"Yahh! Kapan aku pernah bicara seperti itu?"
"Mas gak usah malu-malu gitu," ujar Aurora dengan senyum menggoda tanpa takut dengan tatapan membunuh si suami.
"Wah!" Alex menyugar rambutnya frustasi. Tangan pria itu menunjuk sang istri dengan tatapan tak percaya. Akan tetapi langsung ditepis oh Tyas. "Tapi, Mah?"
"Kamu gak boleh seperti itu, Nak!" Tyas menggelengkan kepala.
Alex menatap Aurora yang kini tengah menjulurkan lidahnya tepat di belakang tubuh Tyas. "K-ka-mu … arghh! Mah! Dia itu pintar akting! Di depan kita aja dia bertingkah manis, tetapi di belakang justru seperti wanita barbar. Liat saja sekarang, dia menjulurkan lidah kepadaku!" tunjuknya dengan penuh kesal.
Tyas lalu menoleh ke arah belakang dan menemukan wajah cemberut Aurora. "Halah itu paling alasan kamu aja ya malu karena udha kepergok sama mama kalau lagi mesra-mesraan di sini. Mama udah hafal betul sama kelakuan kamu, Nak. Udah, gak usah ngelak lagi!"
"Gak, Mah. Dia itu manusia rubah, ah, gak bunglon juga!" Alex bersikukuh.
"Maksud kamu apa, sih, Nak? Kenapa kamu bicara seperti itu kepada Aurora? Dia itu istri kamu dan jika kalian memang ingin bermesraan, ya, udah nggak apa-apa. Lanjut aja! Mama juga nggak akan ganggu kalian. Mama tadi cuman mau ngecek, apakah bakso yang dibuatkan koki sudah habis apa belum. Kamu nggak perlu marah-marah seperti itu pada istrimu!" peringat Tyas.
"Tapi, Mah. Menantumu itu tidak seperti yang Mama lihat. Dia itu hanya manusia rubah. Dia pandai memanipulasi orang, seperti bunglon!" Alex tetap berusaha menjelaskan bagaimana sikap asli Aurora yang sebenarnya.
"Astaga, Alex. Kamu ini apaan, sih? Kenapa semua binatang kamu sama kan dengan istri kamu? Apa kamu tidak takut jika istrimu sakit hati? Kamu tidak boleh seperti itu, Nak. Lembutlah dengan istrimu! Karena dia yang kelak akan menjadi pendamping hidupmu!"
Alex yang merasa tidak bisa mempengaruhi ibunya lantas segera pergi. Dia menyenggol mangkok yang tadi ada di meja kemudian berlalu menuju kamarnya meninggalkan tanda tanya di kepala Tyas dan juga rasa senang di hati Aurora karena bisa membuat seorang Alex mati kutu.
"Bagaimana bisa Mama nggak percaya sama aku? Jelas-jelas dia sudah membodohi semua orang di sini dengan sifat polosnya. Herannya, kenapa justru mereka mempercayai dia yang kek bunglon itu. Aku nggak boleh kalah dari si bocah iblis itu, ya aku harus melakukan sesuatu!"
Kenyataannya, pria itu hanya bisa pasrah dan tidak bisa melawan ketika Prabu menasehatinya saat makan malam. "Ini apa, Kek? Kok warnanya hitam seperti ini, sih?" tanya Alex saat pria tua itu menaruh sebuah gelas yang berisi air.
"Udah, kamu minum aja. Itu adalah ramuan turun-temurun dari kakek untuk kalian yang baru saja menikah," jawab Prabu tak mau dibantah.
Alex Tentu saja tidak langsung percaya begitu saja. Dia menatap Dadu dan meminta penjelasan, lalu sang ayah pun hanya bisa mengangguk tanpa bisa menjelaskan apa pun. "Ma," panggilnya ke arah Tyas. Mengabaikan kikikan di samping kursinya.
"Tapi ini bukan racun, kan? Kakek nggak berniat untuk membunuhku, kan?"
"Astaga, kamu ini apa-apaan, sih? Kenapa kamu bisa menuduh kakekmu sendiri seperti itu? Mana mungkin aku membunuh cucuku sendiri. Gila aja!" sahut Prabu sambil menggelengkan kepala akan sikap sang cucu.
Alex lalu membaui gelas itu. Wanginya seperti jamu, tetapi masa dia diberi jamu. Dia kemudian menatap ke arah sampingnya. "Lalu, kalau untuk dia apa? Bukankah harusnya dia juga meminumnya?" tanyanya tak mau sengsara sendiri.
Alex tidak mau menyebutkan nama dari istrinya. Mulutnya terlalu enggan, bahkan untuk melihat saja dia malas.
"Di mana-mana lelaki yang minum. Mana ada perempuan yang minum," jawab Prabu sambil berdeham.
Semakin curigalah Alex dengan minuman tersebut, tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa pun dan akhirnya menenggak minuman itu. "Apa sih, nih? Kok, rasanya aneh banget?"
"Yang jelas itu bukan racun. Sudah kamu sekarang makan yang banyak karena besok pagi Kakek akan cek tempat tidur kalian!"
Sontak hal itu mendapatkan berbagai macam reaksi. Tyas dan Dadu hanya bisa meringis akan sikap Prabu yang kolot.
"Papamu, Pah?" Tyas berbisik di telinga sang suami sambil tersenyum kecil.
"Itu papa mertuamu juga loh, Sayang," balasnya, lalu terkikik geli. "Masih ingat waktu malam pertama kita dulu?"
Tyas pun memukul bahu Dadu malu. "Gak usah dibahas, deh!"
Dadu mencoba menahan tawanya karena tidak ingin mengganggu pembicaraan Prabu dan pasutri baru di depan sana. "Apa nanti malam kita jug- auw, kok, dicubit, sih?"
Tyas mendengkus. "Libur. Aku lagi ada tamu!"
Jawaban itu langsung membuat Dadu cemberut. "Puasa seminggu, deh," gumamnya pedih.
Kembali ke Alex, Prabu, dan juga Aurora. Gadis cantik, bersurai panjang itu hanya duduk diam seraya melahap makan malam yang ada di depannya. Bukan bermaksud tidak sopan, melainkan sebelum ini dia sudah mendapatkan wejangan dari sang kakek duluan.
"Apa gak bakal nular penyakitnya, yah?" Dalam hati gadis itu bertanya-tanya. "Kan, Mas Alex kemarin habis begituan sama cewek lain. Masa iya malam ini sama aku?" Namun, suara Alex yang sangat menolak keras jika sprei mereka dicek oleh Prabu membuat Aurora melihat perdebatan sengit antara kakek dan cucu tersebut.
"Apaan, sih, nggak usah gitu juga kali, Kek. Aku juga udah dewasa mana mungkin Kakek mau mengecek hal-hal seperti itu?" Panik, Alex merasa malam ini pasti akan ada sesuatu hal yang pastinya tidak akan pernah dilupakan olehnya.
"Apa salah jika kakek dan kedua orang tuamu cepat-cepat ingin memiliki cucu dan cicit? Usiamu itu sudah 27 tahun. Kalau kamu bekerja, harusnya sudah bisa memberikan prestasi. Tapi, nyatanya apa? Kerja aja nggak. Hidupmu cuman berfoya-foya doang, keluyuran, dan melakukan hal-hal yang tidak jelas. Jadi, kami menuntut kamu untuk memberikan kami seorang cucu! Itu saja, apa susahnya, sih?"
"Tapi, gak gini juga dong, Kek!" protes Alex frustasi.
"Sebelumnya, ar minta maaf jika menyela pembicaraan kalian. Tapi, bener apa kata, Mas Alex. Ara juga malu, kalau sampai kakek, papa, dan juga mama mengecek hal itu," celetuk Aurora Setelah sekian lama terdiam di kursi.
"Tuh, dengerin apa kata menantu kesayangan kalian semua. Dia aja malu," timpal Alex sambil melengos.
Akhirnya, perdebatan masalah pagi hari sang pengantin baru pun dimenangkan oleh Alex dan Aurora. Semua terjadi karena gadis itu menyuruh mempercayakan kepadanya dan suami, walau dalam hati dia sedikit takut.
Setibanya di kamar milik Alex yang kini beralih fungsi menjadi kamar mereka berdua, Aurora hanya berdiri diam sambil melihat ke sekitar. Tadi siang dirinya dikunci di luar oleh sang suami sehingga memilih memutuskan untuk menghabiskan waktu di taman belakang bersama Tyas.
"Mas, apa aku boleh memainkan permainan yang ada di sini?" Ya, permainan yang dimaksud oleh Aurora ada di kamar sang suami. Luasnya pun sudah seperti Timezone yang ada di mall, sungguh mencengangkan.
Gadis itu terus saja berceloteh ini dan itu. Mengagumi begitu banyaknya permainan yang selama ini hanya bisa dia lihat di tv, tanpa bisa memainkannya. Maka dari itu, setelah mendapatkan kesempatan secara langsung. "Mas, boleh yah aku mainin permainan ini sebentar aja. Please!"
"Mas!" Aurora kesal karena tak mendapatkan sahutan apa pun, padahal di kamar ada sang suami. Akan tetapi, entah kenapa pria itu justru tidak menyahut. "Ish, pelit banget, sih!" Dia akhirnya menoleh dan menemukan pria tersebut kini tengah menggigil kedinginan di atas ranjang. Sontak hal itu membuatnya panik. "Mas Alex kenapa? Sakit?"
"Arghh, Sial! Sepertinya, Kakek memberikanku obat perangsang. Njir, sakit banget lagi. Arghhh, aku butuh seseorang untuk membantuku lepas dari rasa sakit ini!" Sayup-sayup terdengar suara perempuan yang entah kenapa sentuhannya mampu mengalirkan sengatan di tubuhnya. "K-ka-mu siapa?"
Aurora menatap suaminya tak percaya. "Ini aku, Ada, Mas. Istrimu. Mas Alex kenapa? Apa ada yang sakit? Biar Ara bantu sembuhkan?"
Perkataan itu justru ditangkap lain oleh pria yang kini tengah butuh belaian. Alex dengan cepat menarik tangan gadis itu dan membalik posisinya hingga kini dia berada di atas. "Selain udik, miskin, dan juga jelek. Ternyata kamu licik juga ,yah?"
"Apa maksud kamu, Mas?" Aurora berusaha lepas dari cengkraman tangan Alex, tetapi tenaga pria itu begitu kuat hingga sekuat apa pun ia meronta, justru yang didapatkan hanya sakit. "Lepas, Mas!"
"Kenapa minta dilepaskan? Bukankah ini yang kalian inginkan?" Alex yang sudah dipenuhi kabut nafsu, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga si istri. "Menitipkan Benih untukmu?" sambungnya menyeringai.
Setelah itu, kamar pengantin pun diisi oleh suara pekikan dan tangisan dari Aurora. Sang suami begitu kasar hingga gadis tersebut menjadi trauma karena beberapa kali harus mendapatkan pukulan di tubuhnya.
"Apa seperti ini sebuah penyatuan? Jika memang iya, maka aku lebih memilih untuk tidak mau melakukannya lagi. Sakit … Ini terlalu sakit bagiku! Mas Alex terlalu kasar padaku. Aku gak mau lagi!" batin Aurora dengan tubuh yang kini sudah banyak dipenuhi oleh tanda merah dan biru.
Alex menyeringai saat nafsunya sudah terealisasikan. Tidak ada penyesalan dalam hatinya saat melihat istrinya yang meringkuk di samping ranjangnya. "Rasakan! Suruh siapa minta dititipin benih sama aku!"