Bab 8. Kembali Bereaksi

1061 Words
Paginya, Aurora terbangun dengan keadaan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Dia lalu menatap wajah Alex yang ternyata sudah bangun terlebih dahulu. Jika biasanya orang baru saja mengalami kekerasan seksual akan menangis maka dia tidak. Dengkusan keras keluar dari bibir berwarna merah itu saat sang suami justru menyeringai padanya. "Dasar suami menyebalkan! Apa situ gak bisa memperlakukan istrinya dengan lembut? Dasar, Banci!" "Kamu ngomong apa?" Alex langsung menarik tangan Aurora yang hendak beranjak dari ranjang. "Situ, Banci! Puas!" teriak Aurora tepat di depan wajah Alex. "Yakh, berani sekali kamu mengatai suamimu ini dengan kata-kata pengecut itu. Kamu mau mati?" Kembali Alex mencengkram tangan Aurora, tetapi dengan cepat ditangkis oleh si perempuan. Setelah itu sebuah tamparan mendarat tepat di wajahnya. "K-kamu!" "Aku lebih baik mati daripada harus berhadapan dengan lelaki pengecut seperti kamu! Dasar biadab!" "Katakan sekali lagi?" "Dasar Banci, biadab, gila!" "Yakh!" Teriakan Alex sama sekali tidak digubris oleh Aurora. Pria itu memukul selimut yang sedari tadi menutupi tubuh polosnya. Dia merasa tidak terima karena sudah ditampar oleh sang istri. "s**t!" umpatnya. "Eh, apa itu?" Ekor mata Alex tiba-tiba melihat sesuatu yang berbeda di sprei yang mereka pakai dan senyuman penuh kemenangan langsung terulas. "Ckckck, ternyata dia beneran masih perawan?" "Pantas saja rasanya berbeda," ujarnya sambil tersenyum puas. Dia kemudian menyibakkan selimutnya dan mengambil boxer yang ada di atas lantai. langkah kakinya berjalan begitu santai menuju space permainan basket ball. Alex terus melempar bola tersebut hingga sudah banyak masuk ke dalam ring. Namun, si istri belum juga keluar. "Itu orang mandi apa mati, sih!" keluhnya. Tidak berselang lama, Aurora keluar dari kamar dengan menggunakan bathrobe. Sontak hal itu membuat Alex mendengkus. "Kenapa kamu memakai handukku? Apa kamu tidak tahu jika itu sangat mahal?" "Apa, sih? Gak usah lebay gitu, deh! Situ selain menyebalkan, pelit juga, eoh?" Dengan kesal, Aurora segera melepas bathrobe itu hingga mempertontonkan tubuh molek si istri yang terdapat begitu banyak bekas kissmark di sana. "Timbang masalah handuk doang aja heboh. Katanya kaya, tapi kelakuan meditnya melebihi jangkrik," lanjutnya mencibir. "Apa kamu gila?" Alex benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Aurora. Gadis itu, ah, bukan gadis lagi karena sudah diambil keperawanannya oleh dirinya. "Bagaimana kamu bisa berjalan di depanku tanpa mengenakan sehelai benang pun? Sinting kamu, yah!" Aurora tidak peduli dan tetap memakai pakaiannya tanpa memedulikan ocehan dari Alex. "Diamlah! Apa kamu gak tau kalau tubuhku ini sedang sakit?" Diam-diam perempuan itu mengusap wajahnya. "Kamu jahat! Kamu tuh nyebelin! Aku benci sama kamu!" Alex mengernyit, tetapi dalam sekejap ekspresi tidak peduli terpancar di sana. "Baguslah! Seenggaknya kamu tau harus seperti apa padaku!" Aurora menatap Alex dengan wajah basahnya. Tatapannya begitu dingin dan menyimpan banyak rasa di sana. "Akan aku buat dirimu berbalik mengemis cinta padaku, Mas!" ucapnya dengan serius. Alex tertawa. "Lakukan! Aku akan menunggu saat di mana aku mengemis cinta padamu, Bocil! Karena sampai kapan pun aku … Alex Sasongko tidak akan pernah jatuh pada bocah sinting kayak kamu!" "Kita lihat saja!" Setelah itu, Aurora berjalan keluar kamar dengan sedikit pincang. Bagian intimnya masih terasa linu ketika diajak berjalan, tetapi dia paksakan karena enggan satu ruangan bersama dengan suami labil seperti Alex. Pria itu sungguh menyebalkan dan ia sudah me-blacklist Alex hingga beberapa minggu ini untuk tak diajak bicara. Alex sendiri mendengkus sinis saat melihat kepergian Aurora dari kamar. Dia segera melempar bola yang memang sedari tadi dipegang ke arah ring dengan keras. "Berani sekali dia mengancamku seperti itu! Apa dia tidak tahu jika diriku ini tidak mudah ditaklukan oleh sembarang orang! Cih, kita liat saja bagaimana akhirnya. Aku yakin, justru dia yang akan datang dan mengemis cinta padaku!" Dengan kesal Alex kemudian berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya yang lengket. Namun, bayangan akan kegiatan semalam bersama sang istri mampu membuat pria itu meringis. "Ngapain sih mikirin hal kayak gitu, Lex? Penting juga gak!" Kenyataannya, miliknya justru bereaksi kembali hanya dengan mengingat sosok Aurora, apalagi saat tubuh molek istrinya tadi kembali terpampang. "s**t! Come on, Lex! Kamu gak usah gila, deh! Buat apa mikirin wanita sinting yang bisanya cuma bikin orang sakit hati!" "Ah, palingan ini hanyalah sisa reaksi dari obat perangsang itu. Iya, itu pasti karena hal itu," elak Alex hingga akhirnya dia memutuskan untuk bermain solo. Sementara itu, di dapur kini sudah ada para koki yang tengah meracik sarapan pagi buat keluarga Sasongko. Namun, ada pemandangan lain di sana, yaitu keberadaan sang menantu yang tengah mencuci ikan. "Nona, biar saya saja. Sebaiknya Nona tunggu di depan saja! Nanti, kalau Tuan dan Nyonya liat, kami yang akan dimarahi!" "Gak akan. Lagian aku juga tidak mungkin membiarkan kalian memasak, sedangkan aku duduk nyaman di kursi.” “Tapi, ini sudah jadi pekerjaan kami, Nona.” “Ada apa ini? Loh, kok kamu sudah di sini, Sayang?” Tyas yang hendak mengambil air putih untuk suaminya, terheran-heran melihat keberadaan Aurora di dapur. “Apa kamu sudah sholat, Nak?” “Sudah, Ma. Tadi jamaah bareng Mang Asep.” “Apa suamimu belum bangun?” “Sudah, Ma. Tadi lagi mandi.” “Lalu apa yang kamu lakukan di situ? Kenapa tidak menemani suamimu di kamar?” Tangan Aurora segera mengepal saat diingatkan dengan suaminya. Namun, dia berusaha untuk tetap tersenyum. “Ara sudah menyiapkan baju dan juga menaruh teh yang biasanya Mas Alex minum di kamar, Ma,” jawabnya. “Yaudah, kalau begitu kamu temani Mama buat nyiram tanaman bunga di samping, bagaimana?” Tyas memberi usul. “Lalu masakan ini?” “Biarkan koki yang mengurusnya, Sayang. Yuk!” ajaknya. "Hm!" Tyas kemudian menyuruh Aurora untuk pergi dulu karena dia harus mengantarkan minum ke sang suami. Akan tetapi, sebelum pergi dia segera memberi wejangan kepada orang-orang yang ada di dapur. “Lain kali jangan biarkan Nona Muda berada di dapur!” peringatnya kepada kepala koki. “Baik, Nyonya!” * Acara sarapan pagi yang jelas berbeda kini tengah dirasakan oleh Aurora. Jika biasanya meja makan akan diisi beberapa makanan sederhana seperti nasi, tempe goreng, kerupuk, dan juga tumisan. Kini, meja itu terlihat penuh, padahal yang makan hanya ada 5 orang saja, tetapi yang tersedia sudah seperti untuk satu RT. "Gimana rencana kamu hari ini, Lex?" "Gak ada, Kek. Bukankah biasanya aku juga tidak akan melakukan apa pun?" tanya pria itu balik. "Maaf, Kek. Apa Ada boleh bicara?" "Silakan, Nak!" Aurora berdeham, lalu melihat ke arah Prabu. Diacuhkannya Alex yang kini tengah harap-harap cemas. Takut, jika sang istri akan mengadukan kejadian tadi malam pada keluarganya. "A-aku … ."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD