Dengan sangat terpaksa, akhirnya Melly kembali ke kantor dengan dijemput oleh seorang supir. Sebelum Ivan pergi meninggalkan Melly di butik. Lelaki itu telah menghubungi seseorang agar segera menjemput Melly.
Sedari tadi Melly hanya diam sembari menatap jalanan. Hingga beberapa menit berlalu, kendaraan yang di tumpangi Melly sudah memasuki kawasan gedung perusahaan tempat dia bekerja.
Pandangan perempuan itu berhenti pada titik, di mana dia dapat menangkap seorang perempaun cantik sedang bergelayut manja dengan seorang lelaki yang dia kenal.
"Dasar Playboy. Kambing dibedakin juga, pasti dia mau," Umpat Melly hanya di dalam hatinya.
Mata Melly seketika melotot tajam. Betapa terkejutnya dia, saat melihat perempuan cantik nan seksi tengah mencium bibir lelaki itu tanpa rasa malu. Sekalipun di lihat orang lain yang berlalu lalang didepannya.
"Dasar pasangan m***m yang tidak pernah tahu tempat," Umpatnya lagi dengan pelan, namun kali ini dia langsung mendapat respon dari sang supir.
"Ya, kenapa Mbak?" tanya sang supir
"Ah, nggak Pak." Sahut melly yang tak enak hati kepada sang supir, karena umpatan yang keluar dari bibir nya terdengar oleh lelaki itu. "Pak. Bisa saya turun di Basement? Tolong jangan turun di Loby," Pinta Melly ke arah sang supir.
"Siap, Mbak."
Sesuai permintaan. Kini Melly sudah sampai di Basement gedung perusahaan. Melly keluar dari dalam mobil berlalu untuk masuk ke dalam Lift. Dia berdiri menunggu di depan lift khusus Direksi. Menuju lantai 20, di mana lantai tersebut adalah ruangan kerja nya.
Tiing!!
Mata Melly membulat. Dia terkejut saat mendapati lift berhenti tepat dihadapannya, dengan dua orang yang tidak tahu malu itu tengah berciuman di dalam sana. Tanpa menghiraukan dua orang itu, Melly tetap masuk ke dalam lift tersebut.
Perpagutan itu terlepas saat menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam lift bersamanya.
Diam, hanya itu yang bisa Melly lakukan. Sesekali matanya melirik ke arah pantulan dinding lift yang berada tepat dihadapannya. Pedih dan sakit, hanya itu yang dia rasakan saat ini. Melihat lelaki yang dicintainya dekat dengan orang lain, tapi bukankah selama ini begitu. Lelaki itu kerap kali membawa pasangan ke dalam ruangan nya dengan bergonta ganti perempuan.
Lalu siapa dia? Hanya seorang sekertaris, yang sama sekali tidak pernah di anggap oleh lelaki itu.
Melly menghela napasnya sejenak, sembari memejamkan mata. Menahan akan sesak yang dia rasa kan di d**a agar sedikit berkurang. Beginikah, rasanya memendam perasaan terhadap seseorang yang sama sekali tidak pernah tahu tentang rasa itu.
Bunyi suara lift berdenting, seiring pintu tersebut terbuka dengan lebar. Bergegas Melly keluar dari dalam kubikel tersebut, tanpa menoleh atau berbasa basi dengan orang di belakang nya itu.
Ivan mengernyitkan kening tanda bingung, melihat tingkah sekertarisnya. Akan tetapi, lelaki itu tidak mempedulikan atau mempermasalahkan itu.
"Sudah menghindarinya, kenapa masih saja bisa ketemu sama pasangan m***m yang enggak tahu malu." Kesal Melly saat sudah sampai di meja kerjanya. "Huuh.. tenang, Mel. Kamu bisa melupakannya. Aaah... tapi ini terasa sakit juga," lirihnya sembari menelungkupkan kepala di atas meja kerja.
***
Seminggu berlalu....
Bunyi suara panggilan pada ponsel, mengusik ketenangan seseorang yang baru saja beberapa jam lalu tengah tertidur pulas. Dari nada dering itu, dia sudah bisa mengenali siapa yang tengah menghubunginya. Sudah pasti atasan nya, dengan sangat terpaksa tangan itu terulur untuk menggeser ikon penggilan berwarna hijau itu, lalu mendekatkan pada telinganya.
"Halo.." sapa seseorang diseberang sana.
"Hemm..." Melly yang setengah sadar, dan baru saja bangun dari tidur mengucek mata. Menatap telepon itu, lalu mendekatkan kembali ke telinganya.
"Halo..." sapa orang diseberang sana kembali, karena tidak mendapat jawaban dari orang yang tengah dia hubungi.
"Ah iya, maaf ini siapa ya? Kenapa ponsel bos saya bisa bersama anda?" Melly penasaran, yang langsung membrikan rentetan pertanyaan pada orang di sana.
"Saya petugas Glas House Club, bisa anda datang menjemput seseorang. Saya mencari telepon genggam lelaki yang saat ini sudah mabuk, untuk menghubungi siapa saja yang bisa menjemputnya. Karena Club kami sudah akan tutup," Terang petugas Club itu.
"Ah, ya, baik. Saya akan segera datang. Tapi tunggu dulu, ini benar tidak bohong kan?" tanya Melly karena dia takut ini penipuan. Sebab jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
"Ya, benar, Mbak. Sepertinya yang punya ponsel ini sudah tidak sadarkan diri. Karena beliau minum terlalu banyak. Bisa segera datang."
"Baik lah, bisa kirim lokasi anda saat ini."
Melly menutup sambungan telepon itu setelah orang di seberang sana mengirimkan lokasi. Dia bergegas untuk pergi menjemput atasan nya dengan masih menggunakan piyama tidur yang dia tutupi dengan jaket Jeans.
Melly mengendarai mobil nya sendiri. Menuju titik lokasi yang telah dikirimkan oleh petugas yang menghubunginya tadi dengan kecepatan sedang.
"Kenapa kamu selalu saja menyusahkan aku. Nggak Di kantor, di rumah, kamu masih saja menyusahkan. Tapi aneh, kenapa aku bisa cinta sama kamu? bahkan ini sudah bertahun-tahun lamanya." gerutu Melly di sepanjang jalan, sesekali gadis itu menguap menahan rasa kantuk.
Mobil yang dia kendarai Melly sampai di titik lokasi, sekitar 45 menit dari rumah. Karena di jam seperti itu jalanan cukup lengang bahkan terlihat sepi. Melly turun dari dalam mobil, mengedarkan pandangan, melangkah masuk ke dalam Club. Beberapa pasang mata yang berpapasan dengan Melly menatap lekat dan penuh minat. Satpam yang bertugas menjaga Club itu memperhatikan Melly.
Tanpa menghiraukan orang-orang itu, Melly terus saja menatap sekeliling mencari keberadaan seseorang yang akan dia jemput. Melly dapat mengenali lelaki yang tengah merebahkan kepala pada sandaran sofa yang tengah Ivan duduki. Menatap atap langit-langit ruangan temaram, tangan lelaki itu dia rentangkang dikedua sisi sandaran sofa tersebut. Melly terus melangkah, mendekati lelaki itu. Menelisik dengan seksama wajah tampan dari cinta pertama nya itu. Takutnya dia salah orang.
"Pak." Panggil Melly, tanpa mendapat tanggapan dari lelaki itu yang hanya diam tak bergeming. "Pak. Ini tempatnya sudah akan tutup." Melly mendekati Ivan, kemudian menyentuh lengan lelaki itu, agar menoleh kepadanya. "Tadi pegawai di sini menghubungi saya, supaya saya segera menjemput bapak." Kembali menjelaskan maksud dan tujuan dia datang ke tempat ini.
Ivan menoleh ke arah Melly, lalu dia tertawa sembari berusaha bangkit dari duduknya. "Akhirnya kamu datang juga dan mau kembali padaku. Sudah ku bilang, dia lelaki yang nggak akan bisa kamu percaya. Dia itu lelaki paling brengsek." Racaunya hampir saja jatuh, kalau Melly tidak menahan berat bobot tubuh atletis milik Ivan.
Bau alkohol menyengat di indra penciuman Melly, dia mengibaskan tangan dan menutup hidung agar sedikit mengurangi rasa mual ditenggorokan. Menatap sekeliling ingin meminta tolong pada seseorang. Tidak mungkin dia memapah lelaki itu seorang diri.
"Sungguh sangat menyusahkan... Pak, tolong. Bisa bantu saya memapah bos saya ini."
Beruntung, Melly di bantu dengan satu orang petugas keamanan memapah lelaki itu untuk masuk ke dalam mobil miliknya. Dengan sedikit memberikan upah pada lelaki berambut plontos itu. Melly mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartment milik, Ivan.
Melly melihat pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi. Menggelengkan kepala lalu turun dari dalam mobil, mencari seseorang untuk dia mintai bantunnya. Kebetulan sekali satpam sudah mengenal dia, karena Melly termasuk yang sering bolak balik datang ke sana. Walau, hanya, sebatas di suruh mengantar atau mengambil berkas-berkas penting oleh Ivan.
"Loh, Mbak Melly"
"Pak. Bisa tolong bantu saya memapah, Pak Ivan."
"Bisa, Mbak."
Mereka masuk ke dalam lift. Hanya saja, satpam tersebut mengantar Melly cuma sampai keluar dari dalam kubikel tersebut. Kemudian turun untuk kembali bertugas, karena mungkin akan ada pergantian penjagaan setelahnya.
"Kamu itu berat sekali, kebanyakan dosa ini. Menyusahkan aku saja." Melly terus saja menggerutu sembari melangkah pelan dan tertatih menahan beban bobot tubuh lelaki itu.
Melly membuka pintu unit kamar apartment milik ivan, menggunakan kunci akses lewat sidik jari lelaki itu. Dia masuk ke dalam nya, menurunkan lelaki itu duduk di atas sofa. Melly kembali mengunci pintu apartment, mencoba memapah kembali Ivan menuju kamar pribadi milik lelaki itu di lantai atas.
Merebahkan Ivan di atas ranjang saat sudah sampai di kamar. Membuka sepatu lelaki itu, lalu beralih membuka kancing kemeja teratas hanya dua kancing yang Melly buka. Mengatur suhu pendingin ruangan, menyelimuti lelaki itu yang sudah tidak sadarkan diri karena terlalu mabuk, mungkin saja sudah terlelap.
Tugas Melly sudah selesai, hanya sampai mengantarkan lelaki itu tidur di atas ranjang miliknya. Dan dia segera keluar menuju Pantry, karena dia merasakan haus, napas nya saja kembang kempis seperti habis mengangkat karung beras. Membuka kulkas kemudian meneguk habis air dingin itu. Mengusap peluh yang sedikit membasahi keningnya, karena menahan berat bobot badan atletis milik lelaki itu.
Melly berjalan menuju sofa, yang ada di ruang santai. Niatnya dia hanya ingin duduk sebentar melepas lelah. Namun, siapa sangka, dia malah kebablasan tertidur dengan masih menggunakan piyama. Tanpa sadar juga rasa kantuk dia tidur meringkuk di atas sofa dengan nyaman.
***
Ivan, menggeliat bangun dari tidurnya. Lelaki itu melihat sekeliling, mengingat kembali kejadian semalam. Di mana dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang kekasih sedang b******u mesra dengan seseorang yang dia kenal adalah sepupunya sendiri.
"b******k!!" Umpatnya memukul lampu hias di atas nakas, yang berada tepat disampingnya hingga berhamburan di atas lantai.
Dia memijit pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri, beranjak berdiri masuk ke dalam kamar mandi yang masih satu ruangan dengan kamarnya.
Setelah kegiatan bersih-bersihnya selesai. Dia melempar asal baju dan celana yang dia kenakan kesembarang asal. Kemudian dia keluar dari dalam kamar mandi dan berganti pakaian dengan menggunakan celana boxer juga kaos tipis.
Ivan keluar dari dalam kamar dengan santai, melangkah turun dari lantai atas. Niatnya dia ingin membuat sesuatu untuk mengganjal perutnya yang sudah sangat lapar. Karena sedari kemarin sore dia melewatkan makan malam nya. Dia mengernyitkan kening, saat melihat seorang perempuan tengah tertidur dalam posisi terlentang dengan mulut yang sedikit menganga. Akan tetapi posisinya terlihat di mata lelaki itu terkesan seksi.
Ivan menggelengkan kepala melihat sekertarisnya. Sejak kapan perempuan itu bisa berada di apartment nya, dia sungguh sangat lupa kejadian semalam. Ivan masuk kedalam Club yang biasa dia datangi dengan sahabatnya yang tak lain adalah Richard.
Lelaki itu menghampiri Melly kemudian dia berjongkok di hadapan.nya, memperhatikan Melly yang tengah tertidur pulas. Ivan mengulas senyum tipis, sungguh dia gemas melihat perempuan itu saat tidur. Ivan terus mendekati Melly, membabat habis jaraknya dengan Melly yang tengah tertidur pulas itu. Pandangan lelaki itu terus tertuju pada bibir yang tengah menganga membuat penasaran bagi orang yang melihat untuk mencicipinya.
Tiba-tiba mata Melly terbuka dengan sempurna, persekian detik keduanya saling memandang tanpa adanya pergerakan.