Bab 10. Luka di Bibir

1004 Words
"Woi, p***k!" Dua orang yang kini tengah beristirahat setelah seharian membuat hiasan di panti segera menoleh ke sumber suara. Reaksi keduanya pun terlihat mengernyit bingung, tetapi bukan itu yang jadi soal, melainkan tangan si pria. "Tuli kamu!" "Mas, tolong jaga bicara Anda! Kenapa kata-kata yang keluar dari mulut Anda ini tidak sopan!" Si lelaki berkaos putih polos terlihat menegur orang di depannya. "Kenal aja enggak, tapi bicara Anda sungguh tidak baik, Mas!" "Gak usah banyak bacit, deh! Situ kalau mau pakai perempuan itu yang kastanya lebih tinggi, dong." "Apa maksud kamu?" Bintang nama pria itu, lalu menoleh ke arah Aurora yang terlihat begitu dingin menatap pria di depan sana. "Apa kamu mengenal dia, Ra?" Aurora tersenyum sinis. "Dia itu suamiku, Mas BI," akunya malas. Bintang menatap tidak percaya akan sosok tampan di depannya, kemudian melihat ke arah Aurora lagi. "Lalu, bagaimana?" Tanpa mau memandang lagi sang suami, Aurora segera berdiri. "Pulanga jam, yuk, Mas Bi. Takut bunda nyariin!" ajaknya pada Bintang. "Yakh, mana sopan santun mu kepada suami?" Alex yang tidak terima diacuhkan segera menarik lengan Aurora kasar. "Jangan bertingkah, deh, jadi cewek miskin!" Bintang yang melihat perilaku kasar Alex kepada Aurora segera mendorong pria itu. "Tidak ada seorang suami yang menghina istrinya sendiri!" Jari telunjuknya menunjuk geram wajah pria di depannya, sedangkan tangan satunya lagi dipakai untuk menyembunyikan gadis tersebut. Alex menyeringai sinis. Dia merasa harga dirinya tercoreng tatkala mendapatkan sebuah peringatan dari orang miskin. Pria itu tertawa kencang hingga beberapa orang lewat sampai melihat ke arahnya. Namun, kembali berjalan acuh tanpa memedulikan jika tengah ada perdebatan di sana. Aurora sendiri benar-benar malas berhadapan dengan Alex. Dia sudah mengikrarkan untuk tidak menganggap pria di depan sana sebagai suami karena alasan perlakuan buruk orang tersebut. "Mas Bi, pulang aja, yuk! Orang gila seperti dia tidak akan mengerti gaya bicara kita!" "Kalau begitu kita pergi sekarang!" Bintang langsung menarik tangan Aurora untuk menjauh dari lelaki yang mengaku sebagai 'suami', tetapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan sebagai 'suami'. Alex yang kembali diabaikan merasa emosinya mendidih. Dikejarnya perempuan itu, lalu ditarik tangan Aurora yang sedari tadi berada dalam genggaman Bintang. Dicium istrinya itu kasar tanpa peduli dengan penolakan yang diberikan oleh wanitanya. Bintang langsung menarik lengan Aurora yang memang terlihat tidak nyaman dilecehkan oleh suaminya. "Bangsul!" Dibogemnya wajah Alex dengan begitu keras hingga terpental ke aspal. "Sekali lagi Anda memperlakukan istri Anda dengan kasar, akan kubuat perhitungan kepada Anda! Camkan itu!" "Sudah, Mas! Kita pulang aja!" Tubuh Aurora kini sudah mulai bergetar menahan tangis. Sikap Alex memang sungguh keterlaluan dan semena-mena. "Tapi, dia harus diberi pelajaran, Ra! Lelaki berengsek seperti dia itu tidak pantas dikasihani!" Bintang masih terlihat penuh amarah. Dia bahkan menatap benci kepada Alex yang kini tengah mengerang sakit sambil memegang pipinya. "Lagian kenapa kamu tidak tendang saja miliknya? Kamu itu jago silat, kenapa.mau saja dilecehkan oleh orang itu, Ra!" "Udah, Mas Bi. Kita pulang aja!" Aurora berusaha untuk menarik tangan Bintang untuk segera pergi dari tempat tersebut. Dia takut jika ada hal-hal yang buruk jika mereka tetap berada di sana. Bintang pun tak bisa menolak, apalagi saat melihat wajah Aurora yang sudah ketakutan. Dia kemudian mencoba mengontrol emosinya dan setelah reda, barulah diajaknya gadis yang sudah dianggap sebagai adik itu pergi dari tempat tersebut. "Kita pergi sekarang!" Aurora mengangguk. Dia kemudian membiarkan tangan Bintang merangkul bahunya dan membawanya menuju motor matic milik pria tersebut. Saat akan benar-benar pergi, mata itu mencuri pandang ke arah belakang dengan tatapan yang sulit diartikan. Akan tetapi, hanya sebentar karena setelah itu ia memilih abai. Alex yang melihat Aurora dibawa pergi oleh Bintang langsung mengumpat kesal. Namun, dia kembali diam saat rasa linu sekaligus nyeri di pipinya. Bekas bogeman dari pria tadi benar-benar membuatnya kesakitan. "Dasar b*****h kuampret! Berani sekali mereka membuatku terkapar seperti ini! Akan kubalas rasa sakit ini nanti, lihat saja!" Setelah itu, Alex pun mencoba berdiri dan berjalan kembali ke mobilnya. Digerak-gerakkan otot wajahnya agar tidak terlalu kaku. "Sepertinya aku harus kembali melatih otot-ototku agar tidak mudah dikalahkan oleh orang miskin itu," ujarnya penuh emosi. Dirasa sudah jauh lebih baik, Alex kemudian memilih untuk kembali ke apartemen. Dia tidak mungkin pulang ke rumah dalam keadaan wajah pipi biru karena pasti yang ada Prabu akan semakin memandangnya minus. Sudah cukup kesialannya kemarin, sekarang dia harus lebih berhati-hati lagi dalam bertindak jika tidak ingin semua miliknya diambil lagi oleh Prabu. Sesampainya di apartemen, Alex segera menelpon seseorang. "Bawakan aku satu perempuan dan kirim ke apartemenku!" Setelah itu, diputuskan panggilan. Dia butuh pelampiasan jika tidak, bisa meledak emosinya sekarang. Keesokan harinya, Acara bulanan yang diadakan oleh Panti Asuhan Delima sudah berjalan dengan lancar. Kini, tinggal acara makan-makan dan juga beramah tamah dengan tamu yang datang. "Masya Allah, Ara. Kamu cantik sekali!" puji Tyas saat melihat menantunya memakai jilbab. Aurora terkekeh malu. "Makasih. Mama juga cantik, kok. Oh, iya. Kata Bunda, terima kasih atas bingkisan dan makanannya. Kok, malah jadi ngerepotin, Ma," ujarnya tidak enak hati. Tyas mengusap kepala Aurora yang hari ini ditutupi oleh jilbab. "Semua itu dilakukan atas izin Allah dan kami hanya sebagai perantara saja, Sayang." "Masya Allah, begitu baik dan tulus hati kalian. Ara bangga punya kalian. Terima kasih, Ma!" Aurora memeluk tubuh snag mertua. "Ara, apa suamimu sempat menemuimu hari ini?" Tiba-tiba Tyas bertanya akan keberadaan Alex hingga membuat perempuan itu gugup dan hal itu sempat membuatnya bingung. "Apa terjadi sesuatu, Nak? Eh, bibir kamu kenapa, Ra?" Aurora langsung menundukkan wajahnya. "Oh, ini tadi gak sengaja kepentok pintu, Ma," kilahnya. Tyas tidka percaya begitu saja. Dia langsung mengangkat dagu menantunya dan dilihat dengan teliti akan luka sobek itu. "Ini bukan kepentok pintu, iya, 'kan? Kamu jangan bohongi Mama, Nak!" Perempuan cantik itu terlihat bingung harus menjelaskan bagaimana. Dia tidak mungkin mengatakan jika ini semua itu ulah Alex karena itu sama saja akan membuka masalah baru. Aurora menggeleng dan memberikan senyum manisnya. "Mama gak usah khawatir, ini hanya luka biasa, kok!" "Bukan masalah luka biasa dan tidaknya, Ara. Tapi, siapa pelaku yang sudah membuat menantuku menjadi seperti ini? Aku harus mencari tahu alasannya, Nak!" ucap wanita paruh baya itu dengan sungguh-sungguh. "Itu karena aku, Ma!" "Alex?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD