Tenang, koki sudah buatkan bakso spesial buat kamu!"
"Benarkah, Om, eh, maksudnya, Pah?" Aurora langsung berteriak senang seperti anak kecil. Namun, dengan secepat kilat dia merubah ekspresinya. "Maaf. Maksudnya terima kasih, Pah!"
Ketiga orang dewasa itu pun tertawa melihat keekspresifan Aurora. Tyas tentu sudah tahu jika sang menantu ini begitu periang dan juga banyak ingin tahu. Namun, jika berada dekat dengan Alex saja maka gadis itu akan menjadi sosok yang pendiam. Entahlah, dia juga tidak mengerti kenapa bisa begitu. "Nak, ajak istrimu untuk ke ruang makan!"
"Ah, gak mau, Ma. Aku capek, mau tidur!" jawab Alex manja dan tetap memeluk Tyas.
"Kamu gak boleh gitu dong, Nak. Kamu ini udah jadi suami, loh. Emang gak malu diliatin sama istrimu itu, eoh?" Tyas menggelengkan kepala akan sikap Alex yang tetap manja tanpa peduli dengan sekitar.
"Alex gak peduli. Mama itu 'kan mama aku, kenapa harus malu sama orang asing!"
"Orang asing itulah yang akan menjadi pendamping hidupmu, Lex. Sudah buruan, jangan bertingkah seperti anak kecil! Bawa istrimu dan temani dia untuk makan bakso di dalam!" Jika sudah Prabu yang angkat bicara maka semua tidak akan ada yang bisa membantah, termasuk Alex.
Akhirnya, siang itu pun Alex terpaksa harus menemani Aurora untuk makan bakso di taman belakang. Dia menolak untuk di ruang makan karena terlalu banyak mata melihat.
"Mas, mau bakso?" Gadis itu menawarkan.
"Gak usah sok baik, deh! Makan aja apa yang kamu makan dan jangan jadi penjilat di hadapanku!" tolak Alex keras.
"Aku kan hanya menawarkan, Mas. Kalau Mas Alex gak suka yaudah, gak usah marah-marah juga kali," cibir Aurora.
Alex langsung menatap istrinya dengan kedua bola mata tak percaya. "Oh, jadi ini sifat asli kamu, eoh? Dasar muka dua!"
Aurora tentu saja tidak terima. Dia balas menatap tajam Alex. "Mas Alex yang terlalu manja. Jadi laki itu kerja, bukan malah nyusahin orang tua."
"Apa?" Alex lantas berdiri, berkacak pinggang dengan mata menatap membunuh kepada istrinya. "Apa kamu bilang? Manja? Aku?" Tawa pria itu begitu membahana di taman belakang. "Woi! Kekayaan keluargaku itu gak bakalan habis tujuh turunan, Non. Jadi, ngapain aku harus capek-capek kerja, kalau duduk aja duit udah pada dateng sendiri!"
"Sifat Mas Alex yang gak tau bersyukur dan percaya dirilah yang justru akan menjadi bumerang buat keluarga ini. Mas harusnya sadar, roda itu berputar tidak akan selamanya yang di atas selalu di atas, apalagi jika Tuhan sudah berkendara, Kun fayakun! Maka terjadilah!"
"Kurang ajar! Siapa kamu, sih, Bernai nasehatin aku, hah!" Alex langsung mencengkram kerah baju Aurora. Matanya menatap bengis seolah ingin membuang perempuan itu ke penangkaran buaya. "Kalau punya mulut lemes itu dijaga, yah! Kamu itu cuma menantu pungut yang jelas tidak akan pernah bisa menyamai kedudukan kami! Jadi, gak usah belagu, deh!"
Aurora menyeringai. Ditariknya tangan Alex cepat hingga pria tersebut tak sempat menghindar. Kini posisi mereka saling membelakangi dengan si istri yang mengunci leher dengan satu tangan, sedangkan satunya lagi mengunci tangan sang suami.
Hal itu tentu saja membuat Alex terkejut. "Yakh, apa kamu gila? Lepas!" teriaknya berusaha untuk melepaskan kuncian Aurora. Akan tetapi, tenaga gadis kecil itu begitu kuat. "Kalau kamu gak lepasin, aku akan teriak dan panggil kakek!"
"Sok, teriak aja! Ara gak takut! Lagian, Mas Alex sendiri yang udah kurang ajar sama Ara dan ini adalah bentuk perlawanan dari Ara. Jadi, kalau nanti mereka ke sini, Ara gak akan takut buat mengadukan apa yang Mas Alex lakukan!" Aurora menyeringai. "Jangan Mas kira, kalau semua orang bisa tunduk sama kekuasaan Mas Alex. Ara ini udah biasa dihina, bahkan dicaci maki oleh orang. Tapi, berhubung Mas Alex ini adalah suami Ara, maka sebisa mungkin tugas Ara adalah meluruskan Mas ke jalan yang benar!"
"Yakh, bocah gila! Lepasin gak!" Harga diri Alex merasa dijatuhkan oleh tingkah Aurora yang ternyata jago silat. Pria itu bahkan bisa merasakan kuncian sang istri di lehernya. "Ok, ok. Aku nyerah. Buruan lepasin!"
"Yakin?"
"Iya, yakin!" seru Alex mulai frustasi.
"Ok, aku lepasin. Tapi, Mas janji dulu untuk tidak akan melakukan hal-hal yang akan merugikan keluarga Sasongko!"
"Iya, Bawel! Lepas, ini sakit!" Alex memukul lengan Aurora yang masih memitingnya.
"Loh, kalian ini lagi ngapain? Aih, sepertinya pengantin baru kita udah gak sabar pengin bermesraan, deh. Uluh, udah sana ke kamar aja. Jangan di sini! Apa enaknya begituan di tempat yang bisa dilihat banyak orang," celetuk Tyas sambil terkekeh geli saat melihat Alex dan Aurora yang dikiranya sedang pacaran.
"Mama!" Aurora langsung melepaskan kunciannya dan justru berbalik mengusap rambut si suami seolah dia benar-benar mencintai Alex. "Mas Alex, Ma. Katanya dia mau pacaran di sini. Padahal aku kan gak enak kalau sampai diliat orang lain," sambungnya malu-malu.
Alex tidak tahu jika ternyata dirinya sudah menikahi iblis. "Dia bohong, Ma!"
"Maksud kamu, Nak?" tanya Tyas bingung.