Bab 9. Ternyata Si Dekil

1091 Words
"Ini perempuan nggak bakalan ngaduin tentang masalah semalam, kan? Awas aja, kalau sampai dia ngomong yang nggak-nggak sama Kakek, Papa, dan juga Mama. Aku gak bakal tinggal diam dan akan kubuat dia menjerit nanti malam!" batin Alex sambil menatap datar Aurora. "Ada apa, Ara? Katakan Saja!" ucap Tyas kepada sang menantu. Aurora terlihat mengambil nafas, kemudian membuangnya dari mulut. Dia terlihat begitu gugup dan tahu apa yang akan dia katakan hingga membuatnya menjadi grogi. "Jadi begini, Ma, Pa, Kakek, dan juga Mas Alex. Sebenarnya besok Ara dan juga beberapa anak Panti akan mengadakan sebuah acara ya memang setiap satu bulan sekali diadakan di sana," jedanya sambil melihat ke arah keluarga barunya. "Lalu?" tanya Tyas. "Tapi, karena Ara sudah menjadi bagian dari keluarga ini, Ara mau meminta izin kepada kalian semua untuk hadir dalam acara tersebut dan Ara juga meminta izin untuk menginap nanti malam di Panti karena pasti di sana tengah sibuk. Apa boleh?" Diam-diam Alex bernafas lega. Dia kemudian melanjutkan makan tanpa memedulikan apa yang baru saja dikatakan oleh Aurora. "Bodo amat! Mau menginap, kek, atau gak itu bukan urusanku. Yang penting aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini tanpa ada wanita udik itu di kamarnya," gumamnya senang. "Wah, tentu saja boleh. Mama juga pasti akan datang besok. Tapi, maaf kalau untuk menginap, tidak bisa. Karena Mama Papa juga ada acara nanti malam. Tapi, besok siang pasti kami akan datang. Bukankah begitu, Pa?" tanya Tyas kepada Dadu. "Iya, Ma. Kamu tenang saja, Nak. Kami pasti datang, kok. Tidak mungkin kami melewatkan acara seperti itu dan coba kamu ajak suami kamu! Mungkin saja dia bisa tertarik dengan acara tersebut!" "Aku?" Alex menunjuk dirinya sendiri dengan wajah terkejut. "Mana mungkin aku mau datang ke tempat orang-orang seperti dia lebih baik aku pergi ke diskotik–" "Alex jaga bicara kamu!" potong Prabu saat melihat cucunya berkata dengan begitu kasar. "Seharusnya kamu itu bisa mencontoh istri kamu. Mereka yang kata kamu tidak memiliki apa pun, justru mempunyai sifat peduli kepada sesama. Mereka mau membantu, mau saling bergotong-royong, tetapi kamu apa? Yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang!" "Lagi-lagi masalah uang. Please, deh! Bukankah Kakek hanya memberikan syarat untuk aku menikah dengan wanita itu? Ah, for you information … aku sudah menitipkan benih seperti apa yang kalian suruh. So, apa aku harus melakukan beramah tamah dengan orang-orang yang jelas bukan levelku?" tanya Alex jijik. "Itu tidak akan pernah terjadi!" "Sudah tidak apa, Kek. Mas Alex mungkin benar jika kami ini tidak selevel dengan kalian. Lagian, acara ini juga tidak akan–" "Ara, kamu tidak perlu mengiyakan ucapan suamimu! Dia itu selama ini hidup di zaman gila sehingga tidak tahu caranya hidup bersosialisasi dengan masyarakat," ucap Prabu sambil melirik sinis sang cucu. Alex langsung membanting sendoknya. Dipandangnya sengit Aurora yang sama sekali tidak berniat membalas tatapannya. "Gadis sialan! Awas saja nanti, aku pasti akan membuatmu menyesal karena sudah membuatku semakin buruk di depan keluargaku!" batinnya penuh dendam. "Kenapa, Mas? Apa aku cantik hingga membuatmu tak bisa mengalihkan perhatian?" Tiba-tiba Aurora meletakkan sikunya di atas meja dengan dagu ditopang. Mengedipkan mata genit ke arah sang suami. "Cantik dari Hongkong!" Alex mendorong kening Aurora sinis, lalu setelah itu pergi meninggalkan ruang makan. "Dasar bocah tidak sopan!" cibir Prabu saat melihat Alex pergi. Pria itu lalu melihat ke arah Aurora. "Kamu tak apa, Nak?" Aurora mengangguk. "Mas Alex mungkin hanya malu, Kek, buat mengakui jika istrinya ini cantik. Makanya dia pergi," kikiknya. "Astaga, Nak. Kakek beneran udah gak tau harus bagaimana lagi menasehati suamimu itu. Yang kakek harapkan dari kamu adalah sabar dan tawakal. Doakan Alex agar bisa menjadi pemimpin keluarga kecil kalian kelak. Apa kamu mau, Nak?" Prabu menatap Aurora dengan penuh sesal. Aurora tersenyum kecil. "Doakan saja, Kek! Semoga Tuhan segera membukakan pintu hati Mas Alex." Perempuan itu sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Prabu karena untuk sekarang fokusnya hanya ke panti. "Kalau begitu, Ara izin berangkat sekarang, yah?" "Iya, Nak. Biar Papa antar!" Dadu segera bergegas bangun dan menuju garasi. "Tapi–" "Udah gak apa-apa, Nak. Lagian papamu juga sekalian mau ke kantor, kok. Udah sana!" Prabu dan Tyas mengantarkan Aurora hingga mobil yang ditumpangi oleh mereka menghilang dari balik pintu gerbang utama. Sementara itu, Alex yang sedari tadi ada di balkon kamar hanya menatap datar mobil sang ayah. Dia mengembuskan kepulan asap rokok ke udara. Keadaan hati dan pikirannya kini tengah semrawut dan itu semua karena si gadis udik dan jelek Aurora. "Jangkrik! Kalau udah kek gini aja aku gak tau harus ngapain. Padahal hari ini Dika ngajakin nongkrong di cafe, tapi entah kenapa aku males banget. Asem! Mana ini punyaku kagak mau diem lagi!" omel Alex sambil melihat ke arah bagian bawahnya. Si junior ternyata ketagihan dengan si pemilik baru hingga hanya dengan membayangkan semalam saja langsung turun on. "Kamu itu harusnya gak usah bereaksi begitu bisa gak, sih! Malu-maluin tau gak? Masa sama bocah dekil kek gitu aja malah nepsong. Si Ting kamu, yah!" Alex sudah seperti orang gila karena berbicara pada sesuatu yang sama sekali tidak bisa berbicara. Dia kemudian menyerah dan memilih untuk mengambil pil yang biasanya digunakan ketika dirinya tidak bisa memejamkan mata. "Aku harap dengan ini ketika bangun semuanya sudah usai!" harapnya. * Malam harinya, Alex Barus saja terbangun setelah efek obat tidur itu habis. Tepat pukul 1 dini hari dan dirinya justru bergentayangan di rumah. Sepi dan hanya ada pria itu seorang. Lapar kini tengah dirasakan olehnya. "Argh, kenapa harus habis sih makanannya?" Alex menutup pintu kulkas keras. Stok ice cream yang biasanya selalu ada, justru tidak ditemukan. "Masa iya aku harus keluar rumah buat beli itu doang? Tapi, aku pengin!" Mau tidak mau, akhirnya Alex mengambil jaket dan juga kunci mobil. Si satpam yang berjaga segera membuka gerbang untuk tuannya. Dia jelas tidak berani bertanya karena masih ingin bisa melihat hari esok di rumah Sasongko. Sambil menyetir, bibir pri tampan itu terus saja melantunkan musik rock kesukaannya. Keadaan lengang membuat dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tanpa takut ada kendaraan lain yang melintas. "Dasar Banci! Baru segitu doang aja udah kalah!" teriak Alex saat bisa mendahului salah satu mobil yang tadi mengajaknya tanding. "Pulang aja sono, Nen tuh ke emak kalian!" Tawa bahagia dan puas kini tengah terulas di bibir Alex. Dia kemudian memarkirkan asal mobil mahalnya di salah satu gerai terdekat yang menjual berbagai macam makanan dan kebutuhan lainnya. Walaupun sudah malam, tetapi supermarket tersebut buka 24 jam non stop. "Loh, bukakan itu si dekil? Sama siapa dia?" Alex menyipitkan mata saat melihat seseorang yang dikenalnya tengah duduk berdua dengan lelaki di bawah pohon mangga. "Ckckck, ternyata tampangnya aja yang polos, tapi kelakuan kek p***k!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD