Lima tahun berlalu...
Melly resmi bekerja sebagai karyawan diperusahaan milik keluarga Richardo yang kini dipegang oleh anak lelaki satu-satunya yang tak lain adalah Richard. Selama itu, Melly jarang sekali melihat bos pemilik perusahaan itu datang. Semua pekerjaan dikerjakan oleh Ivan. Baik saat Meeting, maupun bertemu dengan beberapa tamu orang-orang penting. Apa bila ada sesuatu hal yang sangat penting. Melly akan ditugaskan untuk datang ke kediaman atasan nya tersebut untuk bertemu dengan Richard. Itu pun atas perintah Ivan. Dan kini interaksi keduanya bisa dikatakan cukup dekat, karena tugasnya pun akan terus selalu terhubung dengan lelaki Arogant itu.
Melly masih mencinta seseorang dalam diam dan sering memperhatikan Ivan seperti dulu waktu masih sekolah. Walaupun lelaki itu seakan acuh dan sering mangabaikan nya, tapi perasaan cinta di dalam hati Melly mengalahkan segalanya. Melly berpikir, cukup dia saja yang mencintai. Tanpa mempedulikan sambutan baik dari lelaki itu.
Melly bisa mengerjakan semua pekerjaan tanpa hambatan sekalipun. Selama lima tahun itu juga Melly melakukannya dengan sigap dan cekatan tanpa pernah melakukan kesalahan sedikitpun dalam bekerja.
Apa lagi semenjak Richard mengalami banyak masalah dalam rumah tangganya. Ivan yang akan mengurus seluruh pekerjaan dan perusahaan itu dengan sungguh-sungguh. Karena Ivan yang langsung di tunjuk menjadi orang paling dipercayakan oleh keluarga Richardo dalam diperusahaannya. Mungkin itu yang membuat Melly kagum akan pesona seorang Ivan sanjaya.
Tapi sayang, sifat asli lelaki itu yang dingin, cuek juga ketus tak membuat seorang perempuan bernama Melly itu berhenti untuk mencintai lelaki itu dengan tulus dan tetap mengagumi sosok Ivan.
"Permisi, Pak." Sapa Melly, saat sudah masuk ke dalam ruangan, Ivan. "Saya hanya ingin mengingatkan, siang nanti, Bapak. Ada janji temu, dengan Tuan Prakoso," sambungnya "saya sudah mereservasi tempat, sekaligus untuk makan siang sesuai permintaan, Bapak." Lanjutnya sembari memberikan berkas-berkas yang tengah dia pegang untuk di taruh di atas meja agar segera di cek oleh Ivan setelah itu di tanda tangani oleh lelaki itu.
"Kenapa jadi siang?" tanyanya cepat tanpa menoleh ke arah Melly, lelaki itu tengah sibuk membuka lembaran berkas yang baru saja di aterima dari Melly.
"Hah!" Melly mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa jadi siang? Kan, aku sudah bilang. Kosong kan jadwal aku siang ini, karena aku akan menjemput kekasihku."
"Apa tadi, ia bilang? Kenapa siang? sudah jelas-jelas tadi pagi dia sendiri yang merubah jadwal yang sudah aku susun. Dan sekarang, dia malah balik bertanya kepadaku. Udah gitu, seenaknya saja memarahiku." Gerutu Melly dengan kesal yang hanya bisa dia ucapkan di dalam hatinya saja.
"Aah, sudah lah... kamu ini, buat jadwal saja kadang banyak bentroknya," Sela Ivan, saat melihat Melly akan membuka suara menjawab pertanyaan dia. Ivan kembali fokus pada berkas-berkas yang tengah dia pegang, lalu mengibaskan tangan meminta Melly untuk pergi dari hadapannnya.
"Tapi kan, Pak. Tadi pagi itu,-" Jelas Melly menggantung karena ucapannya kembali di potong oleh Ivan.
"Sudah sana, saya tambah pusing liat kamu," Usir Ivan tanpa mau menatap Melly.
"Baik, Pak. Saya permisi kalau begitu." Sahut Melly memberenggut kesal, dia keluar dari dalam ruangan atasan nya.
Saat sudah berada di luar ruangan Ivan. Melly menghentak kan kakinya kesal. Kenapa selalu dia yang terus disalahkan? Dia menarik napasnya perlahan, kemudian hembuskan. Terus berulang kali, sampai di mana dia bisa meredakan emosinya.
Siang ini, Melly akan mendampingi Ivan untuk bertemu dengan Tuan Prakoso yang datang dari kota Surabaya. Meeting kali ini, diselingi dengan makan siang. Resto yang sebelumnya Melly telah mereservasi terlebih dahulu.
"Selamat siang tuan, Ivan. Senang berjumpa dengan anda kembali." Sapa Tuan Prakoso, sembari berjabat tangan ke arah, Ivan. Kemudian dia beralih menatap penuh ke arah, Melly. Yang saat itu, tepat, berdiri di sisi kanan Ivan. "Selamat siang juga nona.." ucapnya menggantung di akhir kalimat karena dia lupa nama perempuan itu.
"Melly, Pak. Beliau ini sekertaris pribadi saya, sekaligus calon istri saya." Bukan Melly yang menjawab, melainkan Ivan dengan sangat percaya diri memperkenalkan sebagai calon istrinya sembari merangkul pinggang Melly agar sedikit mendekat dengan nya.
"Hah!" Mata Melly membulat tak percaya dengan ucapan yang terlontar dari bibir atasannya itu.
"Wah... ternyata kalian mempunyai hubungan yang Special." Kata Tuan Prakoso menjabat tangan Melly. Yang di sambut oleh Melly dengan mengangguk, sebagai bentuk tanda hormat juga di iringi dengan senyuman yang tipis.
"Kenapa juga pakai senyum-senyum sok manis, sok tebar pesona." Gerutu Ivan, yang hanya dia ucapkan di dalam hatinya.
Meeting berjalan dengan lancar, kerjasama pun telah disepakati bersama. Kini mereka hanya tinggal bersantai dan menikmati hidangan makan siangnya.
Namun tidak dengan seorang Melly. Perempuan itu tengah serius menatap Macbook yang tengah dia pegang. Melly tengah mengkoreksi beberapa berkas yang telah dikerjakannya, untuk dikirimkan melalui email ke pemilik perusahaan tempat dia bekerja agar segera diperiksa.
"Ekhem..." Deheman Tuan Prakoso membuyarkan fokus Melly dari pekerjaan nya.
Melly menatap tamu penting perusahaannya. Dia tersenyum, kemudian mengangguk samar.
Tuan Prakoso membalas senyuman Melly. "Silahkan Nona dinikmati selagi hangat. Kalau sudah dingin, nanti rasanya berkurang sedikit lebih hambar." Tuan Prakoso mempersilahkan Melly, sesekali mata nakal lelaki itu melirik ke arah paha mulus milik Melly dengan penuh minat.
Karena saat ini Melly menggunakan rok di atas lutut. Sehingga, jika Melly duduk, rok itu akan sedikit terangkat. Kini paha mulus tersebut terpampang dengan jelas di mata Tuan Prakoso..
Lirikan Client nya itu, tak luput dari pandangan, Ivan. "Ck" decak Ivan melihat tatapan tamu nya tersebut.
Hampir 2 jam mereka Meeting dan makan siang. Mencapai kesepakatan bersama, di mana perusahaan milik Tuan Prakoso meminta pengadaan kesehatan untuk proyek bantuan kesehatan.
"Baik, Pak. Untuk selanjutnya, kami akan kirim berkas agar segara ditanda tangani. Nanti sekertaris saya yang akan mengurusnya." Pamit Ivan, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Mereka keluar dari dalam resto, lalu masuk ke dalam mobil, disusul Melly dibelakangnya. Saat sudah berada di dalam mobil. Mereka sama-sama diam. Mobil berhenti tepat dipelataran butik, Ivan membuka Safety Belt. Kemudian turun dari dalam mobilnya meninggalkan Melly yang tengah kebingungan.
Walau pun Melly tampak bingung, Perempuan itu tetap mengukuti di belakang atasan nya. Melly sama sekali tidak mau bertanya pada Ivan. Sebab dia merasa, jika apa yang akan ditanyakannya, pastilah salah dimata lelaki itu.
Ivan masuk ke dalam butik di susul Melly yang juga masuk, dan langsung disambut oleh beberapa karyawan yang bertugas melayani para pembeli.
"Kamu pilih kan pakaian yang pantas... dan sopan," Ivan melirik sejenak ke arah Melly dengan tatapan tajam dan dingin. "Pilihkan untuk dia segera,-"
"Eh, tidak perlu. Saya rasa, pakaian saya sudah terlihat sopan." Sahut Melly yang merasa tersinggung akan kata-kata Ivan.
Ivan tak menanggapi ucapan Melly. Lelaki itu malah duduk dengan sangat santai di sofa yang telah disediakan oleh butik untuk pelanggan yang menunggu.
"Sopan dengan mempertontonkan paha kamu," ketusnya mencibir ke arah Melly.
"Ck!" Melly berdecak sebal ke arah Ivan yang tengah duduk dan fokus pada layar ponsel nya.
"Mari.. silahkan Mbak."
Karyawan butik tersebut mempersilahkan Melly untuk mencoba beberapa koleksi pakaian kantor yang memang dibutuhkan sesuai permintaan pelanggannya.
Honey Is Calling....
Saat tengah menunggu Melly, mencoba beberapa pakaian. Tiba-tiba saja posel Ivan berbunyi, tanda panggilan masuk. lelaki itu langsung mengangkatnya kemudian menyapanya.
"Halo!"
"Sayang di mana? Aku sudah hampir tiga jam menunggumu!"
"Ya, aku akan menjemputmu. Tunggu 20 menit, aku akan segera sampai."
Panggilan langsung di tutup. Ivan segera beranjak berdiri, melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan bagian sebelah kiri. Lalu menoleh pada Melly.
"Aku tinggal, nanti kamu di jemput supir kantor." Kata Ivan, tanpa mau mendengar jawaban Melly. Lelaki itu meninggalkan butik, kemudian dia berlalu pergi menuju bandara. Ivan, akan menjemput pujaan hati nya, yang singgah hanya beberapa hari di kota Jakarta.
Melly hanya bisa melengos sembari mencebikkan bibir kesal. Ivan selalu saja memerintah, juga memaksakan kehendaknya.